Chapter 4

499 Words
Bab 4 Menghadapi Lana dan Orang tuanya Keesokan harinya, Angkasa tengah mengendarai mobilnya menuju ke rumah Lana—calon istrinya—yang akan dia nikahi setelah satu bulan pernikahan Bari dan Rumi. Namun, sebagai lelaki dewasa yang bertanggung jawab, tentu ia akan mengatakan yang sebenarnya pada Lana dan juga orang tuanya, perihal pernikahannya yang terpaksa dengan Rumi. Wanita cantik berusia tiga puluh dua tahun itu sudah berdiri di depan pagar rumah untuk menyambut sang calon suami. Memang Angkasa mengirimkan pesan pada Lana, bahwa ia sedang dalam perjalanan menuju rumah wanita itu. Begitu mobil Angkasa berhenti di depan rumah, Lana memberikan senyum terbaikya, lalu menggeser pagar, membukanya dengan sangat lebar. Angkasa menurunkan spionnya. “Halo, Sayang. Aku rindu sekali,” sapa Lana dengan senyuman hangat. Hati Angkasa pun semakin gusar. Ia tersenyum canggung, lalu mematikan mesin mobil. “Abang dari rumah sakit? Bagaimana kabar Bari? Lana dengar dari Lalita,Bari kritis ya, Bang?” seperti biasanya, Lana menggandeng tangan kekasih hatinya jika mereka baru saja berjumpa seperti ini. Satu ciuman mendarat di kening Lana, biasanya. Namun pagi ini tidak dan wanita itu pun merasa sedikit ada yang berbeda dengan calon suaminya. “Abang kenapa? Sakit? Ayo duduk dulu, biar Lana buatkan air jahe untuk Abang,” ujar Lana yang mempesilakan Angkasa untuk duduk di ruang tamu, lalu wanita itu bergegas berjalan ke dapur. “Wah, ada calon mantu rupanya. Sehat kamu, Sa?” sapa ramah Pak Haris, ayah dari Lana. “Sehat, Pa,” jawab Angkasa sambil mencium punggung tangan Pak Haris. Angkasa kembali duduk dan tersenyum tipis pada lelaki paruh baya di depannya. “Ada apa ini? Tumben pagi-pagi sudah kemari. Apa Bari sudah pulih?” tanya Pak Haris. “Pa, ini … em … kemarin itu Bari kritis, Pa. Dia meminta sesuatu yang amat konyol pada saya.” Angkasa menjeda kalimatnya, lalu menarik napas panjang dan mengumpulkan kembali keberaniannya untuk berkata yang sejujurnya. “Permintaan apa?” tanya Pak Haris nampak tak sabar. Angkasa yang begitu gugup, mengambil tisu di atas meja untuk mengeringkan keringat sebesar biji jagung yang sudah membanjiri kening dan juga lehernya. Ia merasa berada di padang pasir pukul dua belas siang, padahal ini baru pukul delapan pagi. “Bari meminta saya untuk menikahi Rumi dan saya mengabulkan itu. Kemarin saya dan Rumi sudah menikah.” “Apa? Coba ulangi, Bang!” titah Lana dengan tangan yang gemetar menaruh nampan di atas meja. Pak Haris pun tergugu sesaat. Ia berharap ini hanya halusinasi. “Lana, ya ampun, Sayang ... Saya terpaksa melakukannya. Ini semua karena Bari begitu memohon pada saya. Saya tidak punya pilihan lain se—” Byur! “Bajin*an kamu, Bang! Kamu mempermainkan aku dan keluargaku. Katakan ini semua tidak benar, katakan!” Lana berteriak histeris sambil meremas rambutnya dengan kasar. Angkasa mendekat dengan wajah dan baju yang basah karena dilempar teh jahe hangat oleh Lana. Untung saja bukan air mendidih, jika tidak, dapat dipastikan wajahnya akan melepuh. “Lana, maafkan Abang. Pa, maafin, Pa. Saya benar-benar ada pada pilihan yang sulit. Lana kamu tahu aku mencintaimu, kan? Semua ini aku lakukan karena terpaksa,” ujar Angkasa dengan suara serak. Lelaki itu pun tengah sekuat tenaga menahan air mata agar tidak tumpah. Sumpah demi apa pun Angkasa mencintai Lana dan ingin menikahinya, tapi takdir membawanya harus menikahi Rumi. Haruskan ia protes pada Tuhan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD