Pasangan Wanita Ini

1160 Words
Di tangan Sora terdapat map berisi dokumen asuransi kematian Akihiko yang baru saja akan dicairkan. Kairi yang sudah menunggu hari ini tiba, sangat bersemangat mengatarkan temannya ke kantor asuransi. "Kau bisa menitipkannya di tabungan setelah uang asuransinya cair." Sora memainkan ujung map dengan jari telunjuk dan ibu jarinya. Kesedihan akibat kehilangan suami, masih menggelayuti wajahnya. Baru dua hari yang lalu ia kehilangan Akihiko dan sekarang ia sudah mencairkan uang asuransi. "Apa ini tidak terlalu cepat, Kairi?" "Heh? Terlalu cepat?" "Ya. Akhiko baru meninggal dua hari yang lalu. Suasana rumah juga masih berduka. Bukankah terlalu cepat untuk mencairkan asuransi?" tanya Sora lesu. Kairi menjetikan jemarinya. "Justru karena itu. Kau tidak bisa terus-terusan terpuruk oleh kematian Akihiko. Kau harus segera bangkit." Sora hanya mengangguk. Ia tidak terlalu ingin menanggapi ucapan Kairi. "Makanya, ada aku di sini. Aku tahu kau sedang kacau. Dan aku akan membantumu mengurus keperluan bulanan. Jadi, kau bisa fokus merawat Kana." Sora menarik napas dalam, "Terimakasih, Kairi. Kau sungguh orang yang baik." Kairi tersenyum penuh arti. Sedangkan Sora masih sibuk dengan isi kepalanya sendiri. Bagi Kairi, kesedihan temannya itu adalah kebahagiaan baginya Tidak ada alasan baginya untuk ikut bersedih saat dalam hatinya justru merasa senang. Setelah dari kantor asuransi dan berhasil mencair uang dengan nominal yang fantastis, Kairi mengajak Sora untuk makan siang di sebuah restoran ayam tempat langganannya. Sora merasa tidak masalah makan di mana pun. Sebab Kana sendiri sedang dititipkan di rumah keluarga besar Igarashi di kota tetangga. Hanya Sora seorang saja yang tinggal di apartemen mereka. Masih ada beberapa urusan yang harus ia selesaikan. "Ayam di sini sangat enak. Restoran ini adalah langgananku." Bukan hanya saat menerima uang, ketika memesan ayam kesukaannya, Kairi juga selalu bersemangat. Sora hanya mengangguk sekali. "Kau sangat suka ayam?" "Ya. Menurutku seluruh olahan makanan yang menggunakan daging ayam tidak pernah gagal." Pesanan ayam dan bir mereka sudah dihidangkan di atas meja. Kairi lah yang pertama kali menyantapnya. Bahkan ia lupa untuk menawarkan Sora lebih dulu. Sora yang melihat Kairi melahap ayan di depan mereka dengan begitu lahap nyaris terlihat rakus, mengurungkan niatnya untuk mengambil lagi potongan ayam yang tersisa. Dirinya baru makan satu potong dan Kairi sudah menghabiskan hampir separuh piring. "Ah, kau sungguh menyukai ayam." Sora hanya mengamati Kairi yang menggigit lapisan daging di sela-sela tulang sayap. Sebelah tangannya menopang dagu. Tatapan matanya tidak lepas dari Kairi. Kairi tersenyum sambil mengunyah. "Makanlah lagi. Aku bisa memesannya lagi jika kurang." Sora menggeleng pelan. "Aku sudah kenyang hanya dengan melihatmu makan." Kairi mengabaikan. Ia sibuk menggigit dan mengoyak daging paha ayam. Kemudian sebuah gagasan mampir di kepala Sora. "Bagaimana kalau kita memesan juga untuk keluargamu? Apa mereja juga suka olahan daging ayam?" Dengan mulut penuh, Kairi menjawab, "Kurasa mereka sudah bosan. Tapi aku memasak hari ini. Mau tidak mau mereka akan memakannya juga." Senyum Sora terlihat manis di wajahnya meski masih ada kesedihan di sana. "Kalau begitu nari kita pesan seporsi ayam goreng tanpa tulang untuk keluargamu." Kairi mengangguk setuju. Mau pesan seporsi, dua porsi, atau bahkan selusin pun tidak akan jadi masalah. Toh bukan ia yang mengeluarkan uang. Meski bilang mentraktir Sora makan, nyatanya wanita itulah yang membayar semua pesanan mereka. Kairi tidak perlu merogoh kocek sepeser pun. *** "Aku pulang." Yang menyambut kedatangan mereka pertama kali ada sepi. Sora mengekor Kairi yang baru saja masuk ke rumah sederhananya. Ia meletakan sepatu di rak sepatu lalu berganti dengan sandal rumah yang sudah tersedia. "Rumahmu nyaman," kata Sora saat pertama kali masuk. Dari luar, rumah ini tampak kecil dan kurang rapi. Tapi saat masuk, ternyata jauh lebih tertata dan bersih. Kairi menggerakan tangannya di depan wajah. Agak tersipu mendengar ucapan Sora. "Ini tidak senyaman rumahmu." "Rumahku ... sudah tidak senyaman dulu," ucap sora Igarashi pelan. Ia memaksakan senyum di wajahnya. Kairi balas tersenyum. "Jika kau merasa kesepian, kau bisa main ke rumahku kapan pun." Apalagi setelah rumahku direnovasi, batinnya. "Duduklah, Sora. Anggap saja seperti rumah sendiri." Sora mengangguk. Bukannya duduk seperti yang dikatakan Kairi, Nyonya Igarashi itu justru berkeliling rumah, mengamati perabotan yang ada. Sementara Kairi pergi ke dapur menyiapkan minuman untuknya. Di salah satu lemari kaca, mangkuk yang pernah ia berikan pada Kairi terpanjang. Bersih dan terawat. Tidak nampak sedikitpun goresan. Temannya itu menepati janjinya untuk merawat benda itu. Ada beberapa foto yang di pajang di dinding. Sora amati satu per satu wajah di sana. Lalu mengambil salah satu yang paling menarik perhatiannya. "Aku pulang." Suara serak dengan nada malas menyapa gendang telinga Sora Sontak wanita itu menoleh ke arah sumber suara Seorang pria tengah duduk di lantai kayu melepas sepatunya. Di antara bibirnya terselip sebatang rokok. Asap keabuan menguar di sekitarnya. "Selamat datang kembali," balas Sora pelan. Mendengar suara yang baru pertama kali di dengarnya, pria itu menoleh. Pandangan mereka saling bertemu. Sora sedikit membungkuk dan tersenyum menyapa. "Saya Sora Igarashi. Teman dari Kairi." Yamada yang melihat Sora terdiam sesaat sebelum membalas sapaan Sora dengan membungkuk juga. Rokok di selipan bibirnya disingkirkan dengan tangan. "Ah, selamat datang. Aku Yamada Takara. Apa kau mencari Kairi?" Sora menggeleng. "Tidak. Aku datang berkunjung bersama Kairi." "Ah, kau sudah pulang rupanya, Yamada." Kairi meletakan nampan berisi dua cangkir air di atas meja ruang tamu. Lalu bergegas menyusul Sora dan suaminya. "Perkenalkan ini Sora Igarashi. Dia ingin melihat rumah kita." "A-ah, ya. Tidak banyak yang bisa kami tunjukan di sini," kata pasangan wanita ini sedikit gugup. Ia tidak menyangka akan kedatangan tamu setelah sepuluh tahun menikah. Tamu yang benar-benar bertamu. Biasanya yang bertamu adalah rentenir dari tempatnya berjudi, orang-orang yang mereka tipu, atau penjual yang belum mereka lunasi hutangnya. Rasanya agak canggung dan aneh mendapati orang asing mau berkunjung ke rumah mereka. "Aku hanya ingin melihat rumah Kairi. Karena selama ini dia sudah banyak membantuku." Sora masih menyunggingkan senyum saat berbicara, membuat Yamada jadi salah tingkah. "Begitu, kah?" Yamada melirik tangan Sora yang masih memegang figura. Matanya sedikit mengintip di balik tangan wanita itu. "Itu adalah foto yang kami ambil saat pertama kali pindah ke rumah ini." Yamada mengedikan dagunya ke arah tangan Sora. Sora mengikuti arah kedikan itu. "Wah, pantas saja Kairi di sini tampak sangat muda." Kairi menyenggol bahu Sora malu. "kau bisa saja." "Apa kalian selalu berfoto bersama di setiap tempat?" "Tidak juga. Kenapa memangnya?" tanya Kairi santai. "Aku melihat banyak foto keluarga di beberapa tempat dan rumah. Kupikir kalian memang suka mengabadikan momen." "Tidak tidak. Kami hanya mengabadikannya setiap pindah tempat tinggal saja." Selang sedetik, Kairi dan Yamada saling bertatapan. Kairi keceplosan. "Kalian sering berpindah tempat?" "Ka-kami suka mencari suasana baru," bela Yamada. Hampir saja mereka ketahuan. Yamada memang baru pertana kali dengan Sora. Namun, di detik itu juga ia tahu kalau ia harus berhati-hati saat berucap agar tidak menimbulkan kecurigaan. Jika ketahuan, Sora bisa saja melaporkan mereka ke polisi saat ini juga. "Ah, begitu rupanya. Pasti menyenangkan, ya?" Yamada dan Kairi hanya bisa tersenyum. Lalu wanita itu mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Sora duduk di ruang tamu dan berbincang. Untjng saja wanita itu tidak sempat menaruh rasa curiga karena perkataannya sebelumnya. Untuk sekali ini, Kairi mengakui bahwa Yamada sedikit bisa diandalkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD