Sya, asal kamu tau, laki-laki yang aku panggil bapak itu, bukan bapakku. Dia itu bapak tiriku", Deanova memulai cerita yang membuat gue kaget, meski gue tidak begitu perduli.
"Dulu, ayah kandungku berpamitan dengan ibuku untuk bekerja di Hongkong saat usiaku tiga tahun dan mbak Sahara tujuh tahun, ayah berjanji untuk pulang dua tahun kemudian". Nova sedikit menjeda kalimatnya. Gue merasa kesedihan yang amat dalam disana.
"Tapi ayah hanya mengirim kabar sampai bulan ke enam, dan di bulan ke dua belas, dia datang. Ibu sangat senang saat itu, karena dia fikir suaminya telah kembali, tapi kesenangan itu berakhir saat ibu menerima surat cerai dari ayahku". Gue melihat Nova menyeka air matanya.
"Kamu tau apa alasan, ayahku menceraikan ibuku", Nova menghela nafasnya kasar.
"Karena dia jatuh cinta dengan teman kerjanya disana yang setiap hari dia temui. Hancur hati ibu saat itu Sya, dia setia menunggu ayahku pulang, mendoakan setiap malam, dan balasannya adalah penghianatan, itu semua karena Long distance relationship". Jelas Nova dengan sedikit terisak.
"Tapi aku nggak akan kaya gitu Va". Gue mencoba menyakinkan Nova.
"Aku belum selesai Sya", gue kembali diam.
"Lalu mbak Sahara, kakakku Sya, lima tahun yang lalu dia menikah dengan seorang Perwira di salah satu kapal pelayaran swasta, mereka sangat bahagia, mbak Sahara hidup berkecukupan, mereka dikarunia anak Laki-laki yang lucu. Tapi apa?, di tahun pernikahan yang ketiga, dia harus merelakan suaminya untuk diambil wanita lain yang nggak lain adalah admin di kantor pelayarannya, mereka sering bertemu saat kakak ipar ku mengambil slip gaji di kantor, dan lagi semua itu karena LDR Sya".
Deanova mengusap pipinya yang sudah sangat basah.
"Tapi Va, aku janji", Nova menggelengkan kepalanya lalu menghentikan kalimat gue.
"Aku belum selesai Sya, dari pelajaran ibu dan mbak Sahara itu, aku sangat membenci LDR, aku nggak mau LDR, sedetikpun. Sampai saat aku menyadari kalau aku cinta sama kamu Sya, aku kubur dalam-dalam, aku tersiksa, aku sakit Sya, tapi aku nggak mau egois. Aku tau cita-cita kamu, harapan mamah kamu, semuanya Sya". Nova mulai meneteskan air matanya lagi.
"Kenapa kamu nggak bilang Va, kamu jahat".
"Saat itu, aku ngerasa aku nggak mau kehilangan kamu Sya, aku udah terlalu nyaman sama kamu, aku nggak mau jauh dari kamu, aku terlalu tergantung sama kamu, aku cinta sama kamu", Nova menggelengkan kepalanya lalu menutup mukanya dengan tangan.
Gue hanya bisa menangis mendengar perkataan Nova saat itu, ternyata dia memendam begitu dalam.
"Tapi aku tau, kamu nggak akan pernah jadi milikku, aku nggak akan bisa menjalani hubungan sama kamu, saat kamu mulai meraih cita-cita kamu berkuliah di luar negeri. Aku nggak bisa Rasya, aku nggak akan sanggup, yang di alami ibu dan mbak ku sudah menjadi trauma buat aku Sya, sampai ketika aku berfikir itu nggak akan kamu lakukan, hati aku selalu menolak Sya, selalu, hati aku seperti alarm yang mengingatkan aku tentang penghianatan dari laki-laki yang dialami ibu dan mbak Sahara".
"Dan saat aku sadar kalau kamu cinta sama aku, aku mulai berfikir untuk mencari orang lain sebelum kamu menyatakan perasaan kamu Sya. Karena aku yakin, saat kamu menyatakan perasaan kamu dan aku belum memiliki orang lain, aku nggak akan sanggup menolak kamu. Dan pasti masalah akan lebih rumit".
Gue hanya diam mendengar kalimat terakhir Nova, gue merasa menjadi orang paling bodoh di dunia, gue baru menyesali, kenapa gue tidak menyatakan perasaan gue saat itu.
"Sampai akhirnya, aku dikenalkan dengan Mas Bayu ini, calon suamiku. Dia orang baik Sya, dia sopan, dewasa, dan matang. Semua kriteria calon suami yang baik ada di dia, aku nggak bisa menolak dia dari segi apapun dan yang jelas dia nggak akan ngajak aku LDR".
"Va, kamu cinta sama dia?", Tanya gue tidak sabar.
"Nggak untuk sekarang Sya, tapi aku yakin, seperti ayah dan kakak ipar ku yang berpaling karena terbiasa dengan wanita lain. Aku rasa cinta akan hadir nanti saat kita bersama. Aku yakin bisa cinta sama dia, nggak akan sulit rasanya". Jawab Nova menahan tangisnya.
"Kamu jahat Deanova, kamu nggak adil ke aku Nova, ini nggak adil". Rancau gue membuat Nova kembali meneteskan air mata.
"Maaf Sya, tapi aku benar-benar nggak bisa kalau harus LDR, aku takut kecewa, aku takut Sya maaf".Nova menangis lagi, dan kali ini dia menunduk dalam.
"Kalau seperti itu, seharusnya kamu dulu ngejauh dari aku Va, kamu kaya ngasih harapan ke aku, tapi fake tau nggak?". Gue marah namun masih dengan menahan air mata.
"Maaf Sya, jujur aku saat itu egois, aku nggak mau jauh dari kamu, tapi aku nggak mau jadi milik kamu, maaf Sya, maaf".
"Kamu jahat Deanova". Kata gue pelan namun masih di dengar Nova.
"Maaf, maaf", Nova terus mengucapkan kata itu dengan mata yang menghadap ke lantai.
"Va, kamu tau, aku hampir gila denger kamu tunangan, kamu tau, aku hancur Va".
"Aku tau Sya, aku sama hancurnya sama kamu, kamu bisa bayangin bagaimana sakitnya bilang kabar tunangan itu ke kamu Sya, orang yang aku cinta". Nova kembali melihat manik mata gue, yang sudah sangat basah dengan air mata.
"Terus aku harus gimana Va, aku cinta sama kamu Nova, please, aku sayang kamu, kamu cinta kan sama aku, ayo Va kita perjuangin perasaan ini, tolong Nova, tolong. Aku mungkin bisa ikhlas jika kamu memang nggak ada rasa ma aku, tapi sekarang aku tau kamu juga cinta sama aku, aku nggak mungkin bisa ngelepas kamu". Gue menggenggam tangan Nova dengan erat dan mencoba menyakinkan dia.
"Sya jangan kaya gini, aku sudah bertunangan dengan orang lain, lepasin aku, seperti aku lepasin kamu".
"Nggak Va, stop it, you are mine, and I am yours, kita terikat satu sama lain kan Va".
"Sya, kamu tau mimpi terbesar kamu itu adalah mimpi terburuk buat aku". Nova menghapus air mata di pipi gue, tangannya begitu lembut.
"Maksudnya Kuliah aku, ok well aku nggak akan berangkat kalau kamu nggak suka, toh honor aku juga cukup kok, aku juga bisa jadi guru biasa aja, nggak harus jadi dosen, aku stop beasiswa akau ke sana ya Va". Gue berkata yakin.
"Ini yang paling aku takutkan Sya, kamu inget mama kamu, kamu ingat mimpi dia, kamu nggak boleh ngelepasin beasiswa itu".
"Tapi kita gimana Va, jangan gini donk Va!". Gue sedikit menekan kalimat gue kesal.
"Udah, kita dengan kehidupan kita aja, kamu lanjut kuliah kamu di sana, aku lanjut pertunanganku, mungkin Allah menakdirkan aku untuk segera menikah dengan mas Bayu, dan kamu lanjut kuliah", Nova mengusap matanya lalu berdiri dan menggendong tas ranselnya.
"Nggak Va, nggak", gue menarik tangannya lagi untuk kembali duduk.
"Apapun yang kamu lakukan Sya, aku tetap akan menikah dengan mas Bayu. Aku harap hubungan kita sama seperti kemarin, tanpa beban, bersahabat baik, itu cukup banget buat aku Sya".
Gue ikuti Nova bangkit dari duduknya yang gue paksa. "Va, kasih aku kesempatan, aku nggak akan seperti ayah dan kakak iparmu, aku pastiin bisa menjaga hati aku buat kamu".
"Maaf Sya, aku yang nggak bisa janji ngejaga hati aku kalau kita jauh", Nova melangkah pergi meninggalkan gue tanpa menoleh sedikitpun, gue melihat wajahnya menunduk, mungkin menyembunyikan air matanya.
Yahhhhh, masih ada extra part ya my gaessss..
Heheheh, yukk ah dibaca aja dan tolong di vote and comment yak...
Janji dah, extra part-nya nggak nyampe tiga. #aawas bohong.
Iya deh gaes,, pantengin yakkk... Emmmuhach
Love you : Dyah Vita