11. NYANYIAN KENYA

1541 Words
Pesawat berhenti setelah kira-kira dua jam kemudian. Atau setidaknya begitulah menurut Mustaka pada Venus, yang terus saja memelototi salah satu jeruji sejak ia tahu siapa Amerta yang sebenarnya. (Putri, apa informasi tadi lantas membuat Anda jadi patung?) Dengan kurang ajarnya Mustaka berkata dalam benak Venus. Venus mendengus. Tatapannya tidak pindah ke mana-mana. (Aku mati. Sialan kau, Mus! Kenapa kau tidak pergi saja dari otakku?!) (MUS?!) Venus berjengit seraya memegangi kepalanya. Suara Mustaka terdengar sangat tersinggung dan hampir meledakkan otak Venus jadi berkeping-keping. “Jangan berteriak dalam kepalaku!” geram Venus dengan suara rendah. (Maafkan saya, Putri. Namun, sebelum ini Anda juga pernah berteriak. Kepala saya sama sakitnya dengan Anda.) Leher Venus memanas. Dia tidak ingat tentang itu. (Kau sebenarnya ada di mana, sih, Mus? Dan tolong, berhenti memanggilku Putri. Panggil saja Venus.) Punggung Venus tiba-tiba meremang, seakan ada udara yang ditiupkan secara sengaja di sana. (Mus?) (Saya ada di dalam raga Anda, Venus.) Mata Venus berkejap. (Apa maksudnya, sih?) (Maksudnya, saya ada di dalam raga Anda.) Roh kurang ajar itu terkekeh dalam hati. Sel jeruji Venus tiba-tiba berguncang. Anak perempuan itu terempas ke sisi kanan dan segera berdiri sambil mencoba menyeimbangkan diri. Dengan ngeri ia menatap pintu pesawat yang berkeriut terbuka, sebelum kemudian sadar bahwa sangkar burung Venus tidak akan dijatuhkan begitu saja dari langit. (Menurutmu, siapa yang akan menyelamatkan aku nanti?) Venus bertanya-tanya saat selnya turun perlahan. (Saya tidak tahu.) Sungguh pelindung yang sangat bisa diandalkan. Di tengah penurunan sel jeruji yang dramatis itu, mulut Venus seperti moncong kuda nil yang tengah terbuka lebar. Tatapannya terpaku pada pemandangan malam di luar sana. Ia bahkan hampir lari menempelkan wajahnya ke sela-sela jeruji, sebelum ingat kalau dia sedang terayun-ayun di udara dan seharusnya diam saja. Dari yang bisa Venus lihat, ia diturunkan di tengah tempat yang sangat luas. Mustaka menyebutnya Alun-Alun Kematian. Alun-alun yang diterangi berbagai lampu itu penuh sesak dengan ribuan manusia, yang berteriak-teriak sambil mengacungkan tinju mereka ke udara. Karena telinga Venus masih dipenuhi dengan dengung pesawat, indra pendengar anak itu tidak begitu jelas menangkap apa yang sedang mereka semua serukan. Yang jelas ekspresi mereka tampak marah, sebagian lagi senang. (Ribuan orang bodoh ini lagi apa, sih?) Venus bersungut-sungut sebal. Ada sesuatu yang mendengus di kepala Venus, dan setengah detik kemudian Mustaka bicara. (Yang benar itu ratusan ribu, Venus. Dan ngomong-ngomong, mereka ini sedang menyoraki kematian Anda.) Venus memonyongkan bibir. (Ada orang mau mati malah disoraki.) (Soalnya Anda bukan orang.) Sebelum Venus sempat memikirkan u*****n jorok untuk Mustaka, sel jerujinya terempas dengan agak kasar. Beberapa Pengaman tampak melepaskan kait, tetapi bukan itu yang mengganggu pikiran Venus. (Kenapa selku diletakkan di dalam kotak kaca?) Wajah dan suara hatinya sama-sama tegang. (Apa aku akan ditenggelamkan?) Hening sejenak sebelum batin Mustaka menembus kepala Venus. (Oh, ini kabar buruk.) Nada suara Mustaka sama sekali tidak terdengar buruk. (Kau kena hukuman Nyanyian Kenya.) (Ap—) (Permisi, aku harus lapor dulu ke Kaisar.) Venus tiba-tiba terperenyak kaget. Rasanya seperti jiwa Venus tertarik keluar, lalu kembali melenting masuk hingga membuat raga anak itu jatuh terduduk. Jantung Venus berdegup kencang. (Apa itu tadi?! Mustaka? Mustaka? MUS!) Namun, roh itu sepertinya sudah tidak ada. Dia bilang apa tadi? Lapor dulu? Ya ampun. Venus kira Mustaka dan Kaisar bisa saling lapor dengan telepati juga! Pesawat menderum pergi, meninggalkan Venus sendiri di tengah-tengah lautan tinju yang teracung-acung. Dasar anak terkutuk! Bizura iblis! Pemb— Venus mendongak, tepat ketika selembar pintu bening di atas menutup, menghalangi semua suara dari luar. Lagi-lagi aku harus berhadapan dengan yang hening-hening. Sialan. Seorang laki-laki berwajah bulat dan berbadan seperti bakpau keluar dari pintu bawah tanah, di samping kotak kaca yang mengurung sel Venus. Laki-laki itu memakai setelan hitam, dengan topi tinggi bak penyihir dan menenteng-nenteng sebuah tongkat berjalan dari besi. Ia melangkah maju dan berhenti tepat di depan Venus. Laki-laki itu kemudian berbicara menggunakan mikrofon, tetapi Venus masih belum bisa mendengar apa-apa. Sepertinya kotak kaca ini kedap suara. (Bersiaplah.) Venus terperanjat. (Kau sudah kembali, Mus?) (Tolong, Venus, jangan memanggil saya begitu. Dan, ya, saya sudah kembali.) Venus menggigit bibirnya agar tidak tersenyum geli. Namun, senyumnya menghilang secepat debu yang tertiup angin kencang. Pekikan sopran seseorang tiba-tiba menusuk gendang telinga sang pesakitan. Sang Putri Bizura menutup telinganya, mencoba bersembunyi dari suara itu. Ia melenguh di pojokan sel, lalu meringkuk seperti bayi kecil yang ketakutan. “Hentikan! Mustaka, tolong aku!” Namun, pekikan merana itu tidak kunjung berhenti. Dan Mustaka tak menjawab teriakan Venus. “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA …!” Venus berteriak kesakitan. Telinganya mengucurkan darah, tetapi anak itu tetap menutup indra pendengarnya kuat-kuat. Namun, pekikan nyaring itu masih saja menembus gendang telinganya. Venus memekik lagi, lagi, dan lagi. Berbagai citra acak tiba-tiba berkelebat di benak Venus. Foto sang ibu, wanita yang menyeringai dan spiral hitam di pantai waktu itu, mimpi sepasang siluet kelabu, ayah angkat yang mendorongnya, kegelapan dalam Portal … semua terpelesat hanya dalam hitungan kurang dari lima detik. “AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA …!” Venus berdengap. Jantungnya bagaikan tertikam oleh sesuatu yang tajam. Refleks, tangannya mendekap d**a, dan Nyanyian Kenya berdentum di telinganya bak suara dari dalam neraka. Anak perempuan itu berteriak hingga suaranya serak. Darah mengucur dari lubang kupingnya. Sesuatu menonjok perut Venus, membuat anak itu berdengus kesakitan. Darah tiba-tiba muncrat dari mulutnya dan membuat gadis itu tersedak. Terbatuk-batuk dan tersiksa, Venus mencoba meredam rasa sakit di perut, telinga, dan d**a dengan hanya dua tangan. Bagaikan es yang mencair, air mata Venus mengalir deras tanpa bisa dicegah. Anak itu menggerung-gerung seperti bayi, dan terus berteriak hingga tenggorokannya begitu sakit. Rasa frustrasi melandanya. Kepala anak itu seperti akan pecah … atau mungkin saja sudah. Suara sopran itu tiba-tiba berhenti. Venus masih menangis dan terisak patah-patah. Kemudian, suara sopran itu mulai bernyanyi. Wahai, Sang Putri Bizura dari Kematian Awalmu telah merusak tatanan Lahirmu adalah Kegelapan Akarmu begitu mengerikan Sang Penerang akan menghitam Sang Pendengar jadi pendiam Sang Pengkhianat tak tenggelam Dan cahaya berubah kelam Wahai, Keturunan Sang Kebencian, Penggenggam Kematian Aku bernyanyi dengan segan Sempatlah ingat sebuah slogan "Dendam haruslah terbalaskan" Venus berdeguk, tak begitu paham dengan arti dari lirik-lirik tadi. Lalu, tanpa aba-aba, Nyanyian Kenya kembali memekik, tanpa jeda. Venus menggerung lagi. Matanya berkunang-kunang. Sejuta tawon tengah mendengung di dalam telinganya. Prang! Pecahan kaca yang berkilau berserak dan beberapa melukai tubuh Venus. Gadis itu membuka matanya sedikit. Samar-samar ia melihat kekacauan dari orang-orang yang menontonnya. Untuk saat ini, Nyanyian Kenya tidak hanya menghukum Venus seorang. Gadis itu tersenyum di antara derak kesakitan pada tulang-tulang kewarasannya. Kenapa begitu terlambat, Kaisar? Lalu, hilanglah kesadarannya. • • • Jemari anak perempuan itu berkedut. Matanya mengerjap-ngerjap lemah. Erangan tersiksa keluar dari bibirnya yang kering. Anak itu merintih saat kepala dan telinganya bekernyut nyeri. (Mus?) Venus meringis saat ia menghela tubuhnya hingga duduk tegak. Selimut kelabu tebal merosot dari dadanya. Untuk sesaat, Venus hanya memejamkan mata dan meremas kepalanya yang pening. Telinganya masih berdenging ngilu, dan Venus berharap semoga saja indranya yang satu itu nanti masih berfungsi. Venus membuka matanya dan memperhatikan sekeliling. Setelahnya, anak itu harus menghela napas, seakan-akan sudah merasa cukup dengan hidupnya dan karenanya jadi lelah. Gadis itu berada di sebuah ruangan berdinding batu. Ruangan itu hanya diterangi oleh dua buah obor yang diletakkan di kiri-kanan pintu. Perabot dan benda yang ada di sana hanyalah tempat tidur yang kini diduduki Venus, sebotol air di atas meja kusam, dan tiga buah kursi yang anehnya tampak mengilat. Venus menatap langit-langit dan semua dinding di ruangan itu. Tak ada jendela atau yang sejenisnya, sehingga Venus berpikir pastilah dia berada di semacam ruang bawah tanah. (Mustaka?) Venus mencoba lagi. (Silakan muncul. Kalau tidak, akan kupanggil kau—) (Ya, Venus, tidak perlu mengancam saya. Anda tadi sudah melakukan ancaman itu.) Venus mendengus, tak lagi merasa harus malu. (Kau bilang kau akan langsung menyahut kalau aku memanggil. Tapi, Mustaka, kenyataannya berbeda. Kau lelet sekali.) Mustaka tertawa sinis. (Andai saja Anda menjadi saya, Venus. Saya juga perlu tidur.) Alis kanan Venus terangkat. Itu berita baru baginya. Dia pikir, seorang roh harusnya tidak pernah tidur. (Kau, 'kan, kekal.) Venus membatin. (Masa masih perlu ngiler?) (Saya tidak ngiler, terimakasih.) Nada suara Mustaka terdengar sebal. (Dan Anda harus tahu satu hal; saya ikut tertidur saat Anda tidur. Kita berada di raga yang sama, Anda ingat?) Kalimat terakhir entah mengapa membuat Venus sedikit terganggu, tapi ia mengabaikannya. Ada hal-hal yang lebih penting daripada sekadar bagaimana selembar arwah bisa menempel di bokongnya begitu saja. Yang paling penting adalah, apakah pikiran-pikiran pribadi juga bisa terdengar oleh Mustaka? (Tidak bisa,) sahut Mustaka saat Venus bertanya padanya. (Percakapan kita kurang lebih sama seperti telepati atau manusia yang sedang mengobrol seperti biasa.) Maka, legalah perasaan Venus. Sungguh mengerikan jika pikiran Venus tentang b****g diketahui oleh Mustaka. (Kau tahu di mana kita sekarang?) Venus bertanya sambil memijit dahinya keras-keras. Sakit di kepalanya tak kunjung mereda. (Ruang ba—) (Aku sudah tahu itu!) Venus memotong jengkel. (Cobalah katakan jawaban yang lebih membantu, Mustaka.) Mustaka berdeham-deham. (Kita berada di penjaranya musuh, Venus.) (Kenapa hidupku penuh dengan musuh? Sial! Siapa pula musuh kita itu?) (Sebenarnya, Venus, dia adalah musuh Anda, bukan saya.) (Katakan saja!) (Musuh yang ini juga sama menginginkan kematian Anda.) Venus meradang. “KAU BILANG KAISAR AKAN MENYELAMATKAN AKU?!” (Memang. Hanya saja, Kaisar menetapkan harga untuk hal itu. Dan beliau ingin Anda melunasinya terlebih dahulu.) Venus tidak percaya ia harus bersakit-sakit dahulu sebelum mendapatkan kebebasan. Dan diharuskan membayar di muka! Kaisar pikir mereka ini sedang saling menawar celana dalam para dewa atau apa?! (Memangnya apa yang harus kulakukan?!) Venus menggeram marah. Mustaka menyahut dengan tenang. (Anda harus menaklukkan musuh yang satu ini. Membunuh, melucuti senjatanya, apapun. Asal dia tidak membuat onar lagi.) Venus mendengus. (Kalau Kaisar tidak bisa menak—) (Kaisar bukan tidak bisa,) potong Mustaka tegas. (Dia hanya merasa Anda adalah yang paling pantas untuk melakukan pekerjaan itu.) Kepala Venus semakin nyeri. Ia sampai harus memukul-mukul puncak kepalanya dengan kepalan tangan karena geram. (Dari tadi kau hanya menyebut musuh yang ini, musuh yang itu! Bla bla bla!) Venus uring-uringan. (Siapa dia ini sebenarnya?!) Hening sejenak. Venus menggunakan momen itu untuk membekap-bekap telinganya yang terasa seperti ditusuk-tusuk oleh benda tumpul. (Dia adalah Amerta Adiwangsa.) Venus mematung. Matanya mengunci api yang tengah berkobar di samping pintu dengan horor.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD