Rumah pak Wily memang cukup besar, tetapi terlihat sepi. Namun, semua tampak terawat dengan baik karena ada beberapa asisten yang bekerja sesuai dengan tugasnya masing-masing. Seperti tukang kebun, bersih-bersih rumah, bagian pantry dan laundry juga beda. Atas perintah pak Wily, Reyna menempati salah satu kamar tamu.
Baru beberapa hari bekerja Reyna langsung akrab dengan pak Wily dan asisten di sana. Apalagi dia adalah gadis periang, jujur dan apa adanya. Sehingga pak Wily merasa sangat simpati. Terlebih setelah mengetahui Reyna adalah tulang punggung keluarga tirinya dan seorang anak yatim piatu.
Reyna menjalani pekerjaannya dengan sangat baik. Seperti mengatur jadwal undangan, mengingatkan minum dan cek up kesehatan pak Wily. Apalagi majikannya itu sangat baik, tidak semena-mena, sopan, bijak dan sabar. Entah mengapa Reyna seolah mendapatkan kasih sayang seorang ayah. Namun, ia merasa di balik mata teduh dan senyum ramah pak Wily tersirat kesepian yang mendalam.
"Sini duduk Rey temani saya ngobrol!" ajak pak Willy yang ingin berbincang dengan Reyna.
Reyna memulai pembicaraan dengan bertanya, "Apakah anak Bapak akan pulang hari ini?"
"Entahlah Rey, paling nunggu weekend lagi. Itu pun kalau dia mau pulang," jawab Pak Wily sambil menghela nafas panjang.
"Pasti anak Bapak sibuk sekali," tebak Reyna asal yang dijawab seulas senyuman oleh pak Wily.
Pak Wily kemudian bercerita. "Saya sebenarnya punya dua orang anak. Tapi yang perempuan meninggal ketika berusia tujuh belas tahun. Dia menuruni sakit bawaan dari ibunya, leukimia. Kalau masih hidup mungkin sudah seusia kamu sekarang." Pak Willy mulai bercerita.
Dari cerita pak Wily, Reyna menyimpulkan kalau lelaki paruh baya itu hanya ingin ada orang yang menemani dan mendengarkannya bercerita.
"Pasti kamu heran kenapa saya tidak menikah lagi bukan?" tebak pak Willy yang dijawab anggukan oleh Reyna. "Alasan saya masih sendiri sampai saat ini hanya dua. Pertama karena saya masih mencintai Almh. istriku. Kedua putra saya tidak mau punya ibu tiri," jelasnya kemudian.
Reyna mengangguk kecil karena tahu betul bagaimana rasanya menjadi salah satu anak yang tidak beruntung punya ibu tiri. Untung dia punya alasan yang tepat sehingga diperbolehkan merantau ke Jakarta, kalau tidak pasti kisahnya sudah seperti bawang putih.
"Kenapa putra Bapak tidak menikah saja?" tanya Reyna melanjutkan pembicaraan.
"Saya sudah cape menyuruhnya untuk menikah. Katanya belum menemukan pasangan yang cocok. Dijodohkan juga tidak mau. Terserah dia saja lah mau bagaimana. Apa kamu mau jadi menantuku?" ledek pak Willy sambil tersenyum.
"Ah .., Bapak bisa saja," sahut Reyna sambil tertawa kecil. Hadeh Pak jangan pake ditanya lamar saja langsung.
“Rey, ada undangan apa saja minggu ini buat saya?” tanya pak Wily setelah yang merasa sudah bosan di rumah terus.
“Hari sabtu besok, Bapak ada undangan pernikahan ke pesta perkawinan putranya Pak Burhan. Minggunya acara bakti sosial di Panti Asuhan Cinta Kasih,” jawab Reyna memberitahu.
Pak Wily kemudian berseru, “Ya sudah, nanti kamu temani saya datang ke sana ya!”
“Baik Pak,” jawab Reyna dengan patuh.
Tiba-tiba ponsel gadis itu berdering, ia segera berpamitan untuk menerima panggilan itu, " Permisi Pak."
Reyna kemudian menjauh dan menerima telepon dari adik tirinya.
"Halo Mbak, minggu ini harus bayar uang kuliah," ujar adik Reyna dari kampung.
"Ya ampun Dek, baru minggu kemarin Mbak kirim. Sekarang Mbak belum gajian," sahut Reyna dengan heran.
"Sudah habis Mbak, pokoknya harus bayar minggu ini karena sudah batas akhir," desak adik Reyna kembali.
"Haduh, nanti kakak usahakan deh," jawab Reyna dan pembicaraan itu pun berakhir.
Reyna segera menghubungi teman-temannya untuk mencari pinjaman. Akan tetapi, semua tidak ada yang punya simpanan. Gadis itu pun tidak tahu harus mencari uang ke mana lagi. Andai saja dirinya masih kerja jadi SPG, pasti mas Luky bisa memberikan kasbon dengan sistem potong gaji.
Haruskah Reyna melakukan yang sama kepada Pak Wily? Rasanya malu dan tidak enak karena baru beberapa hari bekerja. Terpaksa ia harus menguras tabungannya. Padahal uang itu untuk pegangannya sampai gajian. Biarlah ia tidak pegang uang sama sekali. Untung sudah tinggal di rumah pak Wily, jadi tidak memikirkan beli makan dan bayar kostan.
"Maaf Pak, apakah boleh saya izin pergi ke ATM sebentar?" tanya Reyna dengan tidak enak hati.
Pak Wily tampak mengangguk dan menjawab, "Boleh, minta antar saja sama Pak Toni!" sarannya kemudian.
"Iya Pak," sahut Reyna yang segera meninggalkan rumah itu. Ia kemudian menemui pak Toni untuk meminjam motor.
Setelah Reyna pergi, tidak lama kemudian sebuah mobil datang dan memasuki garasi mobil. Dua orang pria tampan berusia sekitar tiga puluh tahun datang dan menemui pak Willy.
“Maaf Pi, weekend kemarin aku tidak pulang karena banyak pekerjaan kantor yang harus aku selesaikan,” ujar Farel menjelaskan sambil duduk di hadapan ayahnya.
Pak Wily memang memerintahkan Toni untuk tidak memberitahu kejadian malam itu. Ia tidak mau membuat putranya khawatir. Setelah menghela nafas lanjang, pria paruh baya itu langsung berkata, “Kirain sibuk cari istri."
“Pi, tolong jangan bahas hal yang sama terus. Nanti juga kalau sudah waktunya aku akan menikah!” sahut Farel yang langsung menekuk wajahnya. Membuat moodnya jadi berantakan, kalau bukan karena penjaga bilang ada seorang gadis yang tinggal di rumahnya, enggan sekali dia pulang.
Sementara itu Roy tampak mengulum senyum dan mengalihkan pembicaraan, “Pak Toni, beberapa kali menghubungi saya, ada masalah apa ya, Pak?” tanya Roy dengan penuh perhatian.
“Tidak ada apa-apa Roy, paling cuma mau bilang dompetku telah ditemukan,” jawab pak Wily dengan santai.
"Aku dengar mengangkat asisten baru. Apakah itu perlu?" tanya Farel dengan tatapan penuh selidik.
"Oh jadi alasan kamu pulang cuma mau lihat gadis itu. Takut kalau papi punya sugar baby?" tebak Pak Wily yang membuat Farel terperangah.
"Bukan begitu Pi, tapi apa tidak sebaiknya di kasih uang saja. Nanti tidak enak sama pak Suryo kan?" Farel mencoba memberikan alasan
Pak Wily tersenyum simpul seraya berkata, "Terkadang uang memang bisa menjadi jalan ke luar. Tapi uang tidak bisa menggantikan kesepian."
Farel serasa ditampar mendengarnya. Ia sadar secara tidak langsung kata-kata itu ditujukan kepadanya.
Sementara itu di luar rumah, Reyna tampak tercengang melihat sebuah mobil mercy. Ia ingat betul orang yang menyiramnya tempo hari menggunakan kendaraan ini. Belum hilang rasa herannya siapa orang yang telah mengirim uang ke ATMnya. Kini ia ingin tahu orang yang memiliki mobil ini. Dengan penasaran gadis itu segera masuk ke rumah untuk mencari tahu.
Reyna langsung menemui pak Wily dan bertanya, "Pak maaf boleh tanya sesuatu. Apakah Bapak telah mentransfer uang ke rekening saya?"
"Iya, anggap saja itu gaji pertama kamu," jawab pak Wily yang tahu Reyna sedang butuh uang.
"Tapi Pak, saya kan belum kerja sebulan. Jadinya saya punya hutang dong sama Bapak?" tanya Reyna yang jadi tidak enak hati.
"Tidak apa-apa, santai saja! Nanti kalau kamu sudah punya tabungan baru bayar juga boleh," sahut pak Wily kemudian.
Tidak lama kemudian Farel yang sudah berganti pakaian rumah datang bersama Roy dari arah belakang Reyna.
“Rey, kenalkan ini putra saya Farel,” potong pak Wily sambil tersenyum.
Reyna kemudian berbalik dan tampak tercengang, begitupun dengan Farel yang langsung bergeming di tempat. Mereka sama-sama terkejut karena tidak menyangka akan bertemu di rumah ini. Waktu seolah berputar dan terasa sulit untuk bergerak.
"Ya Allah, kenapa harus ketemu dia lagi sih?" batin Reyna setelah mengetahui Farel adalah putra pak Wily.
"Ternyata gadis sialan itu kerja di sini. Pasti dia mau balas dendam karena dipecat dari pekerjaannya?" gumam Farel yang masih tidak percaya Reyna bekerja di rumahnya.
“Hei, kenalkan aku Roy,” sapa Roy dengan ramah memecah kebekuan di antara mereka.
Gadis itu segera menjabat tangan Roy dan menyebutkan namanya, “Reyna."
“Sepertinya kalian sudah saling kenal!” tebak Pak Willy yang membuat Reyna dan Farel saling memandang.
"Bagus juga sih dia kerja di sini. Jadi aku bisa memberi pelajaran lagi kepadanya," batin Farel sambil memikirkan sebuah rencana baru.
"Kita ketemu di mal, Pak, Mbak Reyna pernah kerja jadi SPG di sana," jawab Roy yang tidak sepenuhnya salah.
"Wah kebetulan sekali, Reyna yang telah menemukan dan mengembalikan dompet papi dengan utuh. Sekarang kerja di sini menjadi sekretaris dan asisten pribadi papi, selama Pak Suryo belum kembali," ujar pak Wily memberitahu.
Farel tampak tidak suka mendengarnya. Ia kemudian tersenyum sinis ke arah Reyna yang diam saja. “Pi, bagaimana kalau kita bertukar asisten,” usulnya tiba-tiba.
“Tidak usah bertukar, nanti kalau Pak Suryo sudah masuk kerja. Reyna akan jadi sekretaris kamu di kantor, tapi tidak boleh tinggal bersama di apartemen!” sahut pak Wily yang mendengar jika putranya sering gonta ganti sekretaris . Ia berharap Reyna bisa menjadi mata-matanya kenapa Farel sampai saat ini tidak punya pacar. Jangan-jangan putranya tidak suka wanita lagi.
Mendengar itu Reyna dan Farel kembali terkejut.
"Apa, mana bisa dia kerja di kantorku? Semua sekretarisku sarjana, bukan cuma lulusan SMA, " tolak Farel dengan tegas karena tidak sudi berdekatan dengan Reyna yang sok jual mahal.
"Tidak masalah Reyna bisa kuliah sambil kerja," sahut pak Wily kembali yang membuat Farel kian berang.
Farel mengepalkan tangan dengan keras. Ia yakin sekali Reyna telah menghasut ayahnya secara diam-diam. Farel tidak akan membiarkan gadis itu semakin bertindak lebih jauh lagi. Bisa ngelunjak nanti.
"Sial sekali dirimu Rey," batin gadis itu dengan pasrah. Dia tidak mungkin berhenti kerja karena sudah punya hutang sama pak Wily. Entah bagaimana nasib Reyna selanjutnya. Akankah gadis itu akan kehilangan pekerjaannya lagi?
BERSAMBUNG