Farel mentoyor kepala Reyna dan berkata, "Kamu kira saya sudi menyentuhmu!"
"Nggak sopan, kepala saya difitrahin tahu!" sahut Reyna dengan kesal.
"Masa bodoh, saya mau berenang dan ingin minum orange juice. Sana cepat buatkan! Roy sudah menggantikan tugasmu, jadi begitupun sebaliknya. Jangan cuma mau makan gaji buta!" tukas Farel sambil berlalu dari hadapan gadis itu.
Dengan terpaksa Reyna menuruti perintah Farel. Ia kemudian menuju ke dapur untuk membuatkan pesanan pria itu. Untung di kulkas sudah ada orange jus yang siap saji. Jadi tinggal tuang di gelas beres deh. Reyna segera membawanya menuju kolam renang dan meletakan minuman itu di atas meja.
Namun, tiba-tiba sebuah tangan menarik kaki gadis itu yang membuatnya tidak seimbang dan tercebur ke kolam.
Farel langsung naik kepermukaan sambil tersenyum senang. Ia kemudian menyeruput minuman itu sambil memperhatikan Reyna yang tampak menggapai permukaan.
"Tolong!" teriak Reyna yang terdengar panik karena tidak begitu mahir berenang. Paling cuma bisa gaya meluncur itu pun tidak jauh, sedangkan kolam renang itu dalamnya dua meter.
"Tolong," pekiknya kembali kali ini terdengar lemah.
"Rasain, itu akibatnya berani melawanku," lirih Farel sambil terus memperhatikan Reyna.
Farel telah melarang asisten untuk datang ke kolam jika dirinya sedang berenang. Kamera CCTV juga sudah di non aktifkan yang memantau tempat itu. Namun, ia mulai panik ketika tidak melihat tangan Reyna lagi.
"Sepertinya dia tenggelam, kalau mati bisa gawat urusannya," ujar Farel yang segera menceburkan diri ke dalam kolam.
Tidak lama kemudian Farel sudah berhasil membawa Reyna ke daratan. Sepertinya gadis itu pingsan karena kebanyakan minum air. Dengan spontan pria itu segera memompa d**a Reyna dengan kedua tangan. Meski sudah memuntahkan banyak air, tetapi Reyna belum siuman juga.
"Bangun Rey! Haduh bagaimana ini, aku harus bisa menolongnya?" ujar Farel yang mulai jadi panik. Ia segera memberikan napas buatan. Pada saat melakukan yang ketiga kalinya, Reyna pun tersadar.
"Kalian sedang apa?" tanya Pak Wily yang tiba-tiba pulang.
Farel segera berdiri dengan wajah yang tegang. Sementara itu Reyna tampak batuk-batuk sambil memegangi dadanya yang masih sesak.
"Ini Pi, aku habis beri napas buatan buat nolong Reyna yang pingsan karena nyaris tenggelam," jawab Farel sambil menjauh dari tubuh gadis itu. Ia tidak menyangka ayahnya akan cepat pulang.
"Kenapa Reyna bisa jatuh ke kolam renang?" tanya Pak Wily dengan curiga.
"Kepleset Pi, iya kan Rey?" jawab Farel sambil menatap gadis itu dengan tetap tenang.
Reyna tidak mengangguk dan ingin sekali ia mengatakan yang sebenarnya. Akan tetapi, suaranya terasa tercekat di tenggorokan.
"Sebaiknya aku diam saja dulu, kalau membantah pasti Farel akan mengelak. Padahal tadi terasa banget ada yang menarik kakiku," batin Reyna yang yakin sekali semua ini adalah ulah si Farel sialan.
Pak Wily menatap wajah Reyna yang pucat dan gemetaran. Ia tampak khawatir sekali melihat keadaan gadis itu dan segera memanggil security serta Mbak Rumi.
"Ada apa, Tuan?" tanya Mbak Rumi menghampiri yang disusul oleh pak Toni.
"Tolong antar Reyna ke kamarnya Mbak Rum dan rawat dengan baik. Roy telepon Dokter Aziz dan kamu Ton, ayo kita cek CCTV!" seru pak Wily sambil berlalu.
Farel tampak santai dan tidak takut ketahuan telah mengerjai Reyna karena sudah mencabut stop kontak kabel CCTV, tetapi tidak melepasnya jadi seolah-oleh kendor.
"Baik, Pak," jawab Roy sambil mengeluarkan ponselnya.
Dengan dipapah Mbak Rumi, Reyna yang terlihat sangat syok karena nyaris tenggelam segera meninggalkan tempat itu. Namun, ia sempat menoleh ke arah Farel dan menatapnya dengan tajam.
"Jangan bilang semua ulah, Bos?" tanya Roy setelah memanggil dokter keluarga Pratama.
"Aku kira dia bisa berenang," sahut Farel yang tidak merasa bersalah sedikitpun.
Roy tampak menggeleng dan menasehati, "Itu berbahaya, Bos."
"Aku sudah menolongnya kenapa kamu dan papi pulang cepat?" sanggah Farel karena merasa tetap mengawasi Reyna tadi.
"Tenyata tempat hajatannya dekat dan papi tidak makan langsung pulang. Katanya khawatir sama calon menantunya yang sedang sakit," jawab Roy sambil terkekeh meledek Farel.
Farel tampak membulatkan matanya seraya berkata, "Nggak lucu!"
Setelah diperiksa oleh Dokter Aziz, Reyna benar-benar istirahat total dan tidak ke luar dari kamar. Bahkan untuk makan siang diantar oleh Mbak Rumi. Sungguh dirinya tidak pernah melupakan kejadian hari ini. Gadis itu tampak mengepalkan tangannya dengan amarah yang terpendam. Menurutnya Farel sudah keterlaluan dan harus diberi pelajaran.
"Tunggu pembalasanku," desis Reyna dengan geram.
Pad malam harinya Reyna merasa jauh lebih baik. Bahkan ia sudah membantu Mbak Rumi menyiapkan menu dan bisa ikut makan malam bersama.
"Lain kali hati-hati ya Rey, untung ada Farel tadi. Kamu juga Rel, sudah tahu Reyna tidak enak badan. Kenapa tidak minta dibuatkan minum sama asisten lain sih?" ujar pak Wily yang secara tidak langsung menyalahkan putranya.
"Iya Pak," sahut Reyna yang merasa pak
Wily itu sangat baik sekali. Tidak seperti Farel yang menyebalkan. Ia merasa sifat ayah dan anak itu bagaikan dua sisi mata uang yang berlawanan.
"Tadi lihat Reyna di dapur jadi sekalian minta tolong buatkan, Pi," elak Farel sambil melirik ke arah Reyna dengan acuh tak acuh.
Sementara itu Roy tidak berani buka suara, meskipun tahu kejadian yang sebenarnya. Sepertinya diam lebih baik daripada didamprat oleh Farel.
"Ya sudah, untuk kalian berdua jadikan semua sebagai pengalaman. Agar kejadian tadi tidak terulang lagi, kalau masih pusing kamu istirahat saja Rey. Biar Mbak Rumi yang membereskan semuanya!" seru pak Wily sambil menyudahi makan malamnya. Ia kemudian meninggalkan meja makan.
"Iya, Pak," jawab Reyna yang hendak kembali ke kamarnya karena malas berlama-lama bersama Farel.
Melihat itu Farel segera berseru, "Mau ke mana, bereskan meja makan dulu! Mau saya laporin ke papi, kalau kamu tadi pura-pura sakit, dasar caper!"
Reyna tampak menghela napas panjang dan sedang enggan meladeni farel. Ia segera membereskan meja makan dan membawa piring kotor ke dapur. Sementara itu Farel tampak tersenyum senang melihat Reyna yang sudah mulai menurut kepadanya.
Tidak lama kemudian, Mbak Rumi datang sambil membawa puding coklat kesukaan Farel dan berkata, "Silahkan, Den!"
"Terima kasih, Mbak," sahut Farel dengan ramah.
"Menurut saya sebaiknya Bos, jangan terlalu kasar sama Reyna!" saran Roy yang merasa kasihan kepada Reyna karena dikerjai Farel terus.
"Sebelum dia mau mengikuti apa pun perintahku. Jangan harap aku akan bersikap baik kepadanya," sahut Farel sambil makan puding kesukaannya itu.
Roy tampak menggeleng karena paham betul dengan sikap Farel yang keras kepala dan egois
"Awas kamu suka sama dia!" ancam Farel yang segera menyantap puding itu dengan lahap.
"Nggak lah, Bos," sanggah Roy yang hanya merasa simpati saja kepada Reyna.
Setelah beberapa saat kemudian, Farel merasa perutnya sangat mulas dan segera masuk ke kamar. Namun, sehabis buang hajat, rasa mulas itu tidak kunjung reda justru semakin parah. Sehingga Farel segera memanggil Roy.
"Ada apa, Bos?" tanya Roy ketika melihat Farel sedang meringkuk di atas kasur sambil menyeringai kesakitan.
"Perut aku sakit sekali, cepat panggil dokter!" jawab Farel sambil berseru.
Roy segera memanggil Dokter Aziz yang tadi siang menangani Reyna. "Om ke rumah lagi sekarang ya, Farel tiba-tiba sakit!"
Sejam kemudian, pak Wily yang sedang bersantai di ruang tengah tampak heran ketika melihat Dokter Aziz datang lagi malam-malam. Perasaan tidak ada yang memanggilnya. Jangan-jangan Reyna sakit lagi.
"Ada apa, Ziz?" tanya pak Wily ingin tahu.
"Kata Roy, Farel sakit aku mau lihat keadaannya," sahut Dokter Aziz yang dijawab anggukan oleh pak Wily.
Pak Wily tampak heran karena tadi ketika makan malam Farel baik-baik saja. Ia segera mengikuti Dokter Aziz untuk mengetahui apa yang telah terjadi. Ketika sampai di dalam kamar putranya, mereka melihat Farel sedang duduk di pinggir ranjang bersama Roy.
"Kamu kenapa, Rel?" tanya pak Wily dengan heran.
"Nggak tahu Pi, aku buang-buang air terus ni," jawab Farel sambil memegangi perutnya.
Dokter Aziz segera memeriksa Farel dan bertanya makan apa saja sebelumnya.
"Tidak salah lagi, pasti ini gara-gara makan puding. Jangan-jangan yang bikin pakai coklat laksatif," tebak Dokter Aziz setelah memeriksa kondisi Farel. Ia kemudian menulis resep untuk menghentikan diare itu dan memberikannya kepada Roy.
"Mungkin Mbak Rumi salah beli," sahut pak Wily dengan santai.
Mendengar itu Farel pun tidak percaya dan jadi geram. Pasti ini semua ulah Reyna yang ingin balas dendam. Apalagi ia melihat ayahnya tidak cemas seperti ketika Reyna tenggelam. Membuatnya jadi semakin benci kepada gadis itu.
"Papi pilih kasih, sebenarnya siapa sih yang jadi anaknya?" gerutu Farel di dalam hati.
Setelah minum obat dan merasa lebih baik, Farel langsung menuju ke kamar Reyna untuk memberikan gadis itu pelajaran.
"Berani sekali kamu ngerjain saya jadi buang-buang air!" ujar Farel sambil menatap Reyna dengan tajam.
"Enak saja main nuduh, emang kamu punya bukti kalau saya yang melalukan semua itu?" Reyna balik bertanya.
Farel kembali menyahuti, "Asal kamu tahu Mbak Rumi belum pernah buat puding sampai bikin aku sakit perut."
"Itu namanya kualat, rasain emang enak? Makanya jadi orang jangan jahat dan m***m. Itu akibat karena sudah mencelakai dan mencium saya tadi pagi," sahut Reyna tidak terima Farel telah menodai bibirnya yang masih perawan.
Mendengar itu Farel segera mencibir, "Sudah ditolongin nggak tahu terima kasih. Kamu kira saya sudi memberimu napas buatan, idih!"
"Itu karena kamu takut saya mati, iya kan. Lagi pula saya juga jijik dicium sama kamu," sahut Reyna dengan sengit.
Farel tampak geram karena tidak terima atas perkataan yang Reyna lontarkan. Ia segera mendorong tubuh gadis itu hingga menabrak dinding dan langsung mencekal kedua tangan Reyna ke atas kepala.
"Kamu mau apa?" tanya Reyna ketika mukanya begitu dekat dengan wajah Farel.
"Mulutmu harus diberi pelajaran agar bisa berkata sopan kepadaku!" ujar Farel dengan penuh kemarahan.
"Saya berkata seperti itu karena kamu telah mengataiku seolah-olah w************n. Jadi kalau mau dihargai orang lain .., hmpp."
Farel langsung membungkam bibir Reyna dan menggigitnya.
Reyna tampak meronta, tetapi tenaga Farel jauh lebih kuat. Sehingga membuatnya tidak berkutik mendapat perlakuan seperti itu. Bahkan Farel tidak memberikan kesempatan untuknya bernapas.
"Hentikan apa-apaan sih kalian! Papi belum tidur nanti kalau beliau tahu kalian bisa dikawinin karena ribut terus!" seru Roy yang tiba-tiba datang melerai.
Farel jadi lengah mendengar seruan Roy. Hingga sebuah tendangan tepat mengenai ular kobranya yang membuat
Reyna dapat melepaskan diri dan segera pergi dari tempat itu.
"Aduh, gadis sialan!" umpat Farel sambil memegangi senjatanya yang terasa sakit sekali. "Ini semua gara-gara kamu datang Roy," umpatnya kemudian.
"Sudahlah, kalau saling membalas tidak akan ada habisnya! Bos harus bermain cantik jika ingin menaklukan Reyna!" ujar Roy mencoba meredam amarah Farel.
Sambil menahan sakit Farel menelaah kata-kata Roy dan bertanya, "Maksud kamu apa?"
Roy yang lebih ahli dalam urusan penaklukan kaum hawa. Segera memberitahu seribu satu rahasia pria untuk membuat wanita seperti Reyna bertekuk lutut.
Farel tampak mendengarkan dengan saksama. "Oke, aku akan ikuti saranmu," sahutnya menyetujui rencana yang diusulkan Roy. Kali ini biarlah ia mengalah dulu.
Sementara itu di dalam kamar Reyna tampak terisak merasakan bibirnya yang perih karena digigit Farel. Akan tetapi, dengan apa yang dilakukannya tadi. Sudah cukup membuat hatinya sedikit senang. Farel tidak tahu kalau gadis itu pawang ular, mau macam-macam dia.
"Farel sialan, kalau gue nggak punya utang sama ayahnya malas kerja di sini, lama-lama kurang ajar tuh orang," umpat Reyna sambil berkaca untuk melihat bibirnya yang pecah. "Apa gue laporin saja perbuatannya sama pak Wily?" Reyna berpikir mengakhiri perbuatan Farel sebelum semakin menjadi menyakitinya.
BERSAMBUNG