Siang itu Tante Doni datang lagi, seperti yang lalu dia mau meminjam uang. Kali ini alasannya sedang membawa anaknya berobat dan gak punya uang buat bayar dokter.
“Sekarang Bulannya ada dimana, Tan?” tanya Doni.
“Lagi antri di Klinik.”
Dalam hatiku, “What? Gimana bisa pergi ke Dokter gak bawa uang? Minimal cari dulu pinjaman baru pergi.”
Lalu Doni bertanya, “Jadi gimana bayarnya kalau gak ada uang?”
Pertanyaan itu yang ingin kulontarkan tapi malas.
Dia menjawab dengan wajah sedihnya itu. “Sebab itu Tante datang kemari mau pinjam uang biar bisa bayar dokter.”
Rasanya ingin memaki namun pastinya aku bakal kena prasangka buruk lagi aku cuma bisa diam mendengarkan apa yang akan Doni katakan.
“Kami aja udah susah ini, Tan. Aku aja udah gak terapi lagi.”
Karena dia terus memohon akhirnya aku gadaikan ponsel dan kuambil gaji menulis yang selama ini ku simpan untuk biaya kuliah Ayu. Aku berikan uang itu pada tantenya yang pastinya hanya mengira uang itu milik Doni.
Sisa uang itu dibayarkan untuk biaya terapi Doni. Namun baru dua kali terapi Genta sudah tak mau datang lagi. Siapa yang terima begitu saja dituduh tidak konsisten dalam melakukan tugas. Genta sudah menjelaskan berulang kali kalau jarak waktu terapinya sekarang sudah dijarangi lantaran sudah mulai terapi berat.
Tapi apa yang ia katakan padanya, “Alasan gitu aja terus ya, Bro! Padahal sudah dibayar penuh untuk satu bulan.”
Genta masih sabar menjelaskan meskipun sudah berulang kali. “Bukan alasan Pak tapi memang terapi kita ini ‘kan sudah menjurus ke olahraga fisik dan itu harus dijarangi biar otot-otot dan saraf gak kaget.”
“Iya tapi aku pegal-pegal kalau gak di urut.”
“Memang prosesnya kayak gitu Pak. Itu menandakan aliran darah itu sudah mulai jalan kembali. Selama ini ‘kan gak terasa kalau ditekan dan dipijat agak kuat?”
“Iya tau, tapi maunya gak usah diubah jadwalnya tetap tiap hari aja.”
Genta menjawab, “Seminggu dua kali aja itu sudah termasuk kecepatan Pak, seharusnya seminggu sekali bahkan dua Minggu sekali. Saya ‘kan sudah menjelaskan juga sama Kak Key bagaimana prosedurnya.”
Awalnya dia mungkin paham dan tidak lagi ngeyel minta tiap hari namun setelah dua hari Genta tidak datang dia mengirim pesan ke w******p.
Doni
Masih niat terapi gak, Bro?
Genta
Gimana Pak?
Doni
Bohong aja ya, katanya mau datang tapi gak datang-datang.
Genta
Jadwalnya besok Pak, lusa pun gapapa.
Doni
Udahlah hari ini aja, udah sakit-sakit ini badan.
Genta
Saya ada jadwal terapi pasien lain Pak. Besok aja saya datang.
Doni
Terserah kamu aja, selalu aja bilang besok-besok tapi gak nepati. Harusnya tepat waktu dan tanggung jawab.
Setelah itu Genta mengembalikan uang terapi yang sudah kubayar untuk paket 10x pertemuan. Bukan main murkanya aku membaca pesan w******p itu.
“Kau gila ya?! Kurang baik apa si Genta itu. Bahkan dia nawarin kalau memang belum ada uang dia tetap mau terapi kau sampe sembuh. Sekarang apa? Mau nyari yang gimana lagi?” Amukanku diiringi barang-barang yang melayang.
“Dia tuh gak tepat waktu!”
“Sudah berkali-kali dijelasin masa gak ngerti juga sih!!!” Raunganku pastinya sampai terdengar keluar rumah. Sedaplah para tetangga mendapat bahan gosip yang menyenangkan.
“Ah sudahlah, gampang kalau mau cari terapi yang lain.”
“Gampang kepala kau itu!”
Tak mau berlama-lama berdebat, aku pun meninggalkannya memasak. Tak lama kudengar langkah kaki yang diseret, tentu saja itu Doni.
“Mau apa lagi?”
Lalu bersamaan dengan itu terdengar suara Zone dari earbud bluetooth-ku. “Kenapa sih?” Dia pasti mengira aku marah padanya. Kubisukan panggilan dan lanjut bertengkar dengan Doni.
“Aku mau panggil Wak Yono biar minta pijat soalnya sakit semua badan.”
“Astagfirullah!!! Kau gak ngerti juga ya apa yang dibilang Genta kemarin— gak usah pijat-pijat sembarang. Saraf kau itu sensitif yang ada malah makin parah nanti.”
“Ah Wak Yono pijat capek aja bukan pijat saraf mana ada hubungannya sama saraf.”
Jangan ditanya bagaimana reaksiku setelah itu. Tentu saja semua yang didekatku melayang kesana-kemari akibat dilempar-lempar. Aku sejatinya tak mampu menguasai apalagi mengontrol emosi. Selama ini aku selalu memendam kemarahan dengan diam berujung diremehkan dan dibuat semena-mena. Sejak lelah ini tak mampu lagi dibendung aku kerap menampakan kemarahan itu dengan cara yang ekstrim.
“Banting aja semua barang-barang di rumah ini sampe habis. Belum aja kau dapet karmanya sudah menzolimi aku.”
Tanpa memikirkan apapun, aku mengayunkan pisau ke arahnya. “Pergi kau dari sini sebelum pisau ini menancap ke kepalamu.”
Kilatan amarahku membuatnya takut dan kembali ke ruang tengah. Tempat dimana dia menghabiskan waktu dengan merokok dan menonton acara favoritnya.
“Kok dibisuin, Sayang?” tanya Zone setelah aku mengaktifkan microphone panggilan.
“Aku lagi kesel gak usah banyak tanya.”
“Ututututu ...,” ledeknya dengan nada manja. “Kenapa sih sayangnya aku?”
“Auh ah!” jawabku masih kesal.
Belum lagi netral emosiku sudah mendengar Doni menelepon tukang urut langganannya itu. Seketika aku langsung mengamuk.
“Ngeyel banget sih dibilangin?”
“Apa sih, Mom? Aku cuma ngomong sayangnya aku!” Suara Zone bercampur suara Doni sampai aku tak menghiraukannya.
“Kau gampang tinggal marah. Kau gak ngerasain apa yang aku rasain,” jawab Doni.
Tiba-tiba tawaku meledak-ledak membuat Zone terkejut. Aku yang selama ini dingin dan cuek mendadak jadi gila. Berulang kali dia memanggilku namun aku sudah terlanjur kerasukan amarah.
“Gak ngerasain apa yang aku rasain? hahaha! Lucu sekali anda ini,” ejekku dengan nada sinis. “Sekarang sudah tahu gimana rasanya? Marah, kecewa, sedih, sakit, putus asa, udah bisa ngerasain sendiri? Cuma sakit lantaran proses penyembuhan bukan sakit menanggung perang batin selama bertahun-tahun. Mental hancur sampe nekat mau minum racun, pernah kau mau tau perasaan itu?”
“Apa hubungannya sama sakit aku?”
“Banyak!” jeritku seketika. “Kau penyebab segala rasa sakit yang kutanggung selama ini. Selingkuh berulang kali, mabuk-mabukan tak kenal waktu, narkoba, bahkan berjudi. Apa semua itu kau anggap wajar sehingga rasa capek dan sakit aku gak ada artinya? Setelah kau gak berdaya pun bukan kau yang dihakimi mereka tapi aku!!!”
Aku sudah benar-benar kehilangan akal sampai tak menghiraukan lagi kalau aku sedang telponan dengan Zone. Amarah dan rasa putus asa sudah melalap habis logikaku. Aku sudah merasa benar-benar lelah menanggung semua ini. Andai bisa lari mungkin aku tidak perlu aba-aba untuk melakukannya.
Walaupun sudah meluapkan amarah nyatanya Doni tetap melanggar larangan ku. Dia tetap memanggil tukang urut itu dan menganggap pertengkaran itu hal yang biasa saja. Aku sudah sangat lelah untuk menancapkan taring ku padanya. Mau bagaimanapun aku meluapkannya nyatanya tak akan ada gunanya.
Setelah masak dan membereskan kekacauan aku kembali ke ruang kerjaku membiarkan Doni yang sedang di urut di ruang tengah.
“Siapa itu?” tanya Zone setelah keadaan hening.
“Tukang urut,” jawabku ketus.
“Bukan dia yang aku tanya tapi yang berantem sama kamu tadi.”
Aku seketika terkesiap dan baru menyadari bahwa Zone tidak mengetahui tentang keadaan maupun statusku dia hanya tau aku seorang wanita dengan dua orang anak yang bebas tanpa terikat pernikahan. Janda— mungkin status itu yang terlintas di benaknya saat ini.