Narendra Triadiaksa
"Cepat lakukan sesuatu, Narendra tahu kalau Andra bukan putranya!" ucap Naira istri Narendra dari ponselnya. Wanita yang sedang berjalan kesana kemari tersebut tampak panik di sana.
"Tenanglah Sayang, aku sudah mengurusnya, kamu hanya perlu melakukan bagianmu." Naira mendesah kesal.
"Bagaimana aku bisa tenang, dia akan mengubah ahli warisnya setelah mengetahui hal ini, aku tidak mau tahu, cepat bereskan semuanya atau rencana sepuluh tahun kita akan sia-sia saja." pria di ujung telepon mendesah lelah.
"Baiklah sayang, siapkan saja pemakaman untuknya, dia akan kembali sebagai mayat bukan sebagai Narendra Triadiaksa." Naira tersenyum mengepalkan tangannya puas.
"Kabari setiap pergerakan mu."
"Baiklah Sayang, aku akan melihat sendiri dan pastikan dia tidak akan lolos dari kecelakaan ini." Naira langsung memutus panggilannya tersenyum puas.
Mobil Narendra melaju kencang menuju kediamannya. Pria berusia empat puluh enam tahun itu masih terlihat berkharisma. Meski usianya menginjak kepala empat, Narendra tampak seperti pria yang lebih muda dari usianya. Garis wajah tegas, hidung mancung, serta mata yang indah. Alis tebal dan rambut yang selalu terlihat rapi, memiliki postur tubuh 187cm membuatnya terlihat bak aktor terkenal. Tangannya sibuk menggores pinsil diatas Ipad-nya. Mereka baru saja kembali dari penerbangan luar kota. Narendra langsung menuju kediamannya bersama supir pribadinya. Tapi ia tidak mengetahui jika mobil yang ia kendarai telah di sabotase karena rem mobil telah loss akibat ulah seseorang. Narendra menatap jalanan sesaat ketika tampak hujan gerimis mulai turun.
"Kamu sudah menghubungi Pak Gusti?" supir Narendra melirik tuannya dan mengangguk.
"Sudah Pak, Pak Gusti menunggu di kediaman Bapak." Narendra mengangguk lalu membuka ponselnya. Ia menatap foto anak laki-laki berusia sembilan tahun. Narendra mengusap foto itu dan menghela napasnya kasar. Ia baru mengetahui jika putranya bukanlah putra kandungnya saat ini. Ternyata istrinya berkhianat. Narendra meremas ponsel di tangannya merasa tertipu dengan sikap manis Naira selama ini. Masih dalam hayalannya tiba-tiba mobil bergoyang membuat Naren menatap Rian supir pribadinya.
"Ada apa?" Rian terlihat panik saat mobil melaju kencang.
"Pak." Naren mendekati Rian menatapnya penasaran.
"Ada apa?"
"Pak, mobilnya tidak bisa berhenti!" gerimis semakin lebat membuat pandangan dari kaca mobil semakin kabur.
"Apa yang kamu katakan, Rian!" Rian mencoba menurunkan gasnya tapi tetap tidak bisa dan mobil terus melaju kencang.
"Pak, remnya tidak berfungsi!" Narendra mematung bingung karena mobil terus melaju kencang.
"Kenapa bisa seperti ini?" Rian menggeleng cepat.
"Saya tidak tahu, Pak. Saya hanya menggunakan mobil yang khusus di datangkan yang lainnya saat di bandara. Saya belum sempat mengeceknya." Narendra mengusap wajahnya gusar menatap sekeliling jalanan.
"Arahkan ke jalanan yang sepi, setelah itu kita loncat bersama!" Rian berusaha mengganti jalur jalannya membuat pria yang berada di belakang mereka tersenyum licik.
"Lakukan sekarang!" truk kontainer besar melaju melewati mobil pelaku dan mengejar mobil Narendra yang ada di depan. Pria itu tersenyum puas rencananya akan berjalan mulus. Ia menatap dari kejauhan truk kontainer tersebut mendorong mobil Naren hingga mereka membanting setir dan berguling-guling di jalanan.
"Dorong mobilnya hingga masuk ke jurang!" ucap pria itu lagi dari teleponnya bersama supir truk tersebut. Dari kejauhan pria itu menghentikan mobilnya tersenyum melihat mobil Narendra berguling cepat hingga tak berbentuk lagi. Sebuah mobil melewati mobil pelaku membuatnya terkejut dan menatap kearah TKP.
"Cepat tinggalkan TKP!" Ucap pria itu lagi saat melihat sebuah mobil lain berjalan kearah yang sama. Pria itu menjalankan mobilnya mendekati Narendra. Truk kontainer itu tampak jauh meninggalkan jalanan saat mobil orang dan pria tersebut tiba disana. Orang-orang itu turun dari mobil tersebut dan berlari mendekati mobil Narendra. pria itu ikut keluar dari mobilnya menggunakan jas mantel mendekati orang-orang yang tampak panik melihat korban di dalam mobil.
"Maaf, bagaimana keadaannya?" tanya pelaku pada seorang wanita yang terlihat sibuk menghubungi ambulans.
"Sepertinya mereka masih hidup!" pria itu tertegun, mengepalkan tangannya dan berlari mendekati memastikan bagaimana keadaan Narendra.
"Mas, jangan terlalu dekat, mobilnya bisa saja meledak sewaktu-waktu!" ucap seorang pria yang mungkin suami dari wanita tadi. Pria itu hanya mengangguk tersenyum. Ia mendekati mobil Narendra menggunakan maskernya. Ia memutar arah menuju bagian belakang dimana Narendra duduk. Narendra terkapar berdarah tampak parah karena darah ada dimana-mana. pelaku mendekati Narendra memegang lehernya memastikan apakah Naren masih hidup atau mati. Pria itu membelalak terkejut karena denyutnya masih ada. Ia menatap sekelilingnya masih sepi dan hanya mobil orang tadi yang menunggu disana. Pelaku berlari mencari batu besar untuk senjata. Ia menemukannya dan membawanya dalam genggaman. Saat pelaku mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Naren tampak terbatuk bergerak berusaha keluar dari mobil. Saat itulah pelaku langsung memukul keras kepala Narendra dengan batu di tangannya. Narendra menahan pukulan kedua dengan menarik jas mantel pelaku. Pria itu menarik dengan kasar dan kembali memukul kepala Narendra.
"A-ap a, y-yang, ka u...." Narendra terkapar tidak sadarkan diri dengan darah mengalir deras di kepalanya. Pria itu langsung mengantongi batunya dan berjalan meninggalkan mobil tersebut.
"Bagaimana keadaannya?" tanya pria yang berhenti di sana bersama istrinya.
"Sepertinya tidak tertolong." teriak pelaku cukup keras karena hujan semakin deras. Ia menjauhi orang-orang tersebut. Pelaku langsung menjalankan mobilnya meninggalkan tempat tersebut. Pria itu mengambil tisu mengelap sisa-sisa darah yang mengenai setiap bagian mantelnya. Mobil ambulance melewatinya membuat pelaku tersenyum puas karena setidaknya Naren akan kehabisan darah sebelum sampai di rumah sakit.
*
Laura menggerakkan kepalanya ke kanan dan kekiri merasa mengantuk karena jam kerja malam tanpa pasien. Ia sedang mendapat sift di bagian UGD malam ini. Laura berjalan menyiapkan ruang UGD karena ambulans akan membawa dua orang pasien kecelakaan tunggal.
"Dokter sudah datang?" Laura menoleh menatap Nara yang baru saja membawa cairan infus ke dalam ruang UGD.
"Sebentar lagi, pasien parah?" Nara mengangguk sedih.
"Aku dengar dari Rendi sangat-sangat parah." Laura membayangkan dengan ngeri. Rendi perawat pria yang menjemput dengan ambulans.
"Semoga bisa selamat ya." Nara mengangguk cepat. Terdengar orang berlarian dari luar UGD membuat mereka ikut melihatnya.
"Ada apa?" tanya Nara pada perawat lainnya yang terlihat sibuk.
"Dokter suruh siapkan ruang operasi secepatnya, pasien dalam keadaan kritis di perjalanan." Laura dan Nara saling menatap satu sama lain. Keduanya langsung bergerak menuju ruang operasi menyiapkan semua alat-alat operasi. Bunyi ambulans terdengar setelah mereka bersiap. Para perawat langsung mendorong pasien masuk ke dalam UGD dan langsung masuk ke dalam ruang operasi. Semua tampak terkejut karena bagian kepala pasien luka parah.
"Siapkan semuanya, denyut nadinya lemah." Laura langsung bergegas, mengecek darah dan infus yang mengalir. Mereka bersiap membersihkan kepala pasien dan mencari dimana luka yang harus di tangani.
Naira berlari ke rumah sakit bersama putranya di temani Gusti yang juga tiba di rumah sakit karena pria itu ada di rumah Narendra. Naira menangis memeluk putranya menunggu di luar. Sementara Rian dalam ruangan operasi lainnya. Rian hanya mendapat luka di bagian kaki dan kepalanya dan tidak begitu parah. Laura membersihkan semua barang dan pakaian yang ada di tubuh Narendra termasuk tangan yang terus menggenggam. Laura membuka genggaman itu meski sedikit sulit, ia menemukan sebuah kancing cukup besar berwarna perak dengan ukiran di permukaannya. Laura menyimpannya sebagai barang pasien. Proses operasi berjalan sangat lama hingga berjam-jam lamanya. Kondisi Rian sendiri sudah selesai di operasi, namun Narendra belum ada kabar karena dokter belum selesai menanganinya. Hampir tiga jam berlalu akhirnya salah satu perawat memanggil Naira untuk masuk ke dalam. Dokter menjelaskan keadaan Pasien pada keluarga terdekat. Karena keadaan Narendra yang cukup memprihatinkan ia harus masuk ke dalam ruang ICU dan di nyatakan koma.
Gusti berdiri menyambut Naira yang baru saja keluar dari ruang dokter.
"Apa yang terjadi?"
"Dia koma!" Gusti menghela napasnya.
"Apa cuma itu yang dokter katakan?"
"Kemungkinan selamat sangat kecil, saraf-saraf di otaknya rusak, itu butuh waktu dalam pemulihan. Mungkin dia bisa koma seumur hidupnya, atau bahkan tidak selamat dalam waktu dekat. Intinya semua adalah yang terburuk!" Gusti tampak mengangguk mendengarnya.
Naira melirik sekitar dan mengajak seorang pria yang sudah menunggunya di sana untuk mencari tempat berbicara. Keduanya keluar dari rumah sakit bersama putranya. Naira duduk di cafe depan rumah sakit menghela napasnya panjang.
"Baguslah! Ini juga kabar buruk." ucap pria itu saat Naira selesai menjelaskan kondisi saat ini.
"Tapi aku tidak tenang meski dia tidak akan selamat!" Pria itu berdecak menatap kekasihnya.
"Ayolah, akta waris belum di ubah, semua akan jatuh pada putra kita, aku yakin dia tidak akan bertahan lama. Dokter bahkan tidak yakin dengan hal itu."
"Apapun yang terjadi, jangan biarkan dia selamat. Satu lagi, apa tidak ada yang tahu jika kamu pelakunya?" pria itu tersenyum miring.
"Tidak sayang, semua aman dan bersih!" Naira mengangguk tersenyum lalu bangkit dari duduknya.
"Baiklah, untuk saat ini, jangan terlalu sering berinteraksi padaku, aku masih dalam keadaan berkabung. Aku tidak ingin ada media yang menyimpulkan hal buruk lainnya." pria itu mengangguk mengerti. Naira keluar dari cafe tersebut membawa putranya kembali melihat Narendra.
Satu Minggu pasca operasi
Laura masuk ke dalam ruang ICU mengontrol keadaan Narendra. mengecek semua alat-alatnya yang menopang kehidupan pria tersebut. Nara masuk ke dalam berdiri di dekat Laura.
"Siapa yang berjaga malam ini?" Laura menoleh kearah Nara.
"Aku saja, aku tidak ada pekerjaan di rumah. Lebih baik di rumah sakit saja." Nara menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Sangat-sangat giat ibu mencari pundi-pundi uang." Laura tertawa mendengarnya.
"Aku bosen di rumah sendirian, jadi lebih baik bekerja." Nara mengangguk mengerti.
"Kabarnya dia CEO stasiun televisi itu ya, Pak Narendra?" Laura menatap pria itu dan mengangguk.
"Katanya begitu."
"Aku pikir dia pria tua bangka, ternyata ganteng juga!"
"Iss, kamu ini!" Nara terkekeh menutup mulutnya.
"Ya sudah, aku keluar duluan." Laura mengusir dengan tangannya sembari tersenyum. Ia menatap pasien itu dan menceklis apa saja yang sudah ia cek. Saat Laura sibuk dengan laporannya. Jemari Narendra bergerak berkali-kali karena pria itu tampak akan siuman. Laura menatap bola mata Narendra yang bergerak berkali-kali. Laura terkejut melihat itu, pria itu tampak ingin membuka matanya. Laura menunggunya disana melihat pria itu mencoba bangun dan membuka matanya.
"Pak, Pak, anda sudah sadar?" Laura membungkuk di depan Narendra saat pria itu membuka matanya. Tatapan Narendra mengabur dan tidak jelas memandang.
"Pak, anda sudah sadar?" suara yang memanggil itu menggema di telinga Narendra tapi ia tidak bisa menggerakkan tangannya dan kepalanya sangat sakit dan berat saat ini.
"Pak ..." Laura menekan tombol di dekat ranjang agar perawat datang ke ruangan tersebut.
"Pak ... sebentar, saya hubungi keluarga Bapak dulu." Laura berniat keluar dari ruangan itu tapi tangan Narendra dengan cepat menghentikan langkah Laura.
"Pak..."
"J-janga-n be-ri tahu si-apapun." Laura mengerutkan dahinya bingung.
"Maksudnya?" tanya Laura bingung, pria itu menahan kuat tangan Laura agar tidak pergi. Lalu kembali tidak sadarkan diri.