Calvin tengah duduk di ruangan serba putih tersebut, laki-laki itu masih setia menunggui gadisnya sampai sadar. Walaupun ia tau sudah 2 hari belum ada perkembangan sama sekali tampak dari Clara. Clara masih nyaman dengan tidurnya, Calvin memejamkan matanya erat. Ia mengingat beberapa memori yang tersisa diingatanya, Calvin benci hidupnya, jika Clara suatu saat nanti pergi maka ia tidak bisa bejanji akan bisa hidup seperti biasanya. Calvin menggengam tangan gadis itu, tangan Clara terasa sangat dingin dan menusuk, bunyi detak jantung Clara juga semakin melemah. Laki-laki itu menundukkan kepalanya dengan air mata yang sudah mengalir bebas dari pelupuk matanya. Laki-laki itu mencium tangan Clara,"lo enggak ada niatan pengen meluk gue? Gue disini buat lo Clara,"bisiknya pelan. Tak ada sa

