Saat Andine berbalik badan, benar sekali apa yang ia takutkan. Dihadapannya kini tengah berdiri seorang cowok sedang tersenyum dengan tatapan layaknya kucing kelaparan.
Harapannya kini sirna sudah. Menyangka kalau sudah berhasil kabur dari cowok yang berniat jahat padanya tadi, ternyata kini kembali mendapatkannya.
Ia menangis sambil berusaha menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya. "Jangan melakukan apapun juga padaku," ujarnya memohon.
"Hanya laki-laki bodoh yang akan melakukan itu dan aku bukan salah satu dari mereka," balasnya langsung mendekati Andine untuk melakukan aksi kotornya.
"Lepasin!!!!" teriak Andine berusaha melepaskan diri dari cengkeraman cowok itu, meskipun rasanya tak yakin akan berhasil. Tapi balik lagi, ia tak akan rela jika harga dirinya dibuat serendah ini.
"Berteriaklah sesukamu. Karena tak akan ada orang yang mendengar teriakanmu itu. Jangan berharap lepas dari tanganku, gadis manis. Ayolah, ini menyenangkan jika kamu sudah mencobanya. Ini akan membuatmu ketagihan," ujarnya disela-sela paksaannya pada Andine.
Andine merasa benar-benar terpojok karena cowok itu mendorongnya hingga terjerembab jatuh. Saat berniat untuk bangkit, cowok itu dengan cepat menindih dan mencengkeram kedua tangannya.
Dia tertawa dengan penuh kemenangan saat gadis yang tadinya terlepas, kini sudah berada dalam cengkeramannya. Tinggal sedikit lagi dirinya bisa mencicipi hal yang menggiurkan dihadapannya.
"Ku mohon, jangan melakukan itu," tangis Andine ... terus berharap ada rasa kasihan dalam hati cowok itu.
Dia semakin mendekatkan wajahnya pada Andine untuk memulai niat buruknya dan semakin mempererat cengkeraman di pergelangan tangan gadis itu.
"Jangan!!!!" histeris Andine.
'Bughhhttt'
Belum sempat niatnya itu terjadi, tiba-tiba sebuah hantaman menyerang tubuhnya dari arah belakang ... membuat dia yang akan melancarkan aksinya langsung terhempas menjauh dari Andine.
Tak hanya itu, saat berniat bangun, lagi sebuah serangan tiba-tiba dia terima. Pukulan demi pukulan mendarat di wajahnya dan ulu hatinya. Hingga akhirnya itu semua terhenti saat cowok itu terlihat tak berdaya.
Andine yang merasa ketakutan, hanya bisa menangis sambil menutupi badannya dengan kedua tangannya.
Seorang cowok yang juga sudah basah kuyup, menghampirinya. Tangisnya semakin menjadi-jadi saat mendapati siapa yang kini ada dihadapannya. Tak berpikir lama, dengan cepat ia menghambur memeluk cowok itu, mengeluakan semua rasa takut dan tangisnya.
"Pak Farel ... aku takut," isaknya semakin mengeratkan pelukannya.
Iya, dialah Farel. Orang yang tadinya ia harapkan datang, kini benar-benar datang. Meskipun sempat tak yakin kalau pesannya terkirim.
Farel membalas pelukan Andine dan sesekali mencium pucuk kepala gadis itu. "Sudah ... sekarang kamu aman bersamaku," bisiknya.
Keduanya memasuki mobil. Sampai di dalam, Farel mengambil sebuah handuk yang ada di kursi belakang ... kemudian mengeringkan rambut Andine agar rasa dinginnya bisa sedikit berkurang.
Farel mengambil sweater miliknya dan mengenakan pada Andine. Setidaknya ia tahu betul apa yang sedang dirasakan gadis ini. Pakaiannya basah, membuat tubuhnya terlihat menerawang. Tentu saja itu membuat dia risih.
"Apa rasa dinginnya sudah mulai berkurang?" tanya Farel.
Andine mengangguk, tapi tetap saja masih terisak menangis. Air matanya masih berjatuhan membasahi kedua pipinya mengingat kejadian yang menimpanya.
"Jangan menangis lagi," larang Farel menghapus air mata itu. "Apa perlu aku membunuh laki-laki itu agar kamu bisa lebih tenang?"
"Jangan," respon Andine cepat. "Aku nggak mau Bapak bermasalah karena aku."
Dalam perjalanan, keduanya hanya diam tak bersuara. Andine seolah masih berada dalam ketakutannya, sedangkan Farel hanya bisa melirik dan memastikan keadaan gadis itu baik-baik saja.
"Turunin aku di sini saja," ujar Andine saat mobil yang dikendarai Farel hendak memasuki halaman rumahnya.
Mendengar perkataan Andine, Farel menghentikan laju mobilnya. "Kamu lihat, kan, di luar lagi hujan?"
"Nggak apa-apa," responnya. "lagian, kalau Bapak masuk dan mengantarkanku sampe ke dalam, bisa ku pastikan kalau mamaku akan marah," tambahnya menjelaskan.
"Kenapa harus marah?"
"Tadi aku pergi dengan Dimas dan sekarang ..."
Farel benar-benar tak percaya dengan sikap mamanya Andine.
"Ku mohon, mengertilah," pinta Andine agar Farel menyetujui keinginanya untuk turun di depan pagar saja.
Farel mengangguk dan membuka kunci otomatis pintu agar Andine bisa turun. Ya, meskipun begitu berat karena ia tak yakin kalau gadis ini akan baik-baik saja di rumahnya sendiri.
Andine menyentuh pipi Farel. "Makasih sudah menolongku," ucapnya sebelum melangkah turun dari mobil.
Andine turun dari mobil dan dengan sedikit berlari memasuki halaman rumah. Sementara Farel, bahkan hingga sosok itu menghilang dari pandangan matanyapun, ia masih diam membisu di depan kemudi mobilnya.
[][][]
Dalam keadaan yang basah, Andine memasuki rumah. Dan apa yang ia takutkan tadi benar-benar ada di depan matanya. Melangkah perlahan penuh keraguan, ia menghampiri mamanya yang ada di ruang keluarga. Tak sendirian, tapi bersama Dimas.
Pandangan keduanya mengarah tajam padanya. Terlebih lagi, Dimas yang seolah berfokus pada sweater yang ia kenakan.
"Ma, aku ..."
"Keterlaluan kamu Andine!" Alina menimpali perkataan Andine dan beranjak dari kursinya. "Apa yang kamu lakukan? Mau membuat mamamu terlihat memalukan dihadapan Dimas?!"
"Ma ... aku bisa jelasin semuanya," komentar Andine berusaha agar mamanya mau mendengarkan penjelasannya.
"Apalagi yang mau kamu jelasin? Meninggalkan Dimas di pesta dan nggak tahu menghilang kemana. Dan sekarang pulang dengan keadaan basah kuyup begini!"
Kalian pernah, kan, diomeli sama orang tua? Iya, rasanya itu benar-benar menakutkan. Tapi yang lebih membuat kesal itu saat apa yang dituduhkan justru tak seperti apa yang sebenarnya terjadi.
"Ma, aku nggak berniat meninggalkan pesta itu," bantah Andine.
"Lalu apa?" Giliran Dimas yang ikut bertanya. Ia menghampiri Andine dan berdiri dihadapan gadis itu dengan kedua tangannya berada dalm saku celananya.
"Tadi aku mencari kamar mandi, tapi tak bisa ku temukan. Hingga akhirnya aku duduk di taman yang ada di depan gedung acara."
"Dan?"
"Salah satu rekanmu berniat melakukan hal tak senonoh padaku," tambahnya menjelaskan.
Berharap kalau Dimas akan mengamuk dan marah pada sikap buruk rekannya, tapi apa yang ia dapatkan kini? Sebuah senyuman yang lebih terkesan ejekan.
"Apa yang kamu katakan, Andine? Kamu pikir rekanku serendah itu?"
"Tapi memang itulah kenyataannya, Dimas," balas Andine.
"Jangan menjelekkan Dimas lagi Andine. Ini sudah jelas salahmu," tambah Alina.
"Kalaupun benar begitu, pasti itu karena kamu yang memulainya, kan, Andine. Kamai para cowok juga nggak akan melakukan hal buruk jika si cewek tak melakukan godaan itu," terang Dimas.
Jelas sudah sekarang. Mamanya dan juga Dimas sekarang berada di jalan yang sama. Sama-sama membuatnya tersudut dan seolah jadi yang paling bersalah dalam masalah ini.
"Terserah apa yang mau kamu katakan. Toh, aku nggak akan memaksamu untuk percaya. Dan lagi, aku akan lebih bersyukur kalau kamu nggak percaya padaku."
Baru saja Andine menyelesaikan perkataannya, Dimas langsung menampar pipinya hingga tercetak bekas memerah. Miris, bukan ... mamanya saja hanya bersikap acuh melihat dirinya diperlakukan seperti ini di depan matanya. Jujur saja, itu lebih terasa menyakitkan ketimbang tamparan yang ia terima.
"Kamu Pikir sedang berhadapan dengan siapa saat ini, hah?! Semua wanita itu sama. Sama sama hanya menginginkan uang. Dan lihatlah kamu saat ini," tunjuknya kearah Andine. "Sweater siapa yang kamu kenakan? Oo ... benar sekali tebakanku. Di depanku kamu terlihat begitu polos seolah tak punya dosa, tapi di belakangku ternyata kamu adalah seorang w*************a!"
"Hentikan kata-kata busukmu itu!"
Pandangan Dimas mengarah ke asal sumber suara ... begitupun dengan Alina dan juga Andine.