Suara tawa yang mengalun rendah menjadi penyebab kesadaranku kembali. Membuka mata perlahan, dan menemukan Revan duduk bersandar di kepala ranjang.
Aku melenguh panjang saat mengubah posisi tengkurap jadi duduk. Tenaga masih belum terkumpul sepenuhnya. Aku melirik ke arah Revan yang menoleh sebentar padaku, lalu dia menilik ponselnya lagi.
"Van." Dengan suara berat khas bangun tidur, aku memanggil pria itu sampai dia fokus padaku. Kata Dewa, satu-satunya cara memperbaiki hubungan dengan suami itu adalah bicara baik-baik. Oke. Aku coba.
"Tau adab nggak, sih? Aku itu istri kamu loh. Kenapa malah chat-an sama Adelia? Kita di sini buat bulan madu, bukan buat pamer kemesraan kalian yang lagi LDR!" Kuakhiri ucapanku dengan dengkusan kasar.
"Kamu-"
"Aku sama sekali nggak cemburu!" Takut-takut dia menebak salah, jadi aku memotong cepat. "Aku bicara adab. Kamu harusnya hargai perasaan aku di sini sebagai istri kamu walaupun kita nggak ada perasaan sama sekali. Kita harusnya nggak berantem kek gini. Kamu seharusnya nggak dipancing aku buat marah-marah kek gini."
"Oke." Pria itu sebelumnya diam, lalu mengiyakan ucapanku. Ponselnya berpindah ke dalam jas yang tersampir di ranjang. "Sekarang mau apa?"
"Mm ..." Aku tidak percaya bahwa dia akan menyetujui gagasanku-yang terinspirasi dari nasehat Dewa. Sambil memikirkan topik, aku tersenyum. "Gimana kalau kita ngobrol gitu. Tentang apa gitu. Kalau dipikir-pikir, hubungan kita, lebih buruk dari hubungan sosial bermasyarakat." Aku mengakhirinya dengan senyuman seramah mungkin.
Hubungan sosial. Aku sengaja ingin membatasi pergaulan kami. Aku tidak tertarik untuk menjadi temannya. Karena kutukan keramat selalu mengintai persahabatan antara perempuan dan laki-laki.
Kutukan bernama cinta.
Laki-laki dan perempuan tidak pernah bisa menjalin hubungan persahabatan tanpa ada perasaan lebih.
"Ide bagus."
Owh, pria dingin ini ternyata baik untuk diajak berteman.
"Kita diskusikan ini, bagaimana, Salwa?" Revan mengangkat sebuah buku dari samping tempatnya duduk. Benda bersampul ungu itu berhasil membuatku terkejut.
Astaga. Itu novelku.
"Katanya kamu juga penulis ya, Salwa?" tanya Revan sembari membuka lembaran-lembaran buku best seller-ku.
Karena nama penaku yang tertera di sampul buku, sepertinya Revan tidak sadar bahwa penulis cerita itu ada di sampingnya sekarang.
Oke. Kita lihat bagaimana tanggapan pria itu pada ceritaku yang populer. Aku dengan bangga mendengarkan salah satu penggemarku ini.
"Oke. Kita bahas novel itu. Emang apa kekurangannya?" tanyaku, bangga.
"Cacat logika!" sentak Revan.
Heh?
"Alur tidak jelas."
Hah?
"Plot hole di mana-mana?"
Eh?
"Juga, ini lebih cocok disebut buku kamasutra dibanding novel. Setiap bab-nya selalu mengandung adegan dewasa."
Mataku melotot.
"Katanya ini akan diangkat jadi film. Heh, ini cocoknya tayang di pornh*b.com atau di X*XX.com."
Astaga.
"Bagaimana menurut kamu, Salwa, sebagai seorang penulis."
Karya berhargaku dibanting begitu saja di depanku.
"Kamu nggak bisa dong kritik orang tanpa dasar. Cacat di mana? Plot hole apaan? Alurnya jelas gini kok." Aku membantah pria itu.
"Kamu ingat malam pertama kita, Salwa?"
Eh anjir, kenapa bahas ituan.
"Mana ada malam pertama sampai berdarah-darah begitu. Itunya ditusuk pisau atau apa?"
"Kan perawan!" Aku balas sengit.
"Ya tapi tidak sampai separah itu. Pas malam pertama, memang kamu kebanjiran darah? Tidak, kan? Bahkan saya yakin tidak ada bekas darah di seprai. Penulis ini malah menjelaskan kalau si gadis berdarah-darah. Cacat logika."
"Namanya kan juga fiksi. Dan juga ... kemungkinan penulisnya itu belum nikah. Iya, kan?" elakku.
"Fiksi ya fiksi, tapi tetap harus bisa diterima logika. Karena pembacanya itu remaja ke atas. Kecuali kalau penulisnya bertujuan menulis ini untuk anak SD, ya samakan saja dengan Tom and Jerry yang memang tidak menomorsatukan logika." Revan istirahat menjelaskan sebentar. "Atau, si penulis ini tidak tahu mau menunjukan cerita ini pada siapa? Penulis yang buruk. Penulis seharusnya dari awal menargetkan, pembacanya dari kalangan umur berapa, agar tahu batasannya dalam menulis. Tapi cerita ini? Alurnya tentang remaja, temanya pun tentang pencarian jati diri anak remaja, tapi isinya desah-desah kotor. Sangat tidak bermoral."
Novel yang dibanting Revan tadi kupeluk. Dasar manusia pedas!
"Kayaknya kita nggak bakalan pernah bisa jalin hubungan sosial bermasyarakat yang baik."
Setelah berujar demikian, aku langsung turun dari ranjang. Hendak menuju kamar mandi.
Punggung aku sandarkan di pintu. Sampul buku aku perhatikan dengan baik.
Ucapan Revan terputar kembali dalam benak. Pikiran 'apa iya, ya?' mendadak muncul.
Ck. Aku menggeleng kasar. Dia itu cuman arsitek, mana paham dunia literasi. Sok tau amat!
Kamar sudah kosong setelah aku selesai mandi. Masih menggunakan bathrobe, aku menuju walk in closet. Perhatianku langsung tertuju pada tiga buah paper bag di dekat lemari pakaian.
Penasaran memancingku untuk membuka benda tersebut. Apalagi tidak ada Revan di sini. Sekadar jaga-jaga, takutnya manusia aneh itu membelikan setumpuk lingerie seperti kemarin-kemarin.
Dan, benar saja!
Beberapa pakaian.
Tapi, ini kayaknya dibeli oleh Revan versi cerdas. Isi paper bag pertama berupa potongan kaus polos hitam dan abu-abu. Hanya 2 warna itu memang. Tidak masalah.
Revan sepertinya insaf menggangguku. Aku tersenyum sendiri saat membuka paper bag kedua. Celana jeans panjang biru dan hitam. Jelas sekali benda-benda ini ditujukan padaku jika dilihat dari ukuran celana ini.
Mungkin juga, Revan tertarik dengan saranku untuk menjalin hubungan sosial, makanya dia membelikan pakaian-pakaian seperti ini. Atau, dia merasa bersalah sudah membuatku terkurung di hotel karena tidak memiliki pakaian sopan.
Aish, pria itu. Kenapa tidak sering-sering saja jadi normal begini. Sulit sekali mencegah senyum di bibir. Ah, lanjut ke paper bag ketiga.
Bibir dan dahiku berkerut seketika melihat benda segitiga kecil berbagai warna dan bentuk di dalam paper bag. Mengeluarkan satu untuk memastikan, tetapi mataku sudah jelas melihat.
Ini bra.
Benda kedua ... celana dalam.
Ah s**t.
"REVAN!"
"Aku tuh nggak suka kalau area pribadi aku dilihat orang lain, apalagi sampe dipegang-pegang. Dan kamu, dengan kurang ajarnya beliin aku pakaian dalam. Itu artinya, kamu lihat dan kamu pegang-pegang, kan? Astaga, kamu nggak malu apa, Revan? Itu pakaian dalam. Pakaian pribadi perempuan! Kalau mau beliin aku pakaian, yang kaus sama celana jeans itu aja. Udah cukup. Pakaian dalam, biar jadi urusan aku!"
Revan meletakkan makanan yang baru dibelinya di atas meja makan saat aku menyambutnya dengan omelan.
Aku bersandar di dinding dengan tangan bersilang depan d**a. Mata tidak berhenti menatap sinis pada Revan.
"Hm. Besok ganti."
Tunggu. Kenapa nada suara pria itu berbeda? Ada yang aneh dari dirinya.
Revan melaluiku begitu saja. Aku yang penasaran dengan perubahannya yang mendadak ini, mengekor pada Revan. Padahal tadi sore, dia masih baik-baik saja. Masih-bahkan sangat-bersemangat bertengkar denganku.
Revan langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Matanya langsung terpejam meski sepatunya masih terpasang sempurna. Dia bahkan belum mandi atau sekadar mengganti pakaian.
Dia baik-baik saja?
"Kamu mabuk?"
Pria itu menyunggingkan senyum tipis atas pertanyaanku.
"Menghadapi kamu bahkan lebih memusingkan
daripada minuman, Salwa." Lalu dia menguap. "Makan sana. Terus tidur."
Dia tidak mabuk. Tidak ada aroma alkohol di sini. Hanya bau keringat yang tercium saat Revan melewatiku tadi.
Jadi, apa?
Aku mendekat ragu pada ranjang bagian Revan. Menatap lekat wajahnya yang tampak sayu.
Dia kelelahan?
Iya juga. Kemarin subuh, dia pulang ke sini. Bangun pagi-pagi. Belum lagi menggendongku yang beratnya 45 kilo ini.
Aku mendengkus.
Sebagai makhluk sosial yang harus saling membantu, maka aku mencoba melepas sepatu
Revan beserta kaus kakinya.
Aku bergeming setelah itu. Seharian ini, dia belum pernah mandi. Mm ... bantuin juga, nggak ya? Sebagai makhluk sosial yang harus saling membantu, saat ada orang. harus turun tangan. lain yang kesulitan, aku
Maka, aku berniat ke kamar mandi mengambil air untuk membantu membersihkan tubuhnya.
Tapi...
Sepertinya ini berlebihan. Aku cukup bantu lepas sepatu saja. Bersihkan tubuhnya, itu urusan Revan.
Tapi .....
Revan akan merasa tidak nyaman jika tidur sebelum membersihkan tubuhnya. Itu hanya akan membuatnya merasa pengap.
Aku menahan udara di pipi sembari berpikir.
Revan tiba-tiba bergerak gelisah. Alisnya sedikit berkerut, lalu hilang. Aku mendekat ragu. Menempelkan tangan di keningnya. Hangat. Tapi beberapa bulir keringat tipis muncul di pelipisnya.
Ah, bantu aja. Sebagai makhluk sosial.
Dia juga sudah membantuku membeli pakaian.
Tekadku bulat. Aku mengambil mangkok untuk diisi air. Kemudian meletakkannya di atas nakas. Aku naik ranjang, duduk di bagianku. Mau duduk di samping Revan, takut pria itu bangun dan langsung menagih denda satu juta.
Handuk kecil aku kompres. Secara hati-hati mengusap wajah berkeringat Revan. Dia tampak tenang. Aku terus melanjutkan hingga ke lehernya.
Mm ... bajunya buka nggak?
Tidak masalah sih, kalau dibuka. Karena: 1) dia suamiku; 2) aurat pria itu hanya pusar sampai lutut.
Tapi, ya namanya anak gadis, malu sama hal beginian.
Aku menutup wajah kemudian. Aku bukan gadis perawan lagi.
Aish.
Revan bergerak gelisah lagi.
Berlandaskan dua alasan tadi, aku memberanikan diri membuka kancing kemeja navy miliknya. Detak keras dalam dadaku, aku abaikan. Setelah terbuka semua, aku menekankan dalam diri sendiri untuk tidak melihat tubuh Revan lebih dari dua detik sekali.
Kalau dipikir-pikir, dulu aku sangat mengagumi pria ini. Fisiknya sangat masuk kriteriaku. Bahkan, setelah tahu dia menikahi kekasihnya, aku malah bertekad untuk memiliki Revan seutuhnya. Karena, aku pernah menyukainya begitu besar dulu.
Dulu.
Lalu aku pikir, aku tidak ada celah untuk memiliki hatinya.
Tanganku terkoneksi dengan otak, langsung berhenti di d**a Revan sebelah kiri. Merasakan dekat jantungnya. Normal. Tidak seperti dalam dadaku.
Jantungku seperti memainkan DJ remix saja.
Aku mendengkus.
Tidak ingin galau lebih lama, aku menghentikan kegiatan ini. Kemejanya aku kancingi ulang. Seharusnya dia bisa merasa lebih baik sekarang. Aku hendak turun. Namun, saat bergerak, aku kehilangan keseimbangan tubuh karena kaki yang terlipat terasa kesemutan.
Sialnya, aku limbung ke arah Revan. Tanganku yang sigap segera bekerja sebagai penopang. Huh, untung tidak menyentuh pria ini.
Sial lagi. Mata Revan terbuka secara mendadak. Aku melotot. Namun, melihat pria itu tersenyum tipis, rasa terkejutku berkurang.
"Mimpi saya rasanya seperti nyata, Salwa." Dia mengerjap perlahan.
"Mimpi apa?"
Di film-film, saat pemeran sakit, biasanya sering mengalami mimpi buruk. Aku takut, itu terjadi pada Revan. Tapi sepertinya, dia tidak punya masa lalu yang traumatis.
Matanya lurus padaku, seakan memberikan hipnotis sendiri.
"Woman on top."
Hah...?
"Woman on top, Salwa." Dia mengulang.
"m***m!"
Aku melompat menjauh, lupa keadaan kaki, dan langsung terjungkal ke lantai.
"SEVAAAN!"
*