BAB : 8

1270 Words
Andine terlihat kaget. Bagaimana tidak, yang datang dan membentak Dimas adalah Farel. Ia tak ingin cowok itu ikut terseret dalam masalahnya. Cukup hanya dirinya yang merasakan. Dimas tersenyum sinis. "Awalnya aku yakin saja kalau kalian berdua tak punya hubungan, tapi untuk saat ini ku ralat pemikiran itu." Farel berjalan menghampiri ketiganya. "Siapa kamu?" tanya Alina pada Farel yang memang tak ia kenal sama sekali. "Saya Farel, Tante," jawabnya. "Dan urusan kamu ke sini untuk apa? Kamu punya urusan sama siapa? Andine atau Dimas?" tanya Alina menambahkan. "Aku punya urusan sama Tante," jawabnya menatap tajam kearah wanita paruh baya itu. Bingung. Itulah respon Alina saat ini. Farel mengarahkan pandangan pada Andine yang terlihat cemas. Gadis itu menggeleng kearahnya, seolah sedang melarangnya untuk melakukan sesuatu. "Tante nggak kenal dia?" tanya Dimas pada Alina sambil menunjuk kearah Farel. "Enggak sama sekali," jawabnya lagi. "Dia itu selingkuhannya Andine!" "Apa?!" Baru mendengar respon mamanya saja, Andine sudah merasa ketakutan. Apalagi jika dirinya disidang habis-habisan. Dan sekarang, Farel juga ikut terseret. "Karena dia, anak Tante selalu menolak apa yang saya inginkan!" "Andine, katakan siapa dia?!" tanya Alina pada putrinya. Apa yang harus ia jawab? Mengatakan kalau Farel adalah laki-laki yang ia cinta, tentu saja itu tak mungkin. Bisa-bisa mamanya malah semakin marah dan ditambah lagi dengan Dimas yang ia yakini tak akan tinggal diam. "Andine!" Pandangannya mengarah pada Farel yang menatapnya tulus padanya. Dan ia semakin luluh akan hal itu. "Dia ... " "Tante," timpal Dimas. "Aku nggak perduli, ya, siapa dia? Yang penting sekarang aku mencintai dan menginginkan Andine jadi milikku. Terserah dia mau terima atau tidak, karena aku hanya berurusan sama Tante sebagai mamanya," tambah Dimas menjelaskan. Ia duduk di sofa dengan santainya. "Jadi, sekarang Tante butuh berapa?" tanya Dimas pada Alina sambil mengeluarkan kertas cek dan sebuah pulpen. Mendengar itu, Alina yang tadinya terlihat emosi malah tersenyum sumringah. Kemudian ikut duduk di sofa dan berfokus pada tangan Dimas yang sibuk menulis beberapa angka di kertas tersebut. Air mata Andine menetes membasahi pipinya. Sedih, bahkan sangat sedih melihat sikap mamanya. Hanya karena uang, emosi mamanya bisa reda seketika. Bukan tidak mungkin kalau hanya karena uang, dirinya akan dilemparkan pada Dimas. "Tante keterlaluan, ya!" geram Farel. Rasanya ingin sekali melakukan tindak kejahatan pada Alina, tapi saat niatnya itu ingin ia lakukan, dirinya malah ditahan oleh Andine. "Jangan lakukan itu," lerai Andine. "Aku heran padamu. Mamamu bersikap seburuk ini dan kamu hanya menerima?" Alina beranjak dari posisi duduknya ... menghampiri Farel dan dengan cepat melayangkan tamparan di wajah cowok itu. Tapi niatnya itu gagal saat Andine justru menahannya, hingga akhirnya putrinya yang jadi sasaran. "Kalau kamu tak ingin melihat dia disiksa terus, tolong jauhi dia! Karena saya sudah menjodohkannya dengan Dimas!" Melihat orang terkasih disakiti di depan mata ... hati siapa yang tak sakit. Saat air mata yang ia harapkan tak turun lagi dari kelopak mata Andine, tapi kini justru menetes menahan rasa sakit. Jangan berharap kalau ia akan diam begitu saja. Tagannya bergetar, rasanya emosi seakan ingin meledak dalam kepalanya. Tapi, lagi-lagi ia harus berusaha menahan dan sadar kalau yang ia hadapi ini adalah mamanya Andine. "Aku mau nanya satu hal. Tante tahu, kan, kalau dia nggak menyukai laki-laki itu," tunjuknya kearah Dimas yang menatapnya tajam. "Tapi kenapa masih saja melanjutkan keinginan Tante?" Alina tersenyum mendengar pertanyaan Farel. "Saya terbiasa hidup berkecukupan dan itu semua hanya Dimas yang bisa memberikannya." Dimas tertawa mendengar pujian yang dilontarkan padanya. "Apalagi harta paling berharga yang saya miliki kalau bukan Andine. Kalau bisa ditukar dengan uang, kenapa tidak," jelasnya mengungkapkan. "Setidaknya Dimas juga bisa membuatnya bahagia." Andine tiba-tiba menggenggam tangan Farel erat, seolah sedang menahan rasa sedih dan juga sakit yang menerpa hatinya. Mendengar jawaban menyakitkan dari Alina dan mendapatkan respon dari Andine, sepertinya ini sudah cukup membuat Farel yakin tentang langkah apa yang harus ia ambil. "Berikan Andine padaku," ujar Farel pada Alina. Ini bukan permintaan, tapi lebih tepatnya sebuah pemaksaan. Baik Alina maupun Dimas, tertawa seperti mendengar sebuah lelucon receh. Dengan tatapan penuh telisik, bahkan Alina memperhatikan penampilan Farel. "Dimas punya segalanya yang nggak kamu punya," balasnya. "Tante mau apa?" tanya Farel menantang. "Silahkan sebutkan," tambahnya. "Nggak saya sebutkan pun, harusnya kamu bisa tahu apa yang saya mau," jelasnya sangat tak yakin dengan perkataan Farel. Mau mengalahkan Dimas yang merupakan pohon uangnya, sepertinya sangat tak mungkin. "Apa yang kamu lakukan?" tanya Andine. Farel berbisik pada Andine yang ada di sampingnya. "Aku nggak mau kamu disakiti terus. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah percaya pada keputusanku dan hanya diam." Dimas beranjak dari duduknya dan berjalan menghampiri Farel sambil bersidekap d**a dengan tampang angkuhnya. "Sudahlah, jangan bersikap layaknya pangeran berkuda putih yang tiba-tiba datang dengan puluhan milyar uang. Kamu pikir ini cerita dongeng sebelum tidur?!" Farel tersenym di sudut bibirnya. "Jangan melihat seseorang dari penampilan luar. Karena belum tentu aslinya seperti apa. Saya tak serendah yang Anda lihat, Bapak Dimas Ardinal." Dimas sedikit tersentak, bagaimana Farel tahu nama lengkapnya? Oke, mungkin hanya kebetulan. Lagian, siapa yang tak mengenal dirinya. "Putra dari Bapak Joseph Ardinal yang kini sedang bermukim di Singapura." "Terimaksih sudah mengenali saya dengan sangat lengkap," balas Dimas tersenyum sombong. "Joseph Ardinal, yang merupakan orang kepercayaan dari pemilik Kriss Golden. Pemiliknya adalah Bapak Rayn Kriss Arnold. Benar, kan?" Dimas terdiam, makin ke sini penjelasan Farel justru seolah tahu semua tentangnya. "Katakan apa maksudmu sebenarnya?!" Setidaknya Alina tahu perusahaan apa yang di maksud Farel. Andine yang berada disebelah Farel saja ikut bingung. Lebih tepatnya karena ia berfokus pada nama yang disebutkan Farel barusan. "Kriss Golden?" gumamnya sedikit berpikir. Farel mengarahkan pandangan pada Andine saat mendengar ucapan gadis itu sambil tersenyum. "Harusnya kamu bisa tahu tanpa ku katakan," ujar Farel pada Andine. "Dan inti dari penjelasan panjang itu apa?" tanya Alina. "Ini membuang waktu!" "Tante mau uang, kan? Oke, itu gampang. Tapi saya mau imbalannya," ungkap Farel. Alina lagi-lagi tertawa mendengar perkataan Farel. "Sudahlah, jangan membuat saya sakit perut karena tertawa mendengar leluconmu." Farel merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya. Ia menyodorkan sebuah kartu nama pada Alina. Awalnya tak berniat menerima, tapi karena penasaran akhirnya ia terima. Pandangannya berfokus pada kartu nama yang ada dihadapnnya. "Liam Kriss Zifarel," gumamnya membaca nama yang tertera. "Apa?!" ekspressi kaget justru malah ditunjukkan Dimas langsung saat mendengar nama itu. Seolah-olah nama yang disebutkan Alina sangat berpengaruh dalam kehidupannya. "Jadi ..." "Maaf, Tante," timpalnya langsung pada perkataan Alina. "Aku nggak mau berkomentar panjang lagi. Sekarang aku cuman kasih satu pertanyaan pada Tante dan aku hanya butuh satu jawaban singkat. Mau memberikan Andine padaku atau pada Dimas?" "Silahkan kamu bawa Andine," jawabnya langsung. Apa yang terjadi kini, bahkan Alina dengan cepatmemberikan jawaban itu. Benar-benar sulit dipercaya, ada seorang Ibu yang dengan gampangnya memberikan anak gadisnya hanya demi uang. Miris, itulah yang dirasakan Andine kini. Ia seperti sebuah barang yang bisa diperjual belikan dengan gampangnya. "Apa yang Tante lakukan?!" Dimas tak terima. "Dimas, kamu dengar sendiri, kan? Siapa Farel dan siapa kamu. Dia lebih baik memiliki Andine daripada kamu yang ayahmu hanya sebagai orang kepercayaan ayahnya Farel." Farel tersenyum licik kearah Dimas. "Ini sebagai pelajaran, kalau kita nggak bisa memandang seseorang hanya dari penampilan." Berniat melepaskan tinju ke wajah Farel, tapi gagal karena Farel menahannya. "Menyentuhku, itu artinya ayahmu jadi tumbalnya," ancamnya menghempaskan tangan Dimas dengan kasar. Kemudian mengarahkan pandangannya pada Alina. "Permisi, Tante ... Andine aku bawa," ucapnya. "Silahkan," balas Alina ramah. Farel menggenggam tangan Andine erat dan membawa gadis itu pergi dari sana. Seperti perkataan Farel tadi yang hanya memintanya diam, dan itulah yang dilakukannya. Maaf, jika tindakannya kali ini justru terlihat kejam dan diluar batas. Tapi kalau tidak begini, ia tak bisa membawa Andine keluar dari masalah. Uang hanya pemanis, tak seperti cinta yang sulit didapatkan. Setidaknya rasa cinta harus diperjuangkan, bukan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD