Bab. 7 Awal Keributan

1111 Words
"Ya sudah kalian lanjutkan ngobrolnya, Papi mau istirahat!" ujar pak Wily sambil berlalu menuju ke kamarnya. Reyna hendak pergi menyusul pak Wily, tetapi Farel menghadangnya. “Mau ke mana? Saya mau bicara!" seru Farel sambil menatap Reyna dengan tajam. "Jangan pikir saya percaya, kalau kamu sudah menemukan dan mengembalikan dompet ayahku dengan ikhlas. Pasti semua sudah kamu rencanakan dengan matang. Jangan kira saya bisa kau bodohi? Sok jual mahal menolak tawaranku ternyata munafik!" umpatnya yang menduga Reyna punya pikiran licik. "Dengar baik-baik ya! Jika saja tahu kamu anak Pak Wily, saya tidak akan pernah mau kerja dan tinggal di rumah ini!" sahut Reyna yang tidak terima dituduh memanfaatkan kebaikan pak Wily. "Ya sudah pergi sana, sebelum saya bongkar topengmu di depan papi!" ancam Farel kemudian. "Kamu kira saya takut, silahkan kasih tahu sekarang!" tantang Reyna dengan berani. “Saya nggak akan pergi kecuali dipecat Pak Wily. Lihat saja kalau kamu berani macam-macam, saya akan laporkan sama beliau. Jika putranya ini jahat sudah matiin rejeki orang dan suka main perempuan.” Reyna juga mengancam Farel. “Sembarangan kalau ngomong. Awas kalau kamu berani memprovokasi ayahku satu kata saja. Saya pastikan kau akan menyesal seumur hidup.” Farel balik mengancam dengan sengit, “Sekarang buatkan jus sirsak!” serunya kemudian. Reyna langsung menolak, "Tidak mau, saya ini asisten pribadi pak Wily, kecuali kamu minta maaf sudah menyiram saya dari mobil!" "Enak saja main nuduh orang, memangnya kamu punya bukti, kalau saya yang nyiram?" tanya Farel mengelak. Reyna tidak mau kalah dan menimpali "Mobil mercy itu." "Eh, kamu kira yang punya mobil mercy warna hitam cuma saya doang?" Farel balik bertanya yang membuat Reyna terbungkam. Roy hanya menonton perdebatan itu sambil ngemil dan duduk dengan santai. Lumayan dapat tontonan gratis. Dengan kesal Reyna memilih mengalah dan meninggalkan Farel yang terus mengoceh seperti beo baru belajar ngomong. “Jangan pergi, saya belum selesai bicara!” Farel hendak mengejar Reyna yang telah berani menolak perintahnya. "Sabar Bos, kalau sampai Reyna ngadu sama papi bisa habis kita nanti," ujar Roy memberikan pendapatnya. Farel tampak berpikir sesaat dan membenarkan apa kata Roy. Dia harus bermain cantik agar gadis itu bertekuk lutut di hadapannya. Dengan adanya Reyna di rumah ini, Farel merasa memegang kendali dan akan membuat gadis itu menyesal telah menghinanya. *** Mentari tampak bersinar di ufuk timur. Reyna sudah selesai membantu asisten menyiapkan sarapan. Namun, kali ini gadis itu tidak menemani pak Wily karena ada Farel. Tidak lama kemudian, pak Wily, Farel dan Roy terlihat sarapan bersama. "Roy, tolong panggilkan Reyna untuk sarapan bersama kita!" seru pak Wily ketika gadis itu tidak tampak batang hidungnya. "Baik Pak," sahut Roy sambil beranjak. Farel tidak suka melihat ayahnya sangat perhatian kepada Reyna. Dengan heran pria itu pun bertanya, "Kenapa Papi terima dia kerja di sini?" "Reyna sudah menemukan dan mengembalikan dompet Papi. Dia tidak mau menerima imbalan, tetapi sedang butuh pekerjaan," jawab pak Wily dengan santai. Kalau tahu akan jadi seperti ini, Farel menyesal telah membuat gadis itu dipecat dari pekerjaan sebelumnya. "Terus kenapa Papi suruh dia tidur di kamar tamu?" "Daripada kamar itu kosong, lebih baik diisi," sahut pak Wily kembali. Tidak lama kemudian Roy sudah kembali dan memberitahu, "Reyna sedang tidak enak badan, Pak!" Ia kemudian melanjutkan sarapannya kembali. "Sepertinya aku tidak butuh sekretaris lagi Pi, cukup Roy saja. Jadi kalau Pak Suryo sudah kembali, sebaiknya Papi pecat saja dia!" saran Farel kemudian. Pak Wily menatap putranya lekat-lekat dan berkata, "Ya sudah, kalau kamu tidak mau, Reyna akan Papi angkat jadi anak." Farel yang sedang menyeruput minumannya langsung tersedak ketika mendengar rencana papinya untuk mengambil Reyna jadi anak angkat. "Aku tidak setuju, jika gadis itu jadi adik angkatku!" tolaknya dengan tegas. "Kalau begitu cepat nikah dan beri Papi cucu yang banyak!" sahut Pak Wily sambil beranjak dari tempat duduknya. Dia ingin melihat keadaan Reyna yang sedang tidak enak badan. Farel langsung terbungkam mendengarnya. Dia lebih baik diam jika ayahnya sudah menyinggung soal menikah. "Sepertinya papi ingin Bos dan Reyna akur," celetuk Roy sambil mengulum senyum. "Diam kau! Aku akan menyingkirkan gadis itu apa pun caranya," geram Farel kemudian. Sambil terus mengunyah Roy kembali berkata, "Awas nanti jadi cinta loh." Ia bergegas meninggalkan Farel sebelum kena semprot. "Terus!" seru Farel dengan kesal. Pak Wily melihat wajah Reyna yang sedikit pucat. Ia kemudian hendak memanggil dokter keluarga Pratama. "Tidak usah Pak, saya tidak apa-apa hanya masuk angin saja. Nanti juga sembuh sudah minum obat tadi," tolak Reyna yang sebarnya tidak sakit, tetapi hanya syok saja harus tinggal serumah dengan Farel. "Ya sudah, kamu tidak usah antar bapak pergi hari ini, istirahat saja di rumah. Biar saya ditemani sama Roy!" seru pak Wily dengan serius. Mendengar itu Reyna segera menolak karena akan berdua dengan Farel di rumah. Itu tidak boleh terjadi, "Saya saja yang temani Bapak." "Sama Roy saja Pi, kasihan Reyna sedang sakit!" sahut Farel yang tiba-tiba datang bersama Roy. Pak Wily sependapat dengan putranya. "Mumpung kamu libur jaga Reyna di rumah ya!" pesannya kemudian. Sambil mengangguk Farel pun menyahuti, "Oke, Pi!" "Ayo Roy kita bersiap-siap!" ajak pak Wily kemudian Roy segera menjawab dengan cepat, "Baik Pak." Farel tampak senang ketika melihat Reyna jadi semakin pucat dan bergumam, "Kamu pikir bisa menghindar dariku?" Reyna sungguh menyesal berpura-pura sakit tadi. Entah apa yang akan Farel lakukan kepadanya ketika pak Wily dan Roy sudah pergi nanti. Gadis itu segera mengurung diri di dalam kamar, agar tidak bertemu dengan Farel. Ketika ayah dan asisten pribadinya sudah berangkat, Farel yang sudah bertelanjang d**a segera mendatangi kamar Reyna. Memperlihatkan perutnya yang sixpack mirip roti sobek enam kotak. "Reyna!" panggil Farel lantang dari depan kamar gadis itu, tetapi hening tidak ada sahutan. "Buka pintunya atau kudobrak!' seru pria itu kembali dengan serius. "Ya Allah, tolong hamba," doa Reyna dengan tangan yang gemetar. Ia tampak ragu-ragu untuk membukakan pintu atau tidak. Ketika pintu terbuka Reyna tampak terkejut melihat Farel sudah berdiri di ambang pintu sambil menatapnya dengan garang. "Kamu mau apa?" tanya Reyna sambil melangkah mundur. "Saya mau ...." Farel menatap Reyna dengan tajam. Seperti seekor singa yang sedang mengincar buruannya. "Kamu mau berbuat tidak senonoh ya?" tebak Reyna sambil mundur beberapa langkah untuk menjaga jarak. Farel tampak menyeringai dan berkata, "Kalau iya memangnya kenapa. Bukankah kamu bilang aku m***m?" "Hah?! Tolong jangan lakukan itu. Saya benar-benar minta maaf," ucap Reyna yang takut Farel akan memperkosanya. "Kamu kira semudah itu minta maaf? Setelah harga diriku kau injak-injak dan jadi bahan tertawaan temanmu?" tanya Farel dengan sinis. Reyna kemudian mengatupkan kedua tangannya dan memohon, "Sekali lagi saya minta maaf. Tolong jangan perkosa saya!" Farel tampak tersenyum simpul melihat wajah Reyna yang mulai tegang. Sebelum ayahnya pulang, ia harus menjalankan rencana itu dengan baik. Menurutnya sekarang adalah waktu yang pas untuk membuat Reyna merasa jera dan menyesal. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD