Kepastian itu penting bagi setiap wanita, jangan salahkan dia yang memilih laki-laki yang menggenggam tangannya untuk berjalan bersama, bukan yang menunjukkan jalan saja.
(Fariska Sajidah)
Suara Sajidah menggema di rumah kecil dipusat kota Jakarta ini. Empat puluh hari sudah nyokap meninggalkan kami berdua. Yah status gue dan Sajidah hari ini adalah yatim piatu. Tapi saat ini kakak Sajidah lebih beruntung karena dia sudah memiliki suami dan anak dalam kandungan nya. Beda dengan gue yang masih sendiri. Meskipun tidak benar-benar sendiri, ada Deanova Azahra yang pasti selalu ada buat gue. Gadis manis yang sedikit petakilan. Tapi selalu buat gue berdebar saat dekat dengan dia.
Sepulangnya dia dari Jakarta, kami masih intens berkirim kabar melalui aplikasi w******p yang baru nge-hits di seantero dunia. Beruntunglah ada aplikasi ini, karenanya gue masih bisa melihat wajah gadis gue itu melalui panggilan video. Meskipun itu tidak mengurangi rasa rindu gue kepadanya. Yach , gue rasa I Miss her like crazy.
"Hid, Lo balik jam berapa?", Suara berisik itu lalu mengganggu gue yang sedang membayangkan wajah gadis gue itu.
"Tiga kak". Jawab gue setelah menyesap batang rokok yang hampir setengah.
"Ziarah dulu nggak?", Dia duduk di kursi kosong dekat gue.
"Kemarin sore udah kak, eh habis ini Lo beneran mau tinggal disini, laki Lo mau kak?".
"Iya, lagian juga disana gue cuma ikut mertua, mending disini itung-itung belajar mandiri, ya meskipun laki gue kerjanya harus muter dikit".
"Oh ok". Gue matikan puntung rokok gue yang bakalan jadi bahaya bagi calon ponakan gue yang baru otw diperut kakak gue itu.
"Rencana Lo habis ini apaan?", Tanyanya seolah ingin mengulur waktu agar kita tetep bisa bicara panjang, perbincangan dua anak yatim-piatu yang masih sedih atas kepergian ibunya.
"Emm, ya balik solo, nyelesein sidang skripsi, terus tiga bulan lagi gue berangkat ke Sydney buat ambil master, habis itu balik lagi ke solo, jadi dosen deh di almamater gue".
"Ohh, hid maaf banget gue nggak bisa bantu banyak ya, Lo tau sendiri kan gue baru aja resign dari kantor", kak Sajida mengambil tangan gue dan meletakkan amplop coklat yang terlihat sesak ditangan gue. "Ini buat Lo jaga-jaga ntar di sana", kakak gue yang selalu bawel itu mulai meneteskan cairan bening dari matanya.
"Ehh, apa ini kak?", Gue mendorong amplop itu kembali ke tangan kakak gue.
"Terima hid, udah terima aja, gue nggak bisa ngasih lebih, itung-itung rasa bersalah gue karena dari kecil sering ngecenging elo", dia menyeka Ari matanya sambil tersenyum kecil.
"Kak, sebenarnya nggak usah sih, gue ada uang kok, Lo kan tau sendiri gue dapet royalti dari buku yang gue terjemahin". Gue menerima amplop itu lalu meletakkan di depan meja gue.
"Beda donk, guekan sekarang gantinya orang tua kita, sebelum Lo nikah, Lo masih tanggungjawab gue".
"Thanks ya kak, makasih banget", mata gue mulai panas dan mengeluarkan kabut yang tertampung disudut mata gue.
"Iya, eh Deanova gimana?", Dia mulai menggoda gue.
Gue menyembunyikan senyum gue dengan menggigit bibir bawah gue, "gimana apanya?, Bukannya elo yang sering chatingan?".
"Ehhhh, muka Lo merah hid", kak Sajida tertawa terbahak.
"Apa sih kak, gue nggak tau deh, mana tiga bulan lagi gue berangkat ke Boston".
"Kalian tu pacaran atau gimana sih?", Jiwa kepo kak Sajida mulai muncul.
"Ya gitu, nggak ada kata pacaran sih, kita jalanin aja hubungan ini, intinya kita sama-sama nyaman". Jelas gue sok bijak dan sok dewasa.
Kak Sajida menyilang kan tangannya ke d**a. "Lo yakin hid, dia juga ngerasa gitu?", Dia menjeda kalimatnya, "cewek itu butuh kepastian keles".
"Yaa gimana, kaya gini aja gue udah happy bener", jawab gue spontan.
"Kalau saran gue sih Hid, Lo pastiin hubungan kalian, Lo tembak Deanova donk, jangan sampai ada orang lain yang ngasih kepastian buat dia, terus elo di tinggalin". Kalimat dari Kaka gue itu membuat gue berfikir sejenak, seingat gue, kita nggak pernah menyatakan rasa cinta satu sama lain. Bisa jadi kata kakak gue itu benar.
"Ya ntar kalau di solo deh kak".
"Lo bawain apa gitu yang spesial, terus tembak, ajak nikah sekalian biar tenang pas Lo tinggalin di Boston". Saran yang pernah melintas difikirkan gue.
Gue tersenyum memikirkan Nova yang menjadi istri gue, gue bayangin dia memakai daster, memasak makanan buat gue dan anak kita, sedangkan gue menemani anak-anak kita mewarnai gambar gunung dan sawah yang udah gue buat sebelumnya. Hahaha, kenangan gue sama keluarga kecil gue banget semasa gue dan Sajida kecil. Bagi gue, istri yang pakai daster itu, istri yang all out dalam tugasnya, kaya mama gue, yang jadi seorang bankir dikantor dengan blazer kerjanya, tapi menjadi ibu rumah tangga yang hebat dengan dasternya. Ehh, tapi gue nggak mau Nova capek sih, gue bayangin aja, gue ngebantu anak-anak ngerjain PR sedangkan Nova mencari menu makanan yang enak lewat aplikasi pengiriman makanan. Simpel kan?. Dia akan tetep cantik dengan pakaian yang dia suka. CK.
"Ehhh kesambet Lo, senyum-senyum gitu". Kakak Sajida mengagetkan lamunan gue.
"Iyaa, gue besuk langsung ajakin nikah deh".
"Nah gitu donkkkkk", Sajida memeluk lengan gue, perutnya yang membesar membuat dia hanya melakukan itu. Tak seperti biasanya, dia akan meremukkan tulang gue, dengan dekapan eratnya.
Bandara Adi Soemarmo Solo.
Solo, kota budaya yang penuh dengan kenangan bagi keluarga gue.
Papa yang asli Solo, menjadi PNS di kantor pajak Jakarta. Sedangkan mama mahasiswi asli Jakarta yang belajar di UNS. Pertemuan mereka terjadi saat mama gue menjadi penghuni kos milik Oma gue. Sepertinya cinta pada pandangan pertama berlaku buat mereka berdua. Saat weekend papa biasa pulang ke Solo untuk menemui Oma, dan ketika duduk di teras rumah Oma, tiba-tiba mama datang untuk meminta tolong mengganti lampu lorong yang mati. Yahh, papa mau aja, dan dengan banyak alasan mereka bertukar nomor hp. Dan endingnya mereka saling cinta dan menikah. Mama papa memutuskan untuk pindah ke Jakarta, agar dekat dengan tempat kerja papa. Simpel banget cerita papa mama gue. Gue harap kehidupan percintaan gue juga semudah itu.
Gue mengeluarkan hp yang tersimpan di dalam tas punggung gue. Gue mencari kontak Deanova disana.
Derttt pertama tidak dijawab..
Derttt kedua tidak dijawab
Lalu hp mati.
"Va, aku udah di solo nih".
"Ditelvon kok nggak di angkat sih va?", Ketik gue lagi yang masih tidak dibaca oleh dia.
Satu jam, dua jam, tiga jam
Pesan gue masih tidak di balas oleh dia.
Gue menunggu balasan pesan dari Nova sambil membersihkan ruangan kos yang sudah gue tinggalkan sejak empat puluh hari yang lalu.
Tapi hingga ruangan gue bersih bersinar sunlight, nama Nova belum masuk ke notifikasi ponsel gue.
Gue hampir frustasi menunggu jawaban dari pesan gue itu.
Sampai akhirnya pada empat jam lebih tiga menit setelahnya, pesan dari Nova masuk ke aplikasi w******p gue.
"Haiii, sorry sya, tadi hp ku mati, ini aja sambil ngecas". Tulisnya
"Eh iya, Alhamdulillah deh ya udah nyampe Solo". Lanjutnya.
"Iya, ada acara apa sih va, sibuk bener?". Tanya gue penasaran.
"Besuk aku critain deh, ada yang mau aku bilang ke kamu".
"Ok deh, aku juga mau bilang sesuatu yang penting sama kamu va".
"Sya aku istirahat dulu ya, capek nih, see u", ketiknya sambil memberi emoticon tertidur di akhir kalimatnya.
Yachhh, gue masih kangen Nova, kok main tidur aja sih, gue rindu berat like crazy tau Va. Pengen ngobrol, kangen-kangenan.. "iya", Ketik gue setelah itu. Gubrakkkkk.
Ke esokan paginya.
"Hai Rasya, how are you?", Sapa Nara pagi itu penuh semangat, gue lihat wajahnya berseri lebih dari biasanya. Pagi ini dia memakai celana jeans berwarna hitam dengan kemeja warna putih bermotif bunga di bagian bawahnya. Jilbabnya berwarna pink senada dengan warna bunga di kemejanya.
"Hai, happy banget hari ini, kenapa?", Tanya gue ramah, "Karena mau ketemu gue setelah sekian lama nggak ketemu ya", seperti biasa hanya hati gue yang bicara, karena mulut gue masih saja terkunci.
"Iya donnkkk", wajahnya terlihat cerah pagi ini, secerah matahari pagi yang menghangatkan kami berdua.
"Aku mau kamu tau sesuatu Sya", Nova duduk di depan gue dan meletakkan tas punggung miliknya kepangkuannya.
"Ehh kok sama, aku juga", gue menunjukkan senyum Pepsodent gue, tanda bahwa gue sedang bahagia. Tapi sejujurnya saat ini, emm hati gue kaya dangdutan, nggak tau harus gimana, mulut gue sebenernya sangat kaku, tapi gue harus inget kata kakak Sajidah, kalau cewek itu butuh kepastian. Dan gue harus nyatain perasaan gue sekarang.
"Kamu juga mau cerita ke aku, apaaaaa?". Matanya membulat didepan gue, menggemaskan yang membuat jantung gue semakin berdebar.
"Hehe, kamu dulu ya". Gue mencoba untuk menetralkan hati gue.
"Kamu dulu, aku cuma dikit kok", dia tertawa kecil sambil menutup mukanya dengan tangan kanannya.
"Aku juga dikit sih", gue menggaruk tengkuk gue yang nggak gatal.
"Ahh, aku malu tau sya, kamu dulu, aku cuma dua kata lho", gue rasa Nova seperti cewek lain yang malu ketika menyatakan perasaannya pada laki-laki, tapi jantung gue juga nggak jelas gini, gue malu sumpah.
"Oh ok, aku,,,,", gue menjeda kalimat gue saat Nova mengangkat tangan kirinya dan menunjukkan benda kuning yang melingkar di jari manis miliknya.
"Taraaaaaa, aku tadi malem tunangan Sya", Nova menundukkan wajahnya yang gue rasa sedang memerah saat itu. Gue sempat melihat senyum tergambar di bibir manisnya.
Ironis dengan gue, bibir gue rasanya sangat kaku saat itu, jantung gue seolah berhenti memompa darah untuk mengaliri tubuh gue saat itu.
Gue rasa saat itu bumi berhenti mengitari matahari, burung berhenti diawan saat terbang, daun yang berguguran pun berhenti seenaknya, semua hiruk pikuk mahasiswa di tempat itu pun berhenti seolah tau keadaan gue.
"Gue seneng banget, maaf banget baru cerita, jadi dia itu anaknya temen bapakku sya, kita dikenalin satu hari sebelum mama kamu nggak ada itu, terus orang tua kita sepakat buat ngadain acara tunangan ini, terus ntar pas aku udah lulus kuliah kita baru nikah". Wajahnya sangat berseri menceritakan hubungan dia dengan tunangannya itu.
Sedangkan gue, berkali-kali mencoba menegak Saliva yang memang sudah kering. Bibir gue bergetar hingga ia nggak bisa untuk sekedar tertutup, tapi melihat wajah gadis depan gue yang sangat bahagia itu, gue harus mengukir senyuman terbaik gue.
"Maaf lho Sya baru cerita, soalnya aku nggak mau ganggu kamu pas kamu lagi berkabung". Wajahnya sedikit teduh mengucapkan kalimat terakhir itu.
Gue menghela nafas dengan kasar, mencoba tersenyum semampu gue dan mengucapkan selamat.
"Congratulation ya Va".
"Iyaaaaaa, eh tadi kamu mau cerita apa?", Tanyanya yang membuat gue sangat gelagapan.
"Eh, enggak, aku rasa nggak penting juga sih". Gue kembali fokus ke layar laptop gue, memandangi barisan kata dalam bahasa Inggris yang terakhir gue susun saat gue kehilangan mama.
"Aku tau, pasti masalah sekripsi, atau beasiswa atau apa?", Dia bertanya tanpa jeda.
"Emm, iya".
"Iya apa?, Beasiswa?".
Gue hanya diam, ingin menjawab setiap kalimat yang dia ajukan, terlebih lagi hati gue ingin sekali bertanya, mengapa dia bertunangan dengan orang lain, kenapa nggak sama gue, dia anggep apa gue selama ini, gue sesak, sedih, sakit, dan semua kata yang menunjukkan kesedihan dan kekecewaan.
Tangan gue spontan menutup layar laptop yang masih berstatus on tetapi dengan layar yang sudah gelap. Lalu gue masukkan kedalam tas ransel gue.
"Eh va aku ketemu pembimbing dulu ya, urgent". Gue berlari meninggalkan Deanova yang belum sempat memberi izin gue pergi.
Mungkin saat itu Nova sangat bingung, mengapa gue pergi meninggalkan dia, karena hal itu tidak pernah gue lakukan sekalipun, mungkin juga dia tak perduli, karena saat ini dia sedang bahagia.