Pagi ini Flo bangun kesiangan untuk shalat subuh. Hampir saja dia menunaikan kewajibannya pada pukul enam kalau tadi seandainya kakak iparnya nggak masuk ke dalam kamarnya dan membangunkannya. Maklum, malam tadi Flo tidak bisa tidur. Dua saudaranya yang tidur satu kamar dengannya ternyata juga sedang libur shalat dan yah masih tidur sampai sekarang.
Jam enam tepat tadi salah satu tantenya menyuruhnya turun untuk sarapan sekaligus membangunkan dua saudaranya yang masih tertidur.
"Eh, si eneng udah bangun. Turun neng sarapan ya? Ini mau bangunin adek dulu. Kamu teh duluan ke bawah."
Flo hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu keluar dari kamarnya sambil mengikat rambutnya dengan asal.
Di bawah ternyata sudah ramai orang, karpet masih tergelar mungkin bapak-bapak tidur di lantai kemarin malam karena ketidak cakupan tempat tidur.
"Ris, sini." Revi memanggil Florista yang baru turun untuk duduk di sebelahnya. Lesehan di bawah, kalau di atas semuanya nggak akan muat. Makannya sarapan kali ini biar adil semua duduk di bawah, kecuali beberapa orang tua yang mengaku nggak kuat duduk di bawah.
"Nanti mau pulang ya mbak?" Tanya Flo yang sudah duduk di samping Revi.
Revi menoleh ke arah Flo lalu mengangguk. "Iya nih, Mbak nggak bisa lama-lama. Keburu numpuk nanti kerjaannya. Maaf ya, nanti kalau libur ke sini lagi deh." Kata Revi sembari memberikan satu gelas teh hangat pada Flo yang tadi ia tuang dari teko.
"Makasih, mbak." Ucao Flo menerima teh.
Meminum seteguk Flo kembali menanyakan sesuatu. "Jam berapa mbak?" Tanya Flo
"Nantilah agak siangan kalau aku, sama Ayah Ibu, Sama keluarganya Pak dhe juga. Paling sekitar jam sebelas."
"Oh, jadi sepi lagi." Flo tersenyum, di balas sepupunua dengan senyum tidak enak dan usapqn lembut di punggungnya.
***
Sekitar pukul sebelas mobil keluarga dari Almarhum Ayah Flo sudah berangkat, menyisakan Bu lik nya bersama keluarga yang memang menetap di Bogor dan juga tidak terlalu ada urusan mendesak. Juga keluarga dari ibunya dan juga orang tua teh Indah yang masih menetap.
Sekitar waktu satu minggu, sanak saudara Flo mulai berpamitan satu persatu. Tinggal Flo dan kedua kakaknya yang masih berada di sini.
Sore itu setelah kepulangan orang tua teh Indah, Flo berada di kamarnya. Memeriksa tugas yang diberikan dosen kepadanya. Oh iya, Flo mulai masuk kuliah kebali tiga hari setelah masa dukannya. Kalau lebih lama bisa saja, tapi dia nggak mau nenyia-nyiakan waktunya. Kalau kata teh Indah udah waktunya lihat lagi ke depan, boleh sedih tapi jangan keterusan, yang terpentingkan do'a buka sedih.
'Tok...tok...tok'
Flo menoleh kepada pintu kamarnya yang masih tertutup itu.
"Iya, masuk." Kata Flo.
Lalu setelah suara pintu terbuka, muncul wajah abangnya sambil tersenyum padanya.
"Sibuk?" Tanya Abangnya.
Flo menggeleng "Enggak, kok." Lalu membereskan lembaran kertas yang kemarin dia print dan dia masukkan ke dalam map.
"Ke bawah yuk, Abang mau bicara."
Flo mengerjqp sebeluk akhirnya mengangguk tanda setuju. Sedikit bingung saja, tapi pasti yang mau dibicarakan hal serius sampai-sampai ada pemberitahuan dulu.
Mengambil asal karet rambut di meja rias kecilnya, Flo lalu turun ke bawah sambil membenahi rambutnya yang berantakan. Dilihatnya sudah ada teh Indah di ruang tamu di temani tiga teh yang masih mengepulkan asap.
"Sini." Wanita berkerudung coklat itu menepuk sisi sofa di sebelahnya, menyuruh Flo untuk duduk di dekatnya.
"Abang mana teh?" Tanya Flo
"Sebentar ya, tadi masih di belakang."
Flo hanya mengangguk, lalu memainkan jari kakinya di lantai putih rumahnya.
"Ehm, Flo."
Flo mendongak, mendapati Abangnya yang ternyata sudah duduk di depannya. Sepertinya pembicaraan sudah akan dimulai batin Flo. Abangnya yang berdehem tadi bukannya minta diperhatikan bukan?
"Kenapa Bang?" Tanya Flo to the point.
"Abang tau, kamu masih kaget sama semua ini, ini juga baru satu minggu Ayah sama Mama pergi."
Flo mengernyit, kenapa firasatnya tidak enek tentang arah pembicaraan ini? Apalagi saat teh Indah mengusap bahunya, seakan menyuruh dia untuk kuat dan sabar. Tapi apa?
"Flo, usaha mebel Ayah ternyata nggak bisa di bilang baik-baik saja. Ayah punya tanggungan ke beberapa pihak yang nggak bisa di bilang sedikit." Jelas Fardan
Flo melebarkan bola matanya, kenapa bisa begitu? Padahal selama ini Ayahnya tampak baik-baik saja dengan semua kegiatannya. Bahkan tidak pernah berkata apapun kepada Flo, dan uang kuliahnya tetap jalan dengan lancar selama ini.
"Abang tau ini berat buat kamu, tapi nggak ada pilihan lain. Usaha mebel Ayah bakal Abang tutup, dan rumah ini..."
"Abang mau jual." Kata Fardan dengan sedikit berat.
Flo makin bingung dengan semua kejadian tiba-tiba yang serba mendadak ini.
"Tunggu, maksudnya berarti aku?" Flo seperti nggak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Sementara ini kamu nggak tinggal disini dulu ya. Yang penting kamu kuliah dulu yang benar."
"Aku masih bisa kuliah? Maksud aku, aku bisa bantu lunasin hutang Ayah kok. Aku bisa kerja." Kata Flo.
"Kakak ada tabungan, penjualan rumah ini nanti pasti juga laku lumayan. Masih ada sisa kalau untuk uang kuliah kamu." Jelas Fardan pada adiknya.
Flo menghirup oksigen sebanyak mungkin, mengisi paru-parunya hingga penuh dan menghembuskannya.
"Sabar ya, sayang." Dekapan hangat dari kakak iparnya mampu sedikit menenangkan Flo dari pikiran buruk yang datang dengan kurang ajar.
***
Malam itu Flo bahkan nggak kepikiran untuk tidur, karena pada dasarnya dia nggak ngantuk sama sekali. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat lima belas menit, tapi matanya masih secerah matahari.
Ditemani laptopnya malam itu, Flo mencari informasi kos yang wilayahnya lumayan dekat dengan kampus miliknya. Rata-rata sudah penuh, kalau adapun yang longgar harganya bikin Flo mau menangis. Fo berdecak sebal, lalu menekan exit dan mematikan laptop tuanya itu.
Flo nggak nyangka hidupnya bakal jungkir balik seperti ini. Yah, sebenarnya gaya hidup Flo nggak seroyal itu waktu dulu, karena dari kecil dia sudah di tanamakan untuk rajin menabung dan berhemat plus nggak membeli barang yang sekiranya nggak diperlukan. Berkecukupanlah, semua cukup, cukup untuk makan, cukup untuk kuliah, cukup untuk kebutuhan yang diperlukan.
Eh, memikirkan tabungan Flo jadi ingat kalau di masih punya simpanan. Berjalan dengan bingung kakinya menuju ke rak susun, lalu tangannya menggeledah ke rak nomor dua dari atas. Bibirnyq membentuk lengkungan, tersenyum saat menemukan buku berwarna biru itu.
Empat juta limaratus ribu
Lumayanlah
Flo lalu memilih berbaring di kasurnya, meski matanya enggan untuk ditutup. Bagaiman bisa dia tertidur kalau pikirannya saja melanglang buana, untungnya besok dia free alias nggak ada kelas.