Prolog

692 Words
LOVE NYA JANGAN LUPA YA *** "Tanpa di sadari aku tersenyum saat melihatmu tersenyum dan tertawa saat kau tertawa, semua itu tampak begitu bahagia. Tapi hatiku mendadak berubah menjadi begitu terluka! " "Menyadari hal itu bukanlah dariku, tapi dari wanita itu yang kini berada di sampingmu" *** Sebuah pernikahan yang kini di gelar di Pusat Kota Seoul, Gereja tua yang kini di sulap menjadi sebuah tempat yang begitu mewah. Aku melihat kedua orang itu tersenyum dengan bahagianya. Wanita itu terlihat cantik dengan gaun putih panjang yang terlihat begitu sederhana namun terkesan wah. Dan yang bersanding dengannya juga tak kalah tampan. Bohong kalau aku bilang aku baik-baik saja saat ini. Rasanya tidak bisa tergambar dengan sebuah kata atau ungkapan. Hatiku benar-benar begitu terluka dan rasa sakit yang teramat dalam. Aku tersenyum saat wanita itu melihat ke arahku. "Kau cantik"pujiku padanya tanpa suara, aku melihatnya tersipu sepertinya mengerti dari gerakan bibirku. Aku melirik ke sang calon pria, pria itu menatapku tajam -dari sorot matanya aku bisa melihat rasa kecewa dan rasa sakit seperti yang ku rasakan. Wajahku tertunduk, menghindari tatapannya yang begitu menusuk ke retina mataku. "Mianhae.... Mianhae... Mianhae"(Maafkan aku) batinku berkali-kali. *** Di sebuah ruang rias pengantin, tanganku dengan sigap membetulkan make up dan gaun pengantin yang melekat di tubuh sang pengantin wanita. Aku seorang desainer, seorang perancang gaun pengantin di sebuah Butik ternama di Korea Selatan. Pekerja paling berharga ungkap bosku bila ku tanya tentang karyawan seperti apa aku ini. Sebentar lagi pesta pernikahan mereka di mulai, dan aku yang di percayakan sebagai penata riasnya . "Cha.. Sudah selesai Yoora-Ya kau tampak sangat cantik"pujiku padanya. Dia tersipu, aku dapat melihat pipinya yang merona atas pujianku barusan. "Ayo nona kau sudah siap"ucap salah seorang dari petugas di tempat resepsi. "Dia sudah selesai kau bisa membawanya"ucapku yang di balas anggukan kepala dari wanita itu. "Ayo nona, hati-hati dengan gaunmu" "Eonni aku pergi" Aku mengangguk padanya, sosoknya hilang di balik pintu. Tubuhku berputar, dengan cekatan tanganku membereskan setiap alat make up yang berada di atas meja rias. BLAM! Aku tersentak saat mendengar pintu yang tertutup cukup keras di belakangku. Tubuhku berbalik dan di sana ada Min Yoogi, si pengantin pria yang kini menatapku dengan tajam dan dingin. "Kenapa kau di sini?"gumamku. Cukup takut dengan wajah dingin yang dia tunjukan padaku. "Kau puas sekarang"ucapnya nanar padaku. Melihat wajahnya membuat hatiku terasa begitu perih. Ini salahku tapi aku tidak bisa menolaknya. "Mianhae"(Maafkan aku) gumamku lirih dengan wajahku yang tertunduk. GREB! "Mianhae, mianhae, mianhae"ucapnya berulang-ulang padaku. "Aku pasti begitu menyakitimu saat ini" Aku tersenyum mendengarnya, mendorong pelan tubuhnya untuk menjauh dari ku agar aku bisa melihat wajahnya. "Mianhae, ini bukan salahmu. Aku yang menyuruhmu untuk menikah lagi, mianhae"ucapku seraya melihat wajahnya. CHU~ Yoogi menciumku, bibirnya menyapu bibirku dengan bibirnya, melumat bibirku dengan cukup agresif . Aku cukup terkejut dengan perlakuannya, tapi aku suka aku merindukannya. "Yoogi kau harus kembali ke pelaminan sekarang juga!!" Yoogi menempelkan keningnya di keningku, melepaskan tahutan bibir kami. "Kau tetap wanita yang ku cintai"ucapnya yang berakhir dengan kecupan singkat dan pergi keluar meninggalkan kami berdua. Aku dan wanita paruh baya, yang kini menatapku dengan tatapan tidak suka. Mertuaku. Wanita yang menjadikan semua mimpi buruk ini terwujud, hanya karena ingin memperoleh sebuah keturunan dari Yoogi suamiku. Yang tidak bisa dia dapatkan dariku. "Kau seharusnya tahu diri, jangan menahan putraku terlalu lama" "Wanita tidak tahu diri" "Kalau tahu tidak ada sesuatu yang bisa kau hasilkan dari rahimmu, aku tidak akan merestui pernikahan kalian" Dia meninggalkanku begitu saja, setelah menampar hatiku dengan kalimat yang menyakitikan. Air mataku menetes dari sudut mataku, ini benar-benar menyakiti hatiku. Kalau bukan karena putranya adalah pria yang begitu ku cintai dan sosoknya yang sudah begitu melekat di hatiku, aku pasti sudah kabur dari sini dan merajut cinta dengan pria lain di luar sana. Aku sadar semua ini sepenuhnya kesalahan yang berasal dari ku, aku yang tidak bisa menghasilkan keturunan untuk Yoogi. Usia pernikahan kami sudah menginjak 7 tahun dan tidak ada tanda-tanda kehamilan dari ku. Uisa bilang kandunganku baik-baik saja, semuanya baik hanya tuhan yang belum mau memberikannya padaku. Apa salahku sampai tuhan belum percaya padaku untuk menjadi wanita seutuhnya dengan menjadikanku seorang eomma. Kini aku hanya bisa menangis dengan rasa sesak di hatiku. Walau sebanyak apapun air mata yang ku keluarkan, tidak akan bisa merubah kenyataan yang ada kalau aku adalah seorang wanita yang menyedihkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD