Desa Xingxi berdiri kontras dengan wilayah-wilayah di sekitarnya yang telah tercemar oleh hawa ketakutan akibat desas-desus perang. Di saat desa lain hidup dalam bayang-bayang kecemasan, Xingxi masih memeluk erat kedamaian yang tenang dan damai. Budaya serta peradaban di desa ini masih sangat kental dijaga turun-temurun dari para leluhur; mulai dari arsitektur rumah kayu berukir klasik, tradisi gotong royong warganya, hingga aturan adat yang dihormati oleh siapa pun yang menginjakkan kaki di tanah tersebut.
Di sinilah Chen Long memutuskan untuk menetap sementara waktu. Ia tidak mencari kemegahan atau posisi tinggi seperti masa lalunya. Bagi seorang mantan jenderal yang telah kenyang dengan intrik istana dan bau darah, kedamaian adalah kemewahan tertinggi. Untuk menyambung hidup dan membaur dengan warga setempat, Chen Long memilih pekerjaan yang paling sederhana: menjadi seorang pengembala.
Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya terbit, Chen Long sudah terlihat menggiring puluhan domba, sapi, kambing, serta berbagai hewan ternak milik warga desa menuju padang rumput hijau di kaki bukit. Dengan tongkat kayunya yang sederhana, ia memandu kawanan hewan tersebut dengan kesabaran luar biasa. Wajah datarnya yang dingin kini melunak, menyatu dengan alam yang tenang, seolah ia benar-benar hanyalah seorang pemuda desa biasa yang lahir dan besar di tempat itu.
Namun, kedamaian Desa Xingxi perlahan mulaiikusik oleh dinamika dunia luar.
Suatu sore, suasana desa mendadak menjadi jauh lebih aktif dan riuh dari biasanya. Suara riuh orang-orang yang saling bertabrakan dan berkejaran memenuhi jalanan utama. Ternyata, desa ini telah menjadi tempat singgah favorit bagi para pedagang keliling dari berbagai penjuru. Mereka berbondong-bondong datang dan beristirahat di Xingxi karena desa ini terkenal sangat aman dari gangguan serta pemalakan para preman keji yang merajalela di jalur perdagangan utama.
Gerobak-gerobak barang berjejer rapi di sepanjang alun-alun desa, sementara para pedagang menggelar dagangan mereka sambil bertukar cerita dengan penduduk lokal. Anak-anak kecil berlarian di antara kerumunan, menciptakan tawa renyah yang menghidupkan suasana.
Chen Long, yang baru saja selesai menggiring ternaknya kembali ke kandang, berdiri di sudut jalan sambil menyandarkan bahunya pada sebuah tiang kayu. Matanya yang tajam mengamati keramaian itu dalam diam. Ia tahu betul, tempat yang aman dan makmur seperti Desa Xingxi tidak akan pernah luput dari perhatian para serigala lapar. Ketenangan ini hanyalah sebuah ketenangan sebelum badai besar datang menerjang.
Dan benar saja, insting tajam seorang mantan jenderal tidak pernah salah. Di balik gelak tawa para pedagang dan keramahan warga, bayang-bayang ancaman luar mulai merayap mendekati batas desa.