Egois

1142 Words
Setelah waktu berjalan cukup lama— 3 bulan tidak terasa hanya dengan komunikasi jarak jauh ini. Ada-ada saja masalah ketika aku mulai merasa kangen dengannya. Sejak rutin video call aku merasa keinginanku untuk bertemu dengannya semakin kuat. Latar belakang itulah yang kerap membuatku emosi tak beralasan. Hanya untuk masalah sepele saja sudah berulang kali aku melontarkan kata putus dengannya. Zone Sayang, tolong jangan uji kesabaranku dengan hal-hal yang sama berulang kali. Untuk sekali dua kali mungkin aku bisa maklum tapi jika sudah berkali-kali aku juga bisa capek. Kiriman chat-nya ketika aku tak mau mengangkat teleponnya membuatku takut. Aku sadar atas kesalahan yang kulakukan berulang kali padanya namun aku tetap keras pada egoku. Aku menuntut dia memahami apa yang aku rasakan tanpa memikirkan perasaannya. Mekey Ya sudah kalau kamu capek. Kita sudahi aja sampe sini. Zone Bukan gitu yang kumau. Aku heran kenapa kamu bisa meledak-ledak gak karuan cuma karena temen cewek masuk live-ku. Aku udah bilang berulang kali gak ada hubungan apa-apa mereka cuma temen karena aku dulu pernah gabung di komunitas gak lebih. Mekey Komunitas apa? Komunitas orang-orang yang sibuk mencari pelampiasan online? Zone Aku gak ngerti sama pola pikir kamu Sayang. Kamu yang pernah juga bergabung di komunitas semacam itu masa gak paham? Mekey Komunitas kami beda jangan disama-samain. Ya begitulah egoisnya aku kalau sudah marah padanya. Aku sanggup menutup mata pada fakta yang ada hanya demi sebuah pengakuan bersalah darinya. Aku ingin dia terus mencari dan memohon padaku untuk tidak ditinggalkan agar aku tahu betapa ia menginginkan aku. Zone Yaudah mulai sekarang aku gak mau lagi live. Kita jalani aja hubungan ini berdua, cuma kamu dan aku. Aku tersenyum jahat ketika membacanya, itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa dia lebih mementingkan aku. Benar saja, dia membuktikan apa yang dia ucapkan. Kami hanya menjalani hari-hari kami berdua saja meskipun aku masih tetap sering membuka aplikasi itu meskipun hanya sekedar menyapa teman-teman yang sedang live atau mengunduh konten video. Malam itu … Lupus Mom! Sepi loh gak ada Mami sama Papi. Ajakin Papi live Mom. Mekey Papi sudah gak main TipTop lagi, Pus. Lupus Payah, gak asik! Awalnya aku mengabaikan chatnya itu namun ada keinginanku untuk kembali live bersama. Jujur aku merasa iri melihat teman-temanku live bersama pacarnya dan memamerkan kemesraan. Aku mulai mengajak Zone live lagi. “Ayolah Sayang, kasihan lupus kehilangan Mami sama Papinya.” Sungguh ironi menggadaikan nama anak onlineku untuk sebuah alasan pribadi. Seorang Mekey yang gengsinya setinggi langit ini— mana mungkin mau jujur tentang hal yang memperlihatkan kelemahan. Aku harus terlihat berkelas di matanya dan selalu menjadi wanita paling mengagumkan. “Sayang, aku lagi pusing loh!” Aku menjawab dengan ketus. “Pusing mikirin rank game kamu?” “Serius aku pusing Sayang, dari tadi cuma tiduran aja.” “Alah, kamu mah kapan gak pusing coba?! Hari-hari pusing.” “Yaudah terserah kamu aja.” Setelah itu aku merubah panggilan suara ke video. Aku melihat wajahnya segar-segar aja. Aku memanyunkan bibir untuk menunjukkan bahwa aku marah. “Apa coba gitu?” Nada khas dengan intonasi yang manis itu tak kuasa menutupi betapa senangnya aku mendengar gaya bicaranya itu. “Habis kamu jahat! Masa anaknya ngajak ngumpul gak mau!” “Yaudah ayo, panggilah lupusnya.” Senyumku seketika merekah. “Makasih Sayang ….” Akhirnya Zone menuruti kemauanku dan membuka live bersama. Di menit-menit awal semua masih aman terkendali sampai teman-temannya yang hari itu membuatku kesal ikut bergabung. Bakul Jamu _ Dari mana aja lu baru nongol? Sungguh aku tidak suka dengan komentar itu karena terkesan sok akrab dengan pacarku. Aku yang semula berisik mendadak diam seribu bahasa. Zone menjawab, “Gak kemana-mana?” Tidak ada tawaran bergabung darinya kepada temannya itu, entah karena dia takut aku marah atau memang dia ingin menghindari sesuatu. Aku mengklik fitur undang tamu namun ditolak olehnya. Bakul Jamu _ Di Bawah aja Kak, gak enak ganggu yang lagi Bucin. Seketika aku merasa kesal dengan komentar sarkastiknya itu. Aku merasa dia sedang menyindir hubungan kami. Makna Bucin seolah menggiring pandanganku pada hubungan toxic yang tidak akan bertahan lama padahal aku menjalani cinta ini dengan mengusung harapan yang nyata bukan sekedar semu layaknya cinta virtual lainnya yang sedang ngetren. “Apalah coba?!” jawab Zone sedikit terkekeh. Bakul Jamu _ Main-mainlah ke grup jangan sombong-sombong mentang-mentang sudah punya Ayang. Ingin rasanya ku berkata kasar namun aku tak ingin memperlihatkan sisi negatifku ke khalayak ramai. Terlebih sedang banyak anak-anak dan teman online yang lain di room tersebut. Marshmallow _ Mi, Aku izin Parkun ya?! Mau ngerjain PR. Aku menjawab seadanya ketikan teman online-ku tersebut. “Oke Adek!” Lalu kembali mematikan Microphone. Aku menunggu Lupus datang sedari tadi dia belum juga muncul. Aku gelisah takut Zone tahu kalau aku cuma menjadikan Lupus alasan supaya live malam ini. Tak lama pacar Marsmellow datang. Rain _ Key naik dong! Istilah naik adalah untuk meminta undangan agar bisa menjadi tamu di live tersebut. Aku menekan tombol undang tamu tanpa menjawab ketikan itu sementara Zone masih meladeni komentar temannya bahkan sudah bertambah satu orang lagi teman satu grup-nya itu. Bulek Satin _ Iyalah yang lagi Bucin lupa dia sama kawan lamanya. Aku hanya diam membisu. Bulek Satin _ Pacar Zone On-Cam dong pengen liat wajahnya gimana. Aku diam saja. Zone berkata, “Gak boleh! Dia cuma boleh On-Cam buat aku.” Bakul Jamu _ Yaela bentaran doang pengen liat pacar Zone gimana. “Banyak buaya mengintai nanti dia diculik.” Bakul Jamu _ Kayak yang ngomong yakan?! Hahaha! Seketika aku langsung menyalakan microphone dan berkata dengan nada sinis, “Oh jadi gitu? Ternyata kamu buaya? Apa mereka salah satu korban kamu?” “Apa sih Mom! Mana ada loh!” Bakul Jamu _ Cuma bercanda Sai, jangan marah. “Gue gak Nerima candaan yang berhubungan dengan hati. Masih banyak bahan candaan lain yang lebih menghibur.” Seketika Zone menjawab ucapanku. “Mom … udah ih, gak boleh kayak gitu!” Aku langsung tertawa mengejek. “Oh kamu gak suka kalau aku gak terima dengan candaan gak bermutu kayak gitu?” “Mom … udah ya, kita udahan aja yuk. Kepalaku pusing banget ini.” Aku tak memikirkan keadaannya saat ini karena aku menganggap itu hanya sebuah alasan untuk menghindar. Aku merasa caraku menjaga dia telah mengganggu kenyamanannya. Terlebih setelah mendengar ucapanku teman-temannya berpamitan dari live-nya. Aku jadi semakin kesal menanggapi sikap Zone yang terkesan lebih membela temannya daripada aku yang sudah berusaha menjaga hubungan kami. Live pun berakhir tak lama Lupus membalas chat. Lupus Loh Mom, mana? Mekey End live Pus, Papi pusing. Lupus Oala … aku tadi masih dijalan Mom. Mekey Yaudah gapapa Pus. Malam itu kami teleponan namun tak saling bicara. Aku sibuk dengan naskahku sementara dia tak terdengar berbicara, hanya sahutan tipis menjawab omongan ibunya lalu sepi. Aku malas mengajaknya berdebat karena takut mamanya mendengar dan menganggapku seperti anak kecil. Akhirnya panggilan itu tetap tersambung sampai pagi tanpa ada obrolan sedikitpun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD