“Mom! Tidurkah? Mami, nanti terpental loh ke rawa-rawa.”
Aku tau persis candaan live Rawa-rawa yang dia maksud. Live streaming dewasa yang isinya manusia-manusia penikmat cinta sesaat. Aku masih berusaha keluar dari perang batin antara malaikat dan iblis dalam diriku. Menggenggam erat obat itu seraya merekatkan mata dengan kuat. Masih teramat sakit terasa.
Namun tak lama. “Mom, bangun ih!”
Suara lembut itu seketika menghujam jantungku. Irama bertalu seperti gendang perang yang saling bersahutan antara ketakutan akan kematian dan rasa lain yang sulit dijabarkan dengan benar.
Jatuh cinta? Disaat seperti ini? Apa aku sudah gila? Ku ingat lagi beberapa waktu lalu aku merasakan perasaan asing yang mungkin bisa disebut cemburu padanya ketika aku memeriksa akunnya dan melihat postingan foto seorang gadis dalam bentuk video yang disematkan. Akhirnya aku menyadari— aku memang jatuh cinta. Terdengar gila ketika rasa itu hadir pada orang yang sama sekali tidak kutahu latar belakang bahkan rupa wajahnya seperti apa. Yang ku rasakan hanya suaranya bak alunan merdu menyergap telingaku.
Lagi dan lagi dia memanggilku dengan nada yang tetap lembut. Aku bergegas menghapus air mataku dan mengontrol tekanan suaraku agar tidak terdengar habis menangis.
“Iya kenapa? Sorry tadi aku habis bikin kopi.” Alasan yang sungguh tidak masuk akal. Kopi macam apa yang dibuat lebih dari satu jam lamanya.
“Oalah Mami-mami, kirain udah tidur,” celetuk Lupus.
Aku hanya tertawa kecil. Dalam hati, “Makasih sudah memanggil dan mencari ku!”
Selama ini tidak ada orang yang benar-benar mencari ku karena ingin tahu keadaanku. Orang-orang mencari ku hanya ketika mereka membutuhkanku. Keadaan saat ini benar-benar hal kecil yang biasa saja menurut orang lain tapi tidak bagiku.
“Pus, turun duluan ya ada yang mau Papi omongin sama Mami sebelum dia kabur lagi.”
Disaat itu aku merasakan sensasi mabuk meski tidak mengkonsumsi alkohol.
“Cie …,” goda Lupus. “Oke!” Dengan nada gembira dia berpamitan.
“Mom!” Panggilnya lagi.
“Iya kenapa?”
“Add i********:-ku buruan!” pintanya dengan nada tidak sabar.
“Iya!” jawabku menggeleng geli sambil meraih ponselku yang lain lalu menginstal Aplikasi tersebut. Demi apa aku bela-belain menginstal hanya karena berbohong kalau aku tidak memiliki akun w******p.
Tidak sepenuhnya berbohong, aku memang sudah mempersiapkan diri untuk mati malam ini. Aku menghapus semua aplikasi agar tidak ada satupun yang bisa dikenang selain isi tulisan tentang penderitaanku selama ini. Sebuah novel yang hanya diketahui oleh Ayu— anak pertamaku.
“Mana udah belum? Kok lama? Kamu klik aja tautan di samping profilku nanti langsung masuk ke IG-ku.”
Dalam hati, “Yang benar saja.” Di ponsel yang aku pegang sekarang belum ada aplikasi tersebut. Mau tak mau aku menginstal dari ponsel yang kupegang sekarang dan menautkan pada akun pesbuk lamaku.
“Lama banget sih, Mi?!”
“Sabar, jaringanku lagi error ini.” Alasan yang masuk akal mengingat aku bolak-balik login ulang gara-gara Wifi down.
“Iya,” jawabnya dengan lembut.
Di kolom komentar Lupus sibuk membanjiri komentar meledek kami berdua. Sampai Aplikasi itu sudah terpasang dan aku beralih ke profilnya. Jariku mendadak beku ketika melihat postingan yang disematkan.
“Masih ada! Sadar Mekey sadar! Dia sudah punya pacar!” Aku tidak jadi mengklik tautan itu dan kembali ke mode Live.
“Udah belum? Kok gak ada kamu Follow akunku?”
Aku terdiam memikirkan hal yang masuk akal untuk menolak meski hati kecilku merasa kecewa.
“Mom!”
Suara lembut itu kembali menghanyutkan ku sampai aku hilang akal dan menerobos prinsip yang selama ini aku junjung tinggi; Boleh nakal tapi tidak untuk jadi perempuan murahan. Aku merasa masuk dalam neraka lain setelah gagal bunuh diri.
“Sudah,” jawabku.
“Oke, kita bubar ya?! Lanjut di IG aja.”
Tak lama ada notifikasi dia balik mengikut akunku.
Dialah Zone seorang pemuda berusia 27 tahun yang kukenal dari sebuah aplikasi berbasis video kreator dan live streaming. Aku mengenalnya ketika tengah sibuk mencari pengisi suara untuk orderan video pelangganku. Aku seorang konten kreator segala rupa, mulai dari edit video, foto, dan juga seorang penulis.
Hai, namaku Mekey saat ini aku berusia 35 tahun. What? Pasti seperti itu reaksi kalian ketika mengetahui usiaku. Aku dan Zone memiliki selisih umur yang lumayan jauh untuk ukuran seorang wanita yang memiliki kekasih yang lebih muda. Namun alih-alih aku yang seharusnya bersikap dewasa malah sebaliknya. Aku seperti anak kecil yang kerap merengek dan merajuk padanya.
Awal pertemuan kami terkesan lucu dan membuktikan bahwa jodoh itu datangnya tak disangka-sangka. Berulang kali aku masuk ke Live Nya yang pada saat itu dia tengah live streaming game namun aku hanya menonton sebentar lalu mengabaikannya. Namun ada titik dimana aku tak sengaja mendengar suaranya, sejenak aku terpaku. Suara ini yang kucari sebab itu aku diam menunggu dia bersuara lagi sambil memperhatikan game yang tertampil di Border live-nya.
Setelah menunggu hanya terdengar dia berkata, “Ya ngelag!” Setelah itu Live terputus mungkin jaringannya buruk.
Di hari-hari selanjutnya tak terlihat lagi dia live. Aku pun melupakan suara itu dan tetap mencari suara-suara yang lain sampai pesan singkat masuk ke akun w******p-ku.
Astri
Kak masih nyari pengisi suara cowok?
Mekey
Iya masih, kenapa?
Astri
Aku ada temen yang biasa ngisi suara gitu kalau Kakak mau nanti aku kirim nomornya.
Mekey
Yang punya suara udah ditanya mau apa nggak?
Astri
Sudah Kak, katanya mau tapi coba aja Kakak denger dulu suaranya.
Setelah itu Astri memberikan nomornya dan terjadilah percakapan dengan lelaki tersebut. Aku memintanya untuk mengirimkan suara melalui voice note. Setelah aku mendengarkan— aku langsung setuju karena suaranya pas untuk karakter cowok dalam video yang akan diedit.
Akhirnya aku bisa menyelesaikan video orderan tersebut dan tidak lagi mencari suara lain. Namun aku tetap membuka aplikasi tersebut karena kebetulan aku sering meng-upload video dan memiliki lumayan banyak pengikut. Untuk pengikut hampir 11 ribu menurutku sudah termasuk bagus.
Aku juga mulai ketagihan menonton live streaming para pengguna, dari yang hanya sekedar live obrolan biasa tanpa mengaktifkan fitur kamera sampai live yang benar-benar mencari hadiah yang bisa dicairkan dari akumulasi koin yang terkumpul berdasarkan jenis hadiah tersebut. Terkadang aku ikut live obrolan dari kreator-kreator yang gak kukenal. Toh, mengobrol santai untuk menghibur diri tak ada salahnya apalagi kalau obrolan itu mengenai topik Kehidupan.
Disana aku tak perlu mengatur ekspresi apalagi berdandan cantik karena tak perlu mengaktifkan kamera. Kadang aku suka mendapatkan hadiah dari para penonton yang masuk ke Live tersebut. Pikirku lumayan koinnya bisa kuberikan lagi kepada orang-orang yang sedang live mandi lumpur. Ketika mengingat itu aku tertawa sendiri, bukan menertawakan mereka yang mencari cuan sampai sedemikian rupa melainkan perjuangan mereka meredam rasa malu demi memenuhi kebutuhan hidup.