Malam ini juga Reyna terpaksa pindah ke apartemen Farel. Tempat itu memang cukup luas, lengkap dengan ruang tamu, kamar dan dapur. Bahkan ada mini gym dan kolam renang indoor. Pantas saja Farel jarang pulang karena apartemen ini sudah seperti rumah.
Dengan sabar Roy memberitahu apa saja tugas yang harus dikerjakan Reyna. Mulai dari membuat sarapan, menyediakan makan malam dan mengurusi keperluan pribadi Farel lainnya.
"Jadi bagaimana kamu sudah paham!" ujar Roy setelah memberitahu Reyna.
"Iya Mas, jadi untuk makan dan mencuci baju pesan saja dan bawa ke laundry?" tanya Reyna menegaskan.
"Mulai sekarang tidak boleh, kamu harus masak dan mencuci baju sendiri. Jangan makan gaji buta!" sahut Farel sambil berkacak pinggang.
Reyna segera memalingkan wajahnya dan berlirih, "Mulai dah."
"Sudah malam sebaiknya kita beristirahat. Sebentar ya Mas keluarin barang-barang dulu dari--"
"Kamu nggak usah pindah kamar Roy. Reyna akan menempati kamar asisten, sesuai profesinya!" seru Farel dengan ketus.
"Tapi--"
"Tidak apa-apa, Mas," potong Reyna yang sadar diri. Ia malas ribut dengan Farel dan mencoba belajar untuk mengalah.
Roy segera mengantar Reyna ke kamar asisten yang kosong. Memang tidak sebesar di rumah pak Wily, tetapi cukup nyaman untuk tidur.
"Kamu yang sabar ya dan jangan diambil hati perkataan Bos Farel. Dia memang keras kepala dan tidak mau dibantah!" Roy memberikan pesan buat Reyna agar tidak sakit hati dengan sikap Farel.
"Sebenarnya apa sih yang bikin dia benci sama saya, Mas?" tanya Reyna yang tidak tahu salahnya di mana.
Roy melihat menutup pintu kamar, tetapi tidak rapat dan menjawab dengan suara pelan, "Bos Farel kesal karena kamu menolak tawarannya untuk jadi kekasih pura-pura karena sedang didesak oleh Pak Wily untuk menikah."
"Oh begitu, pantas saja dia sangat dendam sama saya," sahut Reyna yang mulai paham kenapa Farel tidak suka kepadanya.
"Nanti kamu akan mengenalnya lebih jauh lagi. Jadi sekarang kalau dia ngomong diemin dan iyain saja!" timpal Roy kembali.
Tiba-tiba terdengar suara Farel memanggil, "Roy!"
Roy segera ke luar dari kamar Reyna dan menemui Farel.
"Ngapain lama-lama di kamar Reyna?" tanya Farel dengan tatapan tidak suka.
"Beri tahu dia apa yang harus dikerjakan. Terus tugas saya sekarang apa Bos?" jawab Roy sambil bertanya.
Farel tersenyum dan berbisik, "Kamu tetap jadi asisten pribadiku!"
"Jadi Bos sengaja sudah merencanakan semua ini?" tanya Roy yang dijawab anggukan oleh Farel.
Farel memberitahu tujuannya melakukan semua itu. Ia ingin menjauhkan Reyna dari ayahnya dari kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Apa yang ditakutkan Bos Farel beralasan sih. Tapi menurutku tidak mungkin Pak Wily ada rasa sama Reyna. Justru aku mencium ada niat terselubung yang sedang direncanakan oleh Pak Wily," batin Roy menduga.
***
Mentari tampak bersinar dengan cerah, Farel baru saja selesai mandi dan sudah memakai baju kerja. Pria itu memang terlihat tampan bila mengenakan pakaian apa saja, meskipun wajahnya tampak judes. Justru itu membuatnya terlihat jadi cool di mata para wanita.
Setelah merasa penampilannya sudah sempurna, Farel ke luar dari kamar dan menuju ke meja makan. Ia melihat di atas meja sudah tersedia mie goreng, s**u dan secangkir kopi.
"Makanan apa ini?" tanya Farel yang jadi tidak berselera sama sekali untuk sarapan.
"Bos suruh Reyna masak, tetapi tidak ada stok bahan makanan yang bisa diolah," sahut Roy sambil fokus dengan ponselnya.
Farel tampak menggeleng dan memanggil, "Rey!"
"Iya, Kak," jawab Reyna segera menghampiri.
"Aku bukan kakakmu, jadi panggil Bos!" seru Farel sambil memperhatikan penampilan Reyna. "Kenapa belum rapi?" tanya pria itu sambil melipat kedua tangannya.
"Saya cuma asisten pribadi jadi stand bay di apartemen saja, kan?" jawab Reyna sambil bertanya.
Farel tampak mendelik seraya berkata, "Enak saja, kamu harus ikut ke mana pun aku pergi. Oh ya, kalau mau ambil libur sabtu minggu, jam kerja kamu dari sebelum aku bangun sampai tidur lagi. Sekarang cepat ganti baju kantor dan nggak pake lama!"
Reyna tampak tercengang mendengar jam kerjanya. Dengan spontan ia pun berujar, "Ini ma Romusha."
"Kamu ngatain aku penjajah?" tanya Farel yang mendengar umpatan Reyna.
Reyna tidak menjawab lagi dan langsung masuk ke kamarnya. Sementara itu Farel dan Roy menunggu sambil sarapan pagi.
"Enak banget mi goreng buatan Reyna," puji Roy sambil mengunyah suapannya.
Farel segera menyudahi sarapannya dan menyahuti, "Biasa saja." Ia kemudian minum beberapa tegukan s**u murni.
"Kok habis?" tanya Roy sambil menatap piring kosong di hadapan Farel.
"Terpaksa, lapar," jawab Farel yang segera melihat jam di tangannya. "Cepat Rey, sudah siang!" panggilnya dengan lantang.
Tidak lama kemudian Reyna sudah rapi. Gadis itu terlihat cantik memakai blazer hitam dengan dalaman kemeja putih. Sebuah celana panjang formal membentuk tubuhnya kian ramping. Lalu rambut yang biasanya dikuncir kuda digulung rapi ke atas kepala. Ditambah lagi sentuhan make up yang soft dan sepatu serta tas yang terlihat cocok sekali. Membuat Farel dan Roy tampak bergeming menatapnya.
"Saya sudah siap," ujar Reyna yang membuat kedua pria itu segera beranjak.
"Cantik," batin Roy memuji.
Farel juga bergumam di dalam hati, "Sialan, boleh juga tuh gadis kampung."
Sebelum mengikuti Farel dan Roy, Reyna menyempatkan diri untuk merapikan piring dan gelas bekas sarapan lalu menaruhnya di wastafel.
Roy mengemudikan mobil dan Farel duduk di sebelahnya. Sementara itu Reyna duduk di bangku tengah.
Ketika sampai di kantor, Reyna terlihat grogi sekali karena banyak pasang mata yang menatapnya dengan heran. Beda halnya dengan Farel yang tampak tenang. Pria itu bahkan acuh tak acuh dengan dinginnya.
"Kamu stand by di ruang kerja bersama Roy dan harus siap jika aku panggil kapan pun! Paham?" seru Farel ketika sampai di depan pintu ruang kerjanya.
"Iya, Bos," sahut Reyna yang siap menjalankan tugas dari Farel.
"Bagus, kerja yang bener!" pesan Farel dan segera masuk ke ruangannya.
Reyna kemudian mengikuti Roy masuk ke salah satu ruangan.
"Kalau saya ikut ke kantor, waktu mencuci baju, rapi-rapi dan masak untuk makan malam kapan Mas?" tanya Reyna yang jadi bingung.
"Ya nanti pulang kerja," jawab Roy yang merasa kasihan dengan Reyna. Memang seharusnya gadis itu lebih baik tetap di apartemen saja, tetapi kalau Farel sudah memutusakan siapa yang bisa membantahnya.
"Ini ma sama saja saya kerja rodi," umpat Reyna yang tidak nyaman sekali dengan pekerjaan barunya ini.
"Sabar ya, nanti juga kamu akan terbiasa!" sahut Roy yang mengerti perasaan Reyna karena pernah berada di posisi itu dulu.
Benar saja seharian ini Reyna cape bolak balik meladeni perintah Farel. Mulai dari menyiapkan minum, beli makan siang sampai mencari cemilan untuk pria itu.
"Ya Allah, kenapa sih aku harus kerja sama dia. Tolong beri hamba pekerjaan yang lain!" doa Reyna yang tampak lelah. Padahal semua pekerjaan itu biasanya dilakukan oleh office boy atau girl. Bahkan untuk makan siang saja Reyna tidak fokus karena Farel banyak maunya, satu belum selesai sudah memberikan perintah lainnya lagi. Parahnya lagi Roy tidak boleh membantu Reyna sedikit pun.
Ketika pulang kerja, Farel, Roy dan Reyna mampir ke supermarket untuk membeli stok makanan. Mereka kemudian sampai di apartemen menjelang magrib.
"Kamu susun semua belanjaan di kulkas dengan rapi. Setelah itu masakkan aku ayam kecap bumbu lada hitam yang enak ya!" seru Farel kepada Reyna.
Reyna yang masih cape menjawab dengan singkat, "Iya." Ia langsung merapikan belanjaan dan memasak.
"Bos, jangan sering nyuruh Reyna nanti dia kecapean dan sakit. Terus Pak Wily akan menariknya kerja di rumah lagi. Semua rencana Bos, nanti bisa berantakan!" ujar Roy mengingatkan.
Farel tampak berpikir sesaat dan menyahuti, "Habis aku gemes kalau liat dia diam saja!"
Tiba-tiba terdengar suara bel berbunyi. Roy segera beranjak untuk membukakan pintu. Tidak lama kemudian, seseorang masuk sambil memberikan kode kepada Roy untuk diam.
"Siapa, Roy?" tanya farel tanpa menoleh.
"Papi," jawab pak Wily yang membuat Farel melonjak kaget.
"Gawat," batin Farel yang langsung berbalik seraya bertanya, "Papi kenapa ke sini?"
BERSAMBUNG