Kejam sangat kejam, kecaman itu seakan sudah biasa terdengar olehku selama 2 tahun mengurus Doni yang terkena stroke. Setiap hari aku seperti orang yang sedang kesetanan jika sudah berhadapan dengannya.
Sampai ibuku berkata, “Kamu gak bisa bersikap baik apa? Kami gak bisa terus-terusan ke sini buat membantu.”
Sejujurnya aku tidak perlu bantuan justru kedatangan mereka hanya memperburuk emosiku. Keluargaku tidak pernah melihat dari sisi sakitnya aku karena hati mereka ditutupi oleh kebaikan Doni selama ini. Aku tidak ingin menjelaskan apapun pada mereka juga kepada para tetangga yang selalu menggosipkan aku.
Perlakuan kasar ku pada Doni terkadang tak bisa terkontrol meskipun di depan orang lain. Aku kerap berkata kasar ketika tetangga sedang mengobrol dengannya di teras. Mereka hanya tahu Doni yang kuat dan memiliki kemauan untuk sembuh tanpa mereka menyadari siapa yang paling tersiksa mengawal kesembuhannya. Yang mereka tahu hanya aku adalah wanita gila yang hobi memarahi suaminya yang sudah tak berdaya.
“Kalau memang kamu gak bisa ngurus dia, tinggal panggil perawat daripada mentalnya tersiksa menerima perlakuan kasar setiap hari.”
Aku ingin menjerit sekuat tenaga, “Mentalku! Mental anakmu ini yang harus diperbaiki bukan dia! Seremeh itukah perasaanku sampai kalian menutup mata melihat kondisiku yang menyedihkan ini.” Tentu saja aku tidak berani meluapkannya dengan lantang. Aku hanya bisa menangis dalam hati.
“Sudah! Biar adikmu aja yang ke sini bantuin ngurus nanti kamu kasih aja uang rokoknya.”
Aku meringis menahan amarah. Memang Doni masih memiliki tabungan hasil menjual warisan orang tuanya namun jika harus digunakan untuk hal yang tak seharusnya bukankah itu pemborosan? Tapi aku tak mau berdebat dengan ibuku dan memilih berdiam diri di ruangan kerjaku.
Tak lama Ayu pulang dari sekolah. “Mana Mama, Nek?”
Dengan nada kesal ibuku menjawab, “Biasalah mengerjakan sesuatu yang sia-sia! Apa yang diharapkannya dari kerja gak bermanfaat itu? Selama ini gak pernah kelihatan dia Nerima gaji.”
Aku hanya menggenggam erat mouse pad berharap tidak akan membantingnya ke hadapan ibuku. Aku tidak ingin menambah kebencian mereka terhadapku karena telah durhaka kepada orang tua.
Ayu mendekatiku seraya mengusap bahuku. “Sabar ya Ma … jangan ambil hati omongan Nenek.” Ucapan singkatnya itu cukup ampuh menenangkan hatiku.
“Makanlah Ayu! Jangan sampai kau jadi kayak mamamu. Badan sudah kurus kering gara-gara begadang tiap malam nanti kalau sudah sakit siapa yang susah?”
Aku masih terus berusaha sekuat tenaga mengontrol emosiku. Aku hanya bisa menjawab dalam hati, “Aku … aku sendirian yang merasakan. Saat aku sakit, badanku panas, atau saat asam lambungku kumat, cuma aku yang merasakan sendiri. Aku gak bisa ngeluh ataupun sekedar merintih sendirian. Aku harus kuat dan gak boleh sakit karena aku harus mengurus si Menantu baik hati itu agar tetap kuat menjalani sakitnya.”
Lantas siapa yang menguatkan? Siapa yang peduli ketika aku tersiram air panas sewaktu mengangkat air mandinya? Siapa yang mau tau ketika aku harus menahan dinginnya lantai rumah sakit sewaktu menunggunya dirawat? Siapa yang akan memberiku dorongan semangat ketika aku merasa hatiku sedang hancur? Siapa yang akan membantu ketika naskahku terbengkalai akibat moodku yang kalang-kabut jika kami sudah bertengkar?
Siapa?
Aku tidak memiliki siapapun yang bisa aku jadikan tempat bersandar. Aku tidak memiliki pijakan ketika kakiku mulai lelah berdiri. Aku tidak memiliki waktu luang ketika aku butuh relaksasi dan aku tidak memiliki tempat berlari ketika aku ingin menghindari semua ini. Semua kujalani sendiri tanpa ada yang mau mengerti kapan aku merasa lelah dan kapan aku merasa terpuruk. Yang mereka tahu aku hanyalah Miss social media yang hanya bisa buang-buang waktu dengan kesenangan pribadi.
Aku berhenti meratap ketika HP-ku berdering. “Ngapain Lo?” tanya suara dari seberang sana.
“Ngetik,” jawabku singkat.
“Gue mau curhat!”
Ya, dia Randa teman semasa kerja dulu. Hanya dia satu-satunya teman kerja yang masih ada di kontak teleponku.
“Curhat apa?”
“Tentang perasaan gue,” jawabnya singkat.
“Cerita aja,” ucapku seraya masih mendengarkan ibuku mengomel.
“Salah gak kalau gue ngerasa kecewa?”
“Gimana bisa gue mutusin Lo salah apa nggak kalau gak cerita apa masalahnya.”
“Dia berkhianat! Gue udah ngajarin dia tentang bisnis ngasih dia jalan buat ketemu banyak pelanggan malah gue seakan gak ada andilnya. Dia pergi sama temen-temen barunya tanpa mikirin perasaan gue.”
Aku menarik nafas jengah, sungguh ketika aku pernah diposisi itu membuatku ingin memaki dia bodoh namun aku hanya diam ketika aku juga pernah merasa bodoh karena tidak sadar telah dimanfaatkan untuk hal serupa namun berbeda versi.
“Lo kecewa karena itu?”
“Iyalah! Coba Lo diposisi gue!”
“Udah pernah,” jawabku dengan nada cuek.
“Bukan gue ‘kan yang kayak gitu?”
“Ya bukan sih,” jawabku ingin meneruskan cerita namun aku hentikan. Aku harus menahan diri karena disini posisinya dia yang sedang cerita.
“Key, kenapa dunia ini selalu berpihak sama orang-orang yang gak punya malu?”
Pertanyaan itu seakan mewakili apa yang ingin aku lontarkan pada dunia. Namun beragam versi rasa malu itu pastinya bakal menuai banyak persepsi yang pada akhirnya berujung ke satu titik bahwa setiap orang punya caranya sendiri untuk bertahan sekalipun menggadaikan rasa malunya.
“Kok Lo diem aja sih?!” protes Pria berusia 36 tahun itu.
“Lo berharap gue jawab apa? Gue yakin Lo gak bakal tertarik sama jawaban gue.”
Randa menghela nafas, “Sudah jadi tradisi kalau Lo punya pandangan yang gak bakal dimengerti oleh siapapun.”
“Termasuk Lo!” jawabku sedikit terkekeh.
“Hahaha! Gue kenal sama Lo luar dalam tapi gak kenal dengan akal sehat Lo. Kapan sih Lo punya perspektif yang pasaran?”
Aku tersenyum seraya menggeleng. “Gini ya Ran … menurut gue bukan dunia yang berpihak sama orang yang gak punya rasa malu tapi rasa malu itu yang gak berpihak ke dia.”
“Kok gitu?”
Aku terkekeh mendengar pertanyaan dengan nada sewot tersebut. “Nikmat rasa malu itu udah gak ada sama dia sehingga dia gak merasakan nikmatnya dijaga oleh rasa malu. Coba kalau rasa malu itu masih Sudi bernaung dalam jiwa dia pasti dia gak bakal merasa senang sudah melakukan hal yang memalukan. Anggap aja temen Lo kayak gitu, kalau dia masih punya rasa malu dia bakal berpikir dua kali buat mengkhianati. Apa yang udah Lo lakuin buat dia dianggap cuma keberuntungan karena pernah berteman sama Lo. Orang kayak gitu gak pantes mendapatkan rasa apapun dari Lo termasuk rasa kecewa.”
“Bukannya wajar ya kalau kita ngerasa kecewa sudah dikhianati?”
“Hmm … wajar memang kalau dia ada timbal balik ke elo. Kalau dia cuma Nerima doang tanpa memberi artinya dia bukan temen tapi manusia yang cuma manfaatin Lo doang. Dia datang ketika Lo seneng dan dia pergi ketika Lo udah gak berguna lagi. Teman itu memberi ketika diberi, gak melulu soal materi tapi timbal balik atas perasaan dominan yang Lo kasih ke dia. Paham?!”
Dia terdiam.
“Kenapa Lo nganggap gue temen?” Pertanyaanku mungkin membingungkan baginya namun aku sengaja bertanya sebagai referensi untuknya mencari jawaban atas pertanyaannya tadi.
“Bego Lo ya?! Iyalah gue nganggap Lo temen karena diwaktu susah dan senengnya gue ada sama Lo.”
“Dan dia?”
“Maksudnya?” Randa balik bertanya.
“Temen Lo tadi? Apa pertemanan kalian sama kayak kita?”
Randa diam sejenak lalu menjawab pelan, “Ketika gue sedih dan butuh temen curhat yang terbayang di otak gue cuma Lo.”
Aku tertawa menanggapi jawabannya. “Artinya dia gak bener-bener nganggap Lo temen jadi buat apa Lo kecewa? Ran, denger ya— kecewa itu level tertinggi dari sebuah amarah. Hanya orang-orang yang pantas dianggap aja yang berhak Nerima rasa kecewa Lo yang lainnya abaikan dan lupakan. Anggap mereka hanya pelajaran hidup yang datang cuma untuk membuat Lo paham dimana batas tertinggi Lo ketika menjadikan diri Lo berguna buat orang lain.”
Randa tertawa terbahak-bahak mendengar ocehanku. Pastinya dia belum memahami dengan pasti apa yang kumaksud tapi aku tahu dia akan paham jika dia sudah melampaui batas tertinggi dari rasa kecewa itu— ikhlas.
“Gue jadiin PR nanti gue bahas lagi kalau udah paham.”
“Seribu tahun lagi?” tanyaku lalu terkekeh.
Dia kembali tertawa, cukup renyah untuk menghibur hatiku yang sedang dipenuhi amarah yang terasa ingin meledak-ledak.