Aku mulai membaca Novel karangan Mama. Novel yang ditulis berdasarkan kisah nyata tanpa menyamarkan nama tokoh. Awalnya aku mengira Mama ingin membuat kisah ini benar-benar hidup seperti aslinya ternyata aku salah. Mama bukan sedang menulis sebuah Novel tapi dia sedang menyuarakan isi hatinya yang selama ini tidak bisa ia ungkapkan dengan baik kepada siapapun.
Bak sebuah diary, novel itu ia tulis dengan meluapkan semua yang ia rasakan selama ini. Melalui novel ini ia ingin membagi pengalaman hidupnya untuk wanita-wanita yang sedang berperang melawan depresi meskipun pada akhirnya Mama kalah tapi aku yakin dalam novel ini dia ingin memberitahu kepada mereka bahwa mereka harus lebih kuat agar bisa menjemput kebahagiaan suatu hari nanti.
NERAKA MASA LALU YANG BELUM USAI
BAB 1
Suara Diambang Kematian
Aku menatap nanar layar ponselku ketika pandangan ini mulai kabur. Kematian yang nyaman seperti timbal balik yang aku harapkan dari Sang Pemilik Kehidupan atas dedikasi yang aku berikan untuk orang-orang yang telah mencuri kebebasanku untuk bahagia.
“Sakitkah? Lamakah? Apa aku bisa selamat dengan ini? Sakaratul maut yang mereka katakan terasa begitu menyakitkan, Beratus juta kali lipat dari rasa sakit yang ada dalam kehidupan ini. Apa aku mampu melaluinya dengan baik? Ah, aku ‘kan memang mau mati lantas apa lagi yang aku pikirkan?” batinku ditengah jeritan nurani yang masih ingin bertahan hidup.
“Mom!” Suara itu begitu lembut menyergap sanubariku, terdengar jelas di rongga earphone yang menempel di telingaku.
“Apa ini suara malaikat maut yang memberi belas kasihannya untuk mencabut nyawaku tanpa rasa sakit? Atau—”
Kilasan peristiwa pahit itu melintas— saat dimana sisi manusiaku habis termakan oleh sabar yang telah mencapai puncak lelahnya. Suara pecahan gelas, piring, kursi makan yang melayang, juga rintihan menahan sakit dengan darah yang berceceran berasal dari suaraku. Bukan rasa sakit yang berasal dari luka akibat sabetan beling juga bukan karena punggung tangan yang bengkak hasil dari meninju lemari es melainkan rasa benci yang tak mampu lagi ku kuasai seperti biasanya.
Kali ini aku kalah dengan rasa lelah yang tak mampu lagi kutahan. “Aku capek!!!” Begitulah jeritan hatiku saat itu. Aku melampiaskan dengan apapun yang bisa membuatku puas. Termasuk menganiaya batin orang yang sudah membuat batin dan mentalku hancur babak belur selama belasan tahun. Dia ada dihadapanku dengan ketidakberdayaan dan mungkin akan mati lebih cepat ketika dendamku menamparnya bertubi-tubi.
“Kenapa gak kumatiin aja sekarang? Toh, aku tau cara membuatnya mati tanpa harus menyentuhnya.” Namun tidak kulakukan. Bisikan dalam nuraniku berkata, “Ingat siapa dirimu! Kau adalah manusia yang selama ini memanusiakan orang-orang yang menganggapmu iblis. Biarkan dia hidup untuk menikmati sisi iblis yang akan terus menyiksa batinnya. Buat dia membayar lunas hutang derita yang selama ini dia berikan padamu.”
Kubuka genggaman tanganku, jenis obat diuretik— sangat ampuh menggagalkan sistem organ tubuhku dengan riwayat anemia akut ini. Tidak langsung bereaksi, cukup memberi waktu untuk membawa serta kedua gadis cantik yang selama ini jadi pelipur lara. “Aku gak boleh pergi tanpa membawa mereka.”
Kupikirkan caraku bertahan ketika obat itu mulai bereaksi, aku ingin membawa serta dua putriku agar mereka tidak mengalami trauma mental atas kepergian ibu mereka. Aku akan memberikan kedamaian abadi di surga sana meskipun aku harus abadi di neraka setidaknya itu adalah pengorbanan terakhir untuk kedua putriku.
Demi menghilangkan rasa takut aku masuk ke live streaming seorang teman yang baru kukenal dengan nama akun Your Zone atas undangan Lupus yang dikirim melalui pesan pribadi di TipTop— sebuah Aplikasi live dan konten video dengan berbagai macam konteks. Aku ingin menciptakan kenyamanan sebelum akhirnya menghembuskan nafas yang terakhir dengan mendengarkan suara-suara tawa mereka.
“Beruntunglah kalian yang masih bisa tertawa dan menjalani hidup yang baik.” Aku tersenyum dalam kesedihan yang dalam. Luka batin yang telah merajalela menghujam akal sehatku tak mampu dikendalikan lagi.
“Pi …,” panggil Lupus kepada Zone lalu tak lama dia mematikan mikrofon dan itu ia lakukan berkali-kali. Aneh sih tapi terdengar lucu.
Aku pun berkata tanpa berpikir apa yang akan terjadi nanti, “Pi, angkat aku jadi anakmu Pi!” ucapku menggodanya. Aku melompati portal, toh sebentar lagi aku sudah pindah alam.
“Cie …. Ngapain jadi anak jadi maminya aja.” ucap Lupus meledekku.
Entah siapa yang memulai obrolan itu semakin menjurus pada godaan yang mengarah pada kami berdua. Aku yang tak lagi memikirkan sebab dan akibat mengikuti alur sampai suasana terasa begitu meyakinkan. Aku terus menerus menggodanya dengan kalimat-kalimat yang membuat keadaan terkesan bahwa kami adalah sepasang kekasih. Hingga aku terbawa arus dan menemukan kenyamanan ketika dia menyambut tiap candaan yang aku lontarkan.
“Oh jadi gitu ya Papi, udahlah kita cere aja.” godaku ketika dia menyambut penonton perempuan dengan sapaan ramah.
Dia tertawa, “Cuma nyapa yang masuk aja loh!” Ucapannya seakan ingin mengklarifikasi agar aku tidak cemburu.
Tiba-tiba Wifi mati dan aku otomatis out dari live itu. Hingga beberapa saat kembali normal, aku kembali masuk dan mendengar beberapa kali dia memanggilku.
“Mi, lah kemana dia tiba-tiba hilang.”
“Hayo Papi ‘kan Mami marah!” goda Lupus.
“Papi cuma nyapa tamu aja loh.”
Aku cekikan mendengarkan perdebatan kecil itu. Karena akun milikku Privat jadi mungkin mereka tidak melihat aku sudah masuk ke live tersebut.
Aku mengetik di kolom komentar: Oh jadi kalian gibahin aku? Cukup tau aja.
“Sini gabung lagi, akun kamu privat kirim permintaan gabung aja.” Nada bicaranya seperti suami yang sedang membujuk istrinya yang lagi merajuk.
Sudah tengah malam, tapi suara anak bungsuku dan papanya terdengar nyaring seperti sedang berdebat. Doni- 47 tahun seorang pria yang paling kubenci sealam semesta ini. Lagi-lagi ia membuat mood ku memburuk. Dia bertengkar dengan selin dan membentak dengan suara kencang. Aku langsung mematikan mikrofon dan menghampiri mereka yang tengah berada di ruang tengah.
“Kenapa sih?” tanyaku setengah membentak.
“Minta tolong Cariin remot tv pun dia gak mau!” jawab Doni sewot.
Sementara Selin sudah berlari ke kamar sambil menangis.
“Sudah tengah malam tidur sana!” jeritku.
Dia malah berkata, “Itulah anak-anak ini jadi berani melawan, mereka niru mamanya yang gak bisa ngomong baik-baik.”
“Kau lupa, hah?! Apa yang sudah kau perbuat sampai mereka jadi kayak gitu? Seharusnya kau sadar diri sebelum menghakimi aku!”
“Alah! Selalu nyalahin aku gak pernah bener sejak aku gak berdaya.”
“Memang!!!” jeritku. “Memang kau yang salah!”
“Iyalah! Selalu aku yang salah!” bentaknya lalu beranjak menuju ke kamar.
Aku mendekati Selin yang sedang menangis. “Adek kenapa ngomong kasar ke Papa?”
“Adek capek Mah,” ucapnya sambil terisak.
Hatiku menjerit sekencang-kencangnya mendengar jawaban itu. Kata capek yang dilontarkan seakan teramat pedih menusuk relung hatiku. Seolah dia minta diselamatkan dari kehidupan yang menyedihkan ini. Kupeluk dia sambil menahan air mata agar tidak tumpah sampai dia tertidur.
Aku kembali ke ruang kerjaku, meraup obat yang sempat ku letakkan di atas buku kerangka novelku. “Aku capek Ya Allah! Capek ….” Tangisku seketika meledak dalam keheningan.
“Mom!” Terdengar suara lembut itu menusuk hatiku.
Kenapa panggilan itu terasa menyayat hati, seolah mengiringi langkah terakhir menuju kehidupan abadi.
“Mom!” panggil Lupus. “Mau tutup room Nih Mom!”
Tak lama Zone memanggilku lagi. “Mom! Kemana dia?”
Aku tersentak, hanya dengan pertanyaan sepele tapi hatiku merasa tersentuh. Seolah akan ada yang merasa kehilangan setelah kepergian ku, seolah kepergianku akan memberi rasa sakit padanya.
“Mami …!” teriak Lupus.
Entah mengapa teriakan Lupus membawaku pada wajah Ayu yang terlihat layu akhir-akhir ini. Wajah penuh kekhawatiran menghadapi keadaan ibunya yang semakin hari semakin kacau.
“Mama berhak bahagia dengan cara apapun. Sudah cukup bergelut dengan kesedihan selama ini. Ayo kita pulang Ma! Buka lembaran baru, biarkan Kakak kerja bantu Mama nyekolahin Adek.”
Seketika aku tersadar bahwa yang diinginkan Ayu adalah agar aku tetap hidup dan bisa bertahan untuk menemukan jalan menuju kebahagiaan.