Aku menyandarkan kepala ke sandaran kursi kerja seraya memutar-mutarnya. Bayangan suara Zone menari-nari di kepalaku. Kali ini aku ingin membuat video promosi untuk novelku sendiri. Aku sudah menargetkan Wingky untuk salah satu karakter pria namun setiap aku tawari dia selalu bilang mau tapi tak pernah mengirim pesan suara padaku. Sampai akhirnya dia hilang dari peredaran setelah aku semakin jarang menyambangi live-nya karena terlalu sibuk dengan Zone dan anak-anak online-ku.
Aku merasa nyaman setiap kali berada satu ruangan live dengannya. Baik itu di live pribadinya maupun di live teman-teman kami yang lain. Sampai pada saat kami benar-benar masuk dalam zona nyaman dimana dunia ini terasa cuma milik kami berdua. Aku merasa ada suara lain yang mengisi berisiknya bisikan setan dalam kepalaku saat ini. Setidaknya suaranya mengalihkan pikiranku dari niat ingin bunuh diri.
Sejak saat itu kami sering menghabiskan waktu berdua melalui panggilan w******p. Awalnya aku merasa aneh menghabiskan hampir 24 jam waktu bersamanya. Dari seluruh waktu tersebut tak banyak yang kami obrolkan hanya hal-hal kecil yang berhubungan dengan hobi sisanya melakukan aktivitas masing-masing dengan panggilan suara yang masih terhubung.
“Mom, main ludo yuk?” ajaknya ketika aku baru menetralkan pandangan karena terkejut bangun mendengar suara ponsel berdering.
“Woi Mom! Ngapain sih?!”
Aku tersentak mendengar panggilannya. “Iya, kenapa?”
Ya, dialah Berondong tengil dengan segala ketidak sabarannya. Usia kami yang terpaut jauh membuatku kadang ingin berlari sambil berteriak, “Sadar Mekey!!! Dia seumuran adek Lo!” Cuma aku hanya bisa pasrah menerima keadaan yang serba mendadak ini.
“Ayo main ludo!” ajaknya lagi dengan nada kesal namun seperti orang yang tengah merengek.
Ketahuilah, dia yang biasanya kalem sewaktu jadi Host di Live streaming sangat berbeda jauh ketika sedang bersamaku. Ya, baru beberapa hari kami bersama tapi tingkahnya acap kali membuatku sebal namun lucu.
“Sabar sih!” jawabku seraya melangkah ke kamar mandi untuk membasuh muka. Setelah lumayan segar aku berkata, “Ayo!”
Dia yang ngebet banget pengen duel ludo malah bosan setelah beberapa kali bermain. Setelah itu dia mengajakku bermain game lain yang kali ini membuatku bosan karena aku selalu kalah darinya. Mulai dari game asah otak sampai dengan strategi. Aku akui dia memang cerdas, soal hitungan yang kuanggap sulit dengan cepat ia menangkan.
“Ah, aku memang lemah kalau soal matematika.”
Dia hanya tertawa sembari mengejek, “Iyalah tuh!”
Sayangnya ucapanku tak sesuai fakta, nyatanya di pengetahuan umum pun aku tetap kalah. Sampai aku kesal dan berhenti main. Tak lama terdengar Selin dan Rani sedang bertengkar, entah apa yang diributkan. Kubisukan panggilan suara karena pada saat itu Kora belum tahu tentang statusku.
“Kenapa sih?!” tanyaku ketika melihat wajah suntuk Ayu menatap adiknya.
“Liat apa yang dia lakukan, Ma!” Sambil menunjuk kecap yang bertumpahan di meja makan.
Alih-alih mengamuk seperti biasanya, aku malah tersenyum. “Ya udah beresin aja ngapain dibuat ribut.”
Ayu dan Selin melongo memperhatikanku melangkah ke dapur menghampiri lap dan membasahinya. Lalu ku bersihkan meja itu tanpa melontarkan Omelan pamungkas.
“Sudah makanlah lagi,” ucapku meninggalkan mereka berdua yang masih melongo saling bertatapan.
Setelah itu aku kembali ke ruang kerjaku, mengaktifkan kembali mikrofon panggilan.
“Kok dibisukan?” tanya Zone dengan nada kesal.
“Maaf kepencet!” Aku berbohong? Ya, akhirnya aku bisa berbohong. Untuk apa? Sepenting itukah dia sampai aku bisa berbohong untuk hal sepele.
Begitulah yang kami jalani sampai pada titik dimana aku harus jujur dan memutuskan mengakhiri kegilaan ini. Malam itu sewaktu Zone membuka Room Live seperti biasanya ada yang seseorang yang datang, dia mengetik komentar yang membuatku bertanya-tanya. Sudah liat SW-nya? Begitulah ia bertanya kepada Zone tentang story w******p seseorang.
Dia menjawab, “Udahlah biarin aja.”
Lupus nyeletuk ketika keadaan semakin tidak enak. “Cuma Mami Mekey yang terang-terangan Papi akui sebagai pacarnya selama ini gak ada kok!”
Bukannya senang, aku malah menangkap hal-hal aneh dari perdebatan singkat mereka. “Ada apa sih?” tanyaku heran.
Mendadak suara Zone terdengar panik. “Nanti aku jelasin, Mom!”
“Disini aja!”
“Nanti di WA aja.”
Aku langsung keluar dari Live tersebut, tak lama Zone menghubungi namun tidak aku gubris. Lalu dia mengirimkan sejumlah tangkapan layar yang jujur aku tidak mengerti arah dan tujuannya.
Zone
Aku gak mau kamu salah paham dan ngira kalau aku mainin kamu. Aku serius sama kamu dan gak mau kamu merasa dibohongi.
Aku ngerasa bingung dengan isi chatnya itu. Aku baca isi chat dari tangkapan layar tersebut, namun gilanya aku tak mengerti siapa yang mereka bahas. Aku hanya langsung beralih ke postingan foto yang disematkan pada beranda TipTopnya. Aku mengira dia ketahuan selingkuh denganku sebab itu dia merasa panik sewaktu di Live. Isi chat itu sangat kasar menurutku namun aku tak peduli karena itu urusan mereka berdua.
Mekey
Ya terus? Apa hubungannya sama gue?
Terlalu kentara kemarahanku ketika aku menggunakan kata ‘Gue’ di chat tersebut.
Zone
Aish! Aku cuma gak mau kamu salah paham loh!
Mekey
Apa pentingnya coba?
Zone
Aku serius sama kamu, tolong kamu jangan marah dia cuma masa laluku.
Mekey
Mau dia masa lalu atau masa depan gak ada hubungannya sama aku.
Zone
Jadi selama ini kita ini apa?
Mekey
Ya, sekedar Papi dan Mami Lupus gak lebih.
Zone
Aku nganggap kamu lebih dari itu.
Mekey
Zone! Kamu sadar gak dengan apa yang kamu bilang? Aku cuma nganggap kita sebatas Mami dan Papi online gak lebih!
Zone
Aku serius sama kamu Mom!
Mekey
Aku gak habis pikir kamu bisa bilang gitu padahal wujudku aja kamu belum tau. Tentang siapa aku, latar belakangku, dan tentang semuanya.
Zone
Apa pentingnya semua itu yang terpenting kamu sama aku udah gitu aja.
Mekey
Aku bukanlah orang yang pantas buat kamu seriusin.
Zone
Selagi kamu wanita apa salahnya.
Mekey
Ya wanita yang jauh lebih tua dari kamu! Umur kamu dan aku terpaut jauh dan statusku seorang ibu dengan dua anak.
Aku pikir dia bakal berhenti ngotot nyatanya malah semakin ngotot.
Zone
Terus masalahnya Dimana?
Aku tercengang membaca chatnya itu, berpikir keras apa yang membuat dia kekeh mau meneruskan hubungan aneh ini. Ya, sangat aneh menurutku hanya dengan mendengar suara satu sama lain membuat kami merasa nyaman menghabiskan waktu bersama.
Mekey
Masih banyak gadis cantik diluar sana ngapain mesti sama aku?
Zone
Aku maunya sama kamu gimana?
Mekey
Terserah kamu deh!
Jawaban kesal itu diiringi perasaan asing yang benar-benar terasa asing. Salah ini salah! Jeritku namun aku merasa nyaman dengan itu. Tak lama dia meneleponku.
“Ngapain nelpon?”
Dia menjawab sambil cengengesan. “Kangen. Udah jangan marah lagi ah!”
Jujur aku masih tidak habis pikir kenapa dia seperti itu. Maksudku seandainya aku ini ibu-ibu buruk rupa dengan segala kerutan yang memancar di usiaku yang sudah 35 tahun ini apakah dia masih akan berkata kangen? Dia belum tahu gimana rupa dan wujudku begitu juga dengan aku.
“Kalau kamu ngeliat aku pasti kabur!” pancingku.
“Ngapain mesti kabur?”
“Karena aku jelek!”
“Coba kirim foto!”
“Ogah!” jawabku singkat.
“Ya berarti hoax!”
“Apalah coba!” jawabku ogah-ogahan.
Tak lama ia mengirimkan foto. “Ini fotoku, pake filter.”
Aku membuka foto itu, tak terlihat jelas namun aku menangkap aura narsis nan menyebalkan dengan gaya foto tengil menggunakan kacamata hitam tersebut. Tampilan yang lumayan ngeblur karena efek filter vintage.
“Ganteng,” batinku.
“Mana fotomu, Mom!”
“Gak ada!” jawabku ketus.
“Jutek amat!” celetuknya.
“Gini deh! Kasih aku VN kamu nyanyi nanti aku kasih foto.”
Bukannya ngasih Voice Note nyanyi malah mengirim suara manja nan menggoda diiringi kecupan manjanya membuat telingaku terasa digelitik.
“Yang benerlah!” ucapku kesal ketika ia kembali menelpon.
“Oh jadi gak mau dicium pacarnya ini?”
Ya Tuhan! Dosa apa yang aku perbuat bertemu dengan pemuda tengil ini. Tapi aku suka! Teriakan dalam hati itu seakan ingin ku lontarkan ke seantero alam. Tak lama ia bernyanyi langsung tanpa Voice Note. Seperti yang kuduga suaranya memang mampu membangkitkan semangatku yang mulai redup.
“Sudah ‘kan?”
Setelah itu aku kirimkan foto yang menurutku paling buruk. Foto lama yang mau dihapus dari galeri.
“Manisnya senyumnya itu! Ayo kita lanjut Live lagi.”
Jujur aku terpaku mendengar ucapannya. Seketika perasaanku kosong. “Apa aku sejelek itu sampai dia cuma komentar seperti itu. Ah sudahlah, ngapain ribet!”
Malam itu aku merasa gak bersemangat karena suntuk oleh foto tersebut. Bahkan ketika dia ngajakin pindah lapak ke Live temannya aku masih merasa suntuk.
Begitulah kisah pertemuan kami, awal kisah cinta virtual yang membawaku pada hal-hal baru dan masalah baru juga tentunya namun sampai kisah ini kutulis aku tak pernah menyesali pertemuan itu hanya saja aku takut menjalaninya karena aku tak ingin menambah alasan kematian jika kelak aku berniat bunuh diri lagi.