“Pernah mikir, nggak, sih ... kalau aku bakalan jadi suamimu?” “Jangankan mikir, berharap aja enggak,” gumam Andine dengan suara sedikit pelan. Enggak berharap juga kalau Farel akan mendengar perkataannya. Pasti bakalan kesal ini makhluk. “Hah?” Andine melepaskan diri dari pelukan Farel yang sedikit melonggar. “Ya ... begitulah.” “Wahh ... keterlaluan.” “Gimana mau ngarep ... orang kamunya nyebelin, songong, blak-blak’an, berasa mau nampol dan yang pasti ngeselinnya kebangetan,” jelas Andine bersemangat. Farel mencubit kedua pipi Andine saking gemasnya dengan jawaban sang istri. “Sakit,” rengeknya memegang pipinya yang memerah bekas cubitan Farel. “Jawaban kamu bikin kesal, tahu, nggak,” umpatnya. “Itu beneran, loh. Bisa dipastikan jawaban yang sama juga akan kamu dapatkan saa

