Bagian tiga

1840 Words
Telolet telolet tolet tolet tolettt (Bacanya pake nada es krim Walls yang sering Wira Wiri di kampung gaes)hihihi Ok reader sebangsa setanah air, anteng aja nih.. Afwan bingit ya gaesss, upload nya lama. (Nggak nanyaaaa) =jawab para gaes tercinta. Maklumin yak, ane emak-emak with two daughters yang saben hari kudu ngantor buat ngebantu suami. Eaaaa. Kira-kira ada yang nungguin nggak yaaaak... (Kagak ada, kepedean banget jadi orang). Gaes di bab kali ini, Thor pengen nulis yang agak melow gitu, doain ya gaes. Biar bisa buat baper antum semua. Eh iya, subs and vote donkkkk please.. biar Thor bahagia, dan Thor doain gaes semua bahagia juga.. Ayolah gaes, demi mas Farasya Zahid ama mbak Deanova Azahra. Thor dikasih pujian dikit Napa (ngemis banget sih).. Hihihi, enjoy it ya gaes.. Aja kelalen vote and subkrep....muach Tuuuuuuutttttttttttt Tiga bulan sudah gue dan Nova bersama tanpa ikatan cinta, bukan ikatan cinta kek mas Al dan mbak Andin nih ya.ckck Kita jalan berdua, makan berdua, ke perpus berdua, ke kelas berdua bahkan kadang di Makul dia yang nggak gue ambil, gue masih ikuti biar bisa berdua. Intinya kita kemanapun berdua, berdua dua dua dua a a a a (ala gema di goa), except ke toilet sih. Uppz. Belum lagi kalau gue liat hp gue, isi WA, SMS, panggilan telepon, serentak nama paling atas ya pasti Deanova Azahra(pake icon love merah). Anjir, gue yakin 1000 persen, dia ada feeling yang sama kaya gue. Buktinya dia selalu balas apa yang gue kirim. Dia juga senang hati nemenin gue cari bahan skripsi, dan dengan welcome juga ngizinin gue buat nemenin dia ngerjain tugas-tugas dia. Yang jelas hubungan kita sangat banyak kemajuan. Gue pun sempat memperkenalkan Deanova ke kakak gue yang bernama Sajida. Ya pas kakak gue kesini buat ziarah ke makam Oma, yang ada di Solo. Mereka keliatan akrab banget, dan kompak malahan. Bahkan setau gue mereka sering nanya kabar lewat WA gitu. Yah gue seneng sih karena mereka pada akhirnya akan jadi ipar. HARAPAN GUE DOANKKKKK. Tuuuuutttttttttttt Pagi itu, tiba-tiba pintu kamar kost gue diketuk oleh seseorang. "Siapa?", Tanya gue, sambil memakai kaos yang gue tanggalkan di belakang pintu. "Deanova Sya", gue kaget kok bidadari gue dateng ke kost gue, pake nyamperin langsung ke kamar. Karena nih anak biasanya cuma nunggu di bawah gitu kalau main ke kost, dan yang paling aneh ini hari Minggu, harinya dia pulkam. "Kenapa va?", Tanya gue sok datar padahal gue seneng bukan main. Wajahnya nggak seperti biasa, dia memasang wajah memelas ke gue, gue bingung antara dia ngasihani gue apa sebaliknya. "Sya, sabar", dia meraih kedua tangan gue lalu menciumnya. Gue seneng dengan perlakuannya, tapi gue nggak tau ada hal yang nyesek banget dari kata dan pandangan dia ke gue. "Kenapa Va, hei what's wrong?". Ada buliran bening yang menetes disudut matanya. "Ada yang jahat sama kamu, hei kenapa?". Tanya gue. Diluar dugaan gue, Nova masuk kedalam kamar lalu membuka lemari dan menyusun beberapa baju gue kedalam tas. "Nih anak kenapa sih". Batin gue nggak enak, berhubung gue cinta mati ke dia, iya udah gue biarin. "Hei, kenapa". Tanya gue lagi. "Stop, pakai ini sekarang, ntar aku jelasin". Dia melempar jeans dan kaos lengan panjang gue. Gue langsung kekamar mandi dan memakai baju pilihan Deanova. Meski gue bingung apa yang dia mau. "Udah, ayo ke bandara sekarang Sya pake motor aku aja". Ajaknya yang gue nggak tau apa maksudnya. "Nggak! jelasin dulu, kamu kenapa?". "Nanti di bandara ya Sya". "Aku dari tadi malem cemas Va, apa kamu kenapa-kenapa?". Kata gue yang tidak dihiraukan oleh Deanova. Dia malah mengaitkan tangannya ke lengan gue, lalu meletakkan kepalanya kebahu gue. Bandara Adi Sumarmo Surakarta. "Sya jam 07.15 nanti kita take off ke Jakarta". Nova masih memeluk tangan gue dan menyembunyikan wajahnya dibelakang pundak kanan gue, gue rasa ada cairan yang membasahi kaos gue itu. Mungkin air mata gadis gue itu. "Kita va?, Kenapa kita ke Jakarta?".tanya gue mulai resah. Mulai ada rasa cemas dari hati gue, entah kenapa d**a gue sesak sejak tadi malam, bayangan mama yang tiga tahun terakhir ini bolak balik rumah sakit karena penyakit diabetes selalu melintas difikirkan gue sejak beberapa hari ini. "Sya, kamu harus kuat harus sabar, ini semua kehendak Allah, aku tadi pagi dikabari kak Sajida kalau mama kamu", Nova menghela nafas panjang. "Mama kenapa?", Tanya gue cemas. "Jam empat pagi tadi, mama kamu sudah berpulang ke Allah". "Bohong". Suara gua hampir nggak terdengar. Nova hanya menggeleng dan menyeka air matanya, tapi tangannya masih mengait di lengan kanan gue. "Aku nggak suka kamu kaya gini Nova, mamaku bukan bahan guyonan", gue meronta "lepasin, aku benci sama kamu Nova", tapi gadis itu masih mengaitkan tangannya dengan kuat dilengan gue, bahkan saat gue meronta, dia masih setia seperti itu. "Sabar Sya", suaranya sangat lirih, hingga membuat tangisan gue pecah pagi itu.. "Nggak mungkin, mama". "Kita doain mama kamu Sya". Jawabnya mencoba menenangkan, tapi tak berefek apapun. Karena gue tidak pernah merasa sesakit ini. Tuuuuuuuuuuttttt Bendera plastik warna merah benar terpasang didepan rumah gue, beberapa orang duduk di halaman rumah gue beralaskan kursi merah yang sudah tersusun rapi disana. Baju hitam dan putih serta kerudung bagi perempuan seolah menjadi wadrob wajib pagi ini. Kaki gue sangat kaku, melihat kakak Sajida duduk didepan jenazah yang sudah terbungkus kain putih dan tertutup kain batik. "Zahid kamu sudah datang nak?", Seru seseorang yang gue tau itu, bibi Anis. "Zahid", teriak kak Sajida, lalu berlari memeluk tubuh gue. "Kakak jahat, kenapa nggak bilang ke aku dari kemarin". Protes gue saat tangisan gue pecah. Bibi Anis menggantikan Deanova yang sedari tadi memeluk lengan tangan gue. Menuntun gue untuk mendekati jenazah mama, yang begitu gue rindukan. Dikiri gue kak Sajida sangat lemah memeluk tangan gue, hingga dia harus dibantu oleh suaminya untuk berjalan kembali ke tempat duduk nya tadi. "Mamah, mah ini Zahid mah, Zahid sudah jadi anak pinter mah, kata mama Zahid harus jadi anak pinter, tiga bulan lagi Zahid mau ke luar negeri buat belajar mah, itukan yang mama banggakan, mah please". Gue tidak sanggup menahan berat badan gue, tangis gue pecah. "Zahid, Sajida tugas kalian sebagai seorang anak dimulai hari ini, kalian tau selain ilmu yang bermanfaat dan amal jariyah, anak Sholih dan sholihah juga menjadi penolong mama dan papa kalian di akhirat. Sekarang tunjukkan bakti pertama kalian, sekarang sholatkan jenazan mama kalian, lalu doakan setiap hari, setiap kalian sholat, ok. Ayo ambil air wudhu dan segera sholat". Tuuuuuuuuuuttttt Gema suara Al-Qur'an masih memenuhi ruangan rumah masa kecil gue itu. Ini hari ketiga kepergian mama. Kak Sajida dan suaminya, bibi Anis dan Deanova serta beberapa tetangga terdekat masih setia mengalunkan ayat Alquran sore ini. Bayangan mama juga masih ada disana, rasa tak percaya atas kepergian mama masih sangat tergambar jelas di hati gue. Rasanya kaya mama baru pergi keluar kota aja gitu, dan nanti dua hari atau tiga hari mama pasti pulang. "Sya, kamu makan ya", tangan Deanova memegang pundak gue. "Kamu aja va, aku nggak laper". Jawab gue singkat. "Ayolah sya makan, nanti kamu sakit!", Nova mencoba membujuk gue, sebenarnya gue nggak tega lihat wajah Nova yang polos itu. Tapi gue beneran nggak pingin makan, biasanya bujukan Nova selalu sukses buat gue mau nuruti maunya dia, karena gue mau dia seneng. Tapi nggak buat saat ini, gue lagi nggak nafsu nyenengin hati orang, termasuk Deanova Azahra. "Sya, makan ya!". "Udahlah Nova, Lo apaan sih, Lo pulang aja sana, gue nggak mau diganggu", teriak gue pada gadis itu, yang jujur gue sesali. Tapi hati gue saat ini sedang nggak baik, sumpah!. Gue tinggalkan Nova lalu masuk kekamar gue, siapa yang nggak kalut coba, sejak umur lima belas tahun gue kehilangan papa gue. Mama kak Sajida dan gue hidup bertiga mengandalkan pensiun papa yang nggak seberapa, mama banting tulang menutup kebutuhan kita bertiga. Kita serba pas-pasan, mama selalu mengatakan ke kami berdua, harus pinter, harus dapet beasiswa, harus jadi orang kaya, harus A harus B C D E F. Mama itu sangat berkesan buat gue, gue sayang banget ke mama. Dan disaat terakhir dia, gue nggak ada disampingnya. Gue kehilangan dia, mama maaf, I love you forever. Tok tok tok. "Kakak masuk ya hid". Kak Sajida membuka pintu kamar gue lalu duduk di ujung ranjang gue. "Zahid kasian lho Nova, wajahnya sedih gitu". "Kak udah deh, gue lagi males". "Lo tau nggak, dia itu anak orang yang kesini buat support elo, dia dampingi elo pas elo lagi jatuh banget Zahid. Lo sedih, gue juga. Kita sama-sama sedih. Tapi inikan bukan salah siapapun, apalagi Nova. Lo salah kalau bersikap kaya gitu ke dia. Udah tiga hari ini elo jahat sama tuh anak orang". Terang kakak gue sok kuat. "Gue kan nggak minta dia disini". Gue melempar tatapan maut gue ke Kakak Sajida. "Gue yang minta, bayangin kalau hari Minggu itu, pas mamah nggak ada, gue kabarin elo langsung, Lo bakalan kaya apa, Lo nggak punya siapa-siapa disana, saudara kita di solo semua pindah di Jakarta, Lo sendiri, Lo cuma punya Deanova. Gue bisa pastiin kalau nggak ada Nova, Lo nggak akan bisa liat mama buat terakhir kalinya, Lo nggak akan kuat disana sendiri". Gue diam sejenak mendengar kata kakak gue itu. Iya bener, kalau nggak ada Nova, gue belum tentu bisa mikir untuk cari tiket dan yang lainnya, mungkin gue juga nggak akan bisa iku makamin mama. "Lo nggak seharusnya galak ke dia, dia anak baik, kasihan tau". Kaka Sajida keluar dari kamar gue dengan kata-kata sakti itu. Difikiran gue, gue harus segera mencari Nova saat itu juga, gue segera membuka pintu kamar gue dan abrakadabra, gadis pujaan gue itu berdiri didepan pintu kamar gue membawa semangkuk mie rebus, yang gue yakini ada sesendok margarin tercampur didalamnya. "Baru aku mau ketuk, nih aku buatin mie rebus buat kamu". Wajah polosnya membuat gue merasa sangat merasa bersalah. "Pakai margarin?", Tanya gue mengalihkan rasa bersalah gue. "Iyap,,, nagih yaaaaa?", Tanyanya sedikit menggoda, dan gue balas dengan senyuman kecil. "Udah ayo makan!", Ajaknya yang gue ikuti sampai meja makan. "Kok masak mi va, kan ada banyak makanan?", Tanya gue sambil menggulung mie dengan sendok garpu gue. "Yaaa, aku mikir aja sih, dari kemarin kamu uring-uringan terus, ya aku tau sih pasti karena ditinggal mama kamu, maaf. Dan juga pasti karena makanan yang dimasak dirumah kamu buat pengajian menunya pedes-pedes semua jadi kamu nggak bisa makan, terus efeknya kamu jadi marah-marah nggak jelas gini. Yaudah aku masakin aja kamu mi rebus, biar bisa makan, terus nggak uring-uringan, gitu". Jawabnya sangat polos dan agak hati-hati, mungkin dia takut atau ingin menjaga hati gue, tapi justru itu yang membuat gue merasa nggak enak. "Ohh, makasih ya Va", gue berusaha menampilkan senyum gue lagi. "Yeeee, Rasya senyum, ayo makan", dia bersorak kecil lalu menyendok mi kuah spesialnya. "Emm, pulang kapan?", Gue melihat wajah Nova yang menyejukkan itu. "Kalau kamu?", Dia malah balik bertanya. "Aku nunggu tujuh harian mama va".. "Ohh, kalau aku balik besuk boleh?". Tanyanya lugu dan hati-hati. "Iyaaaa". Gue tersenyum lagi, "boleh nggak kamu tinggal disini aja, kita nikah terus aku tinggal ke Boston dua tahun buat ambil master dulu, terus pas aku balik ke Indonesia kamu aku bawa ke Solo lagi, kita tinggal disana". Hati gue mulai gila pemirsa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD