bc

Beautiful Mistake

book_age16+
70
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
goodgirl
boss
drama
comedy
bxg
icy
campus
spiritual
brothers
like
intro-logo
Blurb

"Gimana bisa kita dipaksa harus berada di garis finish yang sama, saat start antara satu orang dengan yang lain benar-benar berbeda?" Flo mempertanyakan hal itu kepada Rendy yang kini masih duduk di sebelahnya. Terduduk di tengah-tengah balai kota sambil mengamati beberapa anak jalanan yang masih sibuk menjajakan dagangan mereka.

"Di jalan panjang dan suram itu, orang-orang kaya masih punya banyak senter untuk stok mereka. Jadi mereka nggak akan pernah menerka segelap apa jalan di depannya nanti. Karena mereka selalu dan selalu punya senter yang bisa dibeli." Kata Flo sambil menghembuskan nafas panjang.

"Kamu nggak perlu repot-repot beli senter untuk jalan panjangmu. Karena aku bakal jadi senter paling terang, lebih terang daripada senter orang kaya itu, dan itu cuma buat kamu." Rendy tersenyum, mengusap pelan kepala Flo yang sampai kini masih saja melihat anak-anak kecil jalanan itu.

chap-preview
Free preview
01 : Kisah Sedih Flo
Gerimis, pagi itu gerimis menyapu jalanan kota Jakarta. Di perpustakaan umum yang sunyi itu seorang cewek sedang duduk sambil membaca satu buku di tangannya dengan satu tangan lagi memegang bolpoin yang tertutup. Namanya Florista Widasena, Mahasiswi semester enam jurusan Manajemen Bisnis di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Biasa dipanggil Flo, Rista, atau Florista jika mereka nggak terlalu dekat dengan cewek itu. "Flo," panggilan itu berhasil membuat Florista menoleh. Dilihatnya teman satu angkatan yang  juga berada di perpustakaan bersamanya menepuk pundaknya. "Hm, lama banget." "Sorry, baru selesai kelas." Cewek dengan hidung bangir itu duduk di sebelah Florista. Namanya Gabriella Alberta, teman dekat Florista semenjak berkuliah. Sebenarnya keduanya sudah kenal sejak SMP, tapi kedekataanya baru bisa dibilang sangat dekat saat menjelang kuliah. Dilihat dari namanya pasti semua orang juga akan tahu kalau Gabriella bukan orang Indonesia tulen. Ibunya orang Indonesia asli, Bandung punya tapi Ayahnya adalah orang berdarah Amerika. Ella, begitu Florista sering memanggil temannya itu. "Ke sini bawa apa?" Tanya Flo. "Pinjem mobil Papa gue, mumpung ada di rumah lagian gerimis juga dari pagi. Lo?" "Nge-grab tadi, mobil di bawa bokap nyokap jenguk abang gue, tapi katanya hari ini mau balik deh." "Ayo deh kalau gitu kalau mau pulang sekarang gue antar." Ella menawarkan untuk pulang bersama. "Tau aja lo, bentar ya gue mau pinjem buku dulu." "Gue tunggu di parkiran ya." Gabriella menepuk pundak Flo, lalu keluar dari perpustakaan menuju tempat parkir. Sedangkan Flo masih memilih buku mana yang akan ia pinjam, lalu akhirnya memutuskan mengambil satu buku bersampul coklat. Flo berjalan ke meja petugas dan mengeluarkan kartu anggotanya untuk meminjam. Setelah menyelesaikan rangkaian proses untuk meminjam yang sebenarnya nggak terlalu belibet itu, Flo akhirnya keluar dari perpustakaan menuju tempat parkir. Matanya dengan teliti mencari keberadaan Gabriela. "Flo, sini!" Teriakan yang nggak terlalu kencang itu memberi Florista signal keberadaan Gabriella. Florista berjalan pelan menuju Gabriella yang masih bersandar di samping mobilnya. "Eh, bentar ada telfon." "Angkat aja dulu." Kata Gabriella. Florista merogoh kantung jaket sebelah kirinya di mana ponselnya terus bergetar. 'Teh Indah' Nama kontak kakak iparnya tertera di layar ponselnya. Gabriella yang kepo ikut melirik siapa orang yang abg menelfon temannya itu. "Halo teh, Assalamualaikum." "....." "Ini mau pulang dari perpustakaan, kenapa?" "....." Gabriella benar-benar nggak tahu apa yang dibicarakan Florista dan kakak iparnya di telfon, tapi dia tahu itu mungkin sesuatu hal yang tidak baik-baik saja, terbukti dari Florista yang dengan tiba-tiba kehilangan keseimbanggannya membuat Gabriella dengan sigap menahan tubuh temannya itu. Dia tidak bertanya, menunggu Florista selesai dengan telfonyya. "Ella," Florista menahan tangisnya. Gabriella lalu mengambil alih ponsel temannya itu sambil masih memegangi tubuh Florista. "Halo, teh Indah ini Ella. Ada apa teh?" Ella mencoba menguasai keadaan yang tiba-tiba menjadi tidak baik-baik saja, apalagi saat samar-samar ia mendengar Florista yang sudah memanggil namanya lagi. "Flo ayo masuk, gue anter ke rumah sakit." Ella mengembalikan ponsel temannya itu dan membukakan pintu untuk Flo, lalu kemudian ia berputar untuk menuju kursi kemudi. Dengan perlahan mobil yang di kendarai Gabriella itu keluar dari pelataran perpustakaan menuju tempat tujuan. "Ayah sama Mama kecelakaan." Saat mendengar kalimat itu dari seberang telfon milik kakak iparnya Flo tiba-tiba melemas, untung Gabriella segera tanggap. *** Sampai rumah sakit mereka tiba di bangsal UGD, Flo berlari secepat mungkin agar dia bisa menemukan kakak iparnya yang telah menunggunya sambil menautkan jemari gelisah. "Flo." Panggilan lembut dari kakak iparnya itu tidak membuat hati Flo menjadi lebih tenang atau air matanya berhenti mengalir. "Teh, " Belum sempat Flo menyelesakan ucapannya—Indah—kakak iparnya sudah merengkuhnya lebih dulu dalam pelukan hangat dan usapan lembut di punggungnya. Flo hanya menangis tapi masih sempat menanyakan keberadaan kedua orang tuanya. Indah dengan pelan menuntun  Flo masuk ke dalam UGD, dimana orang tua Flo terbujur di dalam. Flo berdir kaku, mengamati kakaknya yang masih memegang tangan ibunya. Flo berlari kecil melakukan hal yang sama, memeluk ibuya yang sudah menutup matanya. Tangis Flo tidak bisa terbendung, melihat wajah ibunya yang masih terdapat darah segar mengalir di sekitar dahi menuju pipi. Flo menyentuh pipi ibunya, mengusapnya perlahan sambil menggumam menyuruh ibnya untuk bangun. "Ma..." panggil Flo serak dengan isak tangis yang tidak bisa di bendung. "Ma... Mama bangun." Flo mengguncang pelan tubuh ibunya yang lama kelamaan makin kencang. Fardan—kakak laki-laki Flo—yang sadar akan perbuatan adiknya lalu menahan lengan adiknya untuk menghentikan mengguncang tubuh ibunya yang nggak akan mungkin kembali bangun hanya sekedar menjawab mereka. "Flo, cukup." kata Fardan lalu memeluk adiknya untuk menenangkan. Flo menangis sesenggukan sebeum akhirnya tersadar akan sesuatu. ia mendongak menatap kakaknya sambil melepas rengkuhan hangat itu. "Ayah?" tanya Flo, begitu lirih. Fardan mengalihkan pandangannya, tidak kuasa melihat mata adiknya. "Ayah mana?" Tanya Flo lagi, kali ini tangannya memukul kakaknya. "Ayah mana Bang?" Fardan tidak menjwab, tapi matanya menatap brangkar di sebelah ibunya yang sudah ditutupi selimut. Flo mengikuti arah tatapan kakaknya, mulutnya kembali terbuka tak percaya. ia melagkah menuju brangkar itu dan membuka perlahan selimut yang menghalangi wajah Ayahnya. Flo kembali menangis, menjatuhkan kepalanya d d**a sang Ayah untuk terakhir kalinya. "Ayah Flo belum wisuda, Flo belum sukses." kata Flo sambil terisak. Flo merasakan tpukan pelan di bahunya, dan Gabriella tersenyum untuknya serta menarik Flo untuk memeluknya. "Flo, semua pasti bakal baik-baik aja. Lo kuat Flo." *** Flo menatap kosong rumah terakhir untuk kedua orang tuanya. Para pelayat sudah meninggalkan tempat itu, menyisakan Flo dan beberapa kerabat yang masih berdoa di sana. Rasanya baru kemarin Ayahnya berjanji akan membelikannya laptop baru, karena kebetulan laptop Flo yang merupakan turunan dari kakaknya sudah waktunya untuk di isitirahatkan. Tapi Ayahya berbohong, bahkan mengingkari janji yang dibuatnya sendiri. Ibunya juga bohong, beliau bilang akan menemani Flo membuat resep kue kering untuk lebaran setelah pulang dari Bandung nanti. Tapi apa, Ibunya bahkan tidak menjawab ketika Flo berulang kali memanggil namanya. "Flo, kita pulang yuk!" Usapan halus di bahuya membuat Flo tersadar dari segala lamunan tentang Ayah dan juga ibunya. Gabriella dan Teh Indah sudah memberikan senyum terbaik untuknya dan menyuruhnya untuk berjalan pulang. Flo menggeleng. "Aku mau di sini." kata Flo. Gabriella memandang Indah begitu juga sebaliknya. Lalu Indah memberi kode kepada teman baik adiknya itu untuk pulang terlebih dahulu. Setelah kepergian Gabriella, Indah ikut berjongkok di samping Flo yang masih memandangi makam kedua orang tuanya. "Flo, kalau kamu terlalu berlarut dalam kesedihan juga nggak baik. kasihan Mama sama Ayah." Indah mengusap pelan bahu Flo, mengajak cewek itu untuk berdiri dan meninggalkan rumah terakhir kedua orang tuanya. "Pulang ya, kita kirim doa dari rumah." Kata Indah. Flo menatap kakak iparnya, lalu mengangguk dan berjalan meninggalkan tempat itu dengan kesedihan yang masih mendalam. *** Malam itu Flo masih termangu di kamar kedua orang tuanya, melihat satu demi satu foto yang terpasang di dinding, dan juga melihat-lihat sekitar. Kacamata baca milik Ayahnya yang masih terlipat di atas meja kembali mengingatkan Flo tentang Ayahnya yang sering memeriksa penjualan atau nota dari karyawannya. Flo mengusap air matanya yang ternyata sudah mengalir di pipinya. Ia lalu membayangkan tubuhnya di tempat tidur yang biasa di pakai Ayah dan Ibunya. Malam ini pengajian berlangsung di rumah Flo, masih ada saudara di rumah mereka. Tapi acara masih belum di mulai, nanti setelah isya'  mungkin bapak-bapak sudah berdatangan ke rumahnya. Selesai membantu menggelar karpet di ruang tengah yang sudah lapang itu, teh Indah tiba-tiba menyuruhnya untuk naik ke atas. "Flo ke atas saja, istirahat. Nanti kalau butuh apa-apa baru teteh panggil kamu." Begitu tadi katanya. Flo menurut, terlalu malas untuk membantah. Lagi pula sejak tadi Flo juga lebih banyak diam, mulutnya seperti enggan untuk di ajak bicara. Flo memandang lantai bawah dari atas, sudah ramai beberapa orang sudah duduk bergerombol secara terpisah. Beberapa menit kemudian rumah Flo mulai ramai dengan acara pengajian yang sudah di mulai. Awalnya Flo memutuskan akan tetap berada di atas sampai acara selesai, lagi pula dia mungkin juga nggak ada kerjaan kalau berada di bawah. Flo lalu mengintip dari atas dan mendapati acara yang sudah selesai, tinggal beberapa orang yang masih berada di bawah sana beserta piring berisi kudapan ringan. Flo malah turun dari kamar kedua orang tuanya. Rasanya nggak sopan saja kalau nggak kumpul bersama saudaranya yang lain. Akhirnya dengan setengah hati Flo turun, ke arah dapur. Di sana ada para Tante dan beberapa saudara perempuan lain yang duduk-duduk di dapur, lainnya ada di belakang rumah terbuka karena kenyataanya dapur Flo tidak terlalu luas. "Eh, Ris. Mau teh?" Sampai di dapur Flo mendapata tawaran teh dari sepupunya—anak dari kakak Ayahnya—namanya Revi, Mbak Revi begitu Flo biasa memanggilnya. "Ha, enggak Mbak. Makasih." Florista tersenyum sambil menggeleng saat Revi menyodorkan gelasnya. "Mau kemana?" Tanya Revi lagi saat menyadari Florista akan menjauh. "Ke belakang Mbak nyari angin." Kata Flo. Revi hanya tersenyum menanggapi Flo yang sekarang tengah berjalan menuju belakang rumah sambil menolak tawaran para saudaranya yang menyuruhnya untuk makan. Jujur saja Flo nggak punya nafsu. Flo akhirnya sampai di kebun belakang rumahnya. Kebun kecil-kecilan hasil dari tangan Mamanya rapi cukup untuk membuat mata tenang memandang, apalagi di tambah lampu dan juga kursi kayu yang sengaja diletakkan di sini oleh Ayahnya. Hmm, Flo jadi sedih lagi. Flo duduk di kursi kayu panjang buatan Ayahnya sendiri. Sebelum duduk dia sempat melihat dengan teliti jaket parasut warna hitam yang tergeletak di kursi. Kalau dilihat sih seperti punya cowok, barangkali punya Abangnya. Flo akhirnya menyambar jaket itu dan menutupkan pada kakinya, lumayan pencegahan nyamuk. Memandangi satu-persatu bunga dan juga tanaman obat yang ditanam ibunya di kebun tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara bass di belakangnya. "Mbak?" Flo menoleh bingung mendapati laki-laki berbaju koko pendek warna biru navy yang sekarang berdiri di belakangnya. Pastinya dia kan yang memanggilnya dengan sebutan 'mbak' tadi. Siapa lagi? Nggak mungkin kan kalau penjaga kebun ini, duh bikin Flo jadi ngeri saja. Dengan segera dia mengenyahkan pikiran horornya. "Iya?" "Itu jaket saya?" Mas-mas baju koko yang belum Flo ketahui namanya itu menunjuk jaket kulit hitam di paha Flo. Flo mengalihkan pandangannya drngan kaget laku dengan segera menyerahkan jaket itu. "Maaf, tadi saya kira punya orang lain." Kata Flo. "Hm, Iya." Lalu laki-laki itu berlalu meninggalkan Flo. Flo meringis, malu sekaligus kesal. Malu karena salah mengira barang orang sebagai milik kakaknya, tapi kesal juga melihat reaksi yang sangat minimalis dari laki-laki tadi. "Flo." Suara lain memanggil nama Flo, yang bisa Flo yakini siapa orangnya. "Kenapa di sini, masuk yuk ke dalam. Udah sepi itu." Teh Indah datang mencarinya dan mengajaknya masuk ke dalam. . .

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
61.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook