Gue mengacak rambut gue sore itu, "gila kok gue malah nyanyi lagu itu sih, gokil gila bener gue emang", monolog gue saat melihat kaca yang menampilkan wajah berantakan gue.
Gue bingung saat itu, jauh didalam hati gue, gue ingin banget Nova tau perasaan gue sama dia, tapi gue nggak siap untuk itu, gue takut dia ngejauhin gue jika tau perasaan gue yang sebenarnya.
"Hei bro", tiba-tiba Azam masuk ke kamar gue lalu mengambil gitar dan merebahkan diri.
"Ngageti aja sih". Ketus gue.
"Ya kamu, ngelamun Bae" jawabnya sambil memainkan gitar.
"Eh, priwe si cewek ababil, deanopa?", Tanyanya dengan nada ngapak khas pantai selatan.
"Priwe apanya, dia udah tunangan bro", jawab gue mengikuti logatnya.
"Ah serius, sama siapa?", Dia melotot ke arah gue.
"Biasa bae", gue tersenyum saat bicara dengan nada khasnya.
"Eh serius, apa deknen nggak weruh perasaan riko?", (Eh serius, apa dia nggak tau perasaan kamu).
"Ya gitu", jawab gue sambil menggaruk tengkuk gue yang tidak gatal.
"Ahh, ceritainlah ya bro!".
"Ya, dia tunangan sama anak temen bapaknya gitu, kaya jodoh-jodohan gitu".
"What, edan bener, jaman sekarang masih aja jodoh-jodohan", "eh iya, kalau dia dijodohin, kamu masih ada kesempatan lho hid". Lanjutnya.
"Maksudnya?".
"Yakan, belum tentu dia cinta sama yang di jodohkan itu, siapa tau dia cintanya sama kamu".
"Tapi dia kelihatan happy banget sih, kayaknya dia suka". Lanjut gue putus asa.
"Yang penting kamu bilang dulu ke dia, tentang perasaan kamu gaes!, Ya tujuannya biar dia tau aja gitu, bukan untuk merusak hubungan dia sama tunangannya", temen ngapak gue itu ada benarnya juga gua fikir.
"Lagian kamu udah ikhlas kan my bro Zahid". Lanjutnya lagi, membuat gue berfikir lagi lalu mengulangi kata "ikhlas", yang gue denger dari Azzam si bocah ngapak.
"Kalau udah ikhlas, ya kamu seharusnya malah lebih enak bilangnya, plong juga entar hid". Dia memainkan gitar gue dengan nada yang tidak jelas.
================================
Ke esokan harinya.
Gue mengirim pesan singkat melalui aplikasi w******p kepada Deanova.
"Va, ntar bisa ketemu nggak, after class GPP?".
"Oke jam 12. 30 , habis Dzuhur yak".
"Di hall masjid aja ya".
"Ok".
Gue bertekad untuk menyatakan perasaan gua pada Nova hari itu. Gue menyusun kalimat yang akan gue pakai, gue harap setelah hari itu, nggak akan ada rasa canggung dan yang terpenting Nova nggak akan menjauhi gue. Gue ikhlas sumpah, ikhlas lahir batin. Gue hanya ingin dia tau.
Lima belas menit gue menunggu Nova di tempat yang kita janjikan. Gue membawa minuman kesukaannya Mizon leci dingin. Gue harap dia akan lebih dingin saat mendengar pernyataan gue nanti.
"Sya, hai", gue menoleh kebelakang karena mendengar suara Nova yang memanggil gue. Gue tau itu Nova, karena didunia ini hanya dia yang memanggil gue Sya atau Rasya, dan sisanya memanggil gue Zahid.
"Hai sini, kok dari sana", tanya gue heran, karena Nova datang dari arah lain yang gue kira.
"Beli ini". Nova menunjukkan dua minuman dingin, Mizon leci dingin kesukaannya dan Pocary Sweet dingin kesukaan gue.
"Aku juga beli tadi, nih". Gue menunjukan minuman yang sama yang gue beli. Dan kami pun tertawa berdua.
Nova duduk di samping gue dengan badan yang menghadap gue, dan gue menggeser tubuh gue agar bisa mengganti posisi tubuh gue menjadi duduk menghadap dia. Dan kali ini kami duduk berhadapan. Gue mengamati wajah Nova sebentar, wajah yang tidak akan menjadi milik gue. lalu gue membuka minuman dingin gue dan menenggaknya dua kali.
"Gimana tadi kuliahnya?", Tanya gue memulai pembicaraan yang akan sangat sulit nanti.
"Ya gitu, Miss Chandra, "Hei Deanova, kamu kan girl friend nya Zahid, minta ajarin Zahid donk, dia itu penerjemah yang keren lho" gitu, males nggak". Nova memutar bola matanya malas.
Gue tersenyum mendengar Nova menirukan Miss Chandara, dosen yang sangat apa adanya dan sangat mengenal gue karena dia menjadi pembimbing gue di skripsi.
"Kok semua orang ngira kita pacaran sih, haduh", Nova menaruh telapak tangannya di jidatnya.
Gue memang nggak heran dengan asumsi orang tentang hubungan gue dan Nova di kampus itu. Dari dosen dan mahasiswa yang mengenal gue pun menganggap kami adalah sepasang kekasih, mungkin karena kami selalu bersama, atau mungkin karena kami tidak pernah menyangkalnya.
"Oiya Va, aku mau ngomong sesuatu", hati gue mulai memanas, gue hampir susah menggerakkan bibir gue saat itu.
"Apa?", Nova melihat kearah gue, seolah menunggu apa yang ingin gue katakan.
"Tapi aku harap, ini nggak akan mengubah sikap kita sebagai best friend". Gue netralkan degup jantung gue, karena gue hanya akan memberi tau perasaan gue, bukan mengutarakan perasaan untuk diterima.
"Iya, apa ?", Nova menganggukkan kepalanya.
"Va, sebenarnya dari pertama aku ketemu kamu, aku sudah merasa nyaman, aku suka, aku jatuh cinta sama kamu" gue menunduk saat itu, gue takut dengan reaksi Nova.
Kami hanya diam beberapa saat, lalu gue mendengar Nova berbicara setelah meminum mizonenya beberapa teguk, " aku tau ".
Gue mengarahkan mata gue ke Nova saat itu, heran dan bingung. "Maksudnya?".
" Aku tau, kamu suka sama aku Sya".
"Tapi ini bukan sekedar suka Va, aku cinta sama kamu".
"Aku tau", Nova membuang pandangannya dari gue.
"Cinta antara laki-laki dan perempuan Va", gue masih heran dengan ekspresinya.
"Iya, aku tau Sya", kini suaranya sedikit melemah, dan gue mendengar kesedihan disana.
"Sejak kapan?". Tanya gue pelan.
"Sejak lama". Dia menundukkan wajahnya.
"Terus, kok kamu diem Va, kamu tau dan kamu cuma diem", tanya gue dengan heran.
"Terus aku harus gimana Sya?".
"Wait, perasaan kamu ke aku gimana?". Gue menunggu jawaban Nova saat itu, tapi dia hanya menunduk dan diam cukup lama.
"Va, answer me, tolong Va", gue menggoyang tangannya pelan.
Gue lihat dia menarik nafas cukup panjang, lalu menghembuskan pelan.
"Aku juga merasakan yang sama Sya", dia menoleh ke arah gue. Gue lihat matanya yang memerah saat itu.
"Kenapa", gue lemas dengan jawaban Nova, tapi gue berusaha menuntut Nova.
Entah apa yang harus gue rasakan, gue haruskah senang karena tau Nova memiliki perasaan yang sama dengan gue, atau gue harus sedih karena ini, sekarang dia terlalu jauh untuk gue miliki.
"Terus kenapa kamu tunangan Va, aku cinta kamu, kamu cinta sama aku, kita saling cinta, nggak seharusnya kamu tunangan". Gue lihat ada cairan bening yang Nova seka dibawah matanya. Gue benar-benar gila saat ini, bahkan lebih gila saat tau dia bertunangan.
"Aku punya alasan Sya", Nova kembali menunduk dalam, dan menutup matanya dengan dua telapak tangannya.
"Alasan apa?, Kalau kamu tau aku cinta sama kamu, dan kamu cinta sama aku, seharusnya kamu tolak pertunangan itu kan Va". Gue mulai merasakan mata gue panas saat itu.
"Aku nggak mau kamu nikah sama orang lain Va, aku bakal ngomong sama Bapak kamu". Gue melanjutkan kalimat gue, dan gue mendapat tatapan tajam Nova ke gue.
"Nggak, kamu nggak boleh Sya". Jawab dia tegas.
"Kenapa Va, gue janji setelah aku selesai dari Sydney kita,," gue belum menyelesaikan kalimat gue.
"Setelah dari Sydney kamu ke Boston ambil Doktor kan?", Sela Nova saat itu.
"Oh aku tau, kamu nggak mau nunggu lama. Gini aja, sebelum aku keluar negri, kita Nikah Va, InshaAllah aku bisa nafkahin kamu, aku punya honor terjemahan kok, InshaAllah cukup buat kamu, aku janji aku cepet ambil Master dan Doktornya, kamu percaya sama akunkan Va?". Jawab gue sambil meneteskan air mata.
"Pernikahan nggak kaya gitu Sya".
"Oh, kalau gitu aku ambil master aja Sya, ambil Doktornya nanti setelah aku kerja lagi biar bisa bawa kamu".
"Nggak Rasya!", Nova mengusap pipinya lagi.
"Terus aku harus gimana Va, aku mau sama kamu", gue menunduk putus asa.
"Kita kaya gini aja Sya, kita jadi teman".
"Nggak Va, kalau kita saling cinta, kita harus bersama, aku berjuang Va, kita berjuang sama-sama ya!". Kata gue sambil terus menggenggam tangan Nova.
"Aku nggak ngizinin kamu berjuang Sya". Jawabnya tegas.
"Kenapa?, Kamu dipaksa Bapak kamu buat nikah, atau kamu ada hutang Budi sama laki-laki itu, atau gimana?".
"Dia nggak pernah salah apapun Sya, dia orang baik". Nova menatap gue lagi dengan alis yang mengernyit ke atas.
"Tapi kamu nggak cinta sama dia".
"Cinta itu bisa datang karena terbiasa, dan cinta itu bisa hilang kalau tidak terbiasa". Nova menatap gue yakin.
"Maksudnya?". Tanya gue bingung.
"Sya dengerin aku ya, aku mau cerita sesuatu, ini alasan aku kenapa diam selama ini, dan tolong hargai keputusan aku Sya, tolong!".
Nova menghembuskan nafasnya lagi panjang lalu menenggak minumannya yang hampir habis. Gue menerka apa yang akan Nova katakan lagi. Gue harap apapun yang dia katakan tidak akan menghalangi keinginan gue untuk bersama dia.
,===============================
Uhuuuuu, mau end di part ini aja susah bener dah, ehhh diluar dugaan ternyata si Deanova juga falling in love sama si Zahid...
Tungguin cerita selanjutnya ya guys...
Maaf yang terlalu banyak typo, maaf juga yang terlalu mengada-ada. Hihihi
Vote and tinggalin jejak ya kawand... Muach