Chapter 20.

1219 Words

Sudah hampir tiga puluh lima menit Teguh melajukan mobilnya di tengah jalan raya mencari klinik yang buka praktik. Namun setelah hampir setengah jam berlalu mereka tak menemukan apapun. Semuanya tutup. "Pak, mending kita pulang ke rumah saja, aku tidak apa-apa kok." Suara Namira memecah keheningan yang ada di dalam mobil. Setelah beberapa saat lalu mereka saling diam. "Tapi kamu lukanya banyak begitu, Ra. Biar lukanya cepat kering, kamu harus berobat." sahut Teguh. Sesekali Pria muda itu menoleh ke belakang. Lalu kembali pada konsentrasinya menyetir. "Ini cuma luka kecil sih, Pak. Besok juga sembuh." ucap Namira enteng. Teguh menggeleng pelan. "Luka banyak begitu kamu bilang sedikit," Namira mengembuskan napas dalam-dalam. Sebenarnya bukan karena luka, tapi Namira takut jantung

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD