Angin sore berhembus malas, membawa debu tipis yang beterbangan di sepanjang jalan setapak menuju sebuah perkampungan terpencil. Di bawah langit yang mulai terbenam. seorang pemuda berpakaian jubah abu-abu sederhana tampak melangkah santai. Rambut panjangnya tergerai bebas, berkejaran dengan angin, sementara tangan kanannya menggenggam sebatang tongkat kayu biasa yang ia gunakan sebagai penumpu lelah.
Dari luar, penampilannya sama sekali tidak mencolok tipe pengembara miskin yang sering dijumpai di jalur perdagangan antarkota. Namun, ada sesuatu yang ganjil pada auranya. Wajahnya begitu datar, dingin, namun tegas. Tatapan matanya yang tenang menyiratkan kedalaman samudra; sorot mata seorang manusia yang telah melewati lautan darah, menyaksikan kejatuhan dinasti, dan menyimpan ribuan pengalaman pahit di balik kerutan tipis di sudut matanya.
Kampung yang ia tuju adalah sebuah pemukiman kecil di garis perbatasan. Wilayah ini berada di bawah yurisdiksi Kerajaan Tang Ling, sebuah negeri yang kini tengah siaga tingkat tinggi. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang penguasa bernama Guan Wang aja yang dikenal ambisius, didukung oleh barisan jenderal terampil dan kekuatan militer sekitar 35.000 prajurit aktif yang berjaga di berbagai pos perbatasan. Suasana tegang begitu terasa di udara; setiap sudut desa dijaga ketat, mengingat desas-desus perang besar melawan kerajaan tetangga sedang membayangi wilayah itu.
Pemuda sederhana itu bernama Chen Long. Siapa sangka, di balik penampilannya yang bersahaja dan usianya yang masih muda, tersimpan rahasia besar. Ia bukanlah pengembala biasa. Dulu, pada masa kejayaannya, Chen Long adalah seorang jenderal legendaris yang ditakuti dan dihormati dari kerajaan terbesar di daratan kala itu: Kerajaan Tian Long.
Langkah Chen Long terhenti ketika ia mendekati gerbang utama perkampungan. Dua orang prajurit berzirah besi usang langsung menyilang tombak mereka, menghadang jalannya dengan wajah curiga.
"Berhenti!" bentak prajurit pertama dengan suara menggelegar, matanya memelototi Chen Long dari ujung kepala hingga kaki. Tanpa buang waktu, prajurit itu menghunus pedangnya dari sarung, mengarahkannya tepat ke d**a Chen Long. "Anak muda, dari mana kau? Jawab jujur, atau kami akan menebasmu sebagai mata-mata musuh!"
Suasana di sekitar mendadak menegang. Beberapa warga desa yang melihat kejadian itu dari kejauhan langsung memilih bersembunyi di balik rumah, takut terseret masalah.
Namun, Chen Long tidak bergeming. Detak jantungnya bahkan tidak berdetak lebih cepat. Ia tidak menunjukkan secercah pun ekspresi panik, takut, atau tersinggung di wajah datarnya. Dengan tenang, ia menatap mata prajurit yang gemetar karena emosi itu, lalu menjawab dengan suara rendah yang datar namun berwibawa,
"Aku hanya seorang pengembala yang ingin berkelana mencari tempat tinggal. Tidak ada niat buruk di dalam benakku, Tuan Prajurit."
Prajurit itu semakin curiga. Jawaban yang terlalu tenang di bawah todokan pedang justru membuatnya semakin yakin bahwa pemuda ini berbahaya. Sebelum prajurit itu sempat melayangkan pukulan peringatan, sebuah suara berat berwibawa terdengar dari balik kerumunan tenda jaga.
"Biarkan dia lewat."
Sosok bertubuh tegap dengan jubah komandan melangkah mendekat. Namanya Wang Fang, seorang jenderal tingkat pertama Kerajaan Tang Ling yang ditugaskan khusus untuk mengamankan pos perbatasan dari segala bentuk penyusup dan mata-mata musuh. Wang Fang menyipitkan matanya, mengamati postur tubuh Chen Long yang berdiri tegak tanpa beban. Sebagai seorang jenderal berpengalaman, insting militer Wang Fang menangkap sesuatu yang tidak biasa dari cara pemuda itu memegang tongkatnya posisi siaga yang sempurna, bukan cara berdiri orang sembarangan.
Namun, melihat pakaian compang-camping dan tidak adanya atribut militer, Wang Fang memutuskan untuk mengabaikannya. "Dia sepertinya hanya warga desa biasa yang tersesat di tengah kekacauan ini. Jangan buang tenaga kita untuk orang lemah."
Chen Long sedikit menundukkan kepalanya, memberikan gestur hormat yang pas tidak berlebihan, namun sopan.
"Terima kasih, Jenderal," ucap Chen Long pelan.
Tanpa menunggu balasan, ia kembali membalikkan badan dan melanjutkan perjalanannya yang santai menuju ke dalam desa. Wang Fang menatap punggung pemuda itu sesaat, merasakan hawa dingin yang samar-samar melintas di udara, sebelum akhirnya mengalihkan kembali perhatiannya ke peta strategi perang di atas meja kayu.
Di dalam kesunyian malam yang mulai merayap, Chen Long melangkah masuk ke jantung perkampungan. Ia tahu betul, kedatangannya ke wilayah yang sedang di ambang perang ini bukan sekadar kebetulan. Roda takdir telah berputar, dan cepat atau lambat, nama besar yang telah ia kubur dalam-dalam akan kembali bergema di medan pertempuran.