Privasi

1328 Words
Awal pertemuanku dengan Zone ketika aku dipusingkan dengan pengisi suara lelaki untuk video promosi novel pesanan teman pesbukku. “Gimana Kak? Dapet gak pengisi suaranya?” tanya Dinda padaku. “Belum Kak, sabar ya?!” jawabku agak sedikit pasrah. “Oke kak!” jawabnya dari seberang sana. Aku kembali mencari suara lelaki melalui live streaming di TipTop atas saran Ayu sayangnya beberapa ada yang masuk kriteria cuma mereka malah ngajak sleep call dengan tarif 25.000 untuk satu jam. Jujur aja aku merasa muak dengan tawaran mereka. “Gue mau cari pengisi suara bukan temen tidur!” Di Tengah keputusasaan itu aku kembali menjelajah sembari membuat status di akun pesbuk mana tau ada yang berminat. Tak lama aku bertemu dengan seorang pemuda di live streaming miliknya. Dia mengajakku live bersama dan akhirnya kami mengobrol santai seraya tertawa. “Eh nama lo Mekey ya?!” tanya pemuda bernama Wingky tersebut. “Iya,” jawabku datar. “Mau gak gabung di grup chat kami?” “Grup apa?” “Grup pertemanan biasa aja. Kalau mau kirim nomornya ke Ayah!” Aku spontan bertanya, “Ayah?” “Ayah itu ketua grup kami, dia yang mensponsori kegiatan live anak-anak di grup.” “Oh semacam agensi ya?” tanyaku sok tahu. “Bukan Key, kami cuma grup suka-suka aja. Ya, mana tau ntar lu dapet jodoh! Maaf Mekey masih single kah?” Bukan Mekey namanya kalau tidak pasang aba-aba duluan sebelum berlari. Aku selalu membatasi diri dalam bergaul dengan lelaki meskipun hanya di dunia Maya. Tanpa ragu aku menjawab, “Alhamdulillah udah!” “Masih sama suami?” Seketika bibirku keluh untuk menjawab, aku tidak ingin ada pertanyaan lainnya sementara untuk menjawab ‘masih’ dadaku terasa sakit. Cukup lama aku terdiam hingga akhirnya panggilan Wingky mengagetkanku. “Key! Ya sudah kalau gak mau ngasih tau.” Dalam hatiku menghargai sikapnya itu, setidaknya dia memberiku privasi untuk tidak mengungkapkan statusku. Setelah hari itu aku resmi menjadi anggota grup mereka. Dan seiring berjalannya waktu pula aku mulai dijodoh-jodohkan dengan ketua grup tersebut. Ayah Rafly begitulah mereka menyebut namanya. Hari itu dia ikut live bersama kami. Rafly bertanya padaku, “Key boleh nanya gak?” Aku menjawab, “Tanya aja.” “Udah punya couple?” Jujur aku tidak mengerti apa yang dimaksud dengan Couple atau yang sering mereka singkat dengan CP. Akhirnya aku bertanya, “Kenapa emang?” “Gapapa mana tau mau cari CP.” Aku hanya tersenyum masam walaupun mereka tidak bisa melihat tapi pastinya dari diamnya aku mereka sudah bisa menebak kalau aku tidak tertarik untuk urusan seperti itu. Tiba-tiba Wingky nyeletuk, “Aktifin kamera dong, Key!” “Hah?” tanyaku sedikit tersentak. “Nyalain kamera kami pengen liat wajah kamu!” Serius, aku bukan gak percaya diri mau memperlihatkan wajah tapi aku tidak mengerti bagaimana cara menyalakan kameranya. Selagi mereka sibuk menyoraki untuk on camera aku malah salah pencet kamera dan terarah ke tanktop bra yang kutaruh di atas meja kerjaku. Bukan main malunya sampai aku menghempaskan ponselku. Tapi sepertinya mereka tidak memperhatikan semua itu malah sibuk mengajari cara mengarahkan kamera ke depan. Setelah kamera menangkap wajahku— Wingky menganga. “Serius umur lu 35?” Aku tersenyum tipis seraya mengangguk. “Ketauan banget bohongnya. Mana ada umur 35 modelan gitu. Lu bohong ‘kan Key! Bilang aja gak mau diganggu!” “Terserah lu dah!” jawabku seraya mematikan kamera. Sejak saat itu dia kerap memanggil Bunda karena mau dijodohkan dengan ketua grup. Aku mulai merasa tidak nyaman terlebih pemuda itu berprofesi sebagai pelaut, jujur aku merasa trauma. Dengan kemantapan hati aku pun memilih keluar dari grup itu dan kembali menjelajah seperti biasanya. Saat itu aku masuk ke live streaming pemain game bernama Your Zone. Tanpa sengaja aku menonton karena secara bersamaan masuk pesan suara di akun w******p dari calon pengisi suara. Tak lama, “Patah-patah ‘kah?” Aku membaca kolom komentar: Iya Bang, jaringan kayaknya itu. “Sinyalku merah,” sahutnya dengan suara yang hampir tenggelam tertelan suara sound game itu. Aku terkesiap mendengar suaranya setelah itu dia berkata lagi, “Ah ngelag!” live pun berakhir. Aku mengunjungi profilnya, menonton video-video yang dia posting. Aku setengah terkikik “Bocil ternyata.” Mungkin fokusku terpecah oleh kiriman suara yang masuk jadi aku berpikir suara Zone berat dan bagus untuk pengisi suaraku. Sampai akhirnya aku mendapatkan pengisi suara yang pas Dan mulai sibuk menggarap Video pesanan untuk promosi novel tersebut. Setelah selesai dan mengirimkannya aku kembali bergabung ke Live Wingky, aku kira setelah keluarnya aku dari grupnya bakal mendapat respon gak enak darinya ternyata dia tetap seperti biasanya. “Halo Mekey … lama gak kelihatan kemana aja?” Nada sapaan ramahnya itu ciri khas yang tak terbantahkan setiap kali ia menyapa tamu yang menonton live-nya. Aku mengetik di kolom komentar : Halo Wink! Gue lagi sibuk kerja. “oh gitu, sini gabung!” ajaknya seraya menekan tombol undang tamu. Aku menerima undangan itu dan bergabung dengan obrolan mereka. Ada beberapa tamu di room live nya, seperti biasa aku hanya menimpali seadanya sampai obrolan itu masuk di nalarku. Sudah jadi ritualnya untuk mengajak para tamu bergabung dalam grup yang dinaunginya sampai ia melupakan aku yang sudah keluar dari sana. “Gabung yuk, ada ceweknya juga loh! Mekey ini salah satu member kami.” Seorang penonton mengirim komentar: Squad game ya Bang? “Random kok tapi kalau emang mau gabung di squad juga bisa. Aman kok disana gak ada obrolan yang aneh-aneh.” Aku setengah terkikik mendengar ucapannya itu. Dia masih menganggap aku member padahal aku sudah keluar dari sana. Alasanku keluar pada waktu itu karena umur yang sudah tidak muda lagi padahal sebenernya aku risih dipanggil dengan sebutan Bunda apalagi sampai dijodoh-jodohkan. Karena sikap ramahnya itu akhirnya aku kembali menjadi anggota di sana. Pagi itu obrolan di grup chat sangat kacau. Beberapa member mengirim stiker tidak senonoh yang membuatku merasa tidak nyaman. Aku dianggap berlebihan dan tidak bisa diajak bercanda, akhirnya terjadilah perdebatan melalui chat. Mekey Pikirin dong penghuni lain, disini gak semuanya cowok loh! Kami para cewek risih! Botak Plontos Alah gitu aja sewot atau mau yang lebih lagi? Mekey Memang setan Lo ya?!” Gak lama Wingky online dan mengetik: Jangan gitu lah Bro! Cewek loh ini. Botak Plontos Bapak kau lah! Cuma gitu doang, payah gak asik Lo jadi Leader! Aku kembali mengamuk : Dih, dikasih tau malah sewot! Gak usah bawa-bawa Bapak! Lagi-lagi dia mengirim stiker tidak senonoh seolah mau mengejek: Asik tuh ya begini! Tak lama ada member lain menimpali, ia menyeret balasan member resek tadi. Badut Cinta Ini baru asik! Dia mengirim stiker lucu seperti orang yang sedang memukuli. Botak Plontos Heleh! Mau jadi pahlawan lu?! Badut Cinta Gak usah bacot, sini by one! Botak Plontos Share Lok! Badut Cinta Mata kau itu share lok! Ayo kita duel aja di Em-El! Tantangnya untuk duel Em-El. Aku mengernyit gimana caranya orang duel di game tersebut. Dalam bayanganku game itu sejenis game tinju yang ada di PlayStation. Entah apalagi yang mereka ributkan aku keluar dari obrolan karena Doni harus terapi. “Lumayan ada kemajuan dari yang kemarin, Kak!” ujar Genta Terapis yang kerap datang ke rumah dua hari sekali. “Alhamdulillah,” sahutku tersenyum seadanya. “Masih kontrol ke rumah sakit, Kak?” “Masih,” sahutku seraya mengangguk. Tiba-tiba Doni berkata, “Ah, udah males mau ke rumah sakit. Nunggunya lama eh pas diperiksa sebentar.” Aku langsung nyolot, “Jadi mau kau diperiksa sama malam gitu?” “Diperiksa lah satu-satu?” “Kalau diperlukan pasti diperiksa, ‘kan?!” sahutku mulai kesal. “Orang sakit kronis itu harus diperiksa intensif!” Seketika aku langsung tertawa namun bukan tawa merasa senang melainkan mengejek ucapannya itu. “Lucu sekali anda ini! Sadar kalau sakit kronis tapi gak mau diatur— ngerokok masih jalan, masih minta kopi gak dikasih kau ngadu kesana-kemari buat omongan yang bikin orang percaya kalau aku yang jahat! Pikir pake otak!!!” Aku meluapkan emosi tanpa menghiraukan Genta yang masih duduk di sofa dan tak bisa berkata apa-apa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD