Sebuah nampan berisi makanan dan minuman aku bawa masuk ke dalam kamar. Berpikir, Revan masih sakit. Pria itu duduk dengan kepala tertunduk di tepi ranjang saat aku sampai.
"Aku bawain makanan."
Sebenarnya, aku masih dalam suasana kesal akibat insiden semalam. Pria ini dalam keadaan sakit, tetapi pikirannya tidak bisa jauh-jauh dari hal m***m.
"Nanti saya makan."
Revan berdiri. Sedikit limbung, tetapi berhasil menyeimbangkan dirinya. Aku mengusir khawatir dalam diriku melihatnya berjalan terhuyung ke kamar mandi.
Di dekat nakas, ponsel Revan tergeletak. Sebuah notifikasi mendadak masuk. Dari Adelia.
Penasaran menghampiriku. Apa yang mereka obrolkan sampai pria patung seperti Revan sering tertawa? Bahkan, pria itu nyaris tidak pernah terlihat bahagia bersamaku.
Aku iri.
Tanganku bergerak hendak meraih benda pipih warna Aqua itu. Namun, ini pelanggaran privasi. Aku ragu.
Aku berbalik hendak keluar. Namun, rasa penasaran ini begitu kuat hingga membuat kakiku sulit bergerak menjauh.
"Salwa?"
Langkahku terhenti. Menoleh pada sosok Revan yang mengeluarkan kepalanya lewat celah pintu.
"Bisa saya minta tolong? Belikan saya Paracetamol di apotik."
"Uang?" Aku menunjukkan telapak tanganku,
meminta.
"Di jaket saya yang sering kamu pakai, ada kartu kreditnya. Kamu bisa pakai itu."
Aku baru tahu itu. Aish, seandainya tahu dari dulu, akan kubuat pria itu miskin mendadak.
"Oke," jawabku.
Setelah menemukan kartu yang dimaksud Revan, aku keluar dari kamar.
Aku menyalakan ponsel saat masuk lift untuk memesan taksi. Namun, mendadak teringat Dewa. Kebetulan sekali, saat aku mengirim pesan padanya, Dewa sedang online.
Me :
[ Kamu tinggal di mana?]
Dewa :
[ Apartemen. ]
[ Kenapa? Mau Dateng? ]
[ Nggak usah. Gue di bandara. Mau ke Kalimantan. ]
Me :
[ Kamu kayak nggak pernah tinggal lama di satu
tempat.]
Dewa :
[ Yo'i. Namanya juga traveler ]
Aku mendengkus membaca pesannya. Bersamaan dengan itu, pintu lift sudah terbuka.
Lift terbuka. Aku langsung keluar, sembari melanjutkan obrolan dengan Dewa.
Me :
[ Dih. Kek orang luntang-lantung ]
[ Makanya cari istri, biar netep di satu tempat.]
Dewa :
[Iya.]
[ Ini gue nggak bisa netep karena lagi nyari jodoh. ]
Me :
[ Sampe segitunya. Emang di Jakarta nggak ada cewek yang pas? Di Bali masa nggak ada cewek cantik. Emang seleramu kek gimana?]
Dewa :
[Nggak tau.]
[Yang pasti, selera gue nggak kayak elo.]
Eh anjir.
Sebuah taksi berhenti di depanku. Setelah konfirmasi, aku langsung naik.
Me :
[Kenapa sampe segitunya nyari calon istri?]
Dewa :
[Gue nyari yang spesial.]
[Yang bisa bikin gue netap karena dia. ]
[Yang bikin gue merasa spesial.]
Me :
[Idih, gayamu.]
Aku nyengir sambil hendak mengetikkan balasan lagi. Namun, panggilan mendadak datang. Dari Dewa.
"Kenapa nelpon?"
"Gabut."
Aku mendengkus mendengar jawabannya itu.
"Yaudah, aku matiin," ancamku.
Terdengar decakan dari seberang sambungan. Aku
tersenyum.
"Bentar doang."
"Oke."
Hening selama beberapa saat. Aku muak, lalu berdecak.
"Seriusan nggak ada topik gitu, Wa? Ya udah, aku matiin ini. Aku lagi di jalan. Sibuk."
"Ke mana? Lo nggak berantem lagi sama suami lo, kan?"
"Udah enggak. Cuman, ya kek susah aja gitu buat kita akur. Dia nyari masalah Mulu ish."
"Lo mau ke mana?"
"Apotek. Dia sakit. Minta dibeliin obat."
"Gue jadi tenang kalau kalian baik-baik aja."
"Kita nggak baik-baik, Dewa. Dia nggak bisa diajak jalin hubungan sosial, masa! Apalagi dianggap temen."
"Emang kenapa?"
"Masa buku aku dia hina seenak jidat. Mana kasar banget lagi."
"Ya karena buku lo emang nggak ada aspek bagusnya. Gue sampe heran. Gimana ceritanya, cewek polos kayak lo nulis kayak begituan."
"Kayak begituan apa sih?" Aku menunda sejenak. Karena taksi berhenti. Setelah membayar, aku segera menuju apotek. "Perasaan ceritaku bagus kok. Layak baca."
"Ck. Sampe mulut berbusa pun, kalau lo keras kepala, ya nggak bakalan bisa gue nasehatin. Tapi, kalau lo nggak bisa dinasehatin, ya nggak bakalan maju lo."
Aku membeli obat sebentar, lalu keluar. Langit tampak gelap. Sebuah taksi lewat aku hentikan.
"Kamu jangan jadi nyebelin kayak dia, Wa. Temen aku cuman kamu."
"Eh, gue udah mau berangkat. Gue punya film bagus nih. Nonton ya nanti kalau udah sampe di hotel. Kalau lo bisa nonton full, gue traktir es krim kilo an ntar kalau kita ketemu lagi."
"Horor?"
"Bukan."
"Apa-"
Tuut.
Sambungan mati. Berselang beberapa detik, pesan masuk dari Dewa. Sebuah link Drive. Tanpa judul. Aku mengunduhnya meski ragu. Biasanya Dewa sangat usil. Perasaanku tidak enak. Tapi anehnya, tetap aku lanjutkan. Tepat saat taksi berhenti di depan hotel, aku juga sudah selesai mengunduhnya.
Saat memasuki hotel, Revan tampak menikmati makanan yang aku siapkan tadi. Obat pesanannya aku letakkan di atas meja.
"Capek-capek aku anterin makanan ke kamar, karena aku kira kamunya sekarat. Eh ternyata, makan di sini juga."
"Kamu sepertinya sangat tidak sabar jadi janda, Salwa," kata Revan setelah menjeda sesaat acara makannya.
"Aku mau tidur. Kamu jangan ganggu. Cukup semalem kamu bikin aku nggak bisa tidur." Aku bergerak memasuki kamar.
Semalam, Revan beberapa kali mengigau, yang membuatku sering terbangun. Jadi, aku harus menggunakan kesempatan ini untuk beristirahat.
Hape aku lempar secara asal. Tubuh aku banting begitu saja dalam posisi tengkurap.
"Jangan lupa batas, Salwa. Denda kemarin belum kamu bayar!"
Aish! Teriakan Revan mengganggu. "Bomat!"
Lalu aku terlelap.
Dering hape mengganggu tidurku. Dengan mata menyipit, aku memeriksa notifikasi.
Dewa?
Manusia sialan ini. Kenapa suka sekali mengganggu tengah malam.
Eh, salah ding. Jam 7 malam ternyata. Aku tidur berapa lama?
Wajah aku usap. Lalu menggeser layar untuk melihat pesan dari Dewa.
Dewa :
[Gimana? Udah nonton? Bagus nggak?]
Me :
[Udah]
Dewa :
[Dih, bohong jelas bat]
Me :
[Udah beneran ish]
Dewa :
[Kalau beneran udah nonton, mustahil Lo bisa biasa kek gini]
Aku tercenung membaca pesan itu. Nih orang seriusan maunya apa sama aku?
Me :
[ Perasaan aku jadi nggak enak. Ini kamu mau kerjain aku, kan? ]
"Bahas apa?"
Suara bariton terdengar, disusul dengan hapeku yang melayang ke samping, ditarik oleh seseorang yang tidak aku sadari keberadaannya.
"Oh ini ...." Revan mengangguk-angguk membaca pesan-pesanku. Sesekali alisnya berkerut tidak suka, lalu normal. Lalu berkerut lagi. Lalu normal lagi. Huh!
Aku menarik hape lagi.
"Sepertinya seru. Mau nonton bareng, Salwa?"
"Hah?"
Denting hapeku terdengar. Revan mengambilnya kembali. Jemarinya bergerak entah melakukan apa.
"Sini, balikin!" ucapku tegas saat dia memainkan hapeku seenaknya.
"Sini!" seru Revan menarik pundakku berbaring di tempat tidur.
Tangannya tersebut kemudian menjadi bantalanku. Nyaman. Aku tersenyum. Aroma segar dari tubuhnya kuhirup dalam. Ugh!
Revan memutar video yang dikirim Dewa.
Dewa sialan memang. Ternyata film horor. s**t! s**t! Apa namanya? The Conjuring? Revan sempat menyebutkan itu tadi.
Tapi... karena ada Revan di sini, saat penampakan hantunya muncul, aku hanya perlu menyembunyikan wajahku di dadanya.
Lalu pada adegan di mana setannya dirukyah versi negara barat, aku memeluk Revan erat.
Uh-uh, aku suka ini.
***
Aku bergerak gelisah saat merasakan getar di bawah punggung. Apalagi saat ada gerakan aneh dari bawah tubuhku. Mata terbuka, memandangi langit-langit kamar sebentar, lalu menyadari bahwa aku dalam posisi bengkok.
Shit. Aku bangun susah payah karena bagian kepala dan kaki rendah, sementara bagian perut tinggi. Sembari bangun, aku mengecek berapa tumpukan bantal yang aku tiduri.
Tapi tapi ... bukan bantal yang menjanggal bagian perut, tetapi manusia!
Revan!
Pria itu hanya bergerak sebentar, lalu kembali tidur lelap. Semoga dia tidak sesak napas selama aku berbaring di atasnya.
Aku tercenung sebentar. Dering ponsel terdengar lagi. Dari saku celana Revan. Itu membuat Revan bergumam rendah. Terganggu.
Kasihan juga. Ini masih dini hari. Revan pastinya masih mengantuk, sepertiku.
Aku merogoh saku celana training-nya. Entah karena terlalu bersemangat atau apa, tanganku keterusan dan menyenggol 'sesuatu'.
Shit! Ludah aku teguk kasar.
Aku menegang. Lalu perlahan menarik mundur tanganku yang membawa ponsel Revan dengan napas tertahan di d**a.
"Aish! Aish! Aish!" Aku mengibas-ibaskan tangan di udara. Lalu mengusapnya kasar.
Tubuhku mematung sebentar, mengingat benda kenyal yang kusenggol tadi.
Aish aish!
Aku menggosokkan tanganku di selimut.
Sial memang.
Aku menormalkan perasaan. Lalu melirik layar.
Adelia.
Ish. Aku mendengkus. Bersiap, menggeser icon merah. Tapi, urung.
Aku tersenyum. Saatnya balas sakit hatiku dulu padanya.
Perlahan merangkak turun. Melirik ke arah Revan sebentar yang tertidur pulas.
Aman!
Icon hijau aku geser.
"Halo, Mas...."
Suara Adelia langsung terdengar.
"Ahh ... Van, lebih cepat. Ahh ..." Aku menggigit bibir rapat-rapat agar mencegah kekehan keluar. Hening di sambungan telepon.
"Ugh, Van enak banget. Ahh, lagi ... lagi ...." Aku memukul lantai gemas saking menikmatinya kegiatanku ini.
"Ish, siapa yang nelpon ahh ... ganggu banget ..." Aku mendongak menahan tawa, lalu menutup sambungan secara sepihak.
Astaga... Pipiku pegal. Perutku sakit. Astaga... astaga... Aku tidak bisa menghentikan tawaku ini.
Napasku tersengal, aku atur sebentar. Sesekali masih tertawa.
Bagaimana wajah Adelia sekarang? Huhuhu, kasihan. Aku tidak sabar pulang dan melihat ekspresi Adelia.
Aku mengatur napas lagi. Huft! Tenang Salwa.
Aku berdiri berputar, naik ke atas tempat tidur.
Dengan hati-hati. Lalu berbaring dengan nyaman membelakangi Revan setelah menaruh ponselnya di atas nakas.
Rasanya masih gemas membayangkan Adelia akan sangat marah, dan akan bertengkar dengan Revan esok. Aku meremas bantal untuk meredam tawa. Senyumku sulit ditahan.
Lalu, tubuhku membeku saat menyadari sebuah lengan melingkar di perutku.
"Ah, saya suka suaramu, Salwa."
Aku mendengkus mendengar gumaman Revan barusan.
Shit! Bahkan dalam keadaan tidur pulas sekalipun, telinganya akan menjadi tajam jika mendengar sesuatu yang m***m.
***