Kamu Menahanku

1438 Words
Kalau dilihat dari cara Rafka berpakaian, Mia bisa memastikan kalau anak kecil yang ada di depannya saat ini adalah anak dari kelurga kaya raya, konglong merat, mungkin miliarder. Hal unik yang ia temukan dari seorang Rafka adalah tatapannya. Entah kenapa cara dia menatap Mia, seperti seorang peneliti yang baru saja menemukan barang antik, barang langkah yang mungkin harus dilestarikan. Mia bahkan merasa aneh kenapa dia bisa sampai berpikir sejauh itu, sama seperti bagaimana anak kecil itu menatap dirinya, memikirkan dirinya yang entah apa. Kehadiran Rafka membuat Yuanita marah, hingga akhirnya ia pun membentak ank kecil itu seraya bertanya, "Siap kamu? apakah kamu anak dari salah satu pegawai? tidak kah kamu melihat sekarang pukul berapa? kenapa kamu berkeliaran saat kami sedang bekerja?" hardik Yuanita. Tidak disangka, tanpa diduga, anak kecil pemberani itu membuka suara dengan berteriak. "Berisik!' matanya menatap tajam ke arah Yuanita, lalu menunjukkan jari telunjuknya ke arah wanita kurang ajar itu seraya memberikan perintah dengan tegas. "Kamu! Cepat bersihkan lantai ini dengan tanganmu sendiri!" Sangat tegas dengan suara khas anak kecil. Yuanita dibuat terkejut dengan sikap Rafka yang dengan penuh keberanian memberikan perintah kepada dirinya. Seorang anak kecil berusia lima tahun menunjuk-nunjuk Yuanita dengan jari telunjuknya, membuat Yuanita menggelangkan kepala, menatap tidak percaya. "Apa yang kamu katakan?" ucap Yuanita dengan tersenyum sinis. "Berani sekali kamu memerintah saya untuk membersihkan lantai?" "Apakah kamu tidak mengerti?" kata Rafka. Melihat wajah Yuanita begitu menyebalkan. Rafka sama sekali tidak suka, membuat ia semakin geram dibuatnya. "Tidak masalah jika kamu tidak mengerti. Perempuan jelek sepertimu, pasti memiliki IQ di bawah rata-rata, sehingga sulit sekali mencerna kata demi kata yang aku ucapkan dan sepertinya perusahaan ini sudah sial memiliki karyawan sepertimu dan aku akan kembali mempertimbangkan memakai jasa perusahaan ini untuk pesta ulang tahun tuan muda. Yuanita benar-benar tidak habis pikir atas sikap Rafka, anak kecil berusia lima tahun itu terbilang sangat berani dan seluruh tubuh Yuanita gemetar menahan emosi. Sedanhkan yang lain hanya diam, bahkan pengawal yang datang bersamanya pun tambak biasa saja. "Dasar anak kecil kurang ajar, di mana orang tua kamu? apakah mereka tidak mengajarkan sopan santun kepadamu? aku ini orang dewasa, seharusnya anak kecil seperti kamu ini menghormatiku! kamu benar-benar anak tidak kurang ajar. Aku akan memberikan pelajaran untukmu!" Yuanita mengucap makian seraya mengangkat tangannya ke udara hendak menampar Rafka. Mia terkejut, spontan ia menarik tangan Rafka, membawa anak kecil penuh keberanian itu ke dalam pelukannya, seraya memberikan perlindungan. Bukan hanya Mia, dua pengawal yang ada di sana pun dengan gerakan cepat langsung menangkap tangan Yuanita, menjatuhkan tubuhnya ke lantai, seraya mengunci tangan ke belakang punggungnya. Sikap kasar Yuanita mengundang emosi para karyawan yang menyaksikan. "Dasar aneh, masa anak kecil saja dia lawan, lihatlah betapa dia begitu menggemakan, bisa-bisanya Bu Yuanita akan menamprnya," kata salah satu karyawan yang menyaksikan kejadian tersebut. Mendapat perlakuan demikian dari kedua pengawal Rafka, membuat Yuanita semakin marah sekaligus malu, apa lagi kejadian tersebut disaksikan lngsung oleh karyawannya. "Apa yang kalian lakukan? lepaskan saya!" suara Yuanita membentak. Tidak ada ampun. Pengawal Rafka benar-benar mengunci tubuhnya, Yuanita sama sekali tidak bisa bergerak sedikitpun, membuat bibir Rafka membentuk simpul sempurna. "Apa yang terjadi?" tanya seorang wanita bernama Celine, Direktur Vendor Dekorasi yang baru saja datang, setelah mendapatkan kabar dari salah satu karyawannya, yang mengatakan kepada beliau kalau sedang terjadi keributan antara Yuanita dengan salah satu pengguna jasa even organizer. Celine yang mengetahui siapa mereka, langsung meminta maaf mengatasnamakan Yuanita. "Saya minta maaf, Tuan. Maafkan karwayan saya! Dia tidak mengenal kalian. Tolong lepaskan dia!" pinta Celine seraya memohon. Bukan hanya Yuanita. Sejujurnya Celen pun mengetahui identitas asli Rarka saat ia ingin menghampiri Yuanita untuk menolongnya, ia mendapat kabar kalau pangeran kecil dari keluarga Athar telah datang, mereka menunjuk ke arah bawah, di mana kejadian penangkapan Yuanita terjadi. Ketahuilah. Untuk bekerjasama dengan kalurga Athar membutuhkan banyak pemikiran, banyak kerja keras yang harus mereka lakukan. Lalu, kalau sampai semuanya gagal, maka hancurlah Yuanita. "Anda tidak tahu kesalahan wanita ini, Nyonya," tegas pengawal itu. "Memangnya, kesalahan apa yang dilakukan oleh karyawan saya?" tanya Celine dengan dahi mengerut. Pengawal itu mendengus dingin, lalu menjwab, "Karyawan Anda telah berani berkata kasar kepada pangeran muda. Dia dengan lantang mengatakan kalau Pangeran muda sebagai anak yang tidak berpendidikan, anak kurang ajar." Semua orang terkejut ketika mereka mendengar kata-kata itu. Mengetahui kalau anak kecil bernama Rafka adalah pangeran kecil dari keluarga besar Athar. Anak yang akan menyelenggarakan pesta besar-besaran demi ulang yang ke lima dengan sangat meriah Yuanita tercengang. Wajah marahnya berubah menjadi pucat ketakutan. "Bagaiman kalau dia memutus kerjasamanya?" batin Yuanita. Kalau sampai kerjasama itu dibatalkan, maka tidak ada alasan bagi perusahaan untuk tetap mempertahankan Yuanita sebagai karyawannya. Banyak hal mengejutkan terjadi, Celine harus bisa membereskan masalah ini sebelum kasusnya sampai kepada keluarga besar Athar. Wajah Celine menjadi pucat, dengan gemetar Celine berkata, "Saya benar-benar minta maaf! Saya juga akan meminta manager Yuanita meminta maaf kepada pangeran kecil." Setelah bicara dengan pengawal Rafka, Celine memelototi Yuanita seraya memberikan perintah. "Manager Yuanita! Jangan diam saja, cepat minta maaf kepada Pangeran Muda!" Yuanita merasa malu, tetapi harus bagaimana lagi, ia tetap harus menunduk hormat di hadapan Rafka, dengan cepat ia meminta maaf, "Maafkan saya, Pangeran Muda. Saya tidak tahu kalau Anda adalah Pangeran Muda dari kelurga Athar. Saya harap Anda bisa memakluminya. Sepertinya Rafka belum mendengar apa yang diucapkan oleh Yuanita. Dia yang saat ini berada dalam pelukan Mia, tidak berhenti menatap wajah cantiknya. Matanya yang bersinar, hidungnya yang mancung, tubuhnya yang kecil, bibirnya yang merah sedikit mengerucut, dua pasang tangan pendek itu memeluk lehernya, tatapannya penuh kasih sayang, seolah-olah tidak berniat melepaskan. Belum lagi si kecil ini lembut dan berperilaku baik, dan dia memiliki perasaan keintiman yang belum pernah dia miliki sebelumnya, jadi dia tidak ingin melepaskannya. Melihat Rafka terlambat untuk merespon, Yuanita menjadi semakin bingung, dan tidak bisa menahan diri untuk berbicara lagi, "Pangeran kecil!" Dengan cepat akhirnya Rafka memberikan respon dan menatap wajah Yuanita dengan tatapan dingin. "Jangan meminta maaf kepadaku, Tante. Minta maaflah kepada Tante cantik ini!" Yuanita terdiam saat ia diperintahkan meminta maaf kepada Mia. Dalam hati ia berkata, "Aku, meminta maaf kepada bawahanku? jangan mimpi!" Melihat respon Yuanita yang lambat, Rafka pun kembali bicara, "Kenapa diam? Kamu tidak ingin meminta maaf kepada Tante cantik ini?" Yuanita bergeming. "Tidak apa-apa jika kamu tidak ingin melakukannya, aku akan meminta ayah untuk mempertimbangkan kembali kerja sama kalian." Rafka dengan santai menginstruksikan pengawal di sebelahnya, "Ayo pergi!" Pengawal itu menerima perintah Pangeran muda, ia segera melepaskan Yuanita, lalu menghampiri Rafka hendak pergi. Tidak bisa tinggal diam. Celine sedang mengejarnya, menahan untuk tidak pergi. "Pangeran muda jangan khawatir, manager Yuanita sangat bersedia untuk meminta maaf." Kemudian dia memandang Manager Yunita seraya memberikan perintah. "Manajer Yuanita, kerja sama dengan keluarga besar Athar dalah impian seluruh perusahaan. Semua orang di atas dan di bawah telah bekerja keras untuk menang, jika Anda ingin mengacau, maka silakan berkemas dan segera pergi, perusahaan kami tidak akan menahan Anda!" Ketika Yuanita mendengar kata-kata itu, wajahnya menjadi pucat. Pangeran kecil ini bertekad untuk mencari keadilan bagi Mia Carisa yang sudah diperlakukan semena-mena oleh manager Yuanita. "Jika aku tidak meminta maaf, aku khawatir Lucia benar-benar akan memecatku," batin Yuanita. Hingga akhirnya penuh keengganan, dia mengertakkan gigi dan berkata, "Oke, saya minta maaf. Sungguh saya menyesal." "Tidak tulus!" ujar Rafka. Menatap tidak suka. Manager Yuanita menarik napas dalam-dalam, menanggung semua penghinaan, membungkuk ke arah Mia dan berkata, "Maaf, saya benar-benar minta maaf karena memperlakukan Anda seperti itu. Sekarang, tolong maafkan saya!" Mendengar suaranya yang rendah, Rafka sedikit sarkastik selain bahagia. Manager Yuanita selalu memandang rendah orang dan memperlakukan semua karyawan senaknya. Ternyata, tidak ada yang menyangka akan ada hari ketika Manager Yuanita menundukkan kepala kepada orang-orang. Lebih tepatnya kepada Mia Carisa Melihat bahwa Yuanita akhirnya berkompromi, Celine buru-buru menghampiri Rafka untuk memuluskan semuanya dan berkata, "Pangeran muda, saya juga minta maaf atas kejadian hari ini. Bagaimana denga kerja sama antara kedua perusahaan kita?" "Lantainya belum dibersihkan.” Rafka terlalu enggan untuk memaafkan. "Saya akan segera membersihkannya," selah Yuanita. Setelah berbicara, Yuanita segera keluar untuk mengambil peralatan pembersih, dan menyeka noda air di lantai dengan kain di depan semua orang. Semua orang melihatnya tanpa simpati. Semua orang dapat melihat seperti apa biasanya sikap Yuanita terhadap Mia, tetapi hari ini berbeda. Keadaan justru sebaliknya. Setelah Yuanita selesai menyeka lantai, Rafka akhirnya merasa puas. "Aku tidak peduli dengan kejadian hari ini. Tapi aku punya satu permintaan terakhir. Manager Yuanita tidak diizinkan untuk berpartisipasi dalam pesta ulang tahunku." Celine setuju. "Tidak masalah, tidak masalah." "Baiklah. Kalau begitu aku pergi." Rafka menoleh dan menatap wajah Mia, yang tidak berhenti mengagumi sikap bijak serta tegas anak usia lima tahun. Mina mengerti dan dengan cepat menurunkannya. Tanpa diduga, Rafka menggenggam tangannya dengan erat, menolak untuk diturunkan dan memerintahkannya dengan lembut. "Pegang aku."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD