Dua Bungkus Rokok

1237 Words
Tulisan yang begitu berkesan dalam ingatanku ketika aku mengetik naskah novelku yang akan dikirim ke salah satu platform favoritku. Kata-kata Zone kemarin membuatku terngiang-ngiang. Your Zone _ Jika kamu ingin tenang menjalani hidup maka lupakan dendam.” Mekey _ Dendamku bukan hal mudah yang bisa dilupakan begitu saja. Kalau semudah itu melupakannya maka aku gak akan tenggelam dalam keterpurukan. Your Zone _ Bisa pasti bisa, mau aku bantu? Mekey _ Boleh! Tapi lu harus ingat satu hal— jangan pernah masuk dalam kehidupan seseorang yang masa lalunya belum selesai apalagi masa lalu itu dipenuhi dengan air mata dan luka karena sudah bisa dipastikan lo bakal terluka dan gak menutup kemungkinan lo bakal menambah lukanya. Your Zone _ Aku orang yang harus berpikir seribu kali untuk membuat wanita menangis karena sama saja aku menyakiti Mama.” Aku terhenyak membacanya, aku tidak mengagumi kata-katanya melainkan aku mengagumi sikap itu. Aku bisa menebak bahwa dia adalah salah satu dari korban Broken home kedua orangtuanya. Maka dari itu aku tidak ingin membuatnya memaklumi sikap kerasku tapi aku ingin menyelami isi hatinya. Aku tersenyum sendiri. What? Sungguh keadaan langka bagi diriku yang selalu memasang wajah datar. “Ma!” tegur Ayu Saking sibuk tersipu aku sampai tak mendengar panggilannya. “Mama kenapa sih?! Aneh!” Tentu saja aneh, senyum itu terlalu mahal untukku. Bahkan orang-orang terdekatku menganggap senyum adalah hal yang langka tersungging di sudut bibirku. “Mama! Jangan bikin takut deh!” teriak Ayu dengan wajah cemas. Aku pun tersentak. “Kenapa?” “Dari tadi Kakak panggil, Mama gak nyaut malah senyum-senyum gak jelas.” Aku malah terkikik geli mendengar ucapannya. Lagi-lagi dia menampakkan wajah aneh dengan mimik yang lucu. “Gak jadi deh! Kayaknya Mama yang perlu minum obat.” “Loh kok gak jadi?” “Kakak mau nanya Paracetamol masih gak?” “Kayaknya sih masih, coba lihat di samping galon tapi kalau gak ada nanti Mama ke Apotek.” “Iya,” ucapnya kemudian menuju tempat yang aku sebut dan berkata, “Ada!” Aku kembali mengetik namun pikiranku selalu tertuju pada Zone. Mungkin tanpa sadar aku tersenyum sampai tak menyadari Ayu sedang bersandar di pintu ruang kerjaku dengan tatapan menelisik. Aku terkejut sampai ponselku terjatuh. “Mama gak ngetik di laptop?” “Lagi pengen nyantai,” jawabku seraya membenarkan posisi dudukku. “Emangnya cerita apa yang Mama tulis Sampe senyum-senyum gitu?” Matanya menyipit sebagai tanda ada kecurigaan disitu. “Ah, anu tentang Mafia Reborn.” Ayu mengangguk lalu menyeringai aneh, tanpa bertanya lagi dia pun pergi. Aku menghela nafas lega sembari bergegas membuka aplikasi TipTop buat masuk ke live Ringgo begitu mendapat notifikasi. Padahal selama ini aku tidak terlalu menghiraukan notifikasi ketika lagi mengetik naskah. “Welcome Kak Mekey!” sapa Ringgo begitu aku masuk di Room-nya. Fitur terima undangan langsung muncul di layar ponselku, kali ini tanpa menolak aku langsung menerima. “Dari mana Kak Key?” tanya Ringgo ketika sudah tersambung. “Gak dari mana-mana, pas buka TipTop kebetulan Bang Ringgo live yaudah langsung ke sini.” Jelas saja aku berbohong agar Ringgo tidak merasa aneh kalau aku terus terang bilang langsung datang ketika mendapat notifikasi. “Wingky gak live?” Lagi-lagi aku merasa agak tersinggung mendengar pertanyaannya itu seolah ada yang salah kalau aku tidak ke live Wingky. “Aku gak tau soalnya baru buka ini.” “Tadi siang sih dia live tapi cuma sebentar.” “Kenapa sih kalau aku ke sini selalu nanya Wingky, aku gak boleh gabung ya di sini?” Ringgo tertawa kecil lalu menjawab, “Gapapa Kak Key cuma aku gak mau aja dituduh merebut temennya karena kami udah saling gak enak kemarin itu?” Aku mengernyit heran. “Gak enak gimana Bang?” “Ya biasalah Kak, salah paham soal cewek.” Aku mengangguk namun tak menanggapi malah menanyakan Santi. Sumpah aku ngerasa jenuh kalau harus membahas masalah percintaan apalagi yang menyangkut cinta segitiga antar teman. Menurutku sangat konyol kalau mesti mengorbankan pertemanan hanya untuk merebutkan perempuan yang belum pasti. Siang itu aku mendengarkan musik di room live Ringgo sambil menyelesaikan naskahku karena Jam tiga sore mau di-update ke platform Indi Novel. Saking asik mengetik aku sampai tidak menyadari kalau di sana sudah ramai guest saling melempar candaan. Suara yang membuatku mabuk kepayang akhirnya terdengar dia sedang mengobrol dengan Ringgo membahas seputar musik. Aku mengirim komentar seadanya menyebut lagu favoritku. Disaat mereka asik mengobrol aku berkata pada Ringgo, “Bang aku mau tidur dulu ya nanti tolong bangunin jam tiga sore soalnya aku mau update.” “Oke, siap Kak Key.” Sebetulnya aku tidak mau tidur karena si Raja Rimba membuat ulah. Dia memesan rokok dan kopi kepada tukang antar galon keliling tak tanggung-tanggung dia memesan dua bungkus rokok. Tak ayal aku langsung mengamuk, “Kalau sekiranya lu udah bosen idup mending mati deh!” Terdengar kejam tapi lebih kejam mana dia membuat kami sengsara mengurus orang sakit yang tidak mau diatur. “Mulutmu itu!” balasnya dengan nada tinggi. Aku seketika berteriak sambil membanting kacamata yang kukenakan hingga pecah. “Kenapa sama mulutku, hah?!! Kau gak terima dibilangin kayak gitu? Mangkanya jangan banyak tingkah!” “Banyak tingkah apa sih?! Cuma mesen rokok aja!” Bukan main emosinya mendengar alasannya itu. “Cuma kau bilang?!” Duar!!! Satu kotak wadah cincin batu akik miliknya beserta isinya berserakan di lantai juga toples obat dan beberapa nota ikut terseret oleh tanganku. “Aku tau sekarang ini kau cacat mental tapi tolong ngertilah sedikit! Sudah kubilang berkali-kali kalau rokok itu bisa memperburuk kondisi jantungmu, apa kau gak mikir?!” “Gak banyak-banyak juga kuhisap. Lagian kata Genta gapapa ngerokok kalau gak sesak!” Andai saja aku punya banyak uang mungkin TV flat yang ada di hadapanku sudah ikut jadi korban kemarahanku. Namun aku memilih untuk menyudahi perdebatan itu dan meninggalkannya ke ruang kerjaku. Aku kembali memasang earphone dan mendengar obrolan mereka. “Gak juga Bang, kalau capek ya tidur,” ucap Zone. Entah topik apa yang sedang mereka bahas, yang jelas aku hanya fokus menetralkan amarahku. “Kak Key udah jam tiga,” panggil Ringgo. Aku masih diam. “Sudah aku bangunin ya,” ucap Ringgo lagi. Aku mengaktifkan microphone. “Iya Bang, makasih! Pamit bentar ya.” Setelah selesai meng-upload bab baru, aku kembali bergabung hanya saja Ringgo mau end live jadi ya sore itu aku ngerasa kesepian. Malamnya aku masuk ke live Wingky karena dia marah-marah di grup chat. “Aku gak maksa kalian harus gabung di sini, tapi setidaknya nongol! Kalian para moderator gak ada satupun yang datang begitu aku live.” Dia mengomel begitu live baru saja dimulai. Aku hanya diam karena emosiku juga belum stabil. Di saat Wingky sibuk mengomel disitu juga aku mencium bau asap rokok yang berasal dari ruang tengah. Aku mendorong kasar pintu ruanganku menuju tempatnya biasa rebahan sambil nonton televisi. “Kau ini bener-bener gak ada otak ya?! Semakin didiemin makin jadi.” “Apa sih ngomel Mulu?” “Dari tadi siang di diemin ngerokok udah mau habis satu bungkus!” Tanganku menyambar kotak rokok yang ada di meja samping dia duduk. “Belum habis satu bungkus!” protesnya sembari ingin meraih kotak rokok yang kupegang. “Dua batang lagi tau gak sih!!! Kau gila ya?!” “Ya berarti ‘kan belum habis!” Dengan tatapan membara aku melempar kotak rokok itu ke wajahnya sambil berkata, “Lama-lama nyawamu yang kuhabisi!” Setelah itu aku kembali ke ruanganku dan tidak keluar sampai pagi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD