Lima tahun kemudian.
Vendor Dekorasi adalah jasa Even Organizer yang terbilang biasa saja, berlokasikan di kota Jakarta, saat ini keadaan di sana tengah ramai, terdengar riuh bersumber dari sekumpulan orang sedang mendiskusikan sesuatu hal yang cukup menggembirakan, tatkala pangeran kecil dari keluarga Athar akan segera merayakan ulang tahunnya yang kelima.
Ayah dan istri dari keluarga besar Athar, terkenal sangat menyayangi cucu mereka yang berharga. Mereka memeras otak setiap tahun untuk menemukan perusahaan jasa event organizer terbaik untuk mengadakan pesta ulang tahun cucu tercintanya
Banyak perusahaan jasa event organizer berebut ingin terlibat dalam pesta ulang tahun yang selalu mereka gelar dengan mewah. Bahkan satu bulan sebelum pesta berlangsung, para perusahaan event organizer banyak mendatangi kantor untuk memberikan proposal.
Perusahaan jasa event organizer Vendor Dekor ikut menyerahkan proposal di tengah-tengah perusahaan ternama. Awalnya perusahan tersebut pesimis, hingga akhirnya keajaiban datang saat perusahaan Vendor Dekor lah yang mendapatkan tendernya.
"Aneh sih memang. Dulu perusahaan MZ Corporation selalu memilih perusahan terkenal untuk bekerjasama dengannya. Tapi, kenapa tahun ini mereka memilih Vendor Dekor?" tanya salah seorang karyawan yang saat ini tengah berkumpul membicarakan keanehan tersebut.
"Sepertinya sih karena tuan besar keluarga Athar yang meminta cucunya sendiri yang memilih secara pribadi dan saya tidak tahu bagaimana cucunya yang masih berusia lima tahun itu bisa memilih perusahaan kita," sahut temannya yang lain, yang juga berada di sana ikut berdiskusi.
"Ini berita yang sangat bagus bukan? Banyak perusahaan yang bermimpi untuk dapat bekerja sama dengan Keluarga Athar. Jika perusahaan kita bisa melakukan yang terbaik untuk mereka, maka kita akan mendapatkan bonus yang sangat besar. Seperti yang dialami perusahan-perusahaan sebelumnya."
"Kalian tau? pangeran kecil itu menerima sebuah kapal pesiar mewah sebagai hadiah pada ulang tahunnya yang pertama. Pada usia dua tahun, sebuah jet pribadi. Usia tiga tahun, sebuah apartemen mewah. Usia empat tahun, 2% saham MZ Corporation diberikan kepadanya, lalu sekarang hadiah apa lagi yang harganya miliaran rupiah yang akan mereka berikan kepada anak kecil itu? gila kan?"
"Berhenti membicarakan kemewahan mereka! membuat aku merasa iri saja."
"Benar itu, semakin kita membicarakan kemewahan mereka, kita akan semakin gila dibuatnya. Yang harus kita lakukan saat ini adalah memberikan pelayanan terbaik untuk kelurga Athar, agar perusahan kita ikut terangkat."
"Benar itu," sahut teman yang lainnya. Membicarakan perusahaan milik keluarga Athar tidak ada habisnya, selalu saja ada yang dibahas.
Mendengar diskusi mereka, Mia beranggapan kalau saat ini perusahaan tempat ia bekerja sedang mendapat rejeki nomplok. Mia berpikir bagaimana orang-orang seperti mereka bisa menjalin hubungan dengan keluarga kaya seperti keluarga Athar? Bahkan untuk bermimpi saja tidak mungkin.
"Anak kecil itu tumbuh dari keluarga kaya raya. Sangat beruntung. Tidak seperti aku, yang memiliki masa lalu kelam, aku bahkan diusir oleh ayahku sendiri. Uang yang aku terima saat itu bahkan tidak bisa membuat ibuku sembuh. Andai saja aku tidak menukar putraku dengan sejumlah uang, mungkin saat ini kita sudah hidup bahagia dan usianya sama persis seperti usia pangeran kecil yang akan berulang tahun yang ke lima," batin Mia terus memikirkan putranya.
Seketika air mata kesedihan mengalir begitu saja.
Menyesal? sudah pasti Mia merasakan sebuah penyesalan. Bahkan rasa sakitnya masih terasa sampai sekarang. Bukan sakit bekas sayatan operasi, melainkan sakit hati karena sebuah penyesalan sedangkan waktu tidak bisa diulang kembali untuk ia memperbaiki semuanya.
Mia yang saat ini tengah berdiri di depan mesin fotocopy, menarik napasnya dalam, seraya memikirkan nasib buah hatinya sekarang. Apakah ia baik-baik saja, atau sebaliknya?
Larut dalam lamunan, tiba-tiba terdengar teriakan keras dari luar manggil namnya dengan lantang. "Mia! saya meminta kamu untuk menyalin sebuah dokumen, kenapa lama sekali? kalau begini cara kerja kamu, bagaimana bagaimana kamu bisa diterima?" Hardiknya kesal.
Wanita yang sedang marah-marah itu adalah Yuanita putri. Menjabat sebagai Manager perencanaan.
Mia Carina baru saja lulus tahun ini. Ia mendapat kesempatan magang dua bulan lalu di perusahaan tersebut. Tepat di hari ia melamar kerja, kebetulan adik dari Yuanita pun sedang melamar. Pasalnya Yuanita mendapatkan kuota untuk adiknya agar diterima. Namun, nasib baik sedang berpihak kepada Mia, sehingga Mia lah yang mendapatkan pekerjaan tersebut.
Sejak kejadian saat itu, Yuanita sangat tidak menyukai Mia. Ia sering memperlakukan Mia semena-mena, bersikap kasar, bahkan menghinanya. "Kalau saja di bukan seorang Manager, sudah pasti aku lawan," batin Mia sangat geram.
Demi kedamaian, Mia menyembunyikan rasa amarahnya, ia tetap bersikap biasa saja dengan mengerjakan semua yang ditugaskan. Setelah selesai menyalin semua dokumen, Mia berjalan menghampiri Yuanita, lalu menyerahkan berkas-berkasnya seraya berkata, "Itu sudah berhasil dicetak."
Tanpa diduga, belum sempat ia menyerahkan dokumen, Yuanita sengaja menjatuhkan gelas berisi kopi yang sedang ia pegang ke lantai, lalu berkata penuh amarah. "Apakah kamu tidak punya mata? Kamu bahkan tidak melihat aku sedang memegang cangkir kopi!"
Mia mengerutkan keningnya aneh, seraya berkata, 'Bagaimana gelas itu bisa jatuh? aku bahkan tidak menyentuhnya."
Pembelaan diri Mia membuat Yuanita marah. Wajah cantiknya berubah sangar. "Kamu melawan?" hardik Yuanita. "Jangan pernah melawan aku kalau kamu masih tetap ingin bekerja! Kalau kamu tidak terima, silahkan kamu pergi, karena masih banyak orang yang mau bekerja di sini."
Mia merasa geram. Ia menggertakkan giginya, berusaha tetap sabar demi sang ibu yang masih sakit. "Kalau saja aku tidak membutuhkan banyak uang untuk pengobatan, aku lebih baik bekerja di tempat lain dari pada harus selalu diperlakukan seperti ini," batin Mia.
Sikap Yuanita terlalu berlebihan. Banyak orang yang membenci, karen sikap tempramennya sebagai Manager. Berbeda dengan Mia, walaupun Mia tidak memilki jabatan, dia yang cantik luar maupun dalam, membuat semua orang sangat menyukai dirinya.
Yuanita menetap ke lantai, seraya memberikan perintah degan kasar. "Kenapa kamu hanya diam saja? cepat bersihkan!"
Mia kesal, sambil mengepalkan tangan, ia berjalan hendak mengambil alat kebersihan.
"Tunggu!"
Pada saat ini, suara lembut dan imut terdengar di luar pintu.
Mendengar teriakan anak kecil yang masih imut, mereka menoleh ke arah sumber suara, mendapari seorang anak kecil berdiri di sana dengan tegaknya.
Anak kecil itu memiliki nama lengkap Rafka Rafardhan Athar. Ia nampak imut dengan jenis pakaian yang sedang dikenakan. Anak kecil yang begitu lucu, berjalan dengan dingin dari pintu dengan kaki pendeknya.
Dia memiliki fitur wajah yang sangat halus, kulit putih, pipinya kemerah-merahkan dan mata besar indah yang ia miliki, seperti permata hitam. Sudut matanya sedikit terangkat menunjukkan kalau dia lah seorang penguasa.
Bukan hanya itu, di belakang si kecil ada deretan pengawal, semuanya nampak serius, gagah, tinggi besar, juga stelan jas yang mereka kenakan serba hitam, menambah kadar ketampanan mereka mendekati kata sempurna.
Semua orang tertarik dengan kehadiran Rafka di sana dan mereka semua bertanya-tanya. "Siapa anak kecil ini?" Sangat lembut dan imut, membuat siap pun yang melihat akan langsung tertarik.
Rafka tidak melihat ke samping kanan dan kiri. Dia langsung berjalan menghampiri Mia, lalu mendongakkan kepalanya ke atas. Setelahnya Rafka menatap dingin ke arah Yuanita, tatapannya penuh ketegasan yang tidak terlukiskan, juga sorot matanya yang tajam menunjukkan betapa Rafka tidak menyukai Yuanita.
Tatapan itu sangat jauh berbeda ketika Rafka menatap wajah Mia. Penasaran, sorot matanya seperti sedang meneliti.