Perjodohan

1046 Words
Miya sontak menutup mulut dengan kedua tangan. Iris matanya pun ikut melebar. Ia benar-benar tidak mengira jika lelaki yang dulu sempat mengisi hari-harinya kini ada di hadapan dan begitu dekat. Lelaki teman masa kecilnya dulu, di mana Miya pernah menitipkan rasa. Meskipun rasa itu kini telah hilang tak berbekas semenjak kehadiran Ahmad di hidup Miya. "Stefan? Kok lo bisa ada di sini? Lo, itu bukannya masih tinggal di Semarang, ya?" Sembari menyetir, Stefan menyipitkan mata dan melihat Miya melalui kaca spion yang terletak di tengah. "Wah lo, tuh, ya, Mi, nggak pernah baca berita apa? Makanya jadi orang jangan belajar mulu. Di Jepang gak ada, ya, berita tentang artis Indonesia kayak gue?" Ia berkata pongah sambil menaik turunkan alis. "Gue udah hampir setahun tauk pindah ke Jakarta, ke daerah Kelapa Gading. Kebetulan tadi malam bokap ngajak main ke rumah Kek Hasan, salah satu kliennya. Eh, ternyata Kek Hasan itu kakek angkat lo, ya? Bisa kebetulan banget gitu, ya. Kek Hasan bilang, lo lagi sekolah ke Jepang dan hari ini balik. Ya, udah sekalian aja gue nawarin buat jemput lo." Miya mengangguk-angguk paham. "Btw, Mi, lo nggak mau pindah ke depan?" Stefan bertanya sambil menggaruk tengkuknya dengan jari telunjuk. Sebelumnya ia telah menepikan mobil sesudah tiba di pintu keluar tol Cilandak, Jakarta Selatan. Suasana jalan yang ramai walaupun di dalam fasilitas bebas hambatan, membuat udara dalam mobil perlahan ikut memanas. Selama kurang lebih satu jam mereka hanya berjalan dalam kecepatan 30km/jam. "Serasa sopir gue. Mana jalan macet banget lagi. Pegel, ni, kepala dari tadi harus muter ke belakang mulu." "Liat dari kaca spion juga bisa kali, Stef, nggak harus nengok." Miya tertawa sembari berkata dalam hati. "Lagian pake acara nyamar jadi supir segala. Ya, gue duduk di belakanglah. Udah gitu pake masuk jalan tol dalam kota yang udah tahu jam segini macet parah." "Ye, lo, bukannya kasih tau." "Ngakunya udah jadi anak Jakarta setahun, masa gitu aja nggak tahu," balas Miya. "Udah sini buruan pindah!" Sebelum mengantar Miya ke rumahnya, Stefan mengajak Miya mampir ke sebuah restoran yang mempunyai fasilitas private room. "Jadi, apa yang bikin lo tertarik masuk ke dunia entertaint?" "Yah, karena kegantengan gue. Sia-sia, kan, kalau muka ini nggak gue manfaatin buat nyari duit," ujar Stefan santai yang membuat Miya geleng-geleng sambil tertawa. "Ternyata usia nggak hanya mengubah wajah seseorang, ya, tapi juga kepribadiannya. Lo ke manain si Stefan yang dulu ceking, cupu dan takut sama capung itu?" "Ih, siapa yang lo maksud? Mana pernah Stefan cupu?" Pertanyaan Stefan hanya Miya balas dengan tawa. *** "Miya, kakek sudah tua. Fisik sudah tidak sekuat dulu lagi. Mungkin waktu kakek di dunia ini hanya tinggal sebentar. Kakek ingin kamu yang menggantikan kakek di perusahaan." "Kek, kakek nggak boleh ngomong begitu. Umur seseorang itu rahasia Tuhan. Kakek masih sehat, kok." Diiringi suara batuk-batuk milik Hasan, Miya masih terus memijit pelan kaki sang kakek. Aroma minyak angin yang melumuri kulit kakek nan sudah tidak sekencang dulu, menguar tajam. "Yang penting kakek nggak usah banyak pikiran. Makan yang banyak dan istirahat yang cukup, ya." Kakek tersenyum lalu terbatuk-batuk lagi, kali ini lebih lama. Sigap, Miya mengusap pelan punggung kakeknya. "Nih, Kek, minum dulu," ujar Miya seraya mengangsurkan gelas besar bermotif batik yang langsung kakek tandaskan hampir setengah isinya. "Sebelum kakek pergi, kakek mau melihat Miya menikah. Bagus kalau kakek masih sempat merasakan menjadi buyut." Mendadak awan gelap yang siap menurunkan ratusan liter air ke bumi melingkupi perasaan Miya. Setelah gagal tiga tahun lalu, kata menikah masih merupakan momok yang menakutkan baginya. Jika diizinkan, Miya tidak ingin terburu-buru memutuskan untuk menikah lagi. Tidak dalam waktu dekat karena hatinya masih sesakit dulu. "Kakek sudah bicarakan masalah perjodohan kalian berdua. Kakek rasa semakin cepat semakin baik." Mata almond Miya membelalak. "Perjodohan, Kek? Miya? Dengan siapa?" "Dengan Stefan. Sama siapa lagi? Saat mengetahui kalau Pak Bahtiar dan Stefan adalah kawan kecilmu, Kakek langsung merencanakan untuk menjodohkan kalian berdua. Malah Pak Bahtiar bilang ia memang sudah punya rencana seperti itu sejak kalian kecil. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Ada untungnya juga waktu itu kamu nggak jadi menikah dengan si Ahmad itu. Itu artinya Stefanlah yang sudah digariskan untuk menjadi jodohmu, Nduk." "Stefan? Stefan itu, kan, sekarang artis, Kek. Lagi pula menurut berita infotainment, dia juga sudah punya pasangan. Mana mau dia dijodoh-jodohkan. Sama Miya lagi." "Yang penting ayahnya sudah setuju. Ibunya juga. Biar Stefan jadi urusan mereka. Kakek yakin, kok, dia pasti setuju dijodohkan denganmu." Selepas pembicaraannya dengan sang kakek, Miya kembali ke kamar. "Baru juga seminggu di Indonesia, sudah ada masalah lagi. Pake mau dijodohin segala lagi. Memangnya gue ini setua itu sampai kakek nggak percaya kalau gue bisa cari sendiri. Ahhh, pusing!" Miya mengacak rambutnya. "Telepon Gea aja, deh," ujarnya seraya memikirkan Gea, salah satu sahabatnya selain Angel. Tidak lama kemudian, ponsel Miya berteriak memanggil, memperdengarkan alunan lagu milik Stephanie Poetri, penyanyi favorit Miya. Terlihat nama Gea di layar ponsel. "Panjang umur, tuh, anak, baru mau nelepon dia." Lekas, Miya segera menarik tombol hijau ke atas. "Hallo, Ge." Terdengar suara Gea di seberang. "Mi, lo lagi ngapain?" "Biasa lagi rebahan," jawab Miya asal. "Rebahan mulu, Mi, gendut lo ntar." Gea tertawa. "Mi, lo, bisa dateng, kan, besok?" "Besok? Emang ada acara apa?" "Tuh, kan, pasti lo nggak baca chat gue semalam, deh. Besok itu kita mau ketemuan di kafe Shisha, Kemang. Lo bisa ikutan, kan? Acara kecil-kecilan. Menyambut kepulangan lo dari luar negeri." "Umm, sama siapa aja?" "Kita-kita aja, kok. Berlimaan." "Angel ... dateng juga?" tanya Miya perlahan. "Udah gue kabarin, sih. Dia bilang bisa. Kenapa?" Miya hening. Ia berpikir sejenak seraya menarik napas dalam. "Kayaknya gue masih belum siap kalau harus ketemu dia lagi, Ge." "Mi, mi, mau sampai kapan, sih, lo, ngindarin dia? Belum cukup tiga tahun kemaren lo kabur ke Jepang? Apa lo belum bisa maafin dia dan si Ahmad?" "Gue udah maafin mereka, Ge. Percaya, deh. Tapi, kan ... nggak semudah itu melupakan semuanya." Beberapa menit ke depan hanya terdengar deru napas keduanya. "Mi, dengerin gue. Apapun yang terjadi, gue akan terus ada di belakang lo. Karena gue tau lo itu pihak yang bener. Lo jangan khawatir. Gue akan pastiin si Angel nggak bakal berani berbuat macam-macam sama lo!" "Bukan, bukan karena itu, Ge. Gue cuma nggak mau waktu ketemu Angel nanti, dia menangkap basah kalau gue ternyata masih punya perasaan sama Kak Ahmad, suaminya," batin Miya. Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD