Bab 3
Status Pernikahan
Angkasa masih menunggui istrinya di ruang perawatan rumah sakit yang sama tempat Bari dirawat. Kondisi anaknya sudah melewati masa kritis, tetapi belum bisa dibilang pulih sebenarnya. Lalu bagaimana dengan Rumi? Ya, gadis itu seharusnya jadi menantunya, kini malah sudah resmi menjadi istrinya secara agama.
Wanita itu pingsan karena terlalu kaget dengan kabar bahwa Bari sudah kembali bernapas dengan wajar, padahal ia sudah menjadi istri dari ayah pacarnya. Rumit dan memusingkan.
Angkasa berulang kali memijat kepalanya yang terasa berat. Mungkin jika Bari meninggal, akan menjadi lain soal, tetapi anaknya masih Tuhan beri umur yang panjang dan diberi napas kembali untuk meneruskan hidupnya. Apa yang harus ia lakukan pada Rumi? Apa langsung menceraikannya saja atau menunggu sampai Bari benar-benar pulih, baru ia menceraikan Rumi? Pernikahan bukanlah untuk ajang coba-coba. Begitu juga dengan kalimat talak. Jika hari ini di mata Tuhan sudah mengucap ijab qabul, maka kalian berdua sudah mempunyai tanggung jawab sebagaimana suami istri yang seharusnya.
Pesan yang diberikan ustadz yang menikahkan dirinya dengan Rumi selalu saja berputar di kepalanya. Tidak mungkin ia bisa mempermainkan agama apalagi pernikahan. Walaupun dia bukan lelaki baik, tapi sangat pantangan bagi Angkasa untuk mempermainkan wanita.
Lalu bagaimana juga dengan Lana? Wanita yang sudah seharusnya menjadi ibu sambung bagi Bari, tetapi kini malah terpaksa ia permainkan perasaannya. Apa yang harus ia katakan pada wanita itu?
“Pa,” suara lemah dari tempat tidur pasien membuat Angkasa yang tengah tepejam, kini membuka matanya. Lelaki empat puluh lima tahun itu langsung bangun dari duduk, lalu berjalan mendekat pada Rumi.
“Apa kamu haus?” tanya Angkasa. Wanita muda itu mengangguk lemah.
Dengan gerakan hati-hati, Angkasa mengambil gelas yang sudah terisi air, lalu dengan menggunakan sedotan, ia memberi air minum itu untuk Rumi. Gelas kembali ditaruh Angkasa di atas meja, lalu ia kembali menatap Rumi.
“Pa, bagaimana Mas Bari?” tanya Rumi dengan suara serak.
“Sudah lebih baik, tapi masih lemah dan belum bisa diajak bicara,” jawab Angkasa.
“Lalu, bagaimana juga dengan kita? Papa dan saya—”
“Kepala saya sedang berat sekali memikirkan semua ini. Kita bicara nanti saja ya? Kamu tidur saja lagi. Saya sudah minta kakakmu datang untuk membawakan pakaian dan juga menemani kamu di sini.”
“Pa, tapi saya tidak apa-apa,” kata Rumi dengan sedikit penekanan.
“Tekanan darahmu sangat rendah. Kamu harus istirahat. Paling tidak, malam ini istirahat saja di rumah sakit,” balas Angkasa yang tidak ingin semakin pusing karena memiliki dua orang pasien,”Apa kamu mau makan?” tanya Angkasa mengalihkan perhatian yang ada di kepalanya.
“Tidak. Saya ingin tidur saja,” jawab Rumi sudah kembali memejamkan mata dengan air bening meluncur dari kedua mata yang ia pejamkan.
Angkasa pun kembali duduk di sofa. Ia akan menunggui Rumi sebentar sambil menanti Tiara datang.
Ceklek
Suara pintu dibuka dan Angkasa melihat Tiara masuk dengan membawa ransel. Wanita seusia Bari itu pun tersenyum tipis sambil sedikit mengangguk.
“Bagaimana kabarnya Rumi, Pak? Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Tiara penasaran.
“Saya sudah menikahi Rumi dan—”
“Apa? Bagaimana bisa? Kenapa dadakan sekali? Kenapa saya tidak diberitahu?” cecar Tiara seakan tidak terima.
Angkasa pun akhirnya menjelaskan cerita yang sebenarnya terjadi padanya dan Rumi beberapa jam lalu di ruang ICU. Tiara mendengar dengan seksama dengan mulut setengah terbuka. Ia pun sangat kaget dengan penuturan Angkasa dan hanya bisa menghela napas berat sambil menoleh pada brangkar Rumi.
“Jadi, setelah Bapak dan Rumi menikah, Bari bisa melewati masa kritisnya? Terus, bagaimana dengan status Bapak dan adik saya? Jangan jadikan pernikahan sebagai ajang permainan, Pak. Saya mohon.” Angkasa menggelengkan kepala sambil mengangkat bahunya dengan lemah. Pria dewasa itu sendiri bingung dengan kelanjutan pernikahannya dengan Rumi, apabila Bari sembuh dan sehat seperti sedia kala.
“Pak, jangan bilang Bapak akan menceraikan adik saya begitu Bari sembuh? Ingat, Bapak sudah mengucap ikrar dengan nama Tuhan. Jadi, saya mohon jangan dipermainkan.” Tiara menatap tajam wajah lelaki di depannya yang kini tengah menunduk lesu.