bc

Kpopers VS Haters

book_age18+
87
FOLLOW
1K
READ
goodgirl
student
K-pop
drama
comedy
sweet
humorous
female lead
highschool
school
like
intro-logo
Blurb

"Oh... Para b***i itu ya...."

Ingin sekali rasanya Thalia menempeleng kepala lelaki dihadapannya yang baru saja ia kenal pagi ini, di sekolah barunya itu.

Tolong ditekankan sekali lagi, BARU DIKENALNYA.

Berani sekali ia!

Walau orang - orang bilang lelaki dihadapannya ini most wanted boy, atau bad boy apalah itu. Tapi dia tidak pantas menghina para bias tampannya yang selama ini ia akui sebagai jodohnya kelak.

Seharusnya setelah mendapat perlakuan seperti itu, ia segera pergi dari sana dan tidak pernah berhubungan lagi dengan cowok bernama Rida itu. Namun ancaman dan makian konyol malah keluar dari mulut Thalia yang entah kenapa setelah itu ia jadi terus berhubungan dengan Rida.

Bersama dengan Rida membuat hal aneh terus berdatangan ke kehidupan Thalia, membuat hidup Thalia menjadi seperti rollercoaster. Terkadang melambung tinggi, lalu kemudian melesat dengan cepat kebawah.

Namun, setelah melewati semua itu bersama. Apa benar kpoper dan hater ini masih saling membenci?

Atau mungkin, ada perasaan lain yang sudah ikut tumbuh?

chap-preview
Free preview
01. Bertemu Musuh
"Aduh... Dingin... Brrr...." Thalia menggigil sambil mengeratkan pelukannya pada dirinya sendiri. "Lemah." Celetuk Agren menyebalkan Thalia mendelik, andai Agren bukan kakaknya. Pasti sudah ia geplak kepalanya yang terbalut helm itu. "Bukan lemah bambang! Emang dingin tahu!" Hardik Thalia kesal setengah mati. Bagaimana tidak kesal? Di pagi buta seperti ini, lebih tepatnya jam setengah lima pagi. Thalia sudah harus diterpa angin dingin kota Jakarta karena naik motor dengan kecepatan tinggi bersama Agren. Andai Thalia bisa pergi ke sekolah sendiri, ia tak perlu repot-repot mandi jam empat subuh seperti tadi. Hanya saja itu masalahnya, Thalia masih belum hapal jalanan untuk ke sekolah barunya itu. Yap, sekolah baru. Thalia adalah murid pindahan dari Bandung ke Jakarta, tepatnya ke SMA Bakti Bangsa dan hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah sebagai kelas sebelas jurusan bahasa. ••• Setelah beberapa menit dijalanan, Agren akhirnya menepikan motornya di depan gerbang besar berwarna hitam dengan papan besar diatasnya yang bertuliskan 'SMA BAKTI BANGSA'. "Udah sampe, turun cepet. Tar kesiangan gua." Titah Agren. Dengan mata yang masih terpaku pada gerbang besar dihadapannya, Thalia turun dari atas motor lalu menyodorkan tangannya untuk salim. "Nuhun Gren."¹ Ucap Thalia menggunakan bahasa Sunda, karena Thalia sekeluarga sudah terbiasa menggunakan bahasa sunda sejak ia kecil. Agren yang sudah memberikan tangannya untuk disalami, langsung menariknya kembali setelah mendengar Thalia berbicara seperti itu. "Eits! Lo inget gak apa yang gue bilang waktu di rumah?" Tanya Agren tiba - tiba. "Apaan?" Tanya Thalia balik, tidak mengerti. "Hadeuh.. pelupa dasar!" Agren menepuk dahinya. "Gue bilang, dimana tanah dipijak disitu langit dijunjung!" "Aduh.. gak usah sok bijak deh.. jangan muter gitu ngomongnya! Ke intinya aja langsung!" Protes Thalia. "Maksud gue.. kalau lo di Jakarta pake bahasa Jakarta. Kalau lo di Bandung pake bahasa Bandung. Tar kalau gak ada yang bisa lo ajak ngomong disini gimana? Mau ngomong sama daun?" Ujar Agren Sarkas. "Oh..." Thalia meringis. "Gue lupa Gren, suka tiba - tiba keluar gitu bahasa sundanya. Ya gimana atuh namanya juga bahasa tercinta." Ucap Thalia, berhasil menggunakan bahasa gaul Jakarta, walau logatnya masih terdengar sunda banget. "Iya dah terserah lo! Udah sana masuk cepetan! Kesiangan tar lo!" Titah Agren lagi. "Kesiangan mata lo! Ini jam setengah lima Agrennn! Gerbang nya aja belum dibuka nih! Gimana caranya gue masuk?!" Hardik Thalia kesal sambil mendorong - dorong gerbang besar dihadapannya yang masih terkunci rapat. "Loh? Masih di gembok?" Tanya Agren baru sadar. Ia ikut turun dari motor, lalu mencoba membuka gerbang besar itu dan ternyata memang tidak terbuka karena masih dikunci. "Lah iya hehehe..." Agren cengengesan, membuat keinginan Thalia untuk menggeplak bibirnya itu jadi semakin kuat. "Lo sih nyuruh berangkat jam segini jadi kepagian kan!" Thalia merengut, lalu mengetuk gerbang itu berharap ada satpam atau penjaga sekolah yang mendengarnya dan membukakan gerbang untuknya. Agren ikut mengetuk gerbang itu berkali - kali, namun tetap tidak ada yang datang. Ia berhenti lalu berjalan menuju motornya. "Dek gue pergi dulu, udah telat nih." Pamit Agren, seketika membuat Thalia melongo. "Tega lo Gren tinggalin gue sendiri disini. Di tempat yang gak ada satupun orang yang gue kenal?" Ujar Thalia dramatis. "Alah.. gak usah lebay, Tunggu aja. Sebentar lagi juga pasti dibuka tuh gerbang." Ucap Agren enteng, lalu menyalakan mesin motornya. "Gren tunggulah sebentar...lagi. Please... Gue malu jongkok disini sendirian." Mohon Thalia, ia menangkupkan kedua tangannya diatas d**a dan memasang wajah se-memelas mungkin. "Ya? Ya?" Desak Thalia. "Ya jangan jongkok dong! Udah ah dah..." Ujar Agren tega, ia langsung melesat menjalankan sepeda motornya menjauh dari sana, tanpa menghiraukan nasib Thalia. "AGRENNNN!!!" Thalia berteriak kesal, melihat kepergian Agren begitu saja. Ia lalu kembali melihat gerbang besar dihadapannya dengan wajah cemberut. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Pengen jongkok tapi malu, tapi pegel juga berdiri terus. "Huft..." Thalia menghembuskan nafas nya, keki. "Ih... si Agren ngeselin!!!" Thalia menjerit kesal sambil melompat - lompat kuat, menghentak - hentakan kakinya ke tanah seperti anak kecil, menyalurkan kekesalannya. Hingga akhirnya Thalia sadar, jika ada tukang gorengan yang baru datang bersama gerobaknya, sedang menatapnya dengan tatapan takut karena melihat tingkah aneh Thalia. "Ha!" Thalia terkejut, lalu langsung membalikkan tubuhnya seketika. Jangan ditanya lagi, Thalia malu setengah mati. Kalau bisa, Thalia ingin menghilang saja dari sini. Huhuhu... Baru juga hari pertama masuk sekolah sudah begini. Entah apalagi yang akan menantinya nanti? Sementara Thalia menangis dalam hati, penjual gorengan itu sedang mundur teratur menjauhi Thalia. ••• "Gimana caranya ketemu cogan kalau gini, kucing aja kagak ada." Thalia terus mendumel sambil berjalan menyusuri luasnya sekolah, karena ia tidak tau dimana letak kantor kepsek dan tidak ada yang bisa ditanya olehnya disini. Akhirnya setelah menunggu sekitar setengah jam dengan berdiri-jongkok-berdiri-jongkok didepan gerbang sekolah sambil diliatin tukang gorengan tadi, gerbang pun dibuka oleh penjaga sekolah. Si pak penjaga sekolah yang sudah tua itu sampai terkejut melihat Thalia sudah nangkring sepagi itu di depan sekolah. Ia juga meminta maaf pada Thalia karena baru membuka gerbangnya sekarang, sebab ia baru selesai menyapu lapangan sekolah. Padahal ini bukan salah pak penjaga sekolah, ini salahnya sendiri yang datang kepagian. Eh tunggu! Ini salah Agren! Ya salah Agren. Saat melewati lapangan sekolah, tiba - tiba matanya menangkap sosok laki - laki yang sedang tiduran telentang dibawah pohon dengan kedua tangan menutupi matanya. "Akhirnya... Ada yang bisa gue tanyain." Gumam Thalia lega. Cepat - cepat Thalia menghampirinya, ia penasaran ada orang yang datang lebih pagi darinya. Setelah dekat, Thalia duduk didekatnya dan sedikit membungkukkan badannya sehingga ia bisa melihat wajah laki - laki itu walau matanya tertutup tangan. 'Tampan..' Batin Thalia. "Hai." Thalia mencoba menyapa laki - laki itu. Namun, laki - laki itu tidak bergeming sama sekali. "Halo..." Thalia mencoba sekali lagi. "_" Dan hasilnya nihil, laki - laki itu masih tidak bergeming. Ia bingung, kenapa laki - laki itu tidak menjawabnya. Jangan - jangan laki - laki itu budeg? atau ia sedang tidur pulas? atau jangan - jangan.. Dia bukan manusia! Iya juga, jika dipikir - pikir gerbang sekolah kan belum dibuka? Kenapa sudah bisa ada didalam sini?! 'Eh, berpikir positif Thal. POSITIF!' 'Bisa saja lelaki itu menginap disekolah.' pikir Thalia meyakinkan diri sendiri. Walau sebenarnya yang ia pikirkan itu sangat tidak masuk akal. Akhirnya Thalia kembali mencoba menyapa laki - laki itu lagi tapi dengan suara yang lebih keras. "Ekhem, hallo kak.." Sapa Thalia. Berhasil, tangan yang menutupi matanya mulai bergerak kesamping sehingga mata itu tidak tertutupi lagi, meski masih terpejam. Sedetik kemudian kedua mata itu terbuka dan langsung berhadapan dengan wajah Thalia yang sedang memandangnya dengan lumayan dekat. Sontak, laki - laki itu terperanjat kaget matanya membulat lebar dan ia segera berposisi duduk. "Siapa lo?" Laki - laki bertanya ketus. Thalia tersenyum lalu menyodorkan tangannya kehadapan laki - laki itu. "Ekhem, gue Athalia Zahrana. Bisa dipanggil Thalia." Namun, tidak ada tangan yang menyambut tangannya. Sepertinya laki - laki itu tidak mau berkenalan dengannya. Akhirnya Thalia menurunkan kembali tangannya, meski begitu ia tak kesal karena senyuman masih menghiasi wajahnya. "Eh, lo tau gak kantor kepsek dimana?" Tanya Thalia berharap laki - laki itu menjawabnya. "Tanya aja ke penjaga sekolah." Lagi - lagi jawaban ketus yang keluar dari mulut laki - laki itu. Thalia tersenyum kikuk, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Iya, gue lupa nanya tadi." Ucap Thalia pelan. Tiba - tiba sebuah ide muncul di otaknya. "Lo ganteng deh kayak Mingyu." Goda Thalia. Laki - laki itu menatapnya dengan kening berkerut. "Siapa tuh?" Tanyanya. "Itu.. personel seventeen." Thalia berusaha menjelaskan. "Seventeen? Band Indonesia?" Thalia merasa senang karena akhirnya laki - laki itu berbicara kepadanya tidak dengan nada ketus, ia berharap bisa berteman dengannya. 'Kan lumayan cogan.' Begitulah pikirnya. "Ih bukan, seventeen itu boyband asal Korea selatan." Jawab Thalia bangga. Laki - laki itu memalingkan wajahnya lalu menjawab dengan malas. "Oh, para banci maksud lo?" "Apa?!" Thalia merasa ada yang salah dengan pendengarannya, atau mungkin... Tidak. Laki - laki itu menghadap Thalia lalu tersenyum. "Para b-a-n-c-i." Ucapnya dengan mengeja kata banci. Habis sudah kesabaran Thalia, kemarahan sudah menyelimuti hatinya. Matanya melotot dan giginya menekan keras. Keinginannya untuk berteman pupus sudah. "Dasar lo gak tau diri, lo hina orang lain emang udah ngaca lo kayak gimana? Hah! Lo ngerasa oke? Modal tampang aja belagu, pasti otak lo gak ada isinya. Kerjaan molor di bawah pohon kayak jin, dasar orang gil-" Ocehan Thalia terpotong karena laki - laki itu tiba - tiba saja menaruh telunjuknya di bibir Thalia. Menyuruh Thalia berhenti. Thalia melotot, kesal namun juga kaget karena tiba - tiba jari telunjuk lelaki itu menyentuh bibirnya. "Jangan berisik!" Hardiknya, lalu mengeluarkan sekotak rokok dari saku celananya. Ia lalu menyelipkan sebatang rokok yang sudah ia bakar dengan korek api tadi ke mulutnya dan mulai mengisapnya. Thalia melongo, tak percaya melihat pemandangan didepannya. Bisa - bisanya cowok ini merokok di lapangan sekolah?! Thalia benar - benar tak habis pikir. Thalia menggelengkan kepalanya, tiba - tiba ide jahat melintas di pikirannya. "YAAMPUN ELO NGEROKOK SEPAGI INI?! YAAMPUN GILA!!! NGEROKOK!!" Thalia sengaja berteriak kencang, agar ada guru yang mendengar lalu memergoki lelaki dihadapannya ini. "Ish.. berisik banget sih lo!" Hardiknya kesal, ia berusaha membekap mulut Thalia dengan tangannya, namun Thalia berhasil menghindar. "Annoying banget jadi cewek." Cecar nya, wajahnya sudah memerah padam menahan rasa kesal yang amat besar pada perempuan aneh yang tak dikenalnya ini. "Bodo amat!" Ketus Thalia. Ia mengambil ancang-ancang hendak berteriak lagi, hingga ucapan cowok itu memotongnya. "Gak bakalan ada yang denger lo kali." Ucapnya santai sambil terus menghisap rokoknya. Thalia melihat sekelilingnya, suasana sekolah sangat sepi. Seperti hanya ada mereka berdua disini. "Anjir! Lo jangan macem - macem ya! mentang - mentang di sekolah ini cuman ada kita berdua!" Hardik Thalia waspada, kedua tangannya berusaha melindungi dirinya sendiri. Lelaki itu menatap Thalia malas. Random sekali sifat perempuan dihadapannya ini. Begitulah yang ada di pikirannya. "Gajebo banget sih jadi cewek." Gumamnya tak peduli. "Gajebo? Apaan?" Tanya Thalia malah tertarik. "Gak jelas bego!" Hardiknya. Membuat emosi Thalia kembali tersulut. Ya iyalah, siapa yang tidak tersinggung disebut bego oleh orang yang tidak dikenal. "Mending lo pulang sana! Sekolah masih lama kali." Ujarnya mengusir Thalia. "Lah, elo sendiri ngapain disini? Lagian kok bisa lo udah masuk padahal gerbang baru dibuka?!" Balas Thalia sewot, tidak mau kalah. "Ya panjatlah gerbangnya... Gitu aja ribet!" Jawabnya masih dengan nada nyolot yang sukses membuat Thalia sebal. "Lagian gue gak punya rumah." Gumam lelaki itu dengan sangat sangat pelan, hingga Thalia tidak bisa mendengarnya. "Hah? Apa?" Tanya Thalia bingung. "Sana pergi lo. Ngeselin tau gak, pagi - pagi udah harus berurusan sama cewek aneh kayak lo!" Usir nya lagi, mengalihkan pembicaraan. "Lagian lo juga ngeselin! Gue kan tanya baik - baik dimana kantor kepsek. Tinggal tunjukin apa susahnya sih." Thalia balas mengomel. "Dih! Mana mau gue ngebantu si pemuja plas-tik kaya lo!" Ucapnya sinis lalu pergi dari sana sambil menghisap rokoknya. Tentu saja hal itu membuat rasa amarah Thalia meledak. Sebagai kpopers akut, harga dirinya merasa terinjak dan emosinya bisa langsung memuncak, kala mendengar kata - kata yang menghina idolanya seperti itu. "HEI! MULAI SEKARANG KITA MUSUHAN!!!!" Thalia berteriak sekeras-kerasnya, karena emosinya sudah tak terbendung lagi. Sedangkan yang diteriaki malah mengacungkan jari telunjuk dan jempolnya yang membentuk huruf "O" berarti "OKE". "Oke?!" Thalia melotot, semakin kesal. "Siap - siap aja lo. Lo gak tau berurusan dengan siapa." Gumam Thalia, ia tersenyum miring dan menatap punggung lelaki resek yang semakin menjauh darinya itu dengan tatapan tajam. Kamus Syala : ¹ : terimakasih Gren.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

GARKA 2

read
6.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.2K
bc

Perfect Revenge (Indonesia)

read
5.1K
bc

Super Psycho Love (Bahasa Indonesia)

read
88.6K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
41.1K
bc

TERNODA

read
199.0K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook