Bab. 9 Sugar Baby

1300 Words
Pagi yang cerah, tetapi tidak bagi Reyna. Hari ini ia badmood sekali karena merasakan semalaman bibirnya yang bengkak. Bahkan untuk buat bicara sedikitpun rasanya sakit sekali. "Bibir kamu kenapa, Rey?" tanya pak Wily ingin tahu. "Terbentur dinding kamar mandi, Pak," jawab Reyna sambil melirik ke arah Farel. Pak Wily tampak mengernyitkan dahinya dan bertanya kembali, "Kok bisa?" "Semalam saya bangun tengah malam karena masih mengantuk jadi nabrak dinding pas mau ke toilet," jawab Reyna berbohong. Padahal dia ingin sekali mengatakan yang sebenarnya. Biarlah itu akan menjadi senjatanya suatu hari nanti jika Farel kurang ajar lagi. Setelah menyeruput s**u hangatnya, Farel pun berpesan, "Makanya hati-hati Rey!" Reyna paham itu adalah sebuah sindiran agar dia tidak melawan Farel lagi. "Iya Kak," sahutnya dengan terpaksa. "Kalau masih sakit saya panggil dokter Aziz ya?" tanya Roy yang kasihan melihat bibir Reyna bengkak. Pasti nyut-nyutan buat makan. "Tidak usah Mas, sudah mendingan kok nanti juga sembuh," tolak Reyna yang tidak mau terlihat cengeng di hadapan Farel. "Aku berangkat dulu ya Pi," pamit Farel sambil beranjak dan mencium tangan ayahnya yang kemudian disusul oleh Roy. Roy selalu menyetir mobil, sedangkan Farel duduk di depan bersamanya. Jadi mereka sudah terlihat seperti adik kakak. "Kasihan Reyna, bibirnya sampai bengkak begitu, pasti sakit banget," ujar Roy sambil fokus menyetir. "Terus kamu pikir aku nggak sakit bolak balik ke WC. Balum lagi jagoan aku ditendang? Kamu sama papi sama saja sudah kena peletnya. Jadi selalu merasa simpati sama dia," protes Farel yang tidak akan melupakan perbuatan Reyna. Roy dengan spontan menyahuti, "Itu namanya senjata makan tuan. Kan Bos duluan yang ngerjain Reyna." Farel tampak mendelik sambil menoleh ke Roy dan berkata, "Terus belain dia! Lihat saja kalau kamu sampai bantu Reyna, aku pecat." Dari pada panjang urusannya, lebih baik Roy tidak menyahuti lagi. Mereka akhirnya sampai di PT Jaya Abadi. Perusahaan milik pak Wily Pratama, tetapi sejak sakit-sakitan Farel menggantikan ayahnya untuk memegang tampuk kepemimpinan dalam mengembangkan perusahaan. *** Beberapa hari setelah Farel menggigit bibir Reyna, asisten pribadi pak Wily, pak Suryo kembali dari kampung. Sesuai rencana Reyna akan dipekerjakan di kantor menjadi sekretaris Farel. "Ayo Rey, ikut Bapak!" ajak pak Wily tiba-tiba. Dengan heran Reyna pun bertanya, "Kita mau ke mana, Pak?" "Beli baju kantor buat kamu," jawab pak Wily yang membuat Reyna jadi terkejut. Reyna mencoba menolak untuk bekerja satu kantor sama Farel, "Maaf Pak, saya cuma lulusan SMK. Rasanya tidak sanggup kerja di kantoran, kalau boleh biarkan jadi asisten di rumah ini saja." "Reyna kamu masih muda dan masa depanmu masih panjang," sahut pak Wily yang ingin Reyna mendapatkan karir lebih baik lagi "Tapi Pak, nanti Kak Farel...." Terasa berat bagi Reyna untuk mengadukan perbuatan Farel. Ia tidak ingin hubungan ayah dan anak itu jadi renggang dan cap tukang ngadu. Pak Wily menatap Reyna dengan saksama dan berseru, "Kamu jangan takut sama Farel, jika dia macam-macam bilang sama saya!" "Iya, Pak," jawab Reyna yang tidak bisa menolak perintah pak Wily untuk bekerja di kantor Farel. Dengan diantar pak Toni, akhirnya pak Wily dan Reyna pergi ke mal terdekat. Ketika sampai di tempat tujuan mereka langsung menuju ke counter pakaian wanita. Pak Wily menyuruh Reyna untuk memilih pakaian kantor, sepatu dan tas kerja. "Pak, kalau saya pilih bawahannya celana panjang formal boleh nggak? Saya tidak biasa pakai rok span," tanya Reyna yang dijawab anggukan oleh pak Wily. Reyna adalah gadis yang energik dan sedikit tomboi. Jadi SPG saja ia memilih memakai celana panjang. Akhirnya Reyna mendapatkan pakaian dan perlengkapan kantor secukupnya. "Kamu nggak beli make up?" tanya pak Wily sebelum meninggalkan mal. "Masih ada, Pak," jawab Reyna yang jadi tidak enak. "Reyna," panggil seorang pria dari arah belakang gadis itu. Reyna segera berbalik begitupun dengan pak Wily. "Mas Luky," sahutnya yang tampak terkejut karena takut mantan supervisornya itu salah paham dengan pekerjaannya sekarang. Luky menatap Reyna dan pak Wily secara bergantian seraya berkata, "Senang bertemu denganmu, saya duluan ya!" Ia mengira kalau Reyna sudah menjadi sugar baby karena tidak dapat pekerjaan. "Iya," sahut Reyna padahal baru saja mau mengenalkan pak Wily sebagai majikannya. Pak Wily yang ingin tahu pria itu segera bertanya, "Siapa Rey, pacar kamu?" "Bukan, Pak, dia mantan supervisior saya ketika jadi SPG dulu," jawab Reyna menjelaskan. Reyna takut Luky akan membawa kabar burung kepada teman-temannya. Pasti semua mengira dirinya sudah menjadi sugar baby, kalau secara logika masuk akal sih. Pak Wily sudah seperti sugar dady bagi gadis itu. Namun, Reyna tidak mau ambil pusing karena realnya tidak seperti itu. Biarlah orang lain mau berkata apa. Setelah belanja mereka kemudian mampir ke salah satu restauran yang ada di sana untuk melepas dahaga. Jujur Reyna merasa tidak enak atas kebaikan pak Wily. Ia bertekad suatu hari nanti akan mengganti apa yang telah pak Wily berikan. "Masih ada yang mau dibeli lagi nggak Rey, mumpung kita masih di mal?" tanya pak Wily dengan penuh perhatian. "Tidak ada apa, sudah semua," jawab Reyna apa adanya. "Ya sudah, ayo kita pulang!" ajak pak Wily sambil beranjak. Mereka kemudian meninggalkan tempat itu. *** Mentari tampak menyingsing ke ufuk barat. Sebuah mobil terlihat berhenti halaman kediaman Pratama. Pak Wily dan Reyna segera turun dari kendaraan itu dan masuk ke rumah. Ternyata Farel dan Roy juga baru saja pulang kerja. Ia tampak terkejut melihat ayahnya habis belanja bersama Reyna. "Papi dari mana?" tanya Farel seperti polisi yang sedang mengintrogasi. Ia merasa ayahnya sudah seperti sugar dady yang mengantar wanita simpanannya. Farel harus bertindak cepat sebelum semuanya terlambat. "Antar Reyna beli baju kantor, Pak Suryo sudah kembali. Jadi mulai besok Reyna akan kerja di kantor dan akan jadi sekretaris kamu!" jawab pak Wily yang membuat Farel tampak terkejut. "Aku tidak akan membiarkan Reyna dan papi semakin dekat. Nanti mereka bisa jatuh cinta lagi, terus menikah. Itu tidak boleh terjadi, aku tidak mau punya ibu tiri apalagi model seperti Reyna," gumam Farel sambil terus berpikir untuk menyingkirkan Reyna. Sementara itu Reyna berharap Farel menolak keinginan pak Wily. Ia tidak mau kerja dengan pria itu di kantor yang sama. "Rel, kamu dengerin papi nggak sih? Diajak ngomong malah diam saja," ujar Pak Wily yang jadi kesal. "Iya, Pi, begini bukan aku nggak mau Reyna jadi sekretaris di kantor. Posisi itu harus ditempati oleh orang yang sudah berpengalaman. Biar bisa mengatur jadwal kerja aku dengan baik dan melobi tamu yang mau bikin janji. Jadi untuk sementara waktu Reyna harus belajar sama Roy dengan menjadi asisten pribadiku dulu, Pi" sahut Farel dengan sebuah rencana yang matang. Reyna tampak tercengang mendengarnya. Menjadi sekretaris saja dia tidak mau apalagi jadi asisten pribadi. Semoga saja pak Wily tidak setuju. "Papi setuju," ujar pak Wily di luar dugaan. "Reyna juga harus tinggal bersamaku Pi. Kebetulan di apartemen ada kamar kosong," usul Farel kemudian. "Bagaimana Reyna kamu siap kan dengan pekerjaan ini?" tanya pak Wily meminta pendapat gadis itu. "Kalau pekerjaan saya siap Pak, tetapi tidak untuk tinggal serumah nggak deh karena kita bukan muhrim," jawab Reyna menolak untuk seatap dengan Farel. Roy kemudian menyahuti, "Tenang saja Rey, kamu jangan takut saya juga tinggal di sana! Jadi pihak ketiga bukan setan loh, tetapi satpam. He.. he ...." "Betul itu sebagai asisten pribadi kamu tidak boleh jauh-jauh dari Farel. Tapi, kamu tidak boleh kurang ajar sama Reyna ya, Rel!" Pak Wily mendukung keputusan Farel mengangkat Reyna menjadi asisten pribadi. Farel pun mengangguk kecil seraya berkata, "Papi tenang saja, aku akan memperlakukan Reyna dengan baik." "Bagus, dan kamu Rey nanti setiap sabtu atau minggu bebas boleh ikut ke sini atau libur," ujar pak Wily yang membuat Reyna tidak bisa menolaknya lagi. "Iya Pak," sahut Reyna dengan pasrah. Reyna tampak menghela napas panjang dan tidak habis pikir kenapa Pak Wily menyetujui usul Farel. Ia seperti makan buah simalakama. Tinggal di rumah ini saja habis dikerjai Farel, apalagi seatap. Gadis itu berdoa semoga Allah mengirim malaikat buatnya untuk melindungi dari perbuatan Farel yang menyebalkan. Reyna harus tetap waspada karena yakin sekali pria itu sedang merencanakan sesuatu. BERSAMBUNG
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD