BAB : 9

1421 Words
Farel membawa Andine pergi dari sana. Dalam keadaan hujan lebat, keduanya menuju mobil milik Farel yang posisinya ada pinggir jalan depan pagar. "Pak Farel ..." "Aku nggak mau dengar penolakan ataupun komentar dari kamu, Ndine," timpalnya memotong ucapan Andine. "Cukup itu yang terakhir aku melihat kamu disakiti dan dibuat menangis," tambahnya sambil memasangkan self belt pada gadis itu. Segera ia nyalakan mesin mobil dan berlalu dari sana. Keadaan Andine membuatnya sedikit cemas, karena dari tadi terus dalam keadaan basah kuyup. Tak lama untuk mencapai keadiaman Farel. Lagi-lagi cowok itu seolah tak melepaskan genggamannya di tangan Andine, bahkan saat masuk rumah pun. "Den Farel, kok basah kuyup gini?" tanya Bibik saat mendapati sang majikan pulang dalam keadaan basah kuyup. "Nggak apa-apa, Bik. Cuman tadi di jalan kehujanan," jawabnya. "Oiya, apa yang saya pesan tadi semua udah disipain, kan? "Udah, Den," jawab wanita itu. "Bibik tolong siapin makanan sama obat-obatan. Nanti tolong antar ke kamar," pintanya sambil berlalu pergi dengan Andine yang masih terus mengekori langkahnya. Iyalah, orang gadis itu tak lepas dari pegangannya. Saat Farel membawanya memasuki sebuah ruangan, Andine menghentikan langkahnya ... membuat langkah Farel ikut terhenti. Ia menyentuh lembut pipi Andine. "Nanti kita bicarakan, aku nggak mau sampai kamu sakit karena hujan-hujan dari tadi," jelas Farel seolah paham apa yang sedang dipikirkan gadis itu. Keduanya memasuki sebuah kamar yang terbilang luas. Iya, mungkin lebih tepatnya terlalu luas untuk sebuah kamar yang ditempati oleh satu orang. Mata Andine menelisik ke setiap sudut kamar. Seolah berpikir, ini kamar siapa? Enggak mungkin kalau kamar Farel, karena warna peach adalah warna yang dominan di kamar ini. Tentu pemiliknya seorang wanita. "Ini bukan kamarku, tapi kamar kakakku, dulu. Sebelum dia menikah." "Hah?" "Aku nggak mau kamu menempati kamar tamu, karena bagiku kamu bukan tamu." Bagaimana ia bisa menyingkirkan Farel dalam kehidupannya begitu saja, jika sikap yang diterimanya sebaik ini. Bahkan jauh lebih baik daripada sikap mamanya sendiri. Farel mencium pipi Andine sekilas. "Sekarang kamu mandi, ya. Bibik tadi udah nyiapin pakaian buat kamu dalam lemari. Kamarku ada di sebelah," ujar Farel yang dibalas anggukan oleh Andine. Saat hendak melangkah pergi, Andine menahan langkah Farel. Kemudian gadis itu menyentuh dahinya. "Kok panas?" Dengan cepat Farel mengelak. Tangan Andine yang masih berada di dahinya ia jauhkan. "Enggak, kok ... masa iya panas," bantahnya. "Aku keluar dulu, ya." Baru saja keluar dari kamar, ia malah bersin-bersin nggak jelas. Jangan sampailah dirinya malah yang sakit. Rada cemas, karena biasanya kalau udah bersin-bersin begini, tinggal nunggu ambruk aja. "Jangan sampe sakit ... jangan sampe sakit," gumamnya sambil berjalan menuju kamarnya yang terletak tak jauh dari kamar yang ditempati Andine.  [][][][] Jauh dari orang tua, itu hal yang biasa bagi Andine. Bahkan dari kecilpun, ia terbiasa ditinggal pergi. Ketemu pun, orang tuanya seolah abai. Tapi kini jauhnya justru karena merasa disakiti. Iya, mamanya membuatnya benar-benar merasa sakit. Kini hidupnya terasa benar-benar hancur. Bagaikan barang yang bisa dioper kemanapun. Tapi saat dirinya jatuh ke tangan Farel, tak bisa ia pungkiri kalau dirinya masih diberi keberuntungan. "Permisi," ucap seseorang mengetuk pintu kamar. "Iya," jawabnya sambil berjalan membukakan pintu. Ternyata yang datang adalah Bibik dengan membawa sebuah baki yang berisi sepiring makanan, s**u hangat dan beberapa butir obat-obatan. "Non, makan dulu, ya. Tadi Den Farel minta Bibik buat nganterin ke sini dan mastiin kalau Non Andine makan ini semua," jelas Bibik. "Tarok di meja aja dulu, Bik. Nanti aku makan, kok," balasnya yang diangguki oleh wanita itu. "Dia kemana, Bik?" tanya Andine. "Maksudnya Non, Den Farel?" "Iya." "Di kamarnya, Non." "Makasih ya, Bik ... udah nyiapin semuanya," ucapnya dengan senyuman. "Iya, Non. Kalau gitu Bibik keluar dulu, ya," pamitnya segera keluar dari sana. Iya, sesuai perkataan Bibik, Andine mulai menikmati makanan yang sudah disediakan. Meskipun hanya beberapa sendok. Masalah, fokus dan pemikirannya seolah banyak cabang hingga membuat perutnya tak berminat untuk makan. Pandangannya mengarah pada jam dinding. Jarum pendek mengarah pada angka 11 dan jarum panjang berada di angka 6. Ya, ini sudah larut malam. Jangankan berniat tidur, bahkan matanya saja seolah tak mengantuk sama sekali. "Pak Farel udah tidur belum, ya?" pikirnya. Ia melangkah keluar kamar, berniat untuk menemui Farel. Tapi apa yang terjadi, saat sampai di luar, malah berpapasan dengan Bibik yang berjalan cepat menuju kearah sebuah kamar. "Bibik mau kemana?" "Ke kamarnya Den Farel, Non. Dari tadi panasnya nggak turun-turun, Bibik jadi cemas," jelas wanita paruh baya itu yang di tangannya sudah lengkap dengan kotak obat. "Apa?!" Mendengar penjelasan Bibik, rasa paniknya seketika langsung menjalar di otaknya. Segera, langkahnya ia tujukan ke kamar Farel. Bahkan masuk tanpa mengetuk pintu kamar itu terlebih dahulu. Dan yang ia dapati adalah benar. Cowok itu sedang terbaring di kasur dengan wajahnya yang memerah. Perlahan, ia melangkah menghampiri Farel yang masih memejamkan matanya. Sesekali terdengar erangan keluar dari bibirnya. Panas, itulah yang dirasakan Andine saat tangannya menyentuh wajah Farel. Masih terlihat sebuah mangkok dan handuk kecil terletak di nakas. Sepertinya bekas kompresan. "Non, ini kotak obatnya," ujar Bibik pada Andine. "Ini buat apa, Bik?" tanya Andine sedikit heran dengan sebuah suntikan yang juga ikut disodorkan Bibik padanya. "Biasanya Den Farel pake suntikan gitu kalau demam," terangnya. "Dan ini obatnya," tambahnya sambil menunjuk pada sebuah botol berukuran kecil. Ya, isi dalamnya berupa cairan. "Suntik sendiri?" "Iya, suntik langsung di lengannya Den Farel." "Bibik nggak bisakah?" "Duh, saya nggak berani, Non," responnya bergidik ngeri. Suntik sendiri? Astaga! Yang benar saja. Disuntik saja ngeri, apalagi jika ia yang melakukannya. "Bibik keluar dulu, ya, Non," pamit Bibik. Matanya masih fokus menatap jarum suntik dan Farel secara bergantian. Apa seberani itu ia melakukannya? Takutnya malah salah suntik. Bukannya sembuh, malah semakin membuat Farel merasa sakit. Tangannya menyentuh wajah Farel, berharap cowok itu membuka matanya dan memang benar itu berhasil. Pandangan Farel menatapnya sendu. Kemudian tersenyum dibalik bibirnya yang terlihat pucat. "Kenapa kamu ada di sini, sih? Ini udah udah larut malam, kamu butuh istirahat," ujar Farel dengan nada bicaranya yang memang terdengar lemah. "Maaf, gara-gara aku kamu jadi sakit begini. Ini pasti karena kehujanan tadi," ujar Andine merasa benar-benar bersalah. Ini baru permulaan dan ia sudah membuat cowok yang dicintainya bermasalah. "Itu lebih baik daripada aku yang harus melihatmu sakit," balas Farel. Air mata Andine mengalir begitu saja. "Tindakanmu membawaku pergi dengan cara itu, memang salah. Tapi lagi-lagi kesalahanmu seolah terbayar dengan sikapmu padaku. Yang seharusnya bersikap seperti ini adalah mamaku, bukan kamu. Tapi justru aku mendapatkan kebaikan itu darimu," jelasnya. Farel bangun dari posisi tidurnya, kemudian mengambil alih benda-benda itu dari tangan Andine. Apalagi kalau bukan alat suntik dan sebotol kecil cairan obat. "Berpikirlah, kenapa aku bersikap seperti itu padamu," balas Farel. "Aku nggak pernah main-main dengan perasaanku. Jadi, aku juga berharap kamu nggak menganggap apa yang ku lakukan hanya permainan." Sebuah kapas yang sudah diberi alkohol ia oleskan ke pergelangan tangannya, lebih tepatnya pada titik yang akan jadi objek suntikannya. Andine sampai menutup matanya saat jarum itu mulai diarahkan Farel di lengannya. "Buka matamu," suruh Farel sesaat kemudian. "Takut." "Udah selesai juga," balas Farel. "Ini hanya sebuah suntikan, bukan tusukan pisau yang tepat mengenai jantung yang rasa sakitnya bisa menghilangkan nyawa." Oke, ia mengikuti perkataan Farel. Sebuah kapas sedang ditempelkan Farel pada bekas suntikan agar tak mengeluarkan darah. "Apa rasanya sakit?" tanya Andine. "Sedikit." "Sakit banget, ya?" "Enggak," jawabnya meyakinkan. "Sini ku tiup biar nggak sakit," ujar Andine menarik tangan Farel. "Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Farel pada Andine yang meniup-niup bekas suntikan di lengannya. "Ya." "Apa sakit dan luka di hatiku yang melihatmu di perlakukan buruk oleh mamamu dan juga Dimas bisa kamu obati? Karena jujur saja, rasanya jauh lebih sakit daripada luka apapun juga." Andine menatap fokus kearah Farel yang duduk dihadapannya. Kenapa kata-kata Farel terus saja membuatnya merasa di nomorsatukan? Kenapa tak ada celah untuknya berpikiran buruk tentang Farel? Apa dia memang sebaik ini dan tak ada sisi buruk? "Bisa, kalau kamu mau. Tapi aku tak yakin ini bisa membuatmu merasa terobati. Setidaknya apa yang ku lakukan, bisa jadi bukti kalau aku mempercayaimu sepenuhnya tentang kebahagiaanku." Dahi Farel berkerut menanggapi pernyataan Andine. "Apa?" "Mau ku menerima obat yang ku berikan padamu?" Tentu saja Farel mengangguk. Tak lama, karena tiba-tiba Andine langsung saja mencium bibirnya. Sekilas, tapi sukses membuat rasa kaget menggerogoti wajah Farel. "Aku nggak tahu ini bisa mengobati rasa itu, tapi setidaknya, sudah ku coba, bukan?" Ia berbisik di sela ciuman itu. Kemudian, kembali mengulangi aksinya. Farel yang tadinya seolah menerima, sekarang justru sama-sama menikmati. Benar sekali, sepertinya sakit hatinya akan segera hilang. Apalagi jika Andine bersikap seperti ini padanya, karena sebelumnya pun tak pernah, kan. Justru malah terkesan sikapnya begitu acuh. Boleh, kan, ia berharap banyak kalau ingin memiliki gadis ini sepenuhnya, secepatnya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD