Malamnya Randa menelponku.
“Key, Lo tau gak kemaren pas gue ketemu si Kunyuk dia ngerasa gak enak gitu. Katanya dia terpaksa ikut circle baru karena gak enak nolak ajakan mereka.”
“Terus Lo jawab apa?”
“Ya gue nyengir aja. Dalem ati gue ‘alah bacot!’ terlalu basi alasan yang kayak gitu zaman sekarang mah!”
“Lo diajakin gak?”
“Diajakin cuma sekedar basa-basi Key. Lo tau ‘kan cara orang ngajak serius sama cuma sekedarnya aja. Jujur aja ya, gue sih mending sendiri dah gapapa gue ngerangkak lagi dari awal yang penting gak bikin sakit hati.”
“Ngapain sakit hati coba?!”
“Lah Lo sendiri gak sakit hati dikhianati? Jelas-jelas mereka ninggalin Lo pas Lo lagi sulit kemarin.”
“Emang sekarang gue gak sulit? Sama kayak kemarin dan seterusnya Ran. Cuma gue gak mau nunjukin, buat apa coba?! Ujungnya cuma jadi bahan tertawaan aja.”
“Ya minimal sadar diri yakan, jangan merasa sok paling korban padahal penjahatnya, anjir!”
“Udahlah Ran, gue ikhlas kok. Ya anggap aja mereka itu bagian dari lika-liku bangsatnya idup gue. Jujur gue gak trauma kok karena gue berteman karena memang mau berteman bukan karena mengharapkan sesuatu kalau pun mereka pada akhirnya pergi artinya masa kami udah selesai.”
“Yakin Lo ikhlas?”
“Yakin, kalau gak ikhlas mungkin gue udah buat status terus gue sindir-sindir dah tuh gue maki-maki terus gue minta balikin apa yang udah gue kasih. Tapi gue gak mau jadi orang picik. Selama ini gue cuma niat berteman tapi kalau mereka menganggap lain biarlah jadi urusan mereka. Bukan hak gue menghakimi karena gue bukan ahli hukum. Biarlah jalur langit yang berbicara, itu lebih adil dari segala peradilan yang ada di dunia ini.”
Randa tertawa. “Dari dulu Lo gak pernah berubah ya?! Masih menganggap semua orang tuh kayak Lo kalau bekawan, gak sadar sudah jadi korban pemanfaatan sosial.”
Aku hanya tertawa menanggapi ocehannya itu padahal dia pun sama saja. Tak pernah mengharapkan sesuatu saat tulus terhadap seseorang. Mau berbagi ilmu walau sekecil apapun itu, jika dia merasa tersakiti artinya ada harapan yang pupus darinya. Bukan karena mengharap timbal-balik tapi rasa kehilangan itu yang membuatnya terluka. Sama seperti kami yang harus berpisah karena keadaan. Kami yang dulunya selalu melewati suka dan duka bersama tanpa ragu mencetuskan ‘Dia loh sahabat gue’ meski dalam keadaan sulit sekalipun.
“Gue tetaplah gue walaupun tanpa mereka, gue tetap Mekey walau sendirian. Gue mau Lo juga kayak gitu. Kita sendirian dalam versi lain dunia kita meskipun kita masih saling memiliki. Ran, gue gak bisa kayak dulu sama Lo karena kita juga sudah punya kehidupan masing-masing.”
“Gue nganggep Lo tetep sahabat gue. Apa bedanya gue dan mereka? Toh kita juga pada akhirnya terpisah jarak.”
“Bedanya sekarang Lo suami orang!” Aku tertawa setelah mengatakan itu.
“Udah sih! Masih juga diungkit.”
“Serindu-rindunya gue sama kenangan kita dulu, gak bakal bisa balikin kita kayak dulu lagi ‘kan?! Jadi ya gue cuma bisa suport seadanya aja tapi Lo tetap sahabat terbaik gue.”
“Iya juga, gue baru sadar gue sendirian tapi masih punya Lo!”
“Punya bini Lo, kocak!”
Dia tertawa terbahak-bahak, lalu membahas tentang usaha preloved yang sedang ia rintis. Usaha yang awalnya dijalani bersama teman pada akhirnya dikhianati hanya karena temannya menemukan rekan yang lebih bermanfaat. Well, tak ubahnya dengan aku yang pada akhirnya berjalan sendirian.
***
“Gimana bisa uang habis? Sudah dibilang berkali-kali hematlah. Perjalanan Doni tuh masih banyak, masih perlu terapi dan lain-lain. Kalau udah begini, gimana coba?” omel ibuku saat dia datang ke rumah.
Aku malas berdebat, aku biarkan saja dia mengomel sesukanya. Toh, mau dibahas panjang lebar pun uang itu tak akan pernah kembali. Sudah cukup dipusingkan oleh tuntutan anak-anaknya, aku sudah mulai jengah menghadapi semuanya.
Ibuku datang bersamaan orang yang mau membeli satu set komputer punya Ayu. Aku terpaksa menjualnya karena emasku sudah habis tergadai. Sudah tidak ada harapan selain barang-barang milik anak-anakku.
“Berapa kau jual itu?” tanya ibuku setelah pembeli itu pulang.
“3 juta,” jawabku singkat.
“Belinya mahal-mahal, jualnya murah. Buang-buang duit aja.”
“Namanya juga jual cepet kalau jual santai mungkin bisa lebih mahal.”
“Aturan sabar aja nunggu harganya tinggi,” komentar ibuku seakan kebutuhan rumah tangga bisa menunggu.
“Biarin ajalah,” jawabku malas berdebat. Aku kembali ke ruang kerjaku tanpa berkata apapun.
Aku mendengar pembicaraan Ayu dan ibuku.
“Kebiasaan mamamu itu kalau diajak ngomong gak pernah mau nanggapi, main pergi aja.”
“Mama lagi dikejer deadline Nek, novelnya mau diterbitin.”
“Halah … dari dulu sibuk sama novel hasilnya mana?”
“Ya namanya juga usaha Nek, kita gak tau kedepannya gimana.”
“Daripada sibuk sama urusan yang gak pasti mending urusin rumah. Liat rumah kalang kabut gini, kalau ada tamu gak malu apa?”
“Lagian siapa sih Nek yang mau kesini?”
“Tahu gak kalau rumah berantakan rezeki seret.”
Benar apa yang dikatakan ibuku— rezeki sukar nempel kalau rumah kotor. Keadaan itu juga yang membuat tetanggaku punya bahan bergosip. Segala tentangku adalah hal yang menarik untuk digosipkan. Manusia anti sosial yang gak mau bergaul, sombong, tidak bertanggung jawab, perempuan kejam dan hobi belanja. Aku bisa apa selain diam? Haruskah aku menjelaskan hal-hal yang gak perlu mereka tahu dan bukan ranah mereka untuk mencampuri. Hidupku sudah terlalu ramai dengan teriakan setan dalam kepalaku dan aku tidak berniat untuk menambahkan suara-suara para manusia suci itu.
“Tidak akan ada yang akan memaklumi penderitaanmu, Mekey. Tidak akan ada yang mau memahami letih yang kau tanggung selama ini. Jadi diam dan berdirilah sendiri karena yang mengenal tubuh dan akal sehat ini cuma kau sendiri.” Begitulah dialog yang sering kulontarkan untuk diri sendiri.
“Lagi ngapain, Sayang?” tanya Zone ketika aku hanya diam.
Aku menjawab pelan supaya tak ada yang mendengar. “Biasalah ngetik.”
“Semangat!” serunya dari seberang sana.
“Iya makasih ya …,” ucapku dengan nada lesu dan terkesan gak bersemangat.
“Nice!” jawabnya dengan nada riang. “Nanti malam mau main gak?”
Aku mengurut dahi. Bermain game bersamanya kadang membuatku lebih bersemangat namun saking asiknya jadi lupa waktu. Meskipun begitu, aku jadi bisa tidur dengan nyenyak karena sejak bersamanya aku jarang sekali begadang. Satu hal yang paling aku takutkan dalam hidupku— tidur. Aku kerap bermimpi aneh dan mungkin secara kebetulan menjadi nyata. Aku tak ingin membicarakan soal hal mistis namun itulah yang kerap terjadi. Orang bilang aku ini si Pahit Lidah dan acap kali diberi firasat lewat mimpi namun aku mengabaikan semua itu meskipun kenyataannya memang kerap terjadi.
“Aku beri kau waktu sampai besok siang, kalau kau gak mau jujur liat aja apa yang bakal terjadi besok.” Tiba-tiba bayangan dua tahun lalu menyergap ingatanku ketika aku bertengkar hebat dengan Doni.
Entah itu kebetulan, sampai waktu yang aku tentukan dia tak kunjung jujur dan akhirnya hukum langit yang berbicara. Dia mengalami stroke akibat perbuatannya sendiri dan pada akhirnya melibatkan orang lain dalam kesulitan.