"Kami bertengkar lagi. Kali ini lebih parah daripada sebelumnya," ujar Sora dengan suara bergetar menahan tangis.
"Tidak apa, Sora. Kau boleh menangis," sahut Kairi. Tangan kanannya menggenggam tangan Sora di atas meja.
Kafe ini sudah menjadi langganan mereka sejak memulai pencarian bukti perselingkuhan Akihiko. Meski sampai sekarang belum menemukan bukti, Sora percaya suaminya memang berselingkuh.
Ia percaya dengan semua ucapan teman baiknya, Takara Kairi.
"Aku tidak tahu bagaimana rasanya diselingkuhi. Tetapi memang begitulah pria. Ketika sudah mendapatkan yang dimau, satu wanita saja tidak cukup."
Kata-kata Kairi tersebut memprovokasi air mata yang terbendung di pelupuk mata Sora. Kini aliran bening mengalir ke pipinya yang memerah.
Setelah beberapa kali melakukan penyelidikan, Akihiko memang tidak terbukti berselingkuh dengan Guru Fumiko. Namun, menurut Kairi orang yang waktu itu sempat ia lihat kemungkinan adalah teman sekantor suami Sora.
Sora sendiri sudah mengatakannya pada Akihiko agar mengaku siapa perempuan yang sering pergi menemaninya dalam perjalanan bisnis. Meski sudah dijelaskan setiap kali bertengkar, Sora tetap lebih mempercayai Kairi.
Sora menangkup wajah dengan kedua tangan. Bahunya bergetar. Isakannya mulai terdengar lirih. Beberapa pengunjung kafe yang sedang bersantai di sana, mengalihkan perhatian pada mereka berdua yang duduk sedikit memojok di dekat jendela besar.
Kairi berusaha menjadi teman yang baik. Ia ambil selembar tisu dan memberikannya pada Sora. "Tak ada gunanya menangisi yang sudah terjadi. Lebih baik sekarang kau memikirkan apa yang harus kau lakukan."
"Aku tidak tahu lagi harus bagaimana?"
"Apa kau masih ingin bersama dengan lelaki pesellingkuh seperti Akihiko?"
Kairi sengaja menekankan kata 'peselingkuh' pada nama Akihiko untuk meyakinkan Sora. Yah, dia punya rencana baru sih. Rencana di luar skenario yang sudah ia susun sebelumnya.
Bisa dibilang, rencana dadakan.
"Apa maksudmu, Kairi?"
Sora menatap Kairi dengan mata yang masih basah dan kelopak yang sedikit membengkak. Tisu di tangannya sudah basah kuyup menghapus air mata di pipi.
"Yah, maksudku kalian bisa saja berpisah."
Itu adalah pertama kalinya Sora mendengar saran tidak masuk akal selama pertemanan mereka. Selama ini, ia selalu merasa bahwa Kairi akan mendukung keutuhan rumah tangganya. Namun, kenapa sekarang ia mengatakan seperti itu?
"Kenapa ... kau berkata begitu?" tanya Sora tidak mengerti.
Kairi mengangkat kedua bahunya bersamaan. Tatapannya tenang hingga Sora tidak bisa membaca isi kepalanya. "Jika memang sudah tidak bisa dipertahankan, bukanlah lebih baik kalian bercerai saja?"
"Itu tidak mungkin," tolak Sora spontan. Ia tidak mungkin menceraikan Akihiko. Ia tidak bisa.
"Kenapa? Kau ingin makan hati setiap hari melihat kelakuan suamimu itu?" Kairi menyangga dagunya dengan sebelah tangan. Sedang sebelah tangan lainnya mengusap ujung cangkir.
"Tentu, tidak. Tapi itu hal yang sangat mustahil kulakukan."
"Alasannya?"
"Aku ...," mata Sora berkeliaran ke kana kiri mencari alasan, "aku hanya seorang ibu rumah tangga tanpa penghasilan. Bagaimana caraku bertahan hidup di kota ini? Belum lagi Kana masih sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari ayah. Ditambah ... bagaimana ... bagaimana caraku memberitahu keluarga kami?"
Setelahnya, napas Sora terengah-engah layaknya orang yang habis berlari maraton. Tidak pernah dalam hidupnya, dirinya berbicara sebanyak itu dalam satu tarikan napas.
Bukannya berempati, Kairi malah memberikan senyuman pada perkataan Sora. Sudah ia duga akan seperti ini ujungnya. "Kau tidak perlu mengkhawatirkan itu semua."
Dahi Sora berkenyit. Semakin tidak memahami isi kepala Nyonya Takara. Lalu Kairi pun melanjutkan penjelasannya.
"Jika kalian berpisah, kau bisa menuntut Akihiko untuk memberikan minimal uang bulanan sebagai tuntutan. Lalu Kana juga tetap bisa mendapatkan semua yang ia butuhkan dari ayahnya, asalkan kalian bisa membagi jadwal," tuturnya.
Sora masih mengernyit saat bertanya lagi, "Bagaimana dengan orang tua kami? Mereka tidak akan menerima semua itu dengan mudah."
"Ah, orang tua. Inilah masalah terbesarnya. Para orang tua biasanya suka sekali ikut campur urusan rumah tangga anaknya."
Kairi jadi teringat dengan kedua orang tuanya. Sebelum kematian mereka, kedua orang tua bangka itu selalu saja merepotkannya dengan meminta uang. Ia sangat bersyukur karena akhirnya bisa terlepas dari orang-orang beban seperti mereka.
"Jika orang tua kalian bertanya," lanjutnya, "kau bisa mengatakan bahwa kalian tidak mungkin lagi bersama. Atau kalau tidak, kalian bisa merahasiakannya. Akihiko juga pasti tidak ingin kedua orang tuanya tahu," jawab Kairi enteng.
Merahasiakan perceraian? Memangnya mudah? Pasti ada saat-saat di mana orang tua Sora dan Akihiko bertanya tentang kehidupan rumah tangga mereka bukan?
"Aku rasa tidak akan semudah itu, Kairi," ucap Sora tersendat.
"Tidak mudah karena belum dijalani." Kairi berpikir sejenak, "Kalau kau memang tidak ingin sampai ada yang tahu di keluarga kalian, mungkin kau bisa mengikuti saranku yang satu ini."
Punggung Sora maju mendekat pada meja. Ia begitu tertarik dengan saran lainnya. Siapa tahu sarannya kali ini akan benar-benar membantu masalahnya biar tidak semakin runyam.
"Jika kau mengikuti saranku ini, kau tidak perlu lagi kebingungan tentang uang dan pertanyaan dari keluarga besar, serta Kana juga bisa mendapatkan yang terbaik." Kairi menatap Sora dengan penuh arti.
"Benarkah?"
"Ya."
"Apa yang harus kulakukan?"
Kairi tersenyum dengan bahagia, "Kau ... hanya perlu membunuh Akihiko."
***
"Kau menyuruhnya menjadi pembunuh?"
Yamada sangat terkejut setelah mendengar semuanya. Dirinya tidak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya. Tidak terbesit sama sekali dalam benaknya, Kairi akan senekat itu menipu seseorang.
Kairi mengunyah nasi putih beserta potongan daging ayam dalam mulutnya dengan perlahan. Ia menikmati ayam panggang dari sebuah restoran ayam ternama yang baru saja dibeli oleh Yamada dari uang Sora untuk Akeno. Wanita itu tidak akan pernah bosa memakan olahan ayam dari restoran itu.
Yamada masih menunggu jawaban dari Kairi. Setelah menelan pun, Kairi tidak langsung menjawab. Malahan ia mengambilkan daging lagi untuk Hayate dan kakaknya. "Makanlah sebanyak yang kalian mau. Ayah kalian akan membelikannya lagi kalau kurang."
"Hei hei. Aku sedang bertanya padamu," sela Yamada.
Kairi tersenyum semringah, "Apa tadi pertanyaanmu?"
"Apa kau sudah gila menyuruhnya menjadi pembunuh dari suaminya sendiri?" ulang Yamada.
Kairi menggeleng, "Tidak. Aku kan hanya memberinya saran. Kalau dia mengikutinya, itu salah Sora."
Yamada mengernyit, "Saran macam apa itu? Bukankah itu memang bagian dari rencanamu?"
"Ya. Tapi aku tidak memaksanya untuk mengikuti apa yang kuucapkan."
"Tapi kau membujuknya."
"Itu kalau dia terbujuk."
Yamada mendesah pelan. Memberikan senyum ngeri saat menatap Kairi. "Kau lebih mengerikan daripada yang kukira. Kau sudah seperti wanita iblis."
Kairi meletakan mangkuknya dengan keras sampai suara benturan terdengar. Hayate dan kakaknya pun terkejut dan menghentikan aktifitas makan mereka. Yamada sendiri sampai terlonjak ke belakang.
"Apa kau menyebutkan iblis?!" Mata Kairi melotot saat mengatakannya. Jari telunjuknya menuding Yamada. "Memangnya siapa yang membantumu membayar hutang judi, membelikan baju baru, makan enak setiap hari, motor baru, dan juga membayar biaya rumah sakit ibumu? Menurutmu siapa yang melakukan itu semua?"
Yamada tersenyum paksa. "Ya, a-aku tahu Kau ..." ucapannya terpotong oleh amukan Kairi yang belum berakhir.
"Apa ada iblis yang bisa memberikan itu semua padamu? Aku bukanlah iblis. Aku adalah malaikat di keluarga ini."
'Dan iblis bagi keluarga orang lain,' batin Yamada.
Kedua tangan Yamada terangkat. "Baiklah baiklah. Maafkan aku. Aku mengerti semua yang kau lakukan itu adalah untuk keluarga kita." Yamada akhirnya memilih mengalah.
Kairi melanjutkan makan malamnya dengan gerakan kasar. Selanjutnya tidak ada satu pun dari mereka yang bersuaea. Bahkan Hayate dan kakaknya yang tadi sempat bercanda saat makan, semuanya terdiam.
'Ternyata begini rasanya menikah dengan iblis. Ibu, maafkan aku salah memilih istri.'