"Miya, gue hamil!" Tangis histeris gadis bernama Angel pecah di hadapan Miya. Sembari berlutut di depan Miya, Angel terus berusaha menarik perhatian semua orang yang hadir di acara persiapan akhir pernikahannya dengan Ahmad, sosok laki-laki yang sudah lama menghuni hati Miya. Angel meraung dan meninggikan suara. Kamar yang semula hanya dihuni oleh Miya dan Angel, satu-persatu mulai dipenuhi orang-orang yang ikut penasaran dengan apa yang gerangan terjadi dalam kamar yang berukuran sembilan meter persegi itu.
"Miya, Angel, ada apa ini? Apa yang terjadi? Kenapa Angel menangis kencang begitu?"
Wanita berusia akhir lima puluhan tahun yang merupakan nenek angkat Miya menyeruak masuk. Kehadirannya membuat suhu udara dalam kamar meningkat. Diikuti suara bising bak dengung lebah orang-orang di belakangnya yang penuh tanda tanya.
Miya menggeleng pelan sambil mencoba tetap tersenyum. "Gak ada apa-apa, kok, Nek. Nenek gak usah khawatir, ya."
Miya kembali memusatkan pandangan ke arah Angel. Melihat kondisi gadis itu, ia jadi tidak tega. Lekas ia membenamkan tubuh kurus sahabatnya itu ke d**a.
"Sabar, Sayang. Sabar. Sekarang lo tenang dulu. Tarik napas. Sekarang pelan-pelan cerita sama gue, siapa ayah dari bayi yang ada dalam perut lo?" bisik Miya di telinga Angel. Namun, pertanyaan Miya malah dijawab Angel dengan suara keras. Seakan gadis itu ingin agar semua raga yang hadir di sana ikut mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
"Kak Ahmad. Kak Ahmad pelakunya, Miya."
Miya mengendurkan pelukan. Pandangannya nanar menatap lekat ke kedalaman telaga milik Angel sambil memegangi kedua bahunya.
"Kak Ahmad si-a-pa maksud lo?" tanyanya terbata. Di tengah laju jantung yang meningkat, Miya terus berharap agar pemilik nama Ahmad yang baru saja Angel sebutkan berbeda dengan Ahmad yang satu pekan lagi akan resmi menjadi suaminya.
"Kak Ahmad, calon suami lo!"
Sembari terpejam, Miya menyandarkan kepala di kursi pesawat yang sesaat lagi akan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Disusutnya air mata yang sedari tadi mulai turun. Kejadian mengerikan tiga tahun lalu kembali tergambar di ingatan Miya. Kata-kata setajam belati milik Angel nan berdengung di telinga Miya sontak membangkitkan rasa sakit yang berusaha keras coba ia hapus, tetapi selalu gagal. Ribuan jam dan ratusan kilometer tidak mampu mengusir mimpi buruk yang selalu menghantui hidupnya. Miya tidak pernah membayangkan kalau pernikahan impiannya akan hancur dalam waktu singkat.
Genap tiga puluh enam bulan sudah ia meninggalkan Indonesia, mencoba mengobati luka hati yang terlanjur tercipta dengan melampiaskannya pada studi pasca sarjananya di Negeri Sakura. Padahal jika semua berjalan sesuai rencana, saat ini ia sudah berstatus sebagai seorang istri dari Ahmad Fitra, lelaki satu-satunya yang berhasil mengambil seluruh perhatian dan jiwanya. Namun, Tuhan berkehendak lain. Satu minggu menjelang akad, Angel, yang juga sahabat baiknya datang sambil menangis dan mengaku kalau Ahmad sudah menitipkan benih di rahimnya.
Miya menapakkan kaki di Bandara Soekarno-Hatta dengan hati gamam. Di sinilah provinsi di mana ia meninggalkan sejuta kenangannya bersama Ahmad. Ia mengambil napas dalam dan memasukkan oksigen sebanyak mungkin, mencoba meredam dadanya yang sejak tadi sudah bergejolak tak tenang. Ingar bandara dan pemandangan di depan mata tidak mampu menghibur hatinya yang tengah muram. Ingatan masa lalu menyesaki rongga kepala. Andaikan bukan karena kondisi kesehatan Kakek, sudah dipastikan ia tidak akan secepat ini kembali pulang ke negara yang telah menorehkan luka dalam di hati.
Suasana bandara terbesar di Provinsi Banten itu terlihat ramai seperti biasa. Tampak orang lalu lalang ke sana kemari sembari menarik trolly. Suara gesekan alas kaki yang berpadu cepat dengan lantai bandara menggambarkan jika orang-orang itu tengah bergegas menuju pintu masuk maskapai. Aroma roti berbahan kopi yang berasal dari toko roti di sisi kirinya membuat gadis itu menelan liur. Lambungnya mulai protes karena sejak semalam ia memang tidak mampu memasukkan makanan apa pun ke dalam mulutnya.
Setelah mengedarkan pandangan dan tidak menemukan sosok pria yang sedang menunggunya, Miya melangkahkan kaki menuju toko roti yang selalu menjadi favoritnya saat berkunjung ke Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Roti yang selalu membuatnya teringat akan sosok ayah dan juga pada Ahmad. Pelan-pelan, hatinya gerimis lagi.
"Pak, saya sudah di bandara. Saya tunggu di toko roti depan pintu keluar, ya." Sembari berjalan, Miya mengirim pesan pada Pak Bimo, pria yang baru bekerja kurang lebih satu tahun sebagai supir pribadi sang kakek. Kakeknya bilang Pak Bimo yang akan menjemput Miya.
"Maaf, Non. Saya mendadak ada keperluan, tapi saya sudah minta tolong sama keponakan saya untuk menjemput ke bandara. Dia bilang sebentar lagi sampai," balas Pak Bimo.
"O gitu, Baik Pak."
Sambil mengunyah roti, Miya memilih membuka sebuah portal berita online. Matanya membulat saat membaca nama Stefan Wiguna di halaman utama.
Lelaki teman kecil Miya itu kini sudah menjadi seorang artis terkenal. Sebersit senyum terpasang di wajah Miya.
"Ini beneran si Stefan? Wah, cakep banget dia sekarang," puji Miya sambil terus membaca artikel mengenai Stefan.
Dulu, sebelum keluarga Miya pindah ke Jakarta, ia dan Stefan tinggal di satu komplek perumahan yang sama di kota Semarang. Hampir setiap hari mereka selalu bermain berdua. Sampai-sampai ayah Stefan pernah berkelakar akan menikahkan mereka berdua. Tentu saja langsung diiyakan oleh kedua anak yang masih belia itu. Bahkan Stefan memilih pergi saat keluarga Miya berpamitan untuk pindah ke Jakarta karena tidak ingin menangis di depan Miya.
Ponsel Miya berdering ketika ia baru saja menghabiskan sebuah roti. Nomor tak dikenal terlihat di layar. Cepat, jemari lentiknya menggeser tombol hijau ke atas.
"Hallo, Gue udah di depan pintu keluar terminal 2F." Suara berat terdengar di seberang sebelum ia kembali memutus panggilan.
"Oh, oke. Saya keluar sekarang," ujar gadis itu selepas nada pendek-pendek terdengar. Miya memang selalu membiasakan menyebut saya pada orang yang belum dikenal, terdengar lebih sopan.
Setelah membayar, Miya lekas keluar dan langsung melihat sosok pria muda gondrong memakai topi yang wajahnya dipenuhi cambang dan janggut. Pria itu hanya melambaikan tangan dan tersenyum singkat pada Miya. Tanpa banyak cakap ia segera mengambil koper Miya dan memasukkannya ke bagasi. Ia kemudian membuka pintu belakang mobil untuk gadis itu.
Hening tercipta sepanjang perjalanan. Hanya terdengar suara mesin mobil dan alunan lagu Grenade milik Bruno Mars melalui siaran radio. Miya ingin mengobrol, tapi bingung dan tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Entah kenapa tiba-tiba ia pun merasa gugup.
Setelah melewati patung dua proklamator Indonesia, laki-laki itu membuka topinya dan membuka semua atribut di wajahnya yang ternyata palsu.
"Gila gerah banget!" ujar pemuda itu sambil memasang senyum lima senti. Ia memutar kepala lalu menyapa Miya.
"Hai, Miya, long time no see."
Bersambung.