Dalam lima menit terakhir, entah sudah berapa kali aku mengecek jam tangan. Menunggu jam istirahat terlalu membosankan untuk diriku yang terlalu awal menyelesaikan pekerjaan. Lalu, ketika waktu yang aku tunggu-tunggu sudah tiba, aku malah diinterupsi oleh suara dering ponselku. Mengecek layar, decak malasku langsung keluar ketika mengetahui bahwa Revan yang baru saja mengirimkan pesan. Revan : [ Makan siang di ruangan saya. ] [ Bukan permintaan, tapi perintah. ] Aku merotasi bola mata secara malas. Berdiri kasar dari kursi, sembari membawa tas ikut bersamaku. Malas ... seluruh tubuh rasanya berat mendatangi pria k*****t itu. Namun ... kutak bisa melakukan perlawanan apa pun. Tiba di ruangan Revan, aku mengetuk sekali. Sembari itu memeluk tas tangan depan d**a. Jangan sampai ... ada

