Hidup yang diinginkan
Gadis dewasa berambut pendek,kulit putih,stailynya sederhana tapi tetap elegan,pekerjaannya seorang Manajar pemasaran disalah satu kantor cabang milik Razeta company yang jaraknya tidak jauh juga dengan kantor pusat. Sudah hampir 3 tahun alika bekerja disana,pekerjaannya sangat propesional dan bertanggung jawab,tidak heran jika dia terus ditawarkan untuk naik pangkat. Namun alika terus menolaknya,dengan alasan nyaman dengan posisinya saat ini. Hari-harinya berubah menjadi suram saat dirinya putus dengan sang kekasih,tak lain sang kekasih mengkhianatinya,padahal alika sudah setia. Banyak para lelaki yang ingin bersamanya tapi iya tolak karena memilih setia,jika dibandingkan mantan kekasihnya itu tidak ada apa-apanya dengan banyaknya pria lain yang menginginkan alika. Dunia memang selalu jadi penengah yang paling terbaik,saat hati mulai ragu ada bukti yang mengatakan kebenaran. Itu adalah Alika Kaswari Dinata,umur 26 Tahun dan seorang wanita yang menyukai kesempurnaan dalam bekerja.
Saat alika ingin melajukan mobilnya untuk pergi kerja,dijalan dia melihat mobil sang kekasih,dia merasa penasaran apa yang akan dilakukannya,sedangkan tadi malam saat alika menelpon ingin bertemu dia menjawab sibuk. Sekarang kekasihnya menepi dipinggir jalan,ternyata dia bersama perempuan seksi,memakai baju seperti kurang bahan. Alika membuntutinya dari belakang,benar saja,mobil kekasihnya itu berhenti disalah satu jalan sepi, menepinya dan adegan dewasa mereka lakukan didalam mobil. Alika yang melihat itu hatinya sangat hancur,kekasihnya benar-benar mengkhianatinya. Alika langsung menancap gas mobil sangat kencang,tidak memperdulikan keselamatannya dan tangispun menyertai. Setelah seminggu kejadian itu,mantan kekasihnya mengabari alika menanyakan kabar mengapa dia tidak menghubunginya selama seminggu ini,alika yang sudah malas dengan ekting mantannya segera memutuskan perihal hubungannya. Dengan tegas lika memutuskan,mantan kekasihnya melihat alika tidak menyangka dan meminta maaf. Setelah alika mengajukan beberpa pertanyaan berat,akhirnya sang mantan menyetujui keinginan alika. Inilah hari-hari alika yang masih terbayang kisahnya,yang sempat iya rasakan dulu dengan perasaan bahagia.
"Mah,aku berangkat." Alika mengambil roti dipiring dan memasukannya kemulut.
"Duduklah sebentar alika,ayah ada disini loh."kata mamah alika.
"Maaf ya yah,mah. Aku sudah telat. Dah,,pah mah."
Lika berjalan keluar.
"Setiap hari seperti itu."keluh ayah lika.
"Nanti juga sadar pah,dia sudah dewasa,umurnya saja sudah 26 tahun."
Alika memang seperti memiliki kepribadian ganda,kenyataan aslinya tidak seperti orang-orang lihat saat ini. Tubuh yang tegas,wajah dan tutur kata yang ramah dan baik itu selalu ada dalam dirinya tidak ada perubahan sama sekalai. padahal saat ini tubuh lika sedang tidak bersemangat menjalani kehidupan,namun lika tahu diri didunia ini tidak ada yang gratis,jadi harus bekerja. Dia keluar mobil memakai kaca mata hitam.
"Pagi,bu." Sapa para OB dan resepsionis.
"Pagi,saya ke ruangan dulu ya."jawab lika senyum.
Semua yang menyapa ikut tersenyum. Lika duduk dibangku kekuasaannya,dimana saat tidak ada orang lika pasti melamun.
"Oy,melamun terus!"
Maya sahabat lika,
"Eh,loh ngagetin saja. Gue gak ngelamun,cuman membayangkan kalau gue terjun kebawah dari sini pasti asik deh." Bicaranya pandangan fokos ke dinding kaca gedung.
"Hus,kalau ngomong. Depresi boleh gila jangan. Ini gue mau nganterin laporan hasil kemarin."
"Thank's."senyum lika ramah.
"Jangan melamun terus,nanti makan siang bareng ya. Gue balik keruangan dulu." Maya menepuk pundak lika.
"Permisi bu,rapat akan segera dimulai."ujar sajah satu sekertaris yang dibuat lika baru-baru ini.
"Ya,ayo kita kesana."
Alika masuk dengan senyum yang berwibawa dan memancarkan aura positif.
"Hari ini kita akan membahas produk baru yang akan kita rencanakan."
Lika mulai menjelaskan beberapa konsep. Devisi lain juga ikut berkontribusi dalam rapat hari ini,mata dan pendengaran lika sibuk memperhatikan dengan detail seperti biasa.
"Okay,rapat hari ini selesai semoga kita diberi kesehatan selalu dan rencana kita terlaksana dengan baik." Ucap lika diakhir pertemuan.
Lika minum air dengan tandas.
"Cape ya bu?"
"Kerja memang harus cape,kalau gak mau cape dirumah saja. Berharap ada pria kaya datang ke rumah." Canda lika pada sekretarisnya.
"Bisa aja ibu."
"Ayo jalan,makan siang sudah tiba." Jawab lika sambil membereskan berkas yang dibawa tadi.
Bintang Alvero Razeta,umur 30 Tahun,dia salah satu CEO perusahaan Razeta Company,yang baru saja pulang dari luar negri seminggu yang lalu. Dia disana mengurus bisnis yang direncang sejak dia masih dengan mantan istrinya. Dia sudah memiliki anak perempuan yang lucu, pintar dan menggemaskan. Umurnya baru menginjak 4 tahun. Dia diurus oleh sang nenek dan kakeknya,kebetulan kakeknya adalah pemegang kekuasaan perusahaan Razeta Company yang sekarang sudah memiliki cabang dibeberapa kota. Istri bintang meninggal tepat aliza umur 1 tahun,dimana saat itu aliza baru bisa berjalan. Dibulan pertama saat istrinya meninggal bintang selalu mengurung dikamar dan wajahnya suram,tapi saat dia sadar bahwa masih ada seseorang yang perlu dia perhatikan dan kasih sayang yang besar. Saat itulah bintang bangkit lagi,sampai sekarang bisnis yang diluar negri lancar walaupun hampir musnah,dan semua saham perusahaan ayahnya akan jatuh ketangan bintang.
Saat ini dia masih fokus terhadap anak dan karirnya,tidak mementingkan calon ibu untuk aliza,walaupun suka terbesit sedikit saat dia melihat anaknya melihat temannya bergandeng tangan bersama ibu mereka masing-masing. Bisnis yang dia jalani diluar negri,dia tidak mengunjunginya setiap bulan,karena dia sudah mempercayakan kepada karyawannya,hanya satu kali dalam satu tahun untuk dia mengunjunginya. Dia cukup mengontrol lewat seluler saja.
Bermanja, bercerita dan senyum ceria itu yang membuat bintang sudah cukup menjalani hidup sangat sempurna,yaitu adanya sang putri, Aliza Nesya Razeta.
"Papah,gak akan pergi lagikan?" Tanya aliza duduk dipangkuan bintang.
"Tidak sayang,maaf ya papah sudah lama ini tidak bersama putri cantik." nadanya halus.
Bintang memang tipikal pria yang halus jika dengan orang yang sudah kenal,tapi jika tidak sikapnya akan dingin. Yang selalu disukai oleh para karyawannya bintang itu sosok pemimpin yang tegas namun adalah santai jika itu menyangkut soal pekerjaan,terpenting pekerjaan rapih dan sesuai waktunya. Manurutnya kesehatan itu jauh lebih utama tapi jika sudah marah semua kena amuknya.
Sekedar informasi bintang itu anak tunggal.
"Jangan tinggalin liza lagi ya!"
"Pasti dong,"
Kakek liza datang duduk disampingnya untuk membicarakan persoalan kantor.
"Cantik,kakek mau bicara sama papah,kamu main nya sama bibi dulu ya."
"Okay,kek." Liza pergi.
"Ada apa yah?"
"Perusahaan cabang mengusulkan agar membuat produk baru,Sesuai dengan riset pemasaran dan ingin membuat cabang hotel. Itu juga baru rencana."
"Lalu?"
"Kamu yang akan meng-handle,sementara kepemimpinan kamu pindah ke cabang dulu,agar produk yang dihasilkan tetap dalam pengawasan,berkualitas dan sesuai target."
"Bagus juga,ternyata cabang disana semakin meningkat yah. Baik kalau begitu abang akan urus."
"Biar ayah yang ada dipusat,kamu kecabang dulu. Untuk memajukan dan meningkatkan perusahaan,semoga perjuangan kita tidak sia-sia nak." ayah adi menepuk pundak bintang.
"Semoga yah." bintang memeluk ayahnya.
Selamat membaca