BAB : 5

1371 Words
Farel terduduk di teras, tadinya masih ia lihat sosok Andine yang berlalu pergi meninggalkan dirinya. Tapi sekarang, sudah hilang dari pandangan matanya. Dia yang diharapkan kembali, memang kembali. Tapi dia kembali justru untuk pergi selamanya. Apa ia akan rela begitu saja? Jawabannya tentu tidak. Setelah berjuang dengan sabar, menunggu selama ini, setidaknya ia harus punya hasil yang memuaskan. Dengan langkah berat, ia menuju ke mobilnya. Menuju ke kediaman Diana dan Gilbert adalah tujuannya saat ini. Bahkan saat mengemudikan mobil saja ia berasa tak bisa fokus. Pemikirannya selalu pada Andine. Bagaimana gadis itu bisa bertahan di bawah keinginan mamanya? Apalagi berada dalam cengkeraman laki-laki yang begitu kasar. Sungguh, ia benar-benar tak akan merelakannya. "Tante pikir kamu nggak jadi ke sini, Rel," ujar Diana saat berpapasan dengan Farel yang baru datang di teras depan. Farel tak membalas perkataan Diana, tapi ia malah langsung memeluk wanita paruh baya itu seolah mencari tempat bersandar dari seorang ibu. "Tante, aku menemukannya," ujar Farel. Melihat sikap Farel, tentu saja membuat Diana jadi bingung. "Maksud kamu siapa?" tanya Diana. Ia melepaskan diri dari Diana. "Andine, Tante ... aku ketemu sama dia," ungkapnya. "Trus?" "Aku pikir dia bakalan senang ketemu sama aku, tapi ternyata justru sebaliknya." "Farel." Suara itu berasal dariGilbert yang datang dari arah dalam dan menghampirinya. "Om tahu, kamu mencintai Andine. Tapi kamu nggak tahu, kan, isi hatinya?" "Om, ini bukan perkara isi hati. Karena dia juga merasakan hal yang sama denganku. Hanya saja ..." Farel agak ragu menjelaskan apa yang tengah dialami oleh Andine. "Farel, kamu itu udah seperti anak kami sendiri. Anggaplah Mirza anak pertama dan kamu anak kedua. Jadi, kalau ada masalah, bisa, kan ... memberitahukan pada kami?" Farel mengangguk. "Aku pernah bilang, kan, sama Tante kalau Andine sudah punya calon suami?" "Iya." "Benar, itu adalah calon suaminya. Tapi lebih tepatnya lagi, dia adalah pilihan mamanya." "Dijodohin?" tanya Gilbert seolah menebak. "Perjodohan yang melibatkan uang," ungkap Farel. "Maksud kamu gimana, sih?" "Orang tuanya bercerai, mamanya nggak bisa memenuhi kebutuhan harian. Papanya nggak bertanggung jawab pada dia. Hingga akhirnya mamanya menjodohkannya dengan laki-laki itu." Gilbert menarik napasnya berat. "Itu bukan dijodohkan namanya, tapi justru lebih terkesan menjual. Ada embel-embel uang dan ada pemaksaan," jelas Gilbert. "Aku nggak bisa lepasin dia gitu aja ke tangan orang yang salah, Om." Gilbert melirik ke arah Diana, seolah sedang berdiskusi tentang sesuatu. "Hmm ... Farel, kadang apa yang kita inginkan, juga nggak harus di jalan yang benar. Bukan maksud Om menyuruh kamu mengambil jalan yang salah, hanya saja untuk mendapatkan sesuatu, kita juga bisa memutar otak." Jujur saja, ia kurang memahami apa yang di maksud oleh Gilbert. "Begini, Nak ... mamanya Andine membutuhkan uang, dan memaksanya menikah dengan ... sebutlah laki-laki itu punya harta. Tapi, bukankah dibagian harta, kamu juga punya segalanya?" "Jadi maksud Om sama Tante, aku juga harus melakukan hal itu? Seolah-olah membeli Andine dari mamanya. Begitukah?" "Itu, kan, yang diinginkan mamanya?" "Aku nggak setuju," responnya cepat. Kemudian berlalu dari hadapan Gilbert dan Diana, segera masuk ke dalam rumah. Melihat respon Farel, Gilbert hanya bisa menaikkkan kedua bahunya. "Padahal itu cara terampuh buat dapetin Andine, loh," ujarnya pada sang istri. Keduanya melangkah masuk mobil untuk segera pergi ke luar kota. Pemikiran keduanya begitu aman semenjak ada Farel. ---o000o--- Andine melangkah memasuki rumah. Ia dapati mamanya sedang mengobrol dengan seseorang di ruang tamu. Ya, saat di teras pun ia sudah tahu siapa yang ada di dalam. Karena dirinya mengenal siapa pemilik mobil yang terparkir di halaman. "Andine, kamu dari mana, sih?" Ini posisinya kalau hanya berdua, bisa dipastikan kalau dirinya sudah habis kena omelan maut. "Maaf, Ma," ucapnya menghampiri. "Dimas udah nungguin kamu dari tadi, loh," ungkap wanita paruh baya itu sambil melirik kearah cowok yang kini duduk di sofa. "Maaf, ya .. aku tadi ke toko buku, keasyikan baca jadi lupa waktu," jelasnya. "Iya, nggak apa-apa," respon cowok bernama Dimas dengan senyuman yang menghiasi. "Oiya, Ndine ... aku ke sini mau ngajakin kamu makan di luar. Kita dinner." Andine melirik kearah Alina--mamanya, berharap kalau kali ini tak mengijinkan dirinya pergi. "Tentu saja Andine mau dong, Nak Dimas. Masa dia mau menolak keinginan kamu," jelas Alina melirik tajam kearah Andine. Salah, ternyata apa yang ia harapkan tak sesuai dengan keinginan mamanya. Jadi, mau tidak mau dirinya lagi dan lagi harus menurut. "Gimana, Ndine?" tanya Dimas. Andine mengangguk menyetujui permintaan Dimas. "Kalau gitu aku mau siap-siap dulu, ya." "Oke," respon Dimas. Andine melangkah menuju kamar. Sampai di sana, ia hempaskan badannya di kasur. Menutupi wajahnya dengan bantal sambil menangis. Inilah tangis yang sedari tadi ditahannya. Selama ini, bahkan tak sebutirpun air mata membasahi pipinya. Tapi dengan satu masalah di keluarga, membuatnya harus terus menangis. Anggaplah dirinya kini seperti sebuah robot yang hanya bisa menuruti keinginan tuannya. Dinner? Bahkan ia belum pernah ke acara sejenis itu dengan seorang cowok. Maklum saja, selama ini dirinya hanya bergaul dengan para sahabatnya. Ya ... sahabat yang kini harus ia tinggalkan dan hindari. Bukan karena apa-apa ... hanya tak ingin ada orang lain yang ikut terseret pada masalah pribadinya. Dress selutut berwarna biru laut ia kenakan. Sebuah flat shoes berwarna perak dan tas selempang sebagai penunjang. Harus diingat, ia bukanlah salah satu gadis SMA yang heboh dari segi pakaian. Saat dirasa siap, ia kembali turun melangkah menghampiri mamanya dan juga Dimas yang masih berada di ruang tamu. "Maaf, menunggu lama," ucapnya tak enak. Dimas memandang Andine dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ini bukan terpesona, tapi lebih ke ekspressi tak suka. Dan itu terlihat jelas dari caranya memandang. "Kamu yakin akan dinner denganku, mengenakan kostum seperti ini?" tanya Dimas meyakinkan Andine. Dahi Andine berkerut. "Ada yang salah dengan pakaianku?" Dimas beranjak dari kursinya dan berdiri tegap dihadapan Andine. "Kamu itu calon istriku, setidaknya kamu harus bisa mengikuti aturan dan kebiasaan keluargaku, Andine. Dari segi pakaian saja, kamu sudah salah besar." Dimas menarik tas milik Andine dan melemparnya di lantai. Dengan cepat ia menarik lengan Andine dan membawanya dengan paksa kembali kearah kamar. Heran saja ... ada, ya, seorang Ibu yang membiarkan anaknya diperlakukan seperti itu di depan matanya dan sikapnya hanya biasa saja. Sampai di kamar, Dimas mendorong Andine ke tepat tidur. Setelah itu, ia berlanjut menuju kearah lemari pakaian milik gadis itu. membukanya dan mengeluarkan satu persatu isi lemari. Hingga terhenti saat apa yang dicarinya ketemu. "Kenakan ini," suruh Dimas sambil melempar sebuah gaun berwarna putih kearah Andine yang masih tampak ketakutan. Andine melebarkan gaun itu dihadapannya, memandang dengan seksama. Ini bukanlah miliknya, tapi milik Vianka yang dulu pernah ia dan para sahabatnya sengaja sembunyikan. "Aku nggak bisa pake ini ... terlalu terbuka. Lagian, ini juga bukan milikku," jelasnya menolak permintaan Dimas. Dimas tak menghiraukan penjelasan Andine. Dirinya bukan diciptakan untuk mendengarkan orang lain, tapi justru sebaliknya. "Turuti saja apa yang ku perintahkan!" Ia menyambar sebuah high hels milik gadis itu yang berada di rak sepatu. "Maaf, aku nggak bisa," tolaknya. Ditolak bukanlah hal yang biasa baginya. "Apa perlu aku membantu mengganti pakaianmu?!" Andine melangkah menuju kamar mandi. Terpaksa, itulah yang ia rasakan kini. Sebelum keluar dari kamar, ia berdiri di depan cermin. Air matanya menetes melihat dirinya kini. Pakaian yang ia kenakan benar-benar jauh dari keinginan dan kebiasaannya. Ini sama saja mengumbar tubuhnya di hadapan semua orang. Tapi, menolakpun tak bisa. Terdengar suara derap langkah yang berasal dari hels milik Andine, membuat pandangan Dimas dan Alina beralih pada gadis itu. "Wah, kamu benar-benar cantik," puji mamanya. Semenjak kecil, ia memang terbiasa jauh dari orang tuanya. Bisa dibilang hanya diasuh oleh pengasuh. Tapi setelah melihat seperti apa asli mamanya, ia tahu dan bersyukur. Akan jadi apa dirinya jika dapat ajaran seperti ini dari kecil? Dimas tersenyum dan mendekati Andine, kemudian mengamit dan mengecup tangan gadis itu lembut. "Setidaknya kamu tak terlihat memalukan jika ku bawa ke khalayak ramai. Tubuhmu membuktikan kelayakan itu, Sayang," ungkap Dimas dengan senyuman nakalnya. Bahkan dengan tak sopannya jari-jarinya menyentuh pundak Andine. Andine mengelak dari perlakuan Dimas. Kalau boleh memilih, lebih baik ia mati saja saat ini daripada harus mendapat perlakuan buruk. Jangankan menyentuh, saat Dimas memegang tangannya saja ia merasa begitu jijik. "Ah, itu ... Mama sendirian dong di rumah," ujar Andine mengelak dari sikap Dimas dan berjalan mendekati mamanya. "Udah, kamu tenang aja. Happy happy aja sama Dimas," balas Alina. Happy-happy? Iya ... dengan cara mengumbar tubuhnya begini sudah sukses membuat mata laki-laki nakal begitu happy memandang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD