"Aku ... aku tidak bisa melakukannya, Kairi. Meski dia melakukan kesalahan fatal dalam pernikahan kami, aku tetap tidak bisa membunuhnya."
Dengan menangis tersedu-sedu, Sora mengutarakan isi hatinya di taman sekolah selepas pulang. Kana dan Hayate tampak asyik berbagi camilan di atas ayunan. Dunia keduanya tampak lebih mengasyikan dibanding pembicaraan dua orang dewasa yang duduk di atas bangku tak jauh dari tempat mereka berada.
"Aku tahu. Pasti memang sulit. Apa lagi ini pertama kalinya untukmu," ucap Kairi tanpa empati.
Sora menyeka air matanya. "Apa kau pernah melakukannya?"
Kairi diam sesaat. Menimbang apa yang harus ia katakan untuk menjawab. "Yah, aku pernah melakukannya."
Sora mendelik, "Kau ...? Tidak mungkin," ujarnya tidak percaya. Kepalanya menggeleng ngeri. Tidak mungkin orang seperti Kairi yang rela membantu dirinya yang bodoh ini, sanggup membunuh.
Kairi menaikan sebelah alisnya. "Yah, membunuh seekor tikus bukan hal yang sulit sih."
Kelopak mata Sora mengerjap cepat. Sedetik kemudian punggungnya yang tadi menegang, kembali menurun. Deru napas yang sempat tertahan, kini kembali normal. "Kukira kau sudah pernah membunuh seseorang."
Kairi mengedikan bahu sekali. "Manusia dan hewan sama saja, kan? Sama-sama bernyawa."
Sora berpikir sebentar. Yang dikatakan oleh Kairi ada benarnya juga. Menghilangkan nyawa mahluk hidup, bisa disebut membunuh juga, kan?
"Apa yang kau lakukan pada tikus itu?"
"Karena terlalu banyak jumlahnya dan merusak sepatuku, aku memberi mereka racun tikus."
Sora mengangguk. "Memang paling cepat membunuh sekumpulan tikus adalah dengan meracuni mereka." Untuk sesaat ia lupa bahwa yang mereka bahas bukanlah sesimpel membunuh tikus.
Sebuah ide mampir di kepala Kairi. "Benar juga. Kenapa kau tidak menggunakan racun saja untuk membunuh Akihiko?"
Kairi mengatakannya seolah idenya adalah ide paling cemerlang di abad ini. Karena baginya membunuh tikus mudah, tentu membunuh manusia juga sama mudahnya, bukan?
"Apa? Apa kau gila? Aku sudah bilang tidak bisa melakukannya," tolak Sora.
"Ya. Kau juga bilang kau tidak ingin lagi makan hati tiap kali kalian bertengkar. Maka inilah jalan satu-satunya. Kau akan mendapatkan semua yang kau butuhkan."
"A-aku .. itu ..."
"Kau tidak perlu menggunakan cara kasar seperti menusukan sebilah pisau atau memukulnya dengan martil. Kau bisa menggunakannya dengan cara yang lebih halus."
"Maksudmu ... menggunakan racun tikus begitu?" tanya Sora ragu.
Kairi mengangguk mantap. "Kau tidak perlu mengotori tanganmu secara langsung. Racun juga terbilang cepat prosesnya."
"Tapi ..."
"Apa lagi yang membuatmu ragu? Apa kau masih memiliki perasaan padanya?"
Sora menatap ujung sepatunya. Ia sendiri bingung harus menjawab apa. "Aku tidaj tahu bagaimana perasaanku padanya sekarang."
"Kalau kau masih memiliki perasaab padanya, akan sangat sulit ke depannya. Akihiko sudah pasti tidak memiliki perasaan apapun padamu, makanya dia dengan mudah melukai hatimu. Berbanding terbalik dengan dirimu."
Sora diam. Tapi Kairi tahu, wanita di sampingnya ini tengah memikirkan setiap kalimat yang diucapkannya. Yah, memang itu yang seharusnya dilakukan oleh Sora.
"Entahlah, Kairi. Aku tidak yakin akan semuanya."
Semuanya? Apa maksud dari kata semuanya? Apa ia tidak yakin pada kata-kata Kairi? Apa ia mulai ingin membangkang dari kekangan Kairi secara tak langsung?
"Apa lagi yang membuatmu tak yakin?"
"Aku belum pernah membeli racun jenis apapun. Dan aku tidak tega melukai mahluk lain."
Kairi menghela napas panjang. "Anggap saja kau menyingkarkan seekor hewan pengerat yang merusak barang-barang berhargamu. Dengan begitu kau akan merasa enteng saat melakukannya."
"Aku akan mencobanya. Lalu bagaimana dengan racunnya?"
Kairi menggigit pipi dalamnya. Lalu berkata, "Sepertinya kau memang tidak bisa melakukan apapun tanpaku. Biar aku yang membelikannya. Kau hanya tinggal memasukannya ke dalam bekal makan Akihiko."
Sora mengerjap. "Apa tidak akan ketahuan, Kairi?"
"Pasti orang-orang akan curiga. Kau jangan memasak makanan itu sendiri. Kau bisa membeli makanan yang sudah matang dan meletakannya di kotak bekal. Lalu kau bisa beralibi jika Akihiko keracunan dari makanan yang kau beli. Dengan begitu, alibimu akan menjadi kuat."
Benar. Alibi seperti itu pasti tidaj akan ada yang mencurigai. Semua bisa sudah dipikirkan matang-matang. Mulai dari perencanaan sampai tahap akhirnya. Tinggal bagaimana Sora mengeksekusi rencana itu.
Dan Kairi berharap, Sora tidak mengacau rencana cemerlangnya ini.
***
Hari itu mendung tapi tidak hujan. Saat Kairi tiba di lobi rumah duka itu, sudah banyak sekali karangan bunga indah yang mengucapkan belasungkawa. Ini adalah rumah duka untuk kalangan atas. Pertama kalinya ia berkunjung ke tempat seperti untuk berduka akan kematian seseorang yang ia tidak kenal betul.
Kairi merapikan rok hitam selututnya yang sedikit kusut sehabis turun dari bus. Bisa ia lihat banyak oran tua dan wali murid serta guru dari tempat Kana bersekolah datang melayat. Begitu juga dengan orang-orang yang bersetelan dan memakai baju mahal.
Ia sesekali tersenyum pada orang yang ia kenali. Di kejauhan ia melihat Sora tengah terduduk lesu setelah menerima pelukan dari seorang perempuan. Lengannya diusap dengan lembut untuk menguatkan Sora.
Kemudian giliran Kairi yang memberikan penghormatan terakhir pada Akihiko. Seperti yang diajarkannya sejak kecil saat ada yang meninggal, ia juga berusaha menunjukan wajah sedih di hadapan foto Akihiko yang terlihat sangat tampan.
Lalu ia beralih pasa Sora yang langsung memeluknya erat dengan isakan. "Tidak apa, Sora. Tidak apa. Menangislah."
Sora yang mendengarnya semakin terisak. "Memang kematian itu menyakitkan. Tapi sekarang kau sudah bebas," imbuhnya.
Aku juga sekarang bebas menguasai uang kalian,' Kairi membatin.
"Aku tidak menyangka jika ia akan meninggal karena kecelakaan mengingat apa yang sudah kita rencanakan waktu itu."
Meski rencananya gagal untuk meracuni Akihiko, kematian pria itu yang diakibatkan karena kecelakaan juga tidak buruk. Selama tetap berujung maut bagi Akihiko Igarashi, bisa dikatakan semua tetap dalam kendalinya.
Kairi mengakui ia memang tidak memiliki simpati sama sekali terhadap orang lain. Maka dari itu, ia kueang peka terhadap situasi saat mengatakannya.
Sora tidak menjawab. Ia hanya sibuk menangis. Kairi mengusap punggung temannya itu. "Apa ada perempuan lain yang tampak sama sedihnya denganmu?"
"Ada," jawab Sora disela isak tangisnya.
"Yang mana orangnya?"
"Kana sedang beristirahat di kamarnya. Aku tidak bisa membawanya ke sini. Karena ia terlalu sedih."
Wajah Kairi berubah malas. Saat mengatakan kalimat berikutnya, terdengar ogah-ogahan. "Bukan, Kana yang kumaksud. Tapi perempuan lain yang kau curigai sebagai selingkuhannya."
Sora menahan isakannya. Ia urai pelukan Kairi dan menatap dengan mata sembab. "Entahlah. Aku tidak begitu memperhatikan yang hadir. Aku hanya fokus pada Akihiko."
Kairi mengangguk. Berusaha memahami situasi. Lalu Sora melanjutkan, "Lagi pula, sekarang siapa perempuan itu sudah tidak penting. Akihiko sudah tidak akan lagi bisa menemuinya."
Perempuan mana pun sekarang bukan lagi menjadi masalah Sora untuk berdebat dengan suaminya. Sebenarnya jika boleh jujur pada Kairi, Sora lebih memilih Akihiko berselingkuh dari pada tidak lagi ada di dunia ini.
"Kau benar. Siapapun itu, bukan apa-apa sekarang. Kini saatnya kau bangkit dan memulai semuanya dari awal lagi dengan senyuman. Tidak akan ada lagibyang mampu menyakitimu. Bukan begitu, Teman Baikku?"
Orang-orang yang melihat interaksi Kairi dan Sora merasa janggal dengan sikap ibu Hayate tersebut. Pasalnya ini adalah upacara pemakaman. Kenapa wanita itu terlihat lebih banyak tersenyum dibanding bersedih? Ia tidak menunjukan wajah berduka sedikit pun.
Kairi tahu. Dan dia abai. Selama Sora tidak berpikir seperti yang dipikirkan orang lain, ia tidak keberatan.