Mengikhlaskan itu berbeda dengan meninggalkan. Namun keduanya sama-sama tidak memiliki.
(Dyah Vita, 2021)
Pagi itu, kota Solo benar-benar dingin. Sedingin hati gue yang membeku karena kekecewaan. Hanya sedikit kedamaian yang gue rasa karena kicauan burung liar yang berhabitat di taman kampus dua UMS terdengar hingga di kamar kos gue yang letaknya tepat dibelakang taman itu.
Gue menghisap rokok yang gue rasa dapat menghangatkan hati gue saat itu, namun tak sedetikpun bayangan Deanova hilang dari fikiran gue. Saat itu, didepan gue ada segelas kopi instan yang belum pernah gue cicipi sebelumnya. Rasanya manis mirip s**u, gue tidak merasakan kopi didalamnya, hanya sedikit rasa caramel didalamnya, dan yang gue benci ada rasa asam setelahnya. That's not real coffe. Tapi setidaknya kopi itu membuat gue sedikit melupakan gadis itu, karena gue harus memfokuskan otak gue untuk mencari rasa kopi didalamnya.
Gue melihat ponsel gue yang sejak gue bertelfon dengan kak Sajida, belum gue hiraukan lagi. Ada empat puluh notifikasi pesan dan seratus tiga belas telfon disana. Gue melihat nama Nova disana. Masih sama, masih dengan icon love. Nama yang begitu gue rindukan namun gue tidak sanggup untuk melihatnya.
Dert Dert Dert Dert
"Hallo", gue menyapa gadis yang sangat gue rindukan itu.
"Ya Allah Sya, kamu kemana aja, aku khawatir banget, kemarin aku pulang kampus ke kos kamu, kata pak penjaga kamu belum pulang, terus aku telvon, wa, SMS juga, kamu gak ada respon, kamu kenapa sih?". Seperti biasa, Nova membrondong gue dengan pertanyaan, yang membuat gue merasa diperhatikan oleh gadis itu. Gue tersenyum kecil, merasa dia masih milik gue, UPZ ralat dia belum pernah benar jadi milik gue. Lalu senyum itu hilang kembali.
"Rasya!", Nova kembali menyadarkan lamunan gue.
"Hei, iya maaf kemarin aku Konsul dosen, lanjut buat skripsi di perpus jadi nggak pegang hp". Kilah gue masih ingin menjaga perasaan gadis itu, gue memang orang bodoh bukan?.
"Ohh, ehh tunggu di perpus, bukannya perpus sedang direnovasi, seminggu ini tutupkan?", Tanyanya dengan curiga.
"Aku di perpus UNS kok". Jawab gue berbohong.
"Oh pantesan, aku cariin tau sya, aku tanya juga ke kak Sajida, dia bilang nggak tau juga", dia menjeda kalimatnya, "Sya, ntar kamu ke kampus kan?, Aku mau minta tolong terangin soal Makul intepreting!".
Gue menghela nafas sesaat setelah menghembuskan hisapan asap rokok yang hampir tersedak didalam kerongkongan gue. "Hari ini ya?", Tanya gue yang sebenarnya gue tujukan pada diri gue sendiri.
"Iya, kalau nggak ada, aku ke kost kamu aja ya, ntar belajar di Mushola depan kos kamu Sya".
"Nova, aku mau konsen dulu kelarin skripsi ya, kurang finishing doank, maaf ya", suara gue bergetar mengatakan kalimat itu, ini penolakan pertama yang gue lakukan pada gadis itu. Bahkan saat ini gue masih takut dia merasa kecewa.
"Oh gitu, yaudah kalau gitu kamu mau ngerjain dimana, aku temenin ya, janji deh nggak ganggu kamu, aku diem janji", Nova melembutkan suaranya dengan nada sedikit merengek. Entah setan apa yang membuat gue mengiyakan permintaannya. Dan akhirnya seperti biasa, gue menjemput nya di kos, dan mengajaknya ketempat yang kami sukai, yaitu taman Balekambang. Karena selain perpustakaan tempat ini menjadi tempat favorit gue dan Nova untuk mengerjakan tugas.
"Alhamdulillah kelar", gue mencabut flashdisk dan menutup laptop yang sudah gue shutdown sebelumnya. Gue melihat Nova yang sejak datang ketempat ini hanya duduk dibelakang gue, lalu memakai headset dan membuka kripik kentang kesukaannya. Namun, saat ini kepalanya bersandar di kursi putih dengan mata yang menutup. Gue pandangi wajah teduh itu, wajah polos yang sangat gue rindukan, wajah yang tidak pernah tertutup make up tebal namun terlihat cantik di mata gue, wajah yang sangat sederhana tapi sangat gue cintai, dan yang jelas wajah yang tak mungkin gue miliki.
"Nova, bangun", gue goyangkan lengannya. Tercium aroma khas permen karet yang memang menjadi aroma parfum kesukaannya. Ya Tuhan, mengapa gue begitu menyukai semua hal tentang dia, but why isn't her my destiny?.
"Eh, udah Sya, maaf aku ketiduran". Dia merapikan jilbabnya lalu memandang gue tajam, "Kok kamu nangis Sya?", Tangannya mengusap pipi gue lembut.
Gue terdiam saat itu, tak terasa lelehan air mata gue mengalir tak terbendung di pipi gue, bahkan saat itu, gue hampir terisak dan gue hampir susah bersuara. "Kenapa?", Inget mama atau apa?". Tanyanya lagi.
"Nova, boleh nggak aku pinjam pundak kamu, sebentar aja", entah angin apa yang membuat gue berani meminta itu. Diapun mengangguk lalu gue menutup mata gue dalam pundaknya. Dan spontan tangan kanan gue melingkar di perutnya. Gue rasakan tangan Nova mengusap rambut gue saat itu. Gue menghabiskan air mata gue di pundak itu, hanya saat itu, dan gue janji tidak akan mengeluarkan air mata ini untuk kebahagian gadis dalam dekapan gue ini.
"Thanks va", gue tarik tubuh gue menjauh dari Nova, gue mengukir senyum untuk menunjukkan kelegaan gue saat ini. Gue melihat Nova yang juga menyeka matanya, lalu ikut tertawa.
"Kok kamu ikut nangis sih va?, Yang sedih aku lho". Gue sedikit tertawa mengucapkan kalimat itu.
"Aku nggak tau, aku nyesek banget liat kamu nangis tadi".
"Skripsiku udah kelar va, InshaAllah jadwal sidang ku hari Senin, kamu datengkan?". Pinta gue.
"Pasti Sya, ntar aku bawain buket bunga deh, pasti lulus juga". Nova tersenyum menarik.
"Bisa aja", gue balas tersenyum.
"Setelah ini, kamu ngapain Sya?, Maksud aku sebelum ke Sydney". Tanyanya kembali memasukkan kripik kentang ke mulutnya.
"Emmm, tinggal tiga bulan Va, mungkin aku urus Visa, Pasport dan dokumen lainnya dulu, kalau ada waktu pulang ke Jakarta juga, mau Ziarah mama papa dulu sama ketemu kakak Sajida". Jawab gue santai.
"Ok, untung dulu aku nggak baper sama kamu Sya, kalau iya, wah LDRan nggak mungkin bisa aku". Nova menggelengkan kepalanya.
"Kalau iya, pasti kamu aku nikahin Va, biar kuat LDRannya", gue terkekeh.
"Nggak, aku nggak bisa LDRan sya, I hate it". Terdengar rasa sakit dari kalimat Nova itu.
"Udah, ngomongin apa sih, yang jelas aku laper, kamu laper nggak", gue akhiri pengandaian kami hari itu.
"He em laper, ayo makan", Nova merapikan isi tasnya.
"Ke Home Caffe mau?, Salmon steaknya enak lho, kamu suka kan?".
"Mau banget lah, tumben banget ngajak maemnya sultan".
Gue hanya tersenyum sambil menarik tangannya.
Home Caffe Solo
Kami duduk dimeja nomor tujuh dengan view kota solo yang disajikan dari lantai empat di gedung Paragon Solo. Rumah, mobil dan pohon terlihat sangat kecil dilihat dari sini.
"Va, kamu nikahnya kapan?", Gue mencoba berdamai dengan diri gue sendiri, berusaha menjadi teman yang baik yang care dengan hari penting sahabatnya.
"Habis lebaran, ya sekitar sembilan bulan lagi lah", jawabnya sambil menyendok lava ice cream yang gue pesan satu porsi namun dengan size jumbo. Hanya gue, Nova, dan Allah yang tau kami bukanlah pasangan kekasih ditempat ini.
"Ohh, aku udah di Sydney itu", jawab gue sambil mengangguk.
"Iya ya, wahh kamu nggak bisa Dateng, sedihnya". Nova memainkan suaranya seolah menangis.
"Ya , kalau aku pengantin cowoknya pasti aku dateng Va", jawab gue sedikit curcol. Gila emang gue, masih aja berharap ada keajaiban.
"Nggak lucu", Deanova menekankan kalimatnya lalu kembali menyendok eskrim yang hampir habis.
"Kok nggak lucu, iyakan, emang ada pengantin cowok yang nggak datang pas married, yang nggak sah donk, emang bisa gitu nikah via Video call gitu, aneh".
"Ya kamu itu yang aneh, kalau kamu yang ngelamar aku, ya pasti kamu yang dateng nikahin aku", gue tersedak mendengar kalimat Deanova.
"Sukurin". Dia mengambil suapan terakhir di piring eskrim itu.
Gue masih terbatuk sampai dua porsi Salmon steak yang kami tunggu datang. Dan gue memesan satu botol air mineral untuk meredakan batuk gue, sedangkan Nova tiba-tiba menghentikan pelayan itu, "mas, sama minta black pepper ya". Dan diangguki pelayan itu.
"Kamu mau bunuh aku Va, aku udah kaya gini kamu malah pesen merica".
"Sedikit aja kali Sya, nggak akan aku taburin ke depan kamu juga", Dia tertawa kecil.
"Yaudah kamu makan, aku mau ngasih sesuatu buat kamu, ok wait ya". Gue meninggalkan Nova dan mengambil sebotol air mineral pesanan gue. Lalu gue menuju panggung dan meminta gitar pada player, lalu memohon ijin pada band caffe itu.
"Ehem", gue menetralkan tenggorokan gue.
"Satu lagu dari Grup band Ungu, Untuk sahabat terbaik, thanks banget sudah menemani aku selama ini, aku coba nyanyi ya Deanova Azahra, jangan ketawa!".
Mungkin ini memang jalan takdirku
Mengagumi tanpa di cintai
Tak mengapa bagiku asal kau pun bahagia
Dalam hidupmu, dalam hidupmu
telah lama kupendam perasaan itu
Menunggu hatimu menyambut diriku
Tak mengapa bagiku cintaimu pun adalah
Bahagia untukku, bahagia untukku
reff:
Ku ingin kau tahu diriku di sini menanti dirimu
Meski ku tunggu hingga ujung waktuku
Dan berharap rasa ini kan abadi untuk selamanya
Dan ijinkan aku memeluk dirimu kali ini saja
Tuk ucapkan selamat tinggal untuk selamanya
Dan biarkan rasa ini bahagia untuk sekejab saja
Entah firasat apa yang gue miliki saat gue turun dari panggung itu. Kenapa gue memilih lagu itu, itukan lagu tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan, mirip dengan yang saat ini gue rasa.
Gue merasa sangat canggung saat duduk kembali di meja gue. Nova terlihat bersandar di kursinya, dia menatap gue erat.
"Aku nggak nyangka suara kamu bagus Sya", saat itu kalimatnya terdengar sangat datar.
"Hehe, ya gitu, lagi seneng banget lagu itu". Jawab gue salah tingkah.
"Oh, karena lagi nge-hits aja ya lagunya?", dia kembali memotong steaknya.
Suasana menjadi sangat dingin siang itu, tak ada pembicaraan yang berarti lagi seperti yang biasa kami lakukan. Hanya terdengar suara garpu dan pisau yang beradu dengan piring disana. Hingga akhirnya semua usai, kami hanya mampu tenggelam dalam fikiran kami masing-masing.