"Jangan geer dulu, kita cuma pura-pura pacaran saja!" Farel menegaskan maksudnya berkata demikian.
Reyna tampak berpikir untuk menerima atau tidak tawaran Farel yang terkenal play boy itu. Dikira dia bodoh apa, pasti pria itu punya maksud terselubung. Mulanya dimanfaatkan terus kalau sudah puas ditinggalin begitu saja. Belum lagi cibiran dari teman-temannya, jika ketahuan jadi pacar bohongan. Mereka akan mengatai dirinya munafik. Itu tidak boleh terjadi karena Reyna tidak mudah terperdaya.
Reyna segera menolak, "Tidak mau, Bapak, pikir saya wanita apa?"
Farel tampak terkejut karena baru kali ini ada seorang gadis biasa yang berani menolaknya. Ia segera menatap tajam Reyna dan berkata dengan ketus, “Jangan sok jual mahal. Saya bisa membeli tubuhmu!”
Sontak Reyna tampak tercengang mendengar hal itu. Ia merasa Farel telah merendahkannya sebagai perempuan baik-baik. Sehingga membuatnya kian berani untuk melawan.
“Bapak, mungkin bisa membeli seluruh wanita di luar sana, tapi tidak dengan saya.” Ia segera keluar dari ruangan itu tanpa perduli Farel memaafkannya atau tidak.
Farel tampak mengepal tangan dengan keras. Sungguh dirinya merasa terhina atas penolakan Reyna.
Tidak lama kemudian Roy datang seraya bertanya, "Ada apa, Bos?"
"Buat gadis itu kehilangan pekerjaannya!" seru Farel dengan serius.
"Memangnya dia salah apa, Bos?" tanya Roy dengan heran.
"Dia berani menolak tawaranku untuk menjadi pacar pura-pura. Cepat kerjakan dan jangan bertanya lagi!" jawab Farel dengan kesal.
Tanpa membantah lagi Roy langsung menjalankan perintah bosnya. Ia heran sekali kenapa gadis itu berani menolak dan membuat Farel marah.
***
Mentari tampak meninggi ketika di salah satu rumah petakan seorang gadis sedang merias diri untuk pergi kerja.
“Reyna bangun, hari ini kita sif pagi loh!” seru gadis itu sambil mengoleskan lipstik berwarna merah ke bibirnya.
Reyna menyibak selimut dan bangun dari tidurnya sambil menjawab, "Nggak kerja lagi, gue dipecat.” Ia merasa nasibnya sangat sial. Kemarin setelah menemui Farel, Reyna tiba-tiba dipanggil oleh personalia dan dipecat dengan alasan tidak sopan terhadap customer.
Teman Reyna yang bernama Ria itu tampak terkejut seraya bertanya, “Memangnya kemarin lu nggak dimaafin sama, Farel?”
“Masa harus pura-pura jadi pacar dia, baru dimaafin. Gue tolaklah, dia pikir siapa bisa memanfaatkan orang,” jelas Reyna yang merasa Farel telah merendahkan harga dirinya secara tidak langsung.
“Ya ampun, Reyna, lu bodoh banget sih. Coba bayangin berapa wanita yang rela ngantri untuk jadi pacar Farel. Sok jual mahal lu, sudah dipilih malah nolak,” ujar Ria memberikan pendapatnya.
Sambil berlalu ke kamar mandi Reyna pun menyahuti, “Harga diri gue lebih penting dari pada apa pun, kalau lu dan yang lainnya kan emang dasar mata duitan."
“Hidup butuh duit, Reyna, nggak perlu gengsi!” sahut Ria setengah berteriak.
Reyna tidak peduli jadi pengangguran yang penting harga dirinya tetap terjaga. Ia yakin rejeki sudah ada yang mengatur. Jadi tidak perlu takut kelaparan. Asal mau berusaha pasti akan ada jalannya.
Setelah mandi dan sarapan, Reyna segera membuat beberapa lembar lamaran kerja. Ia tidak boleh menganggur terlalu lama karena adiknya sedang membutuhkan biaya kuliah. Belum lagi harus membayar sewa rumah dan untuk makan sehari-hari.
Setelah membuat surat lamaran, Reyna segera berpakaian rapi dan pergi ke mal untuk mencoba keberuntungan. Namun, setelah seharian mencari keluar masuk pusat perbelanjaan, dirinya belum mendapatkan pekerjaan juga.
Padahal dengan postur tubuh tinggi semampai yang dimiliki Reyna. Seharusnya sangat mudah untuk menjadi seorang pramuniaga atau SPG. Mungkin belum ada lowongan jadi ia harus berusaha lagi mencari ke tempat lain.
Reyna tampak tertunduk lesu ketika sampai di kontrakannya. Ternyata mencari pekerjaan di Jakarta tidak mudah. Tidak bisa hanya mengandalkan ijazah atau fisik saja, tetapi harus ada orang dalam juga.
"Bagaimana sudah dapat?” tanya Ria yang juga baru pulang kerja.
“Belum,” jawab Reyna sambil menyeka peluh di keningnya.
Ria kemudian mengeluarkan sebuah amplop dari dalam tas kerjanya dan memberikan kepada Reyna seraya berkata, “Gaji lu dari mas Luky, dia minta maaf karena tidak bisa membantu. Soalnya Farel tidak mau lihat lu kerja di mal itu lagi.”
“Pantesan nggak ada yang mau nerima gue kerja lagi. Gue sumpahin tuh cowok nggak akan dapat jodoh sampai tua,” umpat Reyna dengan kesal karena merasa Farel telah mematikan rejekinya.
“Sabar, nanti gue bantu cari di tempat lain!" ujar Ria memberikan semangat kepada temannya.
Reyna segera masuk ke dalam dan membasuh dirinya. Seharian mencari pekerjaan membuat tubuhnya gerah. Sehabis mandi ia kembali mencoba mencari lowongan kerja dengan menghubungi teman-temannya, tetapi semua mengatakan belum ada.
Reyna mulai berpikir bagaimana mencari pekerjaan tanpa membuang-buang ongkos dan tenaga. Akhirnya ia mencoba mencari lewat internet. Alhasil sudah beberapa lamaran dikirimnya via email. Lalu tinggal menunggu hasilnya yang entah kapan mendapat jawaban.
Akhirnya Reyna mendapatkan panggilan di salah satu klub untuk menjadi waiters dan langsung interview malam ini juga. Gadis itu tampak berpikir untuk menerimanya atau tidak.
“Tidak apalah untuk jadi batu loncatan,” lirih Reyna yang akan mencoba pekerjaan itu karena tabungannya kian menipis. Belum lagi adiknya di kampung minta dikirimi uang untuk bayar kuliah.
Setelah selesai salat isya, Reyna segera bersiap-siap untuk datang interview ke klub itu. Ia memakai celana hitam bahan tiga perempat dan kemeja putih yang dibalut dengan sweater.
“Lu, yakin mau kerja jadi waiters di klub malam? Di sana harus pakai hight hells dan rok mini loh,” tanya Ria ketika melihat penampilan Reyna yang jauh dari kata feminim.
“Gue coba dulu, katanya sih dapat seragam, kalau terlalu seksi ya gue juga nggak mau,” sahut Reyna dengan pantang menyerah.
Dengan menggunakan ojek Reyna pergi ke klub itu untuk melakukan interview secara langsung. Ketika sampai di tempat tujuan, gadis itu segera menghadap ke manager klub. Beberapa saat kemudian ia keluar dari tempat itu dengan wajah yang lesu.
Sebenarnya Reyna diterima dan akan di gaji cukup besar. Belum lagi mendapatkan tips yang lumayan setiap hari. Akan tetapi, dia harus siap dibooking bila ada customer yang minta ditemani minum. Gadis itu pun menolak dengan tegasnya.
"Susah amat sih cari duit, ini semua gara-gara Farel sialan," gerutu Reyna yang masih tidak terima dipecat.
Reyna tidak putus asa dan terus mencari lagi ke tempat lainnya. Mungkin karena lelah, akhirnya ia duduk di salah satu bangku mal terdekat. Tiba-tiba pandangannya tertuju pada sebuah benda yang tergelatak di jalan.
Reyna segera mengambilnya dan melihat isi dompet yang penuh dengan uang merah serta kartu ATM di mana ada pinnya lagi. Dengan gemetar ia segera meninggalkan tempat itu dan langsung pulang.
“Sudah Rey ambil saja, kuras isi ATMnya! Kamu nemu tidak mencuri, terus buang dompet itu ke tempat sampah. Kamu akan kaya mendadak dan bisa pulang kampung, buka usaha di sana,” otak Reyna mulai berpikir secara realistis.
“Jangan diambil Reyna, itu bukan hak kamu! Ada KTP di dalam dompet itu. Jadi harus dikembalikan ke pemiliknya!” seru suara hati gadis itu yang berperang hebat dengan logikanya. Di mana sama-sama benar menurutnya.
Reyna kemudian membuka dompet itu dan mengambil KTP yang terdapat di sana. Ia membaca kartu identitas itu dengan saksama.
“Ini kan alamat perumahan elit, pasti yang punya orang kaya. Kehilangan dompet dengan uang segini tidak akan membuatnya bangkrut,” lirih Reyna sambil terus berpikir.
BERSAMBUNG