Bagian dua

2022 Words
Seminggu sudah gue bolak balik ngecek hp gue, nunggu nomer yang tidak dikenal masuk ke chat wa gue, siapa lagi kalau tidak dari Deanova. Sejak kejadian di taman itu, dia kaya ditelan bumi, hilang tanpa jejak. "Kamu di mana sih Deanova", batin gue. Dikampus pun tuh anak nggak ada jejak, bahkan temen-temennya juga nggak keliatan batang hidungnya. Arrghhhh, bisa gila gue kalau kaya gini. Ok lupakan cewek manis itu dulu, gue harus segera menyelesaikan tugas gue untuk menyusun makalah yang harus gue kumpulkan besuk pagi, sebenarnya makalah ini sudah hampir jadi, kurang satu referensi aja yang gue butuhin. Well, gue harus ke perpustakaan. Gue langsung menuju rak buku yang memajang aneka buku English literatur dari berbagai pengarang mancanegara. Pilihan gue jatuh pada buku ekonomi literatur karya Adam Smith yang dicetak tahun 1950, gue membaca lembar per lembar halaman buku itu, dan akhirnya gue dapet teori yang sesuai untuk makalah pengaruh ekonomi di negara barat pada abad pertengahan yang gencar gue kaji. Gue segera menyelesaikan makalah gue dengan menyalin poin penting yang gue dapet dari teori itu. Dan akhirnya done. Saat gue ingin mengembalikan buku ini di raknya semula, tiba-tiba mata gue menangkap pemandangan indah di sela-sela rak buku pada kategori non fiksi book. Yeahhh, gue menemukan gadis itu, Deanova Azahra. Dia duduk selonjoran dilantai diantara rak buku itu, matanya fokus pada novel yang gue nggak tau juga judulnya, hari ini dia memakai dress berwarna merah, dengan jilbab kopi susunya, dan ditambah dengan sepatu kets warna putih, sangat pas padanannya, gue suka, wajah imut itu kali ini juga memancarkan kecantikannya. Gue ikut duduk dilantai , tepat didepan gadis itu. Gue sila kan kaki gue, "ehem", gue berdehem lalu di balas dengan ucapan maaf Deanova, "ehh maaf mas", wajah nya masih menatap novel itu, Lalu menarik kakinya dan disilakan untuk memberi ruang. "Serius banget sih va?", Suara gue pelan. "Ehh kamu, Rasya", cengiran kudanya menyimpulkan bibir dengan perona pink itu. "Baca apa?", Tanya gue memulai pembicaraan. "Nih", dia menunjukkan cover novelnya , yang berjudul "The Border" karya Fatema Mernisi. Buku yang gue tau membahas tentang kesetaraan wanita yang hidup di dalam Border atau Harem atau secara harfiah diartikan kehidupan perempuan yang berada didalam Kungkungan psikis maupun fisik dalam suatu rumah yang menganut tradisi-tradisi yang sangat mengengkang ruang gerak mereka. (Itu menurut gue ya, just my opinon, CK), buku ini berlatar di Maroko di tahun 1940an. "Suka buku feminisme ya?", Tanya gue, ya karena gue tau Fatema Mernisi adalah salah satu tokoh sekte itu. "Nggak", jawabnya tanpa melihat gue. "Kok baca", tanya gue seolah penasaran, padahal gue sih cuma mau ngobrol aja. "Tugas dari Miss Candra, aku kebagian faham feminisme,hufff". Deanova menghela nafasnya. "Ohh, Makul philoshopy ya?". "Iya, kamu kebagian apa?". "Aku sama sih". "Oiya serius, bisa nyontek teori donk", gadis itu bertanya dengan memiringkan kepalanya lalu bola matanya membesar dan bibirnya membentuk setengah lingkaran, dengan lesung pipi yang melingkar.. Gila, respon otak gue dari informasi mata yang melihat gadis di depan gue dengan mimik muka itu, langsung mengirim sinyal ke jantung gue, dan direspon dengan detak jantung yang saling baku hantam, dag Dig dug dengan tak beraturan, entah berapa detakan per sekon. Dan parahnya, reaksinya juga masuk ke mulut gue lalu tanpa sadar kata "gemesin banget", meluncur gitu aja dari kerongkongan dan melewati ludah gue tanpa aba-aba. Wadawwww. "Heh, what?", Dia menengok kanan kiri dan belakangnya. "Ehh, nggak", gue balas dengan senyuman dan nggak terasa tangan gue menggaruk tengkuk gue yang nggak gatal. "Tensin nih yee", kaya ada makhluk halus yang ngeledekin gue dari atas, untung itu cuma halusinasi. "Ohhh, aku kira yang gemesin aku", hahaha dia tertawa kecil. Emang kamu seyengggg, tentu aja cuma dalam hati gue.  Njir, pingin cubit hidung itu. "Eh gimana, aku boleh ngerjain sama kamu ya, eh kamu kelas apa sih di Makul ini, terus kamu udah dapet referensi belum?, aku baru dapet ini doank". Berondongan pertanyaan itu membuat gue tersenyum dalam hati, Biasanya gue benci orang yang banyak ngoceh, tapi kalau yang ngoceh nih anak gue suka, dan ngangenin. Ihirrrr. "Aku udah tahun kemarin ikut Makul ini sih", jawabku sambil tertawa kecil. "Whatttt, oke deh". Suaranya anjlok. Gue masih tertawa melihat mimik mukanya yang berubah sangat cepat, "aku bantu deh, kamu bisa liat makalahku kemarin, bisa referensi teorinya juga, yang penting nggak copy paste penjabarannya". "Serius nih?". "Iya, kamu Wa aku aja, mau ketemu dimana, besuk aku bawain, di flashdisk aku masih ada beberapa referensi juga". Gaya bener gue.ckck. "Ok, minta no WA". Nova menyerahkan hp android miliknya. "Eh kemarin kan udah aku kasih". Jawab gue sambil mengambil hp milik nya. "Kapan?", Tanyanya aneh. "Pas kita ngobrol di taman, aku kasih no wa ku lho, aku tulis dikertas terus tak masukin di buku Lexicon kamu". Jawab gue dengan tetap menulis no wa gue. "Yang kita makan cilok berdua haha hihi ditaman, itu berarti banget buat gue Deanova", suara hati gue. "Buku Lexicon?", Tanyanya lagi. "Iya". "Aku kan nggak punya buku Lexicon". Dia menggaruk kepalanya yang tertutup kerudung. "Terus itu buku siapa?". "Perpus", dia nyengir, "pas itu, langsung aku balikin sih, lupa kamu kasih nomer".. lanjutnya membuat gue pingin nangis. Gue nunggu nih anak satu Minggu kaya orang b**o, ternyata dia lupa sama nomer yang gue kasih. Gue cuma bisa geleng-geleng kepala. "Maaf", katanya lembut, membuat gue luluh dan siap tersenyum lagi. "Iya dimaafin deh", jawab gue sambil ngasih hp dengan cashing Doraemon itu. "Aku wa ya", Deanova mengirimkan icon ibu jari keatas. Lalu segera gue simpan nomor itu. Nomor yang akan sering gue rindukan. Ckck "Eh iya,kamu dari kapan disini?". "Emm dari tadi jam sembilan".jawabnya sambil melihat Jam ditangan kirinya. "Hampir makan siang nih, lunch bareng yuk". "Boleh, dimana?". "Emmm, ngikut kamu aja deh". "Serius nih, aku lagi pingin penyet nih, yang didepan kampus 1, juara sambelnya". Persuasif banget sih ni anak, gue kan jadi mau, padahal gue paling nggak bisa makan pedas. Ok well, taraaaaaa nasi, lele goreng, tauge mentah, tiga potong kacang panjang, dua potong bulat mentimun, dan seonggok sambal. Mata Nova membulat dan bibir manisnya digigit masuk kedalam mulutnya, "waw makasih mas", Nova langsung memposisikan piringnya, dan dia meminum estehnya. Dia terlihat begitu bersemangat, melahap makanan didepannya. Ironis banget sama gue, dengan menu yang sama, gue hanya bisa makan nasi dan separuh lelenya, karena yang separuh lagi sudah bersatu indah dengan sambal. Tapi tetep bau sambal itu udah masuk ke lidah gue, sumpah gue pingin cepetan keluar dari tempat ini. "Va, aku ngerokok di depan dulu ya?", Pamit gue pada gadis itu. "Loh ini masih banyak punya kamu?". Dia menunjuk piring gue yang masih rapi. "Aku udah kenyang". Nova menengok kanan kirinya. "Bentar lagi ya, disini cowok semua, aku habisin cepet kok". Gue kembali duduk, melihat Nova yang menghabiskan makanannya. "Nggak usah cepet-cepet, kesedak lho". Kasian juga ngeliat Nova yang buru-buru kaya gitu, dan bener aja dia batuk karena tersedak. Reflek gue deketin tubuhnya membantu menepuk punggung, lalu memberi air putih kemasan yang selalu gue bawa. "Udah", tanya gue. Lalu dia mengangguk. "Aduh udah nggak bisa makan aku, dihidung semua, tapi masih laper", rengek dia. Ya emang makanan pedas tu resikonya kek gitu sayang. Gemes. "Yaudah ayo cari yang lain", dia mengangguk. "Eh bentar, aku bayar dulu", dia menahan gue. "Udah aku bayar", jawab gue santai. "Serius, makasih ya, padahal rencananya mau aku traktir lho, hehe", cengirannya yang menggemaskan. Kami keluar dari tempat makan ternyebelin versi gue, hawa pedas dimana-mana, tapi anehnya warung ini jadi tempat makan lumayan nge-hits di seantero kampus UMS. "Aku balik kos aja ya Sya, mau masak Indomi aja". Pamitnya ke gue. "Eh cari makan aja, ayo aku juga laper", ajak gue. "Katanya tadi udah kenyang?". "Hehe, aku sebenarnya nggak kuat makan pedas", gue menggaruk kepala gue. "Oalah, ok deh gini aja, aku ada Indomi di kos dua kok, ntar aku masakin oke!". "Ke kos kamu va?". "Iya tapi ntar kamu nunggu di depan kos, ada pos ronda gitu, biasanya kalau ada tamu cowok kita disitu"... "Ohh, ok".. jawab gue agak malu, masa iya cewek yang gue taksir, dengan murahannya ngajakin cowok ke kos, gubrak. Tuttttttt Mi rebus dengan telur dan ditambah dengan margarin. Resep baru bagi gue makan mi kaya gini. Biasanya tanpa margarin.. "Cobain, enak lho", Nova menawarkan mi rebus itu, sambil menyendok miliknya. "Nggak pedes kok", lanjutnya sambil tertawa. Gue mencoba mi rebus yang ada didepan gue, iya enak dan gurih, lebih gurih dari mi rebus yang biasa gue buat. "Nova, ini nggak apa-apa aku main di kos kamu kaya gini?', tanya gue di sela sendokan mi gue. "Kenapa?, Temen-temenku sering kesini kok". Jawabnya nyantai. "Ada yang marah nggak?". Tanya gue lagi "Maksudnya?". "Ya kamu ada yang marah nggak, pacar kamu mungkin?". "Aman, gue single kok, kamu kali ada yang marah, aduh bisa di cakar cewek kamu nih aku". Nova tertawa dengan menggemaskan.yuhuuuuuu, dia single gaes, batin gue berteriak. Juga salto salto.haha "Kok bisa?, Aku single kok". "Itu Yasmin, Anggi, Sherly siapa lagi ya, fans berat kamu", dia menyebutkan deretan nama cewek yang sayangnya namanya sendiri nggak ada. Huft. "Ehh, masa sih, aku populer banget ya?", Gue mengernyitkan dahi karena nggak percaya. "Hemmm, ada satu lagi, mau tau nggak?", Tanyanya agak berbisik. "Ahh, apa sih va", jawab gue. "Eh siapa kamu ya, pasti kamu kan, please kamu donk", ya pastinya cuma suara batin gue. "Yohana", Nova mengedipkan matanya dan bibirnya melengkung. Gila gue seperti melayang, wajahnya memang buat gue nggak karuan. "Cieee, mukanya merah, cieee", Nova menunjuk muka gue lalu tertawa geli. Njirr, muka gue merah, "eh apa sih, enggak Va", gue menjauhkan muka gue ke belakang. Yaa, kalau memang beneran merah sebenarnya sih, karena gue kedipan maut dari mata Nova, tapi masa iya gue harus jujur sekarang. Bisa-bisa gue malah nggak bisa Deket lagi ma my sweetie (red, bukan merek popok bayi ya). "Cie Rasya, ehemmm, gue tau kok, nggak ada yang bisa menolak pesona dia, secara model gitu", celotehnya. "Apa sih, aku nggak suka dia kok". "Ahhh, yang benerrrr?", Dia masih tertawa lalu menaikan sendokan mi kuahnya ke mulut. "Dia itu cantik, baik, lumayan pinterlah, yang terpenting dia ada rasa sama kamu Sya". Lanjutnya lagi. "Apa sih, masih dilanjutin aja, aku nggak suka cewek kek gitu". "Ehh, dia kurang apa coba Sya?, Aku tau banget dia suka sama kamu". "Gimana donk, aku sukanya cewek lain". Jawab gue sekenanya. "Hah, siapa, anak UMS juga, Progdi kita?", Nova menarik mangkuk gue yang hampir habis. Gue hanya mengangguk kecil dan tersenyum. "Eh serius, siapa?, Aku kenal nggak?". "Emmm, iya kenal banget malahan", gue agak gugup lalu meminum air mineral gue. "Please, Lo jawab diri Lo sendiri Deanova, please, apa secepat ini oooooo", suara hati gue doank pemirsah. Nova terdiam memikirkan sesuatu, mungkinkah suara hati gue benar. "Sofi ya?". Gubrak siapa itu. Gue pengen terjun dari lantai tiga kampus gue. "Siapa?", Tanya gue. "Aku paling kenal Deket sama Sofi sih, temen baikku, dia yang paling pas buat kamu Sya, cantik, pinter, baik, kaya, tapikan dia pacar si Arsa anak kelas F". Dia masih terlihat memikirkan sesuatu. "Bukan, aku nggak kenal", jawab gue kecewa, setau gue Sofi temen Nova yang dulu ketemu gue di taman, tapi mungkin sih, gue lupa. "Apa Nana, dia manis imut lumayan pinter juga sih, dan yang jelas dia single". Gue menggeleng lalu diam. Lalu dalam hati gue, Kamu Nova, kamu!, yang paling kamu kenal ya diri kamu sendiri, oh my God. Kesel juga ngadepin nih anak, nggak peka. Tapi gue juga belum berani mengungkapkan rasa suka gue sama Deanova Azahra. Huhhhh, terlalu cepat, buat bilang suka. "Siapa donk, please aku mau tau sya, bisa jadi info menarik buat temen-temen ku". Dia memohon dengan wajah memelas. "Apa sih, masa aku jadi bahan gibah". Jawab gue nggak suka. "Kamu Deanova Azahra binti bla bla bla, gue sukanya ama kamu, ya Allah bikin dia ngerti please!". Cuma hati gue yang bicara. "Minimal ciri-ciri nya deh Sya", minta dia lagi dengan mata yang membola. Dan mulut yang menunjukkan susunan giginya yang putih, saat bilang "pleaseeeee". "Hemmh, dia emmm, lucu, imut, ngegemesin". Jawab gue asal... "Ehhh itu kata sifat semua Rasya, itukan relatif,ahhh tidak menjawab apapun".dia mendengkus kesal... Gue hanya tersenyum kecil melihat tingkahnya, gaya bicaranya yang asal tapi lucu, tertawanya yang nggak anggun apalagi lembut tapi gue suka. Yah gue suka, suka semua tentang Deanova Azahra.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD