Mata Sea sontak membulat karena terkejut, ia pun refleks mendorong tubuh kekar pria itu dengan kencang. "Apaan sih, Pak. Bercandanya enggak lucu," sentak Sea kesal dan ia pun mencoba menjauh. Namun, belum sempat hal itu terjadi Rayyan telah mendorong pelan tubuhnya hingga menempel tepat di dinding.
"Saya serius," jawab Rayyan cepat dan tegas. Pria pun telah menaruh kedua lengan tangannya tepat di sisi wajah Sea, berusaha mengikis jarak di antara mereka.
"Bapak mau apa?" tanya Sea tergugup. Bagaimana tidak? Wajah Rayyan kini semakin mendekat ke arahnya, bahkan Sea pun dapat merasakan hembusan nafas beraroma mint itu menerpa seluruh wajahnya.
"Tentu saja ingin menciummu," ujar Rayyan lalu tersenyum menyeringai. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada pria itu pun kembali menatap dalam manik mata wanita yang ada di depannya.
Hening! Sesaat pandangan mereka pun saling bertaut dalam, entah apa yang dipikirkan keduanya. Sea sendiri merasa kesusahan bernafas saat pria itu mulai memajukan kembali kepalanya. Wanita itu pun merasa gugup dan memilih memejamkan matanya guna mengusir debaran halus yang berdenyut di sudut hatinya.
"Aww, sakit," ringis Sea saat merasa ketukan cukup keras di keningnya. Wanita itu lalu membuka kedua bola matanya lebar. Kini Sea dapat melihat jika pria di depannya itu tengah terkekeh geli menatap dirinya. "Bapak!" Sea sontak mendelikkan matanya, ia tahu pria itu lah pelakunya.
"Apa?" tanya Rayyan, lalu mengangkat sebelah alis matanya. "Kamu beneran berharap saya cium?" Rayyan kembali menggoda Sea, bahkan Rayyan kembali mengungkung wanita itu. Mengikis jarak di antara mereka.
Wajah Sea sontak memerah bak kepiting rebus. Bukan ia ingin dicium oleh Rayyan, hanya saja perlakuan Rayyan barusan membuat sudut hatinya berdebar halus. Entah apa penyebabnya Sea pun tak tahu. Mungkin jarak mereka yang terlalu dekat seperti ini. Pasalnya bersama Johan saja Sea tak pernah seintim ini. Mengingat Johan perasaan Sea pun merasa bersalah, tak seharusnya ia bersikap seperti ini karena biar bagaimanapun kini statusnya telah menjadi calon istri pria lain.
"Permisi Pak, saya mau keluar," ujar Sea datar lalu meletakkan kedua tangannya tepat di d**a pria itu, mencoba mendorongnya perlahan.
Rayyan sendiri tampak tidak senang melihat sikap Sea barusan. Bukan menghindari pria itu malah terlihat semakin mendekatkan tubuhnya. "Ikutlah bersama ku!" bisik Rayyan tepat di samping telinga wanita itu karena kesal dan tak mendapatkan jawaban dari Sea. Rayyan pun terpaksa menggigit cuping telinga wanita itu dengan gemasnya.
"Aww, Bapak!" Sea benar-benar marah, kini wanita itu mendorong kasar tubuh kekar pria yang ada di depannya. "Kue nya sudah jadi sebaiknya Bapak pergi," usir Sea secara terang-terangan, bahkan kini wanita itu pun sudah berjalan menuju pintu keluar dapurnya.
Rayyan tampak acuh, pria itu pun memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana lalu mengikuti langkah kaki Sea dari belakang. "Mami ingin kamu sendiri yang mengantarkan kue nya," ucap Rayyan lalu mendudukkan dirinya tepat di samping Sea. Ya, pria itu kini tengah berada tepat di depan meja kasir menggantikan Resti, karyawan sekaligus sahabatnya itu yang tadi meminta izin untuk pergi ke toilet sebentar. Sering nya Rayyan kesini tentu saja membuat pria itu hafal satu persatu nama karyawan yang bekerja di toko kue milik Sea ini. Malah tak jarang mereka pun menganggap Rayyan ini sebagai kekasihnya bos-nya.
"Saya sibuk, Pak," tolak Sea tegas. Enggan menanggapi ucapan Rayyan lagi, Sea pun memilih membuka laci uang, lalu mengambil beberapa lembar uang dan menghitungnya.
"Kamu tahu, saya tidak suka di bantah!" ucap Rayyan dengan tegas. Pria itu lalu mengambil uang yang dipegang Sea dan menaruhnya kembali ke dalam laci. "Ikut bersama saya sekarang atau." ucapan Rayyan terputus saat melihat Sea langsung menganggukkan kepalanya cepat.
"Iya!" sahut Sea menyetujui dengan ketus. Wanita itu lalu beringsut dari duduknya. "Ngancem mulu bisanya," gerutu Sea merasa kesal, meski begitu wanita itu tetap berjalan ke ruangannya guna mengambil tasnya di sana.
***
Selama diperjalanan baik Sea maupun Rayyan pun sama-sama terdiam. Keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Sea sendiri tampak terlihat membuang pandangannya ke arah jendela. Entah sampai kapan ia harus takut pada Rayyan seperti ini. Bahkan untuk bertemu dengan calon tunangannya pun wanita itu harus sembunyi-sembunyi. Sebab jika Rayyan tahu pria itu tak akan segan menggagalkan rencananya untuk berkencan dengan Johan, pria yang dua tahun ini telah menjadi kekasihnya itu.
"Kenapa?" tanya Rayyan lalu menoleh sekilas ke arah Sea yang tengah melamun, kebetulan saat ini lampu lalu lintas tengah berwarna merah.
Sea tampak menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak apa-apa, Pak," jawabnya singkat.
"Setelah ini kamu ada acara?" Rayyan kembali bertanya.
Sea menoleh lalu membenarkan posisi duduknya, lalu menganggukan kepalanya cepat. "Ada, Pak."
"Ke mana?" Rayyan mengangkat sebelah alis matanya penasaran.
"Mau ketemu sama mas Johan," jawab Sea, lalu mengambangkan senyuman manis di wajahya.
Rayyan pun berdecak kesal. Pria itu tampak tak senang melihat Sea tersenyum seperti itu, apalagi senyuman manis itu di tunjukan saat Sea tengah membicarakan Johan yang tak lain adalah adik sepupunya. "Kalau saya enggak kasih izin, apa kamu tetap ingin pergi?" Rayyan terlihat mengangkat sebelah sudut bibirnya tersenyum menyeringai.
"Saya nggak harus minta izin sama Bapak, buat ketemu sama calon tunangan saya sendiri." Sea mendengus kesal, wanita itu lalu melipat kedua tangan nya di d**a. Kalau saja bukan karena hutang budi mungkin Sea tak akan mau terlalu nurut dengan Rayyan seperti ini.
"Kamu lupa, kalau saya sudah."
"Iya … iya saya ingat, Pak." Sea buru-buru menyahut ucapan Rayyan cepat. Wanita itu enggan mendengar Rayyan kembali mengungkit-ungkit kebaikannya selama ini.
"Sabar ya Mas Johan, setelah semuanya selesai kita akan bebas bertemu seperti biasanya." gumam Sea tersenyum getir dalam hati.
Setelah melakukan perjalan selama tiga puluh menit, kini keduanya pun telah tiba di kediaman orang tua Rayyan. Sebuah rumah megah yang terlihat mewah, bagunan itu terdiri dari empat buah pilar yang berada di sisi kanan dan kirinya. Sebuah bangunan bergaya eropa dengan warna gold mendominasi rumah mewah tersebut. Sea sendiri tahu hanya orang-orang berkelas atas lah yang dapat tinggal di perumahan elit ini. Terlebih ini adalah rumah dari pengusaha expor impor terkaya di negeri ini. Ya, siapa yang tidak kenal dengan Raffa Athalariq Pradipta. Salah satu pebisnis sukses yang cukup terkenal di Indonesia. Beliau adalah papa kandung Rayyanka.
"Kenapa diam saja? Ayo masuk!" ajak Rayyan, lalu menarik pelan pergelangan tangan Sea, mengajaknya berjalan menuju ruang tamu dimana mama nya telah menunggu di sana.
"Ehm, Pak nggak usah digandeng gini." Sea yang risih pun mencoba melepaskan genggaman tangan Rayyan. Namun sialnya, bukan melepaskan Rayyan justru semakin erat menggenggam hingga tautan itu terputus saat mendengar suara lembut wanita paruh baya menyapa mereka.
"Saya ke atas dulu, biar mami temani kamu," bisik Rayyan pelan. Setelahnya, pria itu pun melangkahkan kakinya menuju lantai dua tepat dimana kamarnya berada.
"Halo, Sea. Tante kira kamu enggak mau datang." Queen mengatakan itu sambil menepuk sisi kosong di sampingnya, meminta Sea untuk duduk di sebelahnya.
Sea tersenyum lembut. "Maaf, Tante, tadi saya bikin kuenya dulu." Sea pun duduk tepat di samping wanita paruh baya itu. Tak lupa Sea mengulurkan tangannya guna mengecup punggung tangan wanita itu dengan sopan. Suatu kebiasaan yang selalu Sea lakukan jika bertemu dengan seseorang yang lebih tua darinya sebagai bentuk rasa sopan santun. "Ini kue red velvet pesanan, Tante." Sea mengangkat paper bag yang ia bawa dan menaruhnya di atas meja.
"Makasih ya," sahut Queen cepat. "Rayyan ganggu kamu di toko ya, Se?" tanya wanita paruh baya itu seraya tersenyum lembut.
Sea pun menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak Tante, kebetulan Pak Rayyan datang setelah saya selesai membuat kue." Ingin rasanya Sea berkata jujur pada wanita paruh baya itu bahwa apa yang dikatakannya memang benar, bahkan pria itu selalu menggagalkan rencana kencannya dengan Johan. Namun pada kenyataannya, Sea pun tak berani mengungkapkan hal itu dan memilih membatin dalam hatinya saja.
Queen pun mengangguk paham. "Jadi kapan Sea waktunya?"
"Kapan apanya, Tante?" Sea tampak bingung hingga mengerutkan keningnya.
"Kapan kamu mau dilamar sama Rayyan?" tanya Queen dengan penuh harap. Usia putranya memang sudah lebih dari cukup untuk membina rumah tangga, tetapi sampai saat ini Rayyan pun belum berniat untuk menikah.
"APA?" Kedua mata Sea membulat seketika. Bagaimana bisa Rayyan melamarnya jika sejak awal tidak pernah terjadi hubungan yang spesial di antara mereka.